Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
61. Pernikahan Riko dan Nisa


__ADS_3

Jangan lupa memberi Like, vote dan komen ya.. Makasih 🙏 dan Happy Reading Gaes..😘


******************************


Hari ini sudah terhitung tiga hari, Dari hari keberangkatan Rendi ke Singapore. Masih terngiang dipikiran Fani saat Rendi berjanji padanya saat di bandara.


"Aku akan tetap pergi ke Singapore sayang, Malam ini. Anak cabang Perusahaan disana benar-benar membutuhkanku untuk menyelesaikan masalah disana, sekarang. Cuma tiga hari kok, Aku disana. Tunggu Aku pulang ya. Aku akan segera menikahimu" Janji Rendi.


Bila mengingat kejadian itu, Fani langsung senyum-senyum sendiri. Pipinya bersemu merah.


"Fani.. Fan.. Duh ini anak susah banget manggilnya" Ucap Deka.


Mbak Zia menepuk-nepuk bahu Fani untuk menyadarkan Fani dari lamunannya.


Sontak Fani merasa terkejut, Dan tersadar dari lamunannya.


"Eh, Kenapa Mbak Zia ?" Tanya Fani.


"Bukan Aku yang panggil. Tuh, Deka yang dari tadi panggil kamu, Fan. Tapi kasian deh, Dari tadi kamu cuekin terus" Ucap Mbak Zia sambil tertawa meledek Deka.


"Oops, Sorry ya Deka. Aku beneran ga dengar kamu manggil-manggil Aku" Ucap Fani menahan malu.


"Ngelamuni apaan sih ? Sudah Jam pulang nih, Ayo barengan pulang turun ke bawah" Ucap Deka yang mengajak Mbak Zia dan Fani.


"Oke, Aku beres-beres dulu ya" Ucap Fani.


Mereka bertiga yang sudah ada di dalam lift, sesekali bercerita tentang rencana yang akan dilakukan weekend nanti.


"Ayo, Weekend ini Kita pergi ke taman hiburan yang baru buka itu yuk. Aku lihat wahana permainannya keren-keren" Ucap Deka.


"Mbak ga bisa pergi. Soalnya, Mbak ada janji ke rumah keluarganya Mas Bayu" Ucap Mbak Zia.


"Idih, Pacaran mulu. Ya udah deh. Kalau gitu Aku ajak Fani aja. Ayo, Fan kita kesana ya ?" Ajak Deka.


"Hmm.. Deka Aku nggak bisa. Soalnya Teman kuliahku Nisa, Mau menikah minggu ini" Ucap Fani.


"Yaelah, Nasib gue jonas !" Ucap Deka.


Mbak Zia dan Fani yang mendengarnya tertawa.


Tingg...


Pintu lift terbuka. Fani melihat sosok Rendi yang sudah duduk di sofa lobby kantornya.


Rendi ?


Raut wajah bahagia terpancar dari wajah Fani. Sudah tiga hari Dia menahan rindu tidak bertemu dengan kekasihnya itu.


Begitu juga dengan Rendi, yang melihat Fani dan teman-temannya yang baru keluar dari lift. Seandainya Dia tidak ingat ini di kantor tempat kekasihnya bekerja. Mungkin Dia sudah memeluk dan mengecup keningnya Fani sekarang juga.


"Eh, itu pacar dah jemput tu !" Ucap Mbak Zia yang menunjuk ke arah Rendi.


"Kita sampirin yuk mbak" Ajak Deka.


Mereka bertiga berjalan melangkah ke arah Rendi.


Rendi yang sedang memainkan ponselnya, Menghentikan kegiatannya. Dia tersenyum melihat kekasihnya yang sekarang ada dihadapnnya.


"Sudah lama sayang nunggunya ?" Ucap Fani bertanya pada Rendi. Ada ungkapan tulus dibalik kata panggilan sayang yang sekarang diucapkan Fani. Ungkapan itu mengalir penuh kasih sayang tanpa ada embel-embel berakting yang biasa di lakukannya dulu.

