Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Bertemu Mantan Pegawai


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, vote dan komen ya🙏 Happy reading gaes 😘


*********************


Pagi hari di Perusahaan Dwitama Group. Jam telah menunjukkan pukul 10:00 pagi. Ruangan meeting pagi ini dipenuhi oleh pegawai bagian Perencanaan dan pengembangan proyek. Ini kali kedua, pertemuan antara Perusahaan Dwitama Group dan Samudera Group untuk membahas masalah kerja sama mereka. Tetapi kali ini lokasinya berbeda. Meeting ini diadakan di Perusahaan Dwitama Group. Proyek yang tengah berjalan ini sedang membahas pengembangan tahap selanjutnya.


Vino yang datang bersama Sekretaris Pribadinya beserta beberapa staff dari perusahaannya, disambut baik oleh para petinggi di Dwitama Group. Nama Vino yang sudah dikenal dan diakui dalam dunia bisnis, membuat para petinggi di Dwitama Group ingin berhubungan dekat dengan Presdir Samudera Group tersebut. Terutama sang Presdir Dwitama Group yang turun tangan langsung untuk mengikuti meeting pagi ini. Biasanya hanya anaknya Yuda, yang merupakan Wakil Presdir di Dwitama Group, yang diperintahkannya untuk menghadiri dan memimpin meeting. Tetapi tidak kali ini.


Nanda dan Yuda yang juga diikutsertakan meeting pada pagi ini, telah duduk manis di ruangan tersebut. Selama meeting berlangsung, Nanda tidak henti-hentinya menatap Vino yang sedang menjelaskan proyek yang sedang dalam tahap pengembangan tersebut. Pandangannya seolah enggan terlepas sedikitpun.


Aih, dia sungguh tampan dan berkharisma


Batin Nanda.


Yuda dan Pak Dwitama juga tak kalah kagum dengan kemampuan bisnis yang dimiliki oleh Vino.


"Bagaimana tanggapan anda dengan tahap pengembangan ini Nona Nanda ? Apa ada kendala ?" Tanya Vino yang bertanya pada Nanda selaku Manager Perencanaan dan pengembangan Proyek.


Tetapi Nanda hanya diam tidak menjawab. Dia masih terpesona pada Vino dan tampaknya masih berada di bawah alam sadarnya. Nanda malah tersenyum dengan tatapan masih memandang wajah Vino.


"Hmm.." Yuda berdehem.


Dia menyenggol kaki adiknya itu, untuk menyadarkan Nanda dari lamunannya. Nanda yang terkejut karena kakinya disenggol oleh Yuda, refleks berteriak kecil.


"Aw.. !" Ucap Nanda sambil menoleh ke arah Yuda.


"Manager Nanda, kamu ditanya oleh Pak Vino. Apa ada kendala di dalam proses tahap pengembangan ini ?" Ucap Yuda.


Seketika Nanda sadar dengan apa yang terjadi barusan. Dengan cepat dia menjawab.


"Tidak ada Pak. Semuanya berjalan sesuai prosedur kok" Ucap Nanda yang menjawab dengan nada terburu-buru dan terlihat gugup.


Pak Dwitama yang melihat tingkah Nanda yang tidak biasa, merasa kalau anaknya mempunyai perasaan yang istimewa terhadap Vino.


Sepertinya Nanda menyukai Vino. Baguslah.. Sepertinya, aku harus lebih mendekatkan mereka berdua lagi.


Batin Pak Dwitama.


Selesai meeting, Pak Dwitama langsung menghampiri Vino. Dia berjabat tangan dengan Vino sebagai tanda mengakhiri meeting.


"Saya sangat senang dan kagum, bekerja sama dengan perusahaanmu Presdir Vino" Ucap Pak Dwitama.


"Saya juga, Pak. Tapi panggil saya Vino saja, Pak. Akan sangat tidak sopan, bila saya menyuruh orang tua seperti anda memanggil saya, Pak" Ucap Vino.


"Ternyata kau juga punya etika yang baik Vino. Saya jadi semakin kagum" Ucap Pak Dwitama.


