Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Identitas Khanza


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya🙏 Happy reading gaes 😘


****************


Pagi ini, Khanza sudah duduk manis di meja tempatnya bekerja. Vira yang baru saja datang, langsung duduk disebelahnya.


"Za, sebel banget gue. Terlambat 5 menit gue tadi absen handkeynya" ucap Vira.


"Lagian kok tumben telat ?" tanya Khanza.


"Tadi adik gue nebeng minta anter ke sekolahannya. Motornya rusak" ucap Vira.


"Oohh" ucap Khanza.


Tiba-tiba ada pegawai dari lantai 4 nganterin dokumen yang harus ditanda tangani oleh Vino.


"Pagi Khanza, Pagi Vira" ucap Pak Indra.


"Pagi, Pak Indra" ucap Khanza dan Vira berbarengan.


"Nitip dokumen dong buat Pak Vino" ucap Pak Indra.


"Ok, Pak. Tapi mungkin siangan ya Pak, baru ditanda tangani. Pak Vino lagi meeting di lantai 12 sekarang" ucap Khanza.


"Oke, ngak apa-apa. Makasih ya" ucap Pak Indra.


Pak Indra lalu bergegas pergi.


"Mana dokumennya Za ? Sini biar gue yang letakkinnya di ruangan Pak Vino sekalian nganterin draft tamu bulan kemarin buat Zia. Kemarin dia minta" ucap Vira.


"Oke, Nih !"ucap Khanza memberikan dokumen tersebut.


Khanza mulai menyusun surat masuk dan surat keluar ke dalam map untuk diarsip. Tiba-tiba suara seorang perempuan menghentikan perkerjaannya.


"Maaf Mbak, Pak Vino ada ?" Tanya Perempuan itu dengan suara yang sangat lembut dan mendayu-dayu.


Khanza menoleh.


"Nanda ?" ucap Khanza kaget.


"Khanza ?" ucap Nanda yang tak kalah kaget.


"Pak Vino, sedang meeting sekarang. Mungkin sebentar lagi selesai" ucap Khanza yang mencoba menyembunyikan rasa kagetnya.


"Kalau begitu aku tunggu disini saja dulu" ucap Nanda yang menunjukk ke arah sofa.


"Oke, silahkan" ucap Khanza.


"Hmm.. Aza. Bolehkah kita mengobrol sebentar" ucap Nanda yang masih mengingat nama panggilan Khanza sewaktu kecil.


Khanza hanya diam. Dia memandang lekat wajah gadis di hadapannya sekarang.


**************


Sementara di ruang meeting.


Semua manager yang telah selesai mengikuti rapat, satu persatu keluar dari dalam ruangan meeting. Sedangkan Vino yang telah selesai memimpin rapat tersebut, masih berada di dalam ruangan itu. Vino yang sedang fokus membaca hasil keputusan rapat tiba-tiba dihampiri oleh Sekretaris pribadinya, Rido.


Sekretaris Rido, tampak membisikkan sesuatu di telinganya.


"Suruh mereka masuk !" ucap Vino.


Rido mengangguk. Dia keluar memanggil orang yang diperintahkan oleh Vino masuk.


Tampak dua orang laki-laki memakai jaket bewarna hitam dan bertopi bewarna senada telah duduk dihadapan Vino.


"Jadi, mana data yang aku pinta ?" tanya Vino.


"Ini, Pak !" ucap salah satu dari mereka memberikan sebuah amplop berukuran besar bewarna coklat.


Vino memyambutnya. Dia mulai membuka amplop tersebut dan membuka lembar demi lembar kertas yang berisikan data pribadi Khanza.


Vino tampat sangat terkejut saat membaca isi dari laporan para informan tersebut.


"Berikan bayaran mereka, Sekretaris Rido. Mereka telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik" ucap Vino.


"Terima kasih, Tuan Vino" ucap Mereka.


Akhirnya Sekretaris Rido mengajak mereka keluar dari ruangan tersebut untuk pembayaran.


Khanza Dwitama.. Rahasia apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku. Masih adakah hal yang sebenarnya harus aku ketahui lagi ?


