
# Mohon dukungannya ya gaes dengan cara memberi like, komen dan vote.. Saranghaeyo 🙏😘
********************************
Nisa tiba di perusahaan Buana Group.Semenjak mengenal Riko, Ini kali pertamanya Dia menginjakkan kakinya di perusahaan milik Riko tersebut.
Dia membawa banyak kantong yang berisi makanan. Dia membawa bubur, buah - buahan, roti dan susu. Persis seperti seseorang yang akan membesuk pasien yang sedang sakit.
"Mbak bisa saya bertemu dengan Pak Riko Rizky Buana ?" Tanya Nisa pada perempuan yang duduk di meja resepsionis Lobby.
Aku sampai hafal namanya. Sejak kapan aku mulai mengingat nama itu ya..
"Pak Presdir ? Sudah buat janji sebelumnya ?" Tanya perempuan itu.
"Eehh.. Belum. Tapi bilang saja Nisa dari Mandala Group ingin bertemu" Ucap Nisa.
Ya Ampun PeDe sekali aku bilang begitu hihihi...
Sementara di ruangan rapat, Riko yang sedang mengadakan meeting mengalihkan pandangannya pada sekretaris pribadinya yang baru masuk ke dalam ruangan. Dia berjalan mendekati Riko.
"Maaf Pak, Ada yang ingin bertemu. Namanya Nona Nisa dari Mandala Group. Bagaimana apa saya suruh tunggu saja ?" Bisik sekretaris pribadi Riko.
Nisa ?
"Suruh naik ke ruanganku sekarang" Ucap Riko.
"Baik Tuan" Ucap sekretaris pribadi Riko yang bergegas keluar.
"Ya, Rapat hari ini cukup sampai disini dulu. Nanti kirim proposal pengajuannya ke ruanganku !" Ucap Riko.
Rikopun bergegas meninggalkan ruangan rapat untuk menemui Nisa.
Nisa yang sudah duduk manis di sofa ruangan Riko terkejut dengan kedatangan Riko yang tiba - tiba.
"Aku serasa berhalusinasi saat sekretaris pribadiku bilang kau berada disini" Ucap Riko tersenyum.
"Tumben sekali kau ke sini ?" Tanya Riko bersemangat.
Nisa tidak menjawab. Dia sibuk mengamati Riko dari atas sampai bawah.
"Kau tidak apa - apa ?" Tanya Nisa.
"Aku tidak apa - apa. Seperti yang kau lihat. Memangnya kenapa ?" Tanya balik Riko.
"Lalu apa yang kau bawa itu ? Besar sekali kantong bawaanmu ?" Tanya Riko lagi.
"Rendi bilang kau sedang sakit cacar. Jadi aku membawakanmu bubur, buah - buahan dan makanan yang lainnya" Ucap Nisa.
"Apa ? Jadi karena itu kau kemari ?" Tanya Riko.
Nisa mengangguk.
"Aishh... Pria Gila itu ! Jadi dia menyumpahiku sakit cacar !" Ucap Riko.
"Aku tidak sakit cacar. Aku hanya kurang enak badan tadi pagi. Tapi sekretaris pribadiku sudah membelikanku obat tadi. Dan sekarang sudah agak baikan" Sambung Riko.
"Ooh.." Mulut Nisa membentuk lingkaran. Dia mulai bernafas lega.
"Tapi setidaknya aku harus berterima kasih pada Rendi. Kalau Dia tidak bilang begitu kau tidak akan pernah kemari kan ?" Ucap Riko.
Nisa tersenyum mendengar Ucapan Riko.
"Jadi kenapa kau kemari apa karena kau peduli padaku ?" Tanya Riko memancing.
"Menurutmu ?" Tanya balik Nisa sambil tersenyum.
Riko ikut tersenyum mendengarnya.
"Jadi apakah ini jawaban dari pernyataanku kemarin ?" Tanya Riko lagi penasaran.
Nisa mengangguk. Pipinya bersemu merah.
*****************
Flashback On
Malam dimana Fani menangis tersedu - sedu di saat pergantian umurnya. Kedua sahabatnya mencoba menenangkan Fani.
"Sudahlah Fan, Jangan menangis lagi. Aduh, Memang laki - laki semua sama ya ! Mentang - mentang punya jabatan tinggi jadi seenaknya mempermainkan perasaan perempuan !" Ucap Nisa.
__ADS_1
"Eh, Nisa jangan nambahin bensin kedalam api dong ! Bukannya dihibur Faninya" Ucap Dila.
"Siapa yang beli bensin ? Terus mana apinya ? Ga ada yang nyalahin api kok di dalam kamar ! Aneh deh !" Ucap Nisa polos.
"Ya Ampun bener - bener nih anak ! Gue heran deh kenapa Presdir Buana Group itu bisa jatuh cinta sama cewek lemot kayak elo !" Ucap Dila emosi.
