Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
42. Kado terburuk


__ADS_3

# Jangan lupa beri like, komen dan vote ya gaes.. 🙏☺ Happy Reading 😘


*********************************************


Rendi tiba di Rumah Sakit. Dia langsung menuju kamar tempat Keyla dirawat.


"Rendi akhirnya kamu datang" Ucap mama Keyla yang sudah berdiri di depan pintu kamar dengan raut wajah cemas.


"Dimana Keyla ?" Tanya Rendi.


"Dia didalam !" Ucap mama Keyla.


Rendi melirik ke arah kamar Keyla yang pintunya sedikit terbuka. Di sana ada dokter dan beberapa perawat yang mencoba membujuk Keyla untuk meletakkan pisau bedah yang dipegangnya.


"Panggil pacarku kemari ! Kalau tidak aku tidak segan - segan melukai diriku sendiri !" Ucap Keyla.


"Tenang Nona, Tolong letakkan pisaunya. Kondisimu sudah mulai drop sekarang. Kamu akan kehabisan tenaga nanti" Ucap dokter diruangan itu mencoba menenangkan.


"Keyla, Ini Rendi sudah datang.. Dia sudah datang. Sudah bisakah kamu meletakkan pisau bedah itu Nak. Ayo, letakkan. Mama mohon !" Ucap mama Keyla dengan derai air mata.


"Rendi..." Ucap Keyla yang menatap Rendi sambil masih memegang pisau bedah ditangannya.


"Berikan padaku pisaunya Keyla, Jangan melakukan hal yang berbahaya !" Ucap Rendi.


"Tidak..!!! Aku tidak akan memberikan pisau ini. Kecuali kau janji untuk menjaga dan menemaniku di rawat malam ini !" Ucap Keyla.


Rendi tidak menjawab. Dia hanya diam mendengar ucapan Keyla.


Melihat Rendi yang hanya diam. Keyla semakin menekan.


"Baiklah, Kalau kau tidak mau aku akan benar-benar memotong urat nadiku !" Ucap Keyla yang sudah siap-siap mengarahkan pisau ke pergelangan tangannya.


"Jangan Nak ! Mama tidak punya siapa-siapa lagi kalau kau melakukan ini. Nak Rendi, Tolong Ibu. Dia putriku satu-satunya !" Ucap mama Keyla yang terus saja menangis.


Rendi yang melihat mama Keyla memohon untuk putrinya merasa sangat iba. Dia menghela nafas panjang.


"Baik, Aku akan menemanimu malam ini ! Jadi letakkan pisaunya !" Ucap Rendi.


"Kau tidak akan berbohong kan ?" Ucap Keyla.


"Iya, Aku tidak berbohong !" Kemarikan pisaunya !" Ucap Rendi.


Keyla mengikuti perintah Rendi. Dia memberikan pisau bedah itu kepada Rendi.


Semua orang yang berada diruangan itu menghela nafas lega. Terutama mama Keyla.


"Baik, sekarang kita akan melakukan kemotrapi !" Ucap Dokter.


"Aku mau Rendi disampingku !" Ucap Keyla.


"Baik.. baik.. Maaf tuan Rendi bisakah anda berdiri di dekat Nona Keyla agar kita bisa cepat melakukan kemotrapi" Ucap Dokter.


"Ya !" Ucap Rendi yang mendekat.


Keyla tersenyum memandang Rendi.


Aku sangat mengenalmu Ren ! Aku tahu kau paling tidak bisa dimintai tolong untuk hal seperti ini. Walaupun kau terkesan cuek tapi rasa kemanusiaanmu sangat kuat ! Ini kelemahanmu !


Setelah selesai melakukan kemotrapi, Keyla di alihkan ke ruang rawat inap. Dia menempati kamar VVIP dengan fasilitas yang sangat lengkap.


"Maaf sehabis kemo, pasien harus tetap steril. Jadi buat yang jaga saya harap hanya satu orang" Ucap dokter itu.


"Keyla mau Rendi ma yang jagain Keyla. Keyla mau Rendi !" Ucap Keyla.


Mama Keyla memandangi Rendi. Berharap Rendi menyetujui permintaan Keyla.


"Tapi aku ada.." Belum selesai Rendi menyelesaikan kalimatnya, Keyla memotongnya.


"Kau sudah janji tadi !" Ucap Keyla.


Rendi terdiam. Dia menatap tajam ke arah Keyla.


************


Sementara di Rumah Fani, Jam menunjukkan pukul 11.00 malam.


"Aduh, Rendi kemana sih !!! Dia yang bikin acara dia sendiri yang belum datang !" Ucap Nisa yang memutar kembang api ditangannya. Sudah satu kotak kembang api yang sudah habis mereka mainkan selama menunggu Rendi.


"Mungkin masih lembur" Ucap Fani yang terus memegang handphone menghubungi Rendi.


Ini sudah jam sebelas, kenapa dia belum datang juga ya ! Semoga tidak terjadi apa-apa di jalan. Aku mengkhawatirkannya !


Tiba-tiba, Mobil Sport mewah bewarna hitam datang.