Batin Vino.


*************


Sementara di lobby atas.


Khanza sudah duduk di sofa lobby, saling berhadapan dengan Nanda.


"Kau ingin mengobrol apa ?" tanya Khanza yang sudah duduk di sebelah Nanda.


"Kau sudah lama bekerja disini ?" tanya Nanda.


"Belum lama" ucap Khanza singkat.


"Selama ini aku bertanya-tanya. Dimana kau mengenal Vino, ternyata kalian bekerja di tempat yang sama" ucap Nanda.


Khanza masih diam.


"Khanza, ayo mainlah ke rumah kapan-kapan. Kondisi Papa sedang tidak sehat sekarang. Papa sakit-sakitan" ucap Nanda.


Sakit ? Ah, masa bodoh.. Dia aja enggak pernah mikirin aku !

__ADS_1


Batin Khanza.


"Aku enggak peduli soal itu. Jadi apa itu tujuanmu kemari ?" Tanya Khanza.


Nanda tersenyum.


"Tentu saja tidak. Aku saja baru tau hari ini, kalau kamu bekerja disini. Sekalian saja aku pikir memberitahu keadaan Papa sekarang" ucap Nanda.


Khanza masih cuek bebek.


"Sebenarnya aku kemari ingin membahas masalah kerja sama yang diputuskan secara sepihak oleh Vino. Padahal kontrak masih berjalan enam bulan lagi. Bukan kamu kan Za, yang bilang ke Vino kalau harus memutuskan kerja sama ini ?" ucap Nanda.


Khanza menyeringai.


"Apa aku orang yang seperti itu dimatamu ?" tanya Khanza pada Nanda.


"Maaf aku hanya sekedar bertanya" ucap Nanda.


"Kamu sudah lama ya Za, menjalin hubungan dengan Vino ?" tanya Nanda.


"Pelankan, suaramu Nanda. Kami merahasiakan hubungan ini dari karyawan yang lain. Kami tidak ingin mencampur adukkan pekerjaan dengan hubungan pribadi" ucap Khanza.


Nanda mengangguk.


"Belum lama juga. Tetapi mengapa kau bertanya sejauh ini ? Tampaknya kau sangat tertarik pada hubungan kami ? Atau lebih tepatnya pada Vino ?" ucap Khanza menaikkan salah satu alisnya.


Khanza merasa tidak senang pada Nanda yang terlalu banyak bertanya tentang Vino.


Tiba-tiba Vino dan Sekretaris Pribadinya Rido, datang.


Khanza dan Nanda yang melihat Vino datang langsung berdiri.


"Maaf Pak, Nona Nanda Dwitama ingin menemui anda. Sepertinya ada hal yang ingin dibicarakan mengenai persoalan bisnis" ucap Khanza.


Vino melirik ke dua perempuan yang berdiri saling berdekatan itu.


Nona Nanda Dwitama ? Bukannya itu saudara tirimu. Mengapa dia memanggilnya begitu kaku. Seperti orang lain saja. Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka.


Batin Vino.


"Ayo masuk ke ruanganku. Kita bicarakan di dalam" ucap Vino pada Nanda.


"Oke" ucap Nanda.


Vino berjalan mendekat ke arah Khanza. Dia berbicara kecil, seperti berbisik.


"Aku ke dalam ya" ucap Vino sambil mengusap rambut Khanza sekilas.


"Udah sana, entar orang pada lihat lagi" ucap Khanza dengan nada yang juga berbisik, takut kepergok sama pegawai diruangan itu.


Vino tersenyum.


Nanda yang melihatnya sekilas merasa iri pada perhatian yang diberikan Vino kepada Khanza.


"Silahkan duduk" Ucap Vino.


"Makasih" ucap Nanda yang sudah duduk di sofa tengah bersebrangan dengan Vino. Sementara Sekretaris Rido, berdiri disamping Vino.


"Apa yang membawamu kemari, Nan ?" tanya Vino.