Vino tersenyum.


"Bagaimana kalau malam ini, saya mengajakmu makan malam di rumah. Hitung-hitung merayakan kesuksesan kerja sama kita" Ucap Pak Dwitama.


"Malam ini saya ada sedikit urusan, Pak. Sepertinya tidak bisa" Ucap Vino.


"Kalau begitu, bagaimana dengan lain kali. Kapan-kapan kamu mau kan, makan malam bersama kami ?" Tanya Pak Dwitama.


"Iya, boleh. Kalau saya senggang, saya usahakan datang, Pak Dwitama" Ucap Vino.


Pak Dwitama merasa senang mendengar ucapan Vino.


"Karena meeting ini sudah selesai, saya beserta staff mohon pamit ya, Pak" Ucap Vino.


Tapi, tiba-tiba suara Nanda menahan langkah Vino yang akan segera pergi.


"Vino, kalau malam ini kau tidak bisa makan bersama kami. Bagaimana kalau siang ini, kita makan siang bersama ?" Ucap Nanda.


Vino terdiam sejenak.


"Yah, Baiklah. Semua ikut kan ? Nanti, aku yang traktir" Ucap Vino.


"Mereka tidak ikut. Hanya kita berdua yang akan makan siang. Kau mau mentraktirku kan ?" Ucap Nanda.


Vino menatap Nanda. Entah apa yang dia pikirkan terhadap Nanda.


"Ya, Baiklah" Ucap Vino.


"Aku ikut mobilmu ya, Vin" Ucap Nanda.


Vino mengangguk.


"Pa, Kak.. Aku dan Vino pergi makan siang dulu ya" Ucap Nanda.


"Iya" Ucap Pak Dwitama dan Yuda.


"Saya pamit ya Pak, Yud" Ucap Vino.


Keduanyapun mengangguk.


Akhirnya Vino dan Nanda bergegas pergi untuk makan siang.


Pak Dwitama dan Yuda tersenyum melihat mereka dari kejauhan.

__ADS_1


"Sejak kapan Nanda jadi seagresif itu ? Dulu dia paling males kalau harus meladeni pengusaha muda yang mencoba mendekatinya" Ucap Yuda.


Pak Dwitama menyeringai. Bibirnya tersenyum tipis.


"Tampaknya, Nanda juga ada perasaan pada Vino. Semoga saja hubungan mereka semakin dekat" Ucap Pak Dwitama.


*********************


Jarum jam yang terus bergerak, membuat waktu terasa cepat berlalu. Sekarang, Jam sudah menunjukkan pukul 17:00 Sore.


Khanza yang baru saja menyuapi ibunya buah jeruk yang dibawakan oleh tetangga yang membesuk, segera mencari tissue untuk mengelap bibir Ibunya.


"Untung masih ada tissue yang tersisa" Ucap Khanza sambil mengelap bibir Ibunya.


"Sepertinya kita kehabisan tissue, Bu. Aku akan membelinya ke mini market di dalam Rumah Sakit ini. Sekalian ada yang ingin aku beli juga di sana" Ucap Khanza.


"Iya, hati-hati ya" Ucap Ibunya Khanza.


Khanza tersenyum mendengar ucapan Ibunya.


"Tidak jauh kok, Bu. Minimarketnya ada didalam perkarangan Rumah Sakit ini. Di halaman depan, dekat parkiran" Ucap Khanza.


Khanza lalu pergi bergegas melangkah keluar. Baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah, dia melihat Vino yang baru saja turun dari mobil.


Vino yang juga melihat Khanza dari kejauhan, datang menghampiri Khanza. Vino berjalan ke arahnya sambil menenteng kantong plastik


"Kau mau kemana ?" Tanya Vino, yang bingung melihat kehadiran Khanza di parkiran.


"Aku mau ke mini market depan. Ada yang mau dibeli" Ucap Khanza.


"Hmm.. Kau mau kemana ?" Tanya Khanza.


"Aku ? Ya, membesuk Ibumu lah" Ucap Vino.


"Oh.. Tapi mana yang lain ?" Ucap Khanza sambil mencondongkan badan, melirik ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu.