Fani tersenyum mendengar obrolan dua sahabatnya itu. Setidaknya Dia merasa sedikit terhibur.
"Ngomong - ngomong soal Riko.. Sebaiknya kamu mempertimbangkannya lagi deh Nis. Di beberapa kesempatan aku sudah beberapa kali bertemu denganya. Dan itu sudah cukup bagiku mengenal Riko" Ucap Fani.
"Dia tidak mengajak pasangan saat Pernikahan Azzam. Dan juga aku dengar dari Fahri, dia hanya dijodohkan oleh Fahri soal pacar - pacarnya yang dulu. Sepertinya dia tidak seperti yang kita pikirkan selama ini" Sambung Fani.
Nisa terdiam beberapa saat. Dia mencoba mencerna ucapan Fani.
*************
Sementara di Perusahaan Samudra Group. Waktu menunjukkan pukul 17 : 00 sore. Fani sudah bersiap - siap merapikan mejanya untuk bergegas pulang.
Hampir seharian ini dia dibuat tidak konsentrasi pada pekerjaannya. Dimulai dari pernyataan cinta Vino, obrolannya dengan Mama Keyla, dan yang paling menguras pikirannya adalah masalahnya dengan Rendi.
Arrrrghhhh.. Kenapa hidup seribet ini sih !
Tiba - tiba suara mbak Zia membuyarkan lamunan Fani.
"Sudah mau pulang ? Mau turun ke bawah kan ? Bareng yok !" Ucap Mbak Zia yang juga sudah berkemas - kemas.
"Iya nih Mbak sudah siap pulang" Ucap Fani.
Saat mereka berdua mau menutup pintu lift, Deka berteriak dengan kencangnya.
"Tungguin gue dong ! Jangan ditutup dulu !" Teriak Deka.
Dekapun masuk ke dalam lift.
"Fan, kamu kenapa sih dari tadi bawaannya murung terus. Padahal lagi ulang tahun loh" Tanya Mbak Zia.
"Iya aku juga lihatnya gitu dari tadi" Sambung Deka.
"Emang kelihatan ya ?" Tanya Fani.
"Banget !" Kata mbak Zia.
"Hmmm.. Ga ada apa - apa kok. Cuma lagi banyak pikiran aja" Ucap Fani.
"Gila ganteng banget ya. Mau jemput siapa ya kira - kira ?"
"Kalau masih jomblo aku mau daftar jadi pacarnya !"
"Dari cara berpakaiannya, sepertinya bukan orang sembarangan deh"
Fani, Zia, dan Deka heran melihat kumpulan pegawai perempuan yang kira - kira berjumlah lima orang tersebut menyender di meja resepsionis.
"Aduh kenapa sih pada berdiri di meja resepsionis menghalangi jalan aja" Ucap Deka kesal.
Tapi , tiba - tiba suara Mbak Zia mengejutkan Fani.
"Astaga, Itu kan pacarmu Fan. Mau jemput kamu kayaknya. Jadi itu ternyata yang diributkan pegawai - pegawai perempuan tadi" Ucap Mbak Zia.
"Wah, memang pacar Fani keren sih !" Ucap Deka.
Melihat Fani yang sudah turun, Rendi berdiri dari duduknya.
Fani, Deka dan Zia berjalan menghampiri.
"Kamu Rendi kan pacarnya Fani ? Kenalkan kami teman kerja Fani. Saya Zia dan ini Deka" Ucap Mbak Zia.
Rendi mengangguk tersenyum.
"Mau jemput Fani ya ?" Tanya Deka.
"Iya !" Ucap Rendi.
"Oh, Ini ambil jangan lupa dibikin happy ya Ren. Dari tadi cemberut terus seharian ga tau deh kenapa !" Ledek deka sambil mendorong pelan tubuh Fani ke arah Rendi.
Fani yang tidak siap didorong oleh Deka hampir saja jatuh karena menggunakan sepatu hak tinggi.
Dengan sigap Rendi memegang tangan Fani, Sehingga tubuh Fani terhempas ke dada Rendi.
"Cieeee...!! Ledek deka dan Mbak Zia.
__ADS_1
"Kayaknya sebentar lagi, bakal ada yang ga cemberut lagi nih" Ucap Mbak Zia.
Fani merasa malu. Pipi Fani bersemu merah.
"Sudah ah, Aku dan Rendi pulang duluan ya ! Bye Deka ! Bye Mbak Zia !" Ucap Fani yang tanpa sadar menarik tangan Rendi keluar Lobby karena sudah keburu malu.
Sementara ada sepasang mata yang sendu menatap kepergian mereka berdua. Vino yang melihat dari kejauhan merasa iri pada Rendi. Tadinya dia berencana mengantar Fani pulang tapi tidak disangka - sangka dia menyaksikan pemandangan menyakitkan seperti ini.
Fani yang baru sadar menarik tangan Rendi, langsung melepaskan gengggaman tangannya ketika berada di parkiran.
