Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Mengganggu Pacar Orang


__ADS_3

Jangan lupa beri komentar, like dan vote ya🙏 Happy Reading Gaes.. 😘


***********************


Jam menunjukkan pukul 19 : 00 Malam, Dua orang gadis terlihat sedang asyik bercengkrama. Sesekali terdengar suara cekikikan dari mereka berdua.


"Oh, Jadi Nurul meminum kopi sisa pelanggan ?" Ucap Khanza sambil tertawa.


"Iya, Dia bilang sayang kalau ga diminum. Soalnya yang dipesan kopi paling mahal, hahahaha" Ucap Syifa.


"Bener-bener deh tu anak. Mau-maunya minum kopi sisa pelanggan. Gimana kalau pelanggannya kena penyakit menular. Nurul ada-ada aja. Huft, jadi kangen anak-anak di Coffee Shop" Ucap Khanza.


Syifa menepuk-nepuk bahu Khanza.


"Kapan-kapan kamu main aja ke Coffee Shop. Kalau lagi weekend" Ucap Syifa.


"Iya, Entar kapan-kapan Aku main ke sana" Ucap Khanza.


"Eh, gimana tempat kerja yang baru ? Asyik ga ? Enak nih, udah kerja kantoran" Ucap Syifa.


Khanza tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba dia teringat saat dibentak oleh Rahel. Raut wajahnya berubah muram.


"Kerja kantoran ya gitu deh. Harus siap kena marah kalau melakukan kesalahan. Kadang, aku tidak habis pikir. Mengapa orang yang punya jabatan atau status sosial yang lebih tinggi mudah sekali merendahkan orang lain" Ucap Khanza.


"Ya, begitulah kehidupan. Mereka yang berduit, yang memegang kekuasaan. Dan orang-orang seperti kita ini harus pontang-panting mencari rezeki untuk makan. Huft.. Orang kaya, hanya tau menghambur-hamburkan uang saja" Ucap Syifa.


Khanza tersenyum mendengarnya. Baginya, Syifa sudah seperti saudaranya sendiri. Saat Dia sedang sedih, Syifa selalu menghiburnya. Begitu juga sebaliknya. Bagi Syifa, Khanza adalah sahabat yang selalu ada baginya di saat suka maupun duka. Umur mereka juga tidak jauh beda. Hanya selisih beberapa bulan saja. Jarak rumah mereka yang dekat, memudahkan mereka berdua bertemu setiap saat.


"Oh, Iya. Aku baru ingat. Tadi kakaknya si pembuat onar datang ke Coffee Shop" Ucap Syifa.


"Pembuat onar ?" Tanya Khanza.


"Iya, Kakaknya Tiara Dwitama" Jawab Syifa.


"Oh, Yuda ? Ngapain Yuda ke Coffee Shop ?" Tanya Khanza.


"Kayaknya Dia ada pertemuan dengan rekan bisnisnya deh. Dan sempat ada masalah sama aku, mengenai masalah pesanan yang salah" Jawab Syifa.


"Ooh, Tapi sudah beres masalahnya ?" Ucap Khanza


"Sudah kok. Syifa gitu loh !" Ucap Syifa.


Khanza tersenyum mendengarnya.


"Hmm.. Dia juga menanyakan dimana kau tinggal padaku" Ucap Syifa.


Khanza terkejut mendengarnya.


"Lalu kau jawab apa ?" Tanya Khanza.

__ADS_1


"Tentu saja aku tidak mau memberitahunya" Ucap Syifa.


Khanza bernapas lega.


"Huft, Syukurlah" Ucap Khanza.


"Kenapa ? Apa dia sama jahatnya seperti adiknya yang membuat onar kemarin ? tapi sepertinya, nada bicaranya seperti mengkhawatirkan kau dan ibumu, Za" Ucap Syifa.


Khanza terdiam. Matanya menatap lurus ke depan. Tatapannya kosong dan hampa.


"Yuda dan aku lahir dengan jarak tidak begitu jauh. Aku lebih tua 6 bulan darinya. Aku, Yuda, dan Nanda dulu dekat layaknya seperti saudara kandung. Hanya mereka berdua yang selalu baik pada aku dan Ibuku. Tetapi semenjak kejadian pengusiran diriku dan Ibuku. Sejak saat itu juga, aku berjanji tidak akan menyentuh dan berhubungan dengan apapun yang terkait dengan keluarga Dwitama" Ucap khanza.


"Setiap melihat salah satu dari keluarga Dwitama, aku selalu teringat setiap kekejaman yang dilakukan oleh Ibu tiriku dan Ayahku. Entah mengapa setiap mengingat kejadian itu hatiku terasa begitu sakit dan pedih. Pokoknya mereka memang keluarga yang harus dijauhi sejauh mungkin" Sambung Khanza.


"Maafkan aku ya... Yang mengingatkanmu pada masa lalu" Ucap Syifa sambil memeluk Khanza.


"Tidak apa-apa kok. Aku tahu, Syifa sahabatku tidak pernah bermaksud begitu" Ucap Khanza yang membalas pelukan Syifa.


***********


Sudah satu Minggu ini, Khanza telah bekerja di Perusahaan Samudra Group. Khanza yang telah mengenakan setelan blazer duduk manis di meja Resepsionis. Kini dia telah mulai terbiasa dengan pekerjaan barunya. Dia mengerjakan pekerjaan Resepsionis pada umumnya. Misalnya, menerima panggilan telepon dan meneruskan ke bagian yang terkait, menyambut tamu yang datang dan memberikan informasi serta arahan terkait kunjungannya, mengatur jadwal antar tamu dengan pihak perusahaan, mengelola arsip yang berhubungan dengan resepsionis dan melakukan kegiatan administrasi sederhana. Serta menerima dan meneruskan surat yang masuk.