"Yang lain ?" Vino mengerenyit tidak paham maksud Khanza.


"Iya, yang lain. Teman-teman kantor yang lain. Bukankah anda bersama mereka ?" Tanya Khanza.


"Aku hanya datang sendiri" Ucap Vino dengan santainya.


"Tadi mereka memang berencana mau membesuk ibumu. Tetapi karena banyak yang meeting hari ini, jadi mereka undur besok" Ucap Vino.


"Ooh.." Ucap Khanza.


Akhirnya mereka mengobrol sambil berjalan menuju Mini market.


Aduh, kenapa dia mengikuti aku terus sih. Aku kan mau membeli pembalut. Masa iya, aku mengambil pembalut di depannya. Aku malu..


Batin Khanza.


"Vin, kamu ga ada barang yang mau kamu cari disini ?" Tanya Khanza.


"Tidak ada" Jawab Vino.


Aduh gimana ini jelasinnya ya..


"Kamu tidak haus ?" Tanya Khanza.


"Tidak" Ucap Vino.


"Kamu..." Belum selesai Khanza menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba suara seorang perempuan memotong ucapannya.


"Vino ?" Ucap perempuan itu.


Siapa perempuan ini ya ?


Batin Khanza.


"Fani ?" Ucap Vino yang terkejut melihat kehadiran Fani dihadapannya.


Fani terlihat agak sedikit berbeda sekarang. Selain kelihatan lebih cantik, Fani juga terlihat sedikit lebih berisi.


Mendengar nama Fani, Khanza mencoba mengingat sesuatu.


Fani ? Bukankah ini mantan sekretarisnya yang orang bilang sempat ditaksirnya dulu.


Batin Khanza.


Fani melirik gadis disamping Vino.


"Apa dia kekasihmu ?" Tanya Fani.


"Dia..." Belum sempat Vino menjelaskan, Khanza langsung menyela.


"Bukan !" Ucap Khanza cepat.


"Saya pegawainya. Nama saya, Khanza. Salam kenal !" Ucap Khanza sambil tersenyum.

__ADS_1


"Salam kenal juga ya Khanza. Aku Fani. Oh..jadi, dia sekretaris baru yang menggantikanku ya ? Cantik ya !" Ucap Fani yang menatap Khanza.


Mendengar ucapan Fani, Khanza buru-buru meralatnya.


"Bukan, aku hanya seorang Resepsionis" Ucap Khanza dengan suaranya yang pelan.


"Ooh.. Pantas cantik. Kan menjadi resepsionis juga ada syarat khusus" Ucap Fani yang mencoba memujinya.


Benar-benar berbeda dengak Rahel si nenek lampir. Orangnya baik, lembut dan tidak kaku. Pantas, Vino suka padanya.


Batin Khanza.


"Kau kemari, memangnya siapa yang sakit, Fan ? Rendi ?" Tanya Vino.


Baru saja Fani mau membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Vino, tiba-tiba suara Rendi mengejutkannya.


"Siapa yang bilang aku sakit ? Kau ingin aku sakit ya ?" Ucap Rendi yang baru saja datang, dan menatap Vino dengan tatapan tidak suka.


"Sayang, bukan begitu maksud Vino. Dia kan hanya bertanya" Ucap Fani.


"Aku kesini karena menemui dokter kandungan, Vin. Aku sekarang sedang hamil, dan usia kandungannya sudah 3 bulan" Sambung Fani.


"Jadi, maafkan perkataan Rendi tadi ya. Moodnya tambah parah semenjak aku hamil. Bawaannya marah melulu. Aku juga heran nih, aku yang hamil dia yang ngidam" Ucap Fani.


"Tapi kan aku ga pernah marahin kamu, sayang" Ucap Rendi.


"Memang ga pernah marahin aku, sih. Tapi supir, pelayan, tukang kebun, bahkan pegawai dikantormu habis kena semprot olehmu" Ucap Fani.


"Itu karena mereka memang salah, sayang. Jadi pantes buat di marah" Ucap Rendi.