__ADS_1


"Belum lama kok" Ucap Rendi masih tersenyum memandangi wajah kekasihnya itu.


"Uhuk.. Uhuk..! Di sini masih ada orang loh !" Ucap Deka meledek.


"Apa sih Deka.. Makanya cari pacar juga dong !" Ucap Fani.


"Cariin dong Fan.. Yang kayak Rendi yah" Ucap Deka.


Rendi tersenyum mendengarnya.


"Aduh, Calon pengantin. Jadi kapan nih sebar undangannya Ren ? Tadi Fani sempat cerita minta Mbak dan Deka bantuin acara di sana nanti" Ucap Mbak Zia.


"Besok, undangannya selesai Mbak. Dan siap disebar" Jawab Rendi.


Tiba-tiba Vino yang baru keluar dari lift eksekutif, Terkejut dengan kehadiran Rendi.


Vino berjalan melangkah menghampiri Rendi dan Para pegawainya itu.


Bukan Rahasia umum lagi, Kalau Vino menyukai Fani. Semenjak Kejadian malam itu, Saat pertengkaran Rendi dan Vino di lobby. Satpam yang berjaga didepan membocorkan kejadian malam itu dan bergosip. Semua pegawai lalu memiliki asumsi tersendiri. Ada yang berpikir kalau Bosnya itu memang perhatian pada pegawainya. Ada juga yang bilang kalau Vino menaruh hati pada sekretarisnya itu.


Mbak Zia dan Deka yang melihat Vino melangkah mendekat langsung berpamitan.


"Selamat Sore Pak Vino" Ucap Deka dan Mbak Zia berbarengan.


Vino mengangguk.


"Fani, Aku dan Mbak Zia duluan pulang ya" Ucap Deka.


"Iya, Hati-hati ya !" Ucap Fani.


Rendi dan Vino yang sudah berdiri saling berhadapan, Saling memandang satu sama lain.


Lama Rendi terdiam menatap uluran tangan Vino.


"Sayang... Ayo jangan seperti ini" Ucap Fani berbisik pada Rendi. Fani takut, Rendi akan berbuat hal yang nekat lagi.


"Terima kasih !" Ucap Rendi yang tiba-tiba membalas uluran tangan Vino. Mereka berjabatan tangan.


"Aku minta maaf atas tindakanku padamu selama ini. Aku harap kita dapat berteman nanti" Ucap Rendi.


Fani merasa terkejut dengan pernyataan Rendi. Dia tidak menyangka Rendi akan mengucapkan permintaan maafnya pada Vino.


Vino tersenyum.


****************


Sabtu Malam, Pesta Pernikahan Riko dan Nisa diadakan. Pesta yang diadakan di sebuah Hotel mewah tersebut mengundang begitu banyak tamu yang berasal dari kalangan kelas atas.


Mama dan Papa Nisa tampak Sumringah berdiri di samping Pengantin. Harapannya yang selama ini menginginkan mendapat menantu kaya akhirnya terkabul. Bukan saja, Karena sang menantu yang berasal dari keluarga terpandang dengan kekayaan mencapai triliunan Rupiah yang menjadi alasan mereka menyukai Riko. Tetapi pribadi menantunya yang royal yang juga membantu menyokong perekonomian Perusahaan kecil yang sudah lama mereka dirikan membuat mereka semakin menyukai menantunya itu.


Sepanjang acara pesta pernikahan, Hiburan diisi oleh penyanyi dan band yang sedang populer dan digandrungi oleh anak muda zaman sekarang.


Tamu yang hadir juga tak kalah berkelas, Mulai dari para pengusaha kolega yang bekerja sama dengan Perusahaan Riko, Karyawan Buana Group dan juga beberapa pegawai Mandala Group tempat Nisa bekerja.