"Mengenai surat yang kau kirim. Mengapa kau memutuskan secara sepihak kontrak kerja sama kita Vin ? Bukankah kontrak kerja kita masih tersisa 6 bulan lagi ?" tanya Nanda.


"Iya, betul. Tetapi ada alasan tertentu yang membuatku membatalkan kontrak. Bila Perusahaan Dwitama Group keberatan bisa menghubungi bagian legal officer kami" ucap Vino.


"Apa ini karena Khanza yang memintanya. Jadi, kau memutuskan hubungan dengan Perusahaan kami ?" tanya Nanda.


Vino melirik Nanda. Sorot matanya kesal.


"Ini tidak ada hubungannnya dengan Khanza. Aku sendiri yang memutuskan semua ini" ucap Vino yang masih ingat alasannya memutuskan kontrak ini karena tadinya cemburu dengan Yuda.


Dia belum mengetahui fakta yang sebenarnya saat itu. Tetapi dia telah mengetahuinya sekarang. Bahwa sebenarnya Yuda adalah saudara tiri satu ayah dengan Khanza.


"Baiklah kalau memang begitu. Tetapi tolong pikirkan kelangsungan hidup para pekerja kontruksi bangunan yang telah bekerja selama ini. Pikirkan para pegawai yang sudah lembur mati-matian untuk proyek ini. Bukankah kau orang yang sangat peduli terhadap para karyawanmu" ucap Nanda.


Vino terdiam. Mencoba mencerna ucapan Nanda.


Ucapan Nanda ada benarnya juga. Aku tidak boleh egois. Tadinya Khanza juga tidak setuju aku memutuskan kontrak dengan Perusahaan Dwitama Group.


Batin Vino.


"Kau benar ! Oke, kerja sama ini akan tetap lanjut. Tetapi untuk proyek ini sepenuhnya aku serahkan pada manager proyek Perusahaan kami. Kau bisa menghubunginya bila ada kendala dalam proyek. Tidak perlu menghubungiku" ucap Vino.


Nanda mengangguk.


"Apa kau takut Khanza akan cemburu bila aku terus-terusan menghubungimu ? Kau jangan khawatir walaupun aku menyukaimu, aku tidak akan merebut pacar saudaraku sendiri" ucap Nanda.


Sontak Vino terkejut mendengar pengakuan Nanda.


Menyukaiku ? Apa ini sebuah pengakuan ?


Batin Vino.


Nanda yang melihat ekspresi wajah Vino yang terkejut segera bertanya kembali.


"Mengapa kau terlihat kaget ? Jangan bilang kau tidak tahu kalau aku menyukaimu ? atau kau kaget karena baru mengetahui aku adalah saudara tirinya Khanza ?" ucap Nanda.


"Masalah Khanza dan dirimu adalah saudara tiri, aku sudah mengetahuinya. Walaupun memang belum lama" ucap Vino.


"Dan masalah kalau kau menyukaiku, maaf aku tidak menyadari hal itu. Dan aku juga tidak bisa membalas perasaanmu" ucap Vino.


Nanda tersenyum.


"Kau buru-buru sekali. Padahal aku baru bilang aku menyukaimu. Aku bahkan belum meminta hatimu" Ucap Nanda.

__ADS_1


"Tapi aku cukup sadar diri dengan itu. Seandainya kau bukan Pacar Khanza, aku pasti masih berharap. Tapi seperti kataku tadi, aku tidak merebut pacar saudara sendiri" Sambung Nanda.


Vino tersenyum.


"Terima kasih karena kau telah mengerti" ucap Vino.


Akhirnya setelah menyelesaikan obrolan dan mencapai kesepakatan dalam kerja sama, Nanda keluar dari ruangan Vino.


Nanda menyapa Khanza saat melintasi meja Resepsionis di depan.


"Za, gue pulang ya. Salam buat Ibu" ucap Nanda.


Khanza mengangguk.


****************


Jam telah menunjukkan pukul 17.30 sore.


Khanza dan Vino yang sudah berada di parkiran basement, langsung masuk ke dalam mobil. Vino lalu mengendarai mobil tersebut.