Rendi lalu melirik kembali ke arah Vino. Tiba-tiba mood bapak hamilnya mulai kambuh.


Aish ! Dia lagi ! Padahal, Aku sudah berusaha menyukainya. Tapi, tetap saja tidak bisa.


Batin Rendi.


Fani yang paham betul arti tatapan Rendi, mulai cemas dengan apa yang akan diperbuat Rendi pada Vino.


"Kau belum menikah juga ?" Tanya Rendi.


Jangan bilang kau masih mengharapkan Fani.


Batin Rendi.


"Belum" Jawab Vino singkat.


Gawat, Sindrome cemburunya kambuh lagi


Batin Fani.


"Ini pacarmu ?" Tanya Rendi melirik Khanza.


Khanza yang segera mau menjawab, tiba-tiba kalah cepat dengan Fani yang sudah berbicara duluan.


"Iya, sayang. Ini pacar Vino, namanya Khanza. Sebentar lagi mereka akan menikah kok !" Ucap Fani yang menatap Khanza dan Vino dengan tatapan memelas, seakan memberi kode agar setuju bersandiwara dengannya.


Khanza dan Vino yang mendengar ucapan Fani, terkejut bukan main. Mereka berdua bahkan terlihat salah tingkah satu sama lain. Karena bingung mau menjawab apa. Mereka akhirnya memilih diam.


"Oh, baguslah kalau ini pacarmu. Berarti kau sudah ada kemajuan. Cepatlah menikah. Kau harus merasakan bagaimana rasanya akan menjadi seorang ayah sepertiku" Ucapnya sambil mengelus perut Fani yang membuncit.


Sombong amat !


Batin Vino.


Fani yang melihat tingkah Rendi yang semakin menjadi-jadi, segera mengajak Rendi untuk pulang.


"Kalau begitu, aku dan Rendi pulang dulu ya, Vin. Jangan lupa mengundang kami ya, kalau kalian menikah nanti. Bye Vino, Bye Khanza !" Ucap Fani yang menarik tangan Rendi dan segera mengajaknya pulang.


Khanza dan Vino menatap punggung mereka, yang terlihat dari kejauhan.


Khanza tersenyum mengingat kelakuan Rendi yang sangat manja pada Fani.


"Jadi, itu ya Vin yang namanya Fani ? Pantas, orang-orang bilang kau menyukainya. Ternyata dia memang berhati baik dan lembut" Ucap Khanza.


"Aku tidak tahu, ternyata ada gosip seperti itu ya tentangku di kantor. Wanita dikantor memang suka bergosip ya !" Ucap Vino.


Khanza tertawa mendengarnya.


"Malahan yang menyebarkan gosip itu bukan perempuan loh, Vin. Tapi, satpam yang didepan lobby. Mereka bilang, dia melihat kau dan pacarnya Fani berkelahi. Kau pasti sangat menyukainya kan, sampai rela berkelahi dengan pacarnya" Ucap Khanza sambil tertawa.


Vino tersenyum sinis mendengar ucapan Khanza barusan.


"Aku memang dulu menyukainya. Tetapi aku sudah move on, saat Fani bilang dia tidak akan membuka hatinya untukku. Sejak saat itu aku sadar. Aku sudah tidak ada harapan lagi" Ucap Vino.


"Dan sekarang, Aku sedang berharap lagi pada seseorang. Seseorang yang bila aku melihatnya, membuatku selalu ingin melindunginya" Sambung Vino.


Deg !


Kenapa dadaku berdebar kembali, hanya dengan dia mengatakan itu. Wahai hati sadar dirilah. Dia bukan bicara tentangmu.

__ADS_1


Batin Khanza.


#Ini masukin Fani dan Rendi dalam cerita karena ada readers yang request nih. Tapi cuma batas sini aja yah Rendi dan Faninya nongol 🤭 Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya.. komennya pada cetar deh, bikin aku tambah semangat nulis.. makasih ya🙏 Dan jangan lupa tetap semangat kakak, karena hidup tak semanis susu realgood 🤭 Saranghaeyo 😘


__ADS_2