Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Kesal


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote pada bab ini ya.. Happy reading gaes 😘


************************


"Benar, Kau tidak apa-apa ?" Tanya Khanza pada Syifa.


"Iya, Aku sudah agak mendingan kok. Apalagi setelah barusan makan" Ucap Syifa.


"Apa Yuda menyulitkanmu ? Apa dia mengancammu atau menyakitimu ?" Tanya Khanza.


"Hmmm.. Tidak kok. Aku benar-benar baik-baik saja kok, Za" Ucap Syifa.


"Syukurlah kalau begitu. Karena yang aku tahu. Sejak kecil, Yuda selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi sewaktu kau bercerita, bahwa Yuda memaksamu meminta alamatku. Aku takut dia akan berbuat nekat padamu suatu hari nanti. Apalagi, saat aku melihatnya ada disini, ketika kau dirawat. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak tentangnya" Ucap Khanza.


"Hmmm.. Dia tidak melakukan apapun kok, padaku. Aku kan Syifa.. Aku bisa melindungi diriku sendiri" Ucap Syifa seraya tersenyum.


Khanza yang mendengar ucapan Syifa barusan, merasa lega.


"Oh, iya. Aku lupa, kalau kau ini wanita barbar" Ucap Khanza seraya tertawa.


"Hei, kau sedang mengejekku ya !" Ucap Syifa seolah-olah emosi.


"Tuh, kan. Keluar lagi sifat barbarnya" Ucap Khanza yang bertingkah seolah ketakutan.


"Ya, ampun sini-sini. Adik kecil, jangan takut ya sama kakak. Kakak gadis baik kok" Ucap Syifa.


Khanza yang mendengar ucapan Syifa, jadi tertawa terbahak-bahak. Dia lalu memeluk Syifa dengan sangat erat.


"Aku benar-benar bersyukur, tidak ada sesuatu yang terjadi padamu. Tadinya aku berfikir, kalau sampai Yuda menyulitkanmu. Aku akan mendatanginya, dan mengobrak-abrik kantornya" Ucap khanza yang masih memeluk Syifa.


Huft.. Sebaiknya, aku memang tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Batin Syifa.


"Ayo, kita pulang sekarang Khanza. Kondisiku benar-benar sudah membaik sekarang. Aku juga sudah sehat kembali. Aku tidak betah berlama-lama terbaring disini" Ucap Syifa.


"Baiklah !" Ucap Khanza yang melepaskan pelukannya dan membantu Syifa berkemas untuk pulang ke rumah.


**********************


Keesokan harinya, Khanza mulai bekerja seperti biasanya dikantor. Dia duduk manis bersama Vira di meja resepsionis. Vira yang sibuk menonton tutorial cara bermake-up di layar komputer, membuat Khanza tersenyum melihat.


"Tiap hari kau melihat tutorial ini, apa sudah ada yang kau praktekkan, Vir ?" Tanya Khanza.


Vira menoleh ke arah Khanza.Mengalihkan pandangannya sejenak dari konten yang dilihatnya.


"Sudah sih, Za. Tapi aku masih belum bisa mengaplikasikan cara menggunakan eyelinernya dengan benar. Masih sering melenceng ketika memasangnya. Jadinya meleber kemana-mana. Pas aku berkaca, sudah mirip kayak anak punk aja diriku" Ucap Vira.


Khanza tertawa mendengarnya.


Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri meja mereka.


"Apa Pak Presdir ada ?" Tanya seorang pria yang sedang berdiri di hadapan mereka.


Pria itu berperawakan tinggi, berkuit putih, berhidung mancung dan memiliki postur tubuh yang ideal. Wajahnyapun tak kalah tampan dari Vino.


Dia mengenakan kemeja yang dipadupadankan dengan jaket kulit. Style berpakaiannya sangat fashionable pokoknya.


Khanza lalu berdiri dari duduknya.


"Apa Tuan sudah membuat janji sebelumnya ?" Tanya Khanza.


"Apa bertemu dengan teman sendiri harus membuat janji ?" Tanya balik pria itu.

__ADS_1


"Maaf, tapi ini prosedur" Ucap Khanza.


Pria itu menghela nafas.


"Baiklah gadis cantik, aku kesini ingin membuat kejutan padanya. Aku baru pulang dari luar negeri dan sudah lama tidak bertemu dengannya. Bisakah aku langsung masuk saja ?" Tanya pria itu.


"Maaf, tidak bisa. Anda harus menyebutkan nama anda, agar saya bisa memberitahukan pada pak Presdir siapa yang mencarinya" Ucap Khanza.


"Kalau begitu aku akan langsung masuk saja" Ucap pria itu.


"Kalau begitu saya akan memanggil security sekarang" Ucap Khanza.


Pria itu bengong melihat Khanza.


Cukup berkarakter !


Batin Pria itu.


"Baiklah, kalau begitu beritahu dia, kalau Aldi mencarinya" Ucap pria itu.


"Silahkan duduk dulu, saya akan ke ruangan presdir untuk memberitahunya" Ucap Khanza.


Khanza lalu melangkah ke ruangan Vino dan mengetuk pintunya. Terdengar suara jawaban dari dalam. Khanza lalu masuk ke ruangan tersebut dan menghampiri Vino di meja kerjanya.


"Maaf, Pak Vino. Ada tamu yang mencari anda. Namanya Tuan Aldi" Ucap Khanza.


Vino yang sibuk menandatangani berkas dari tadi, seketika menghentikan kegiatannya ketika Khanza menyebut nama Aldi.


"Aldi ? Suruh dia masuk" Ucap Vino.