Khanza melirik jam di dinding yang ada di hadapannya. Sekarang jam telah menunjukkan pukul 12 : 00 Siang, saatnya jam makan siang bagi karyawan perusahaan.


Deka dan Zia yang keluar dari ruangan, langsung membawa piring dan nasi bungkus yang telah dibelikan oleh Office Boy diruangan itu. Sofa di depan lobby memang jadi tempat favorit mereka makan siang, sambil menonton televisi. Vira dan Khanza yang membawa bekal dari rumah juga ikut bergabung bersama mereka untuk makan siang.


"Apa tidak apa-apa kalau kita makan disini ?" Ucap Khanza.


"Ditambah lagi dia itu sangat perhatian pada karyawannya. Pokoknya jangan GR dulu kalau dia baik sama kita. Karena dia memang baik dan perhatian pada semua karyawannya. Aku dulu sih sempat salah menyangka saat pertama bekerja disini. Aku kira dia baik dan perhatian padaku karena menyukaiku, ternyata memang dia orangnya begitu. Aku hampir salah tingkah dibuatnya" Ucap Deka dengan gaya centilnya yang khas itu.


"Itu sih emang elonya yang genit" Ucap Zia.


Semua tertawa mendengarnya.


Rahel yang keluar dengan membawa tas, langsung nyelonong si depan mereka.


"Nona Rahel ga makan disini ?" Tanya Vira.


"Dia mana mau makan disini. Dia selalu makan diluar. Rahel kan jaim orangnya" Ucap Deka.


"Oh, iya. Mbak Tina dan Mas Ari ga makan siang ?" Ucap Khanza.


"Dia lagi meeting di bawah. Mungkin sekalian makan diluar mereka berdua" Ucap Zia.


"Kalo ayang beibku mana ?" Tanya Deka pada Zia.


"Ayang beib.. ayang beib.. Ngaku-ngaku elo" Ucap Zia tertawa.


"Pak Vino kan juga meeting. Dia yang memimpin meeting tadi. Bareng Mas Arie dan Mbak Tina tadi juga meetingnya" Sambung Zia.

__ADS_1


"Oh, iya ya lupa" Ucap Deka


"Kalau sampai, Rahel denger kamu manggil gebetannya ayang beib, pasti kamu diomelinnya habis-habisan, Dek" Ucap Vira pada Deka.


"Idih, Anak itu beda banget sama Fani. Fani enak banget diajak ngobrol sama kerja bareng. Lah ini udah merasa paling cantik sejagat raya aja !" Ucap Deka kesal.


"Hmm.. Fani siapa ya ? Kok kalian sering banget menyebut nama itu ?" Tanya Khanza.


"Fani itu mantan sekretaris yang dulu. Yang sekarang digantiin oleh Rahel. Anaknya asyik banget. Beda jauh sama Rahel. Pak Vino aja suka sama dia" Ucap Deka.


"Sayang ya, Fani sudah punya kekasih saat itu . Padahal Pak Vino kelihatan sangat menyukai Fani. Dengar-dengar, gosipnya Pak Vino dan Presdir Mandala Group itu sempat berkelahi di lobby bawah gara-gara Fani. Gara-gara perkelahian itu, Pak Vino dan Pacarnya Fani itu sempat menderita luka memar di wajah dan tangannya" Ucap Vira.


"Iya, aku juga dengar sih cerita itu dari satpam bawah" Ucap Zia.


Khanza yang diam dari tadi, tiba-tiba membuka suaranya.


"Lagian kurang kerjaan banget sih gangguin pacar orang. Sudah tahu orang sudah punya pacar, masih saja didekati. Kan ujung-ujungnya kecewa sendiri" Ucap Khanza.


Sontak Ucapan Khanza membuat semua orang yang ada dihadapannya terkejut. Mata mereka terbelalak mendengar ucapan Khanza. Khanza yang melihat ekspresi temannya yang kaget, menjadi bingung. Dia kelihatan berpikir, mencari tahu dimana letak kesalahannya berbicara.


"Hmm... Maaf. Aku orangnya suka berbicara apa adanya. Aku suka berbicara, apa yang terlintas dipikiranku saat itu juga. Maaf kalau kalian kurang nyaman dengan sifatku yang satu ini" Ucap Khanza.


Semua masih hening terdiam.


"Hmm.. Khanza kami tidak masalah dengan perkataanmu barusan" Ucap Deka.


"Oh, ya ? Lalu kenapa kalian diam saja dan terlihat terkejut saat aku berbicara tadi ?" Ucap Khanza.


Semua masih diam tidak bergeming.


"Karena mereka melihatku !" Ucap Vino.


Deg !


Inikan suara... suara Presdir !


Batin Khanza.


Rupanya Vino yang baru saja datang dari makan siang diluar, tak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat lewat di depan lobby.


"Khanza, ke ruangan saya sekarang !" Ucap Vino yang melangkah pergi menuju ke ruangannya.


Bagaimana ini.. Sepertinya dia marah besar padaku ! Ya, Tuhan. Selamatkan Aku..


Batin Khanza.


# Dikit banget ya tentang Vino dan Khanzanya hari ini 🤭 Besok ya full of Vino dan Khanzanya 😊 Tungguin terus ya update selanjutnya dan jangan lupa beri like, komentar dan votenya.. makasih 🙏😘


Jangan lupa juga, baca novel sahabatku "MAMIKA" yang judulnya "AKIBAT SANDIWARAKU" 😊

__ADS_1



__ADS_2