"Nah, itu Rendi datang !" Ucap Dila bersorak.

__ADS_1


Fani tersenyum melihat mobil yang datang.


Syukurlah Dia tidak apa - apa !


"Itu bukan Rendi. Aku hafal semua mobil miliknya. Dia memang sering gonta-ganti mobil. Tapi, ini bukan mobilnya !" Ucap Riko.


Riko sangat tahu itu bukan mobil Rendi, Karena mereka selalu berbarengan membeli mobil impor dengan type yang sama, dan hanya berbeda warna saja.


Benar saja, Seketika seseorang turun dari mobil itu. Bukan Rendi, melainkan Vino.


"Vino ?" Gumam Fani.


Vino berjalan ke arah mereka.


"Malam Fan, Aku tidak tahu kalau disini sedang mengumpul seramai ini !" Ucap Vino yang baru datang sambil membawa kotak yang telah dihiasi pita.


"Iya, ini hanya teman kuliah yang lagi ngumpul. Sudah jadi kebiasaan kami dari kuliah dulu, kalau ada yang ulang tahun menginap dirumahnya" Ucap Fani.


"Ada Riko juga ?" tanya Vino sambil melirik Riko yang sedang duduk dikursi sambil memainkan handphonenya.


"Riko kamu disini juga ?" Tanya vino padanya.


"Iya, Aku sedang menunggu Rendi" Ucap Riko.


"Oh, ya. Rendi dimana aku tidak melihatnya ?" tanya Vino.


"Dia bilang lagi lembur. Mungkin agak telat datangnya" Ucap Fani.


"Kenalkan ini kedua temanku Vin. Ini Dila dan Ini Nisa" Ucap Fani.


Vino tersenyum sambil mengangguk.


"Ini Vino, Atasanku dikantor !" Ucap Fani.


Nisa dan Dila menganggukan kepala.


"Apa yang membawamu kemari Vin ?" Ucap Fani yang berjalan di iringi Vino di luar halaman. Mereka berdiri di dekat mobil Vino.


"Aku ingin memberimu kado" Ucap Vino.


"Kau tahu ulang tahunku ? Oh, iya pasti gara-gara ucapan mbak Zia kemarin ya ? Kamu ga perlu repot-repot memberi kado. Mbak Zia kan memang hobi bercanda" Ucap Fani.


"Tidak apa-apa kok. Aku memang ingin memberikanmu kado" Ucap Vino.


"Aku memang sengaja ingin memberimu lebih awal. Tepat dihari pergantian usiamu" Ucap Vino.


Fani terkejut mendengar ucapan Vino. Matanya menatap Vino tak percaya.


Tiba-tiba suasana berubah menjadi canggung bagi keduannya.


Sementara dari dalam teras, Nisa, Dila dan Riko yang duduk di teras melihat Vino dan Fani dari kejauhan.


"Jadi itu yang namanya Vino" Ucap Nisa.


" Kau mengenalnya ?" tanya Dila.


"Tidak sih. Tapi, sewaktu Rendi tidak menjemput Fani. Vino yang mengantarnya pulang. Waktu itu Fani menelponku jam 10 malam menanyakan Rendi dikantor atau tidak. Aku bilang Rendi mengantar Keyla yang pingsan di kantor" Ucap Nisa.


"Apa ? Keyla ke kantor Rendi ?" tanya Riko.


"Iya. Kau mengenal Keyla Rik ? Tadi juga Vino menyapamu. Kau juga sudah kenal lama dengan Vino ya?" Tanya Nisa.


"Iya keduanya teman satu kampusku" Ucap Riko.


"Sepertinya Vino ini punya perasaan khusus pada Fani. Untuk apa coba seorang atasan repot - repot mengantar sekretarisnya pulang. Dan juga memberi kado kepada bawahannya diluar jam kantor dan tengah malam begini" Ucap Dila.


Nisa melongo mendengarnya.


Drtt.. Drtt..


Tiba - tiba handphone Dila berdering. Dila membaca nama dilayar ponselnya.


"Aku ke dalam dulu ya. Mau mengangkat telpon dari pacarku" Ucap Dila.


Dilapun masuk kedalam. Dia mengobrol dengan pacarnya via telpon di kamar Fani.


"Apa iya Vino punya perasaan pada Fani seperti kata Dila ?" tanya Nisa pada Riko.


"Mungkin.. Aku juga pernah melihat Vino dan Fani mengobrol di pernikahan Azzam. Cara Vino memandang Fani memang terlihat berbeda" Ucap Riko.


"Oh ya ? Kenapa aku tidak bisa melihat semua itu ya? Kalau begitu Vino berarti sangat menyedihkan. Berada diantara dua orang yang saling mencintai" Ucap Nisa sambil memandang Vino dan Fani dari kejauhan.


"Heeh !" Riko mendengus.


"Wajar kau tidak bisa melihat semua itu" Ucap Riko.

__ADS_1


"Bukankah aku terlihat tidak jauh beda seperti dia" Sambung Riko sambil meminum Cola yang dipegangnya.


"Apa ?" tanya Nisa bingung.