"Eeh.. Itu.. Aku tidak sengaja tadi menarik tanganmu.. Aku buru - buru tadi !" Ucap Fani.
"Jadi kau sudah tidak marah lagi kan sekarang ? Ayo mengobrol di dalam, tidak enak berbicara disini" Ucap Rendi. Giliran Rendi sekarang yang menarik tangan Fani dan membuka pintu mobil.
Rendi melajukan mobilnya. Sepanjang jalan mereka hanya saling diam satu sama lain.
Fani yang tak menginginkan suasana menjadi canggung mencoba membuka obrolan.
"Mau kemana kita sekarang ?" Ucap Fani yang melihat ke luar kaca mobil.
"Ini bukan jalan menuju rumahku !" Ucap Fani.
Rendi tersenyum.
"Kita memang bukan mau pulang. Kita akan ke suatu tempat !" Ucap Rendi yang sengaja membuat Fani penasaran.
Fani hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan Rendi yang menggantung.
Mobilpun berhenti di sebuah wahana permainan Outdoor terbesar di kota itu.
Fani yang merasa kebingungan mengapa Rendi mengajaknya kesitu langsung bertanya.
"Mengapa kita ke sini ?" Tanya Fani heran.
"Untuk merayakan ulang tahunmu ! Masi belum terlambat kan ?" Ucap Rendi.
"Ayo turun !" Ucap Rendi yang kembali menarik tangan Fani.
Mereka memasuki wahana permainan tersebut. Mereka mencoba semua wahana tanpa satupun yang terlewat.
Mereka menaiki roller coaster, bianglala, kora - kora, ontang - anting dan masih banyak lagi. Mereka berdua terlihat bahagia satu sama lain. Tawa riuh mereka berdua seolah menghapus pertengkaran yang terjadi. Sesekali Rendi mengambil gambar Fani menggunakan kamera dslr terbaru miliknya yang sengaja dibawanya. Mereka juga kerap kali mengambil gambar mereka berdua.
Jam menunjukkan pukul 19 : 00 malam, Rendi dan Fani bersiap pulang.
Di dalam mobil Rendi terus melirik ke arah Fani yang tersenyum riang.
"Apa kau senang ?" Tanya Rendi.
Fani mengangguk.
"Terima kasih Ren untuk hari ini" Ucap Fani tulus.
Rendi terdiam sejenak.
"Aku minta maaf ya untuk kejadian semalam. Aku benar - benar ingin datang semalam tapi Keyla mencoba bunuh diri" Ucap Rendi.
"Ya, aku sudah dengar semuanya dari mama Keyla. Aku tahu walaupun kau ini terkesan cuek, sombong dan kasar tetapi sebenarnya rasa kemanusiaanmu sangat tinggi" Ucap Fani.
"Jadi aku ini sombong dan kasar ya ?" Ucap Rendi seolah - olah marah.
Lalu mereka berdua kembali tertawa bersamaan.
Suasana kembali berubah hening. Tiba - tiba Rendi merasa sangat canggung. Dia merasa sedikit gugup. Rendi mencoba mengumpulkan sedikit keberaniannya untuk memulai pembicaraan serius.
"Sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan padamu. Awalnya aku ragu.Semula aku menganggap perasaan ini tumbuh hanya karena kita terbiasa sering bersama. Jadi aku merasa kurang bila kau tidak ada. Tetapi sewaktu kau menangis karenaku dan menjauhiku, Aku baru sadar ternyata itu bukan kebiasaan semata. Apalagi saat kau dekat dengan si kuny*k itu, aku baru sadar ternyata aku tidak bisa kehilanganmu" Ucap Rendi yang fokus menyetir ke depan.
"Aku..." Ucap Rendi terbata.
"Aku..." Tiba - tiba ucapan Rendi terhenti saat menoleh sekilas ke arah Fani.
"Huft..." Dia menghela nafas panjang.
"Jadi dari tadi aku berbicara sendiri ya ?" Ucap Rendi yang menoleh ke arah Fani yang tertidur lelap. Rendi mengelus rambutnya.
Mobil yang dilajukan Rendipun tiba di rumah Fani.
Rendi memandang Fani yang tertidur lelap di sampingnya. Dia mengusap rambutnya dan memasangkan kalung yang dibelinya di leher Fani tanpa sepengetahuan Fani yang masih nyenyak di alam mimpinya.
"Dasar gadis Aneh ! Bisa - bisanya tertidur di saat seperti ini" Ucap Rendi yang masih mengelus rambut Fani perlahan.
__ADS_1
Gadis Aneh yang telah membuatku jatuh hati..
# Mohon dukungannya ya gaes dengan cara memberi like, komen dan vote.. Terima kasih buat pembaca setia yang senantiasa memberi semangat, serta yang memberi komen - komen yang membangun 🙏 Saranghaeyo 😘*