"Baiklah, Pak" Ucap Khanza.


Oh, ternyata pak presdir memang mengenalnya.


Batin Khanza.


"Silahkan masuk Pak Aldi" Ucap Khanza.


Aldi yang sedari tadi asyik memainkan ponselnya, menghentikan kegiatannya. Dia melirik sekilas ke arah Khanza, dan membaca nama pengenal Khanza.


"Khanza. Senang bertemu denganmu, Khanza" Ucap pria itu sambil tersenyum lalu melangkah pergi menuju ruangan Vino.


Hah ? Ada apa dengan pria ini ? Apa maksudnya dia akan melaporkanku pada Pak Vino.


Batin Khanza.


****************


Vino yang mendengar suara pintu terbuka, sontak menoleh ke asal suara.


"Selamat pagi, Pak Presdir" Ucap Aldi sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Vino.


Vino tersenyum dan langsung menyambut uluran tangan Aldi. Mereka berjabat tangan.


"Apa kabarmu ? Kenapa kau pulang ? Apa kau dideportasi ?" Ucap Vino.


"Sial*n kau ! Memangnya aku warga ilegal" Ucap Aldi sambil mengambil kursi, dan duduk di depan meja Vino.


"Kenapa kau bisa ada disini ?" Tanya Vino.


"Ibuku menelepon bahwa aku harus mengurus bisnis Coffee Shop yang ada disini. Ada sedikit masalah manajemen di Coffee Shop sini. Mungkin aku akan berada disini dalam waktu yang lama" Ucap Aldi.


"Lalu bisnismu yang di Inggris ?" Tanya Vino.

__ADS_1


"Ada yang handle kok" Ucap Aldi.


"Oh, baguslah" Ucap Vino yang kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Oh ya, Vin. Apa kau punya nomor handphone pegawaimu yang bernama Khanza ?" Tanya Aldi.


"Khanza ?" Ucap Vino yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya, ketika mendengar Aldi menyebut nama Khanza.


"Mengapa Kau menginginkan nomor handphonenya ?" Sambung Vino.


"Karena, aku tertarik padanya" Ucap Aldi.


"Aku tidak punya nomor ponselnya. Jangan mengganggu karyawanku" Ucap Vino.


"Aku tidak ingin menganggunya. Aku hanya ingin lebih dekat dengannya. Aku suka sifatnya yang sangat berkarakter" Ucap Aldi.


Vino tidak merespon. Dia tidak menanggapi ucapan Aldi.


"Baiklah, kalau kau tak mau memberitahuku nomor ponselnya, aku akan minta sendiri" Ucap Aldi.


Tiba-tiba Khanza masuk ke dalam ruangan Vino. Dia memegang sebuah Amplop coklat berukuran besar ditangannya.


"Maaf, Pak Vino. Ini ada surat dokumen dari Perusahaan Wijaya Group" Ucap Khanza.


Vino lalu menyambut Amplop coklat pemberian Khanza tersebut.


"Baik, terima kasih Khanza" Ucap Vino.


"Ya, Pak" Ucap Khanza.


Khanza yang akan segera keluar tiba-tiba dihadang oleh Aldi.


"Boleh aku meminta nomor ponselmu, Khanza ?" Tanya Aldi.


"Untuk apa ?" Tanya Khanza.


"Aku ingin mengetahui lebih banyak tentangmu. Aku ingin berteman denganmu" Ucap Aldi.


Khanza memandang wajah pria dihadapannya dengan intens. Vino yang melihat kejadian itu juga tak sabar menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Khanza.


Tiba-tiba Khanza mengambil ponsel yang disodorkan Aldi dihadapannya. Dia terlihat mengetik sesuatu di sana. Kemudian, dia mengembalikan ponsel itu kepada Aldi lagi.


"Bila anda butuh teman, anda bergabung saja dengan grup ini. Ini nomor telepon grup friends whatsapp, yang saya screenshoot dari google" Ucap Khanza.


Vino tertawa mendengarnya. Sedangkan, Aldi bengong mendengar ucapan Khanza barusan.


"Kau tidak mau memberikan nomor ponselmu, Apakah karena kau sudah mempunyai kekasih ?" Tanya Aldi to the point.


Khanza yang barusan akan melangkah pergi, seketika menghentikan langkahnya. Dia menoleh kebelakang menghadap Aldi.


"Saya memang belum mempunyai kekasih. Tetapi saya tetap tidak akan memberikan nomor saya pada orang yang baru saja saya kenal. Dan, saya juga tidak ingin berteman akrab dengan seorang pria. Mohon maaf, Saya permisi keluar !" Ucap Khanza.


Khanza lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Wow, semakin menarik.. Kau dengar ? Dia bilang, dia belum mempunyai kekasih. Sepertinya, Aku masih ada peluang" Ucap Aldi pada Vino.


Vino diam tidak menjawab.


Tampaknya, Aku akan sering main ke kantormu nanti" Ucap Aldi seraya tersenyum lebar.


Entah mengapa, aku merasa kesal mendengar ucapan Aldi barusan..


Batin Vino.

__ADS_1


#Maaf baru up sekarang ya, kemarin ada perjalanan luar kota jadi masih kecapek'an semalam. Tunggu update selanjutnya ya, mungkin entar malam update lagi. Jangan lupa sisipkan komentar syantikmu, like dan vote ya.. Inget buat jaga kesehatan ya. Kalau capek, istirahat. Kalau laper, makan. Dan kalau rindu bilang ya, jangan dipendam.. Oops.. ðŸĪŠ Saranghaeyo 😘


__ADS_2