"Sayang, entar malam temani aku ke pesta ya. Perusahaan Surya Group, yang selama ini sering kerja sama bareng kita, ngundang aku ke acara ulang tahun Perusahaannya" ucap Vino.


Surya Group ? Kayak pernah denger nama Perusahaan ini. Tapi dimana ya ?


Batin Khanza.


"Hmm.. Iya, deh. Jemput ya seperti biasa" ucap Khanza.


Vino mengangguk.


"Entar sekalian pulang ini kita mampir dulu ke butik. Beli baju buat kamu entar malem ke pesta" ucap Vino.


"Enggak usah, Ay. Baju yang kamu beliin tempo hari juga masih banyak banget. Belum banyak yang kepake" ucap Khanza.


"Enggak apa-apa sayang buat nambahin pilihan pakaian" ucap Vino.


"Beneran enggak usah, sayang" ucap Khanza.


"Oke deh kalau begitu" ucap Vino.


"Vin, tadi ngobrol apa aja sama Nanda ? lama banget perasaan Nanda keluar dari ruangan kamu" tanya Khanza penasaran.


Vino tersenyum.


"Cemburu ya ?" ucap Vino.


"Enggak" ucap Khanza berbohong. Tetapi mukanya langsung berpaling melengos ke jendela kaca mobil di sampingnya.


Vino yang melihat tingkah Khanza jadi senyum-senyum sendiri.


"Enggak ada sayang. Cuma ngomongin kerjaan doang" ucap Vino sambil mengusap puncak kepala Khanza.


"Kerja sama dengan Perusahaan Dwitama yang masih sisa 6 bulan bakal dilanjutin lagi. Mengingat banyak tenaga kerja yang sudah kepakai disana" ucap Vino.


Khanza mangguk-mangguk.


Mobil yang dikendarai oleh Vino akhirnya sudah sampai di depan rumah Khanza.


Khanza yang ingin membuka pintu mobil, ditahan sama Vino. Vino langsung memegangi tangannya Khanza.


"Za, sebenernya selain ngomongin masalah kerjaan. Nanda tadi juga bilang kalau dia menyukaiku" ucap Vino.


"Nanda bilang kayak gitu ?" Ucap Khanza yang langsung dilingkupi perasaan cemburu.


"Iya, tapi aku sudah bilang punya kamu dan aku juga bilang enggak bisa menerima perasaan dia" ucap Vino.


Khanza langsung bernafas lega.


"Za, aku ngomong kayak gini biar kita saling terbuka dan jujur satu sama lain. Aku enggak pingin ada sesuatu yang kita sembunyiin dalam hubungan kita. Aku harap nanti kamu mau jujur padaku soal apapun itu" ucap Vino.


*Deg !


Kok kata-katanya nancep banget dihati aku ya*.


Batin Khanza.


"Vin, sebenarnya... Sebenarnya... aku.. aku.." ucap Khanza terhenti.


Aduh belibet banget ini mulut ! Kayak terkunci sendiri nih bibir. Kayaknya emang yang paling gampang itu bohong deh. Sekarang, berat banget rasanya mau ngomong jujur.


Batin Khanza.


"Vin, aku... aku.." Khanza mencoba berbicara kembali. Tapi, Vino yang mendekat ke arahnya menghentikan ucapan Khanza.


Tiba-tiba,


Cup !


Vino mencium bibir Khanza sekilas. Khanza kaget bukan main.


"Vin !" teriak Khanza.


"Sudah masuk sana ke dalam. Entar jam 7 malem aku jemput ya ke pesta" ucap Vino sembari tersenyum.


Khanza yang masih kaget hanya bisa mengangguk. Dia lalu turun dari mobil Vino.


Vino melajukan mobilnya kembali. Dari jauh dia menatap mobil Vino yang perlahan mulai menghilang.


# Hari ini double up ya.. Jangan lupa memberi like, vote dan komennya.. makasih ya gaes 🙏


Jangan lupa juga baca novel sahabatku, karya mama Khalisa Maisara ya.. yang judulnya "Alan&Alana" Ceritanya bagus kok 😊


__ADS_1


__ADS_2