Fahri yang juga tamu undangan, datang bersama kekasih barunya yang berasal dari dunia hiburan lagi.


Azzam dan Mimi juga datang menghadiri pernikahan Nisa dan Riko. Tampak perutnya Mimi sudah sedikit membesar, Memasuki usia kandungan empat minggu.


Tak ketinggalan Dila dan Fani yang merupakan sahabat terdekat Nisa, Hadir membawa pacar masing-masing.

__ADS_1


"Selamat ya Nisa. Ga nyangka loh, Kamu yang lebih dulu menikah dari kita bertiga" Ucap Dila yang kali ini datang dengan kekasihnya yang baru pulang dari Australia.


"Makasih Dila !" Ucap Nisa mencium pipi kanan dan kiri Dila.


Fani yang datang bersama Rendipun, Ikut menyalami Riko dan Nisa.


"Selamat ya Nisa dan Riko" Ucap Fani.


"Akhirnya ya Rik, Berhasil juga dapetin hatinya Nisa" Ucap Fani.


Riko tersenyum mendengarnya.


"Susah banget Fan, dapetin hati sahabatmu ini !" Ucap Riko.


"Cih !" Rendi mendengus.


"Kau benar-benar selalu membuatku kesal ya, Rik. Aku terpaksa mencari pegawai baru lagi untuk menggantikan Nisa, yang tidak kau perbolehkan bekerja lagi di kantorku" Ucap Rendi.


Riko tersenyum


"Jadi Kau akan berhenti bekerja Nis ?" Tanya Fani pada Nisa.


Nisa mengangguk.


"Riko bilang, Aku bekerja didekatnya saja. Menjadi Wakil Direkturnya" Ucap Nisa.


"Astaga, beneran deh Rik. Lebih baik jadi yang lain saja daripada menjadikan Nisa Wakil Direktur. Bisa-bisa Perusahaanmu bangkrut ga bersisa" Ledek Dila.


Mereka semua yang ada disitupun ikut tertawa mendengar ucapan Dila.


"Oh, Ya bagaimana dengan persiapan Malam Pertamanya Rik ? Apa perlu aku ajari ? Aku ahlinya dalam hal ini" Ucap Fahri tak tahu malu.


Nisa mulai berdebar mendengar kata "Malam Pertama" yang keluar dari mulut Fahri. Wajahnya mulai pucat.


Riko tersenyum mendengarnya.


"Kau tak perlu mengajariku. Aku bisa mengurusnya sendiri" Ucap Riko.


"Untuk hal seperti ini, Semua orang juga akan menjadi ahli tanpa perlu diajari !" Ucap Riko seraya tertawa.


Deg !


Perasaan Nisa sudah tidak karuan mendengarnya. Wajahnya pucat pasi sekarang. Tangan dan Kakinya gemetar, saking gugupnya. Tangannya mulai meremas-remas gaun pengantinnya.


Riko yang dari tadi memegang tangan kanan Nisa tiba-tiba, merasakan telapak tangan Nisa berubah menjadi dingin.


"Sayang, apa kau sakit karena tak kuat terlalu lama berdiri menyambut tamu ? Wajahmu juga kelihatan pucat sekali ?" Tanya Riko yang khawatir.


"Aku.. Aku..." Nisa terbata.


Bagaimana menjelaskannya ini.. Aku bukan sakit sebenarnya.. Aku sebenarnya sangat takut dengan "Malam Pertama"... Hiks..


**Jangan lupa memberi dukungannya melaui like, vote dan komen.. Bagi yang ada koin boleh disumbang buat votenya, hahahaha 🤭 Makasih buat komentar-komentar kecenya.. Tungguin terus bab selanjutnya yang ga bakal lama kok 😁✌


Saranghaeyo 😘


Jangan lupa baca juga novel "Mencintaimu Dalam Diam" karya sahabatku "Karlina Sulaiman" ya.. 😉**


__ADS_1


__ADS_2