"Vino berkali - kali berusaha mendekati Fani, tapi Fani tetap bersama Rendi. Sama sepertiku.. Semua usaha sudah aku lakukan untuk mengambil hatimu. Tapi sedikitpun hatimu tidak tergerak. Kau malah mendorongku semakin jauh. Bukankah aku juga terlihat menyedihkan ?" Ucap Riko sendu.


Nisa terkejut mendengar pernyataan Riko. Tubuhnya terasa kaku. Lidahnya terasa kelu. Seluruh anggota badannya terasa terkunci saat itu. Dia tidak berani menatap mata Riko yang sendu. Dia hanya menunduk.


"Nisa terimalah hatiku.." Ucap Riko yang membuat Nisa terkejut dan refleks mendongakkan wajahnya dan menatap Riko. Mata Nisa terlihat berkaca - kaca mendengar pernyataan Riko.


"Aku.. Aku.." Ucap Nisa terbata.


"Aku.." Belum sempat Nisa menyelesaikan kata - katanya, Dila datang dari dalam dan memotong perkataan Nisa.


"Apa Rendi sudah datang ?" Tanya Dila.


Riko dan Nisa langsung terlihat kikuk dan canggung.


"Apa aku datang disaat yang kurang tepat ? Aku masuk saja lagi kalau begitu" ledek Dila.


"Dila, Apaan sih !" Ucap Nisa dengan pipi memerah.


"Kenapa Rendi belum datang sih sampai sekarang ?" Ucap Nisa mengalihkan pembicaraan.


"Rendi tidak bisa datang" Ucap Fani yang berjalan beriringan dengan Vino menghampiri mereka.


"Hah ? Bagaimana mungkin ! Jelas-jelas dia yang mengatur ini semua" Ucap Nisa.


"Dia kan pacarmu kenapa malah tidak datang !" Ucap Dila kesal.


Aish.. Anak bengal itu kemana lagi !


Batin Riko.


"Barusan di mengirimiku pesan. Dia tidak bisa datang karena ada urusan mendadak. Besok dia akan menjelaskannya katanya" Ucap Fani yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah kecewanya.


**********


Setelah mengirimi Fani pesan, Rendi meletakkan handphonenya di meja yang berada di depannya. Dia menatap gadis yang tengah terbaring di hadapannya yang tengah mengenakan selang infus. Mata gadis itu terpejam.


"Kau harus berusaha melepaskanku. Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi aku telah mengubur semua kenangan kita" Ucap Rendi dengan suara berbisik. Lalu dia terlelap tidur dengan posisi duduk di kursi yang telah disediakan di samping tempat tidur Keyla. Mungkin karena tenaga dan pikirannya terlalu lelah karena masalah Keyla tadi, ditambah lagi setelah habis lembur mengerjakan pekerjaan kantor.


Keyla membuka matanya. Dia hanya berpura - pura tertidur tadi. Dia mendengar semua yang dikatakan Rendi tadi. Air matanya mengalir membasahi pipinya.


Tidak Ren ! Aku tidak mau kehilanganmu. Selama ini kau lah semangatku untuk sembuh. Aku ingin kita kembali seperti dulu apapun caranya. Walaupun aku harus berubah menjadi orang yang jahat !


Keyla menatap wajah Rendi. Dia sangat rindu menatap wajah tampan Rendi yang selalu menemani hari - harinya dulu. Seringai muncul di wajahnya. Keyla tersenyum tipis.


Dia mengambil handphone Rendi yang terkapar di atas meja disampingnya. Dia membuka aplikasi kamera dan mengambil gambar mereka berdua. Dia tersenyum sambil menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf "v" sedangkan Rendi masih dengan posisi tertidur dikursi dengan mata terpejam.


Dia mengirimkan gambar tersebut ke pesan whatsapp Fani melalui handphone Rendi.


Drrtt..Drtt..


Handphone Fani berdering. Sebuah pesan whatsapp masuk ke handphonenya.


"Rendi ?" Ucap Fani yang melihat nama yang mengiriminya pesan di ponselnya


"Apa dia berubah pikiran ? Apa dia bisa datang ?" Ucap Dila.


Semua yang ada disitu berkumpul untuk mengetahui pesan yang dikirim Rendi.


Fani membuka pesan whatsapp tersebut, dan betapa terkejutnya Fani melihat isi pesan tersebut. Matanya terbelalak, tangannya tiba - tiba gemetar, dan tak terasa ada genangan air disudut matanya yang mulai luruh jatuh membasahi pipinya. Handphone yang dipegangnya seketika terjatuh terhempas ke bawah. Terlepas dari genggamannya.


"Fani, Kenapa ? Apa yang terjadi ?" tanya Nisa panik.


Dila mengambil handphone yang terjatuh dan melihat isi pesan gambar tersebut.


Vino, Riko dan Nisa yang juga melihat pesan gambar tersebut merasa geram.


Sebuah foto Keyla yang bersama Rendi di rumah sakit dengan caption tulisan "Maaf aku sedang bersamanya sekarang" dikirim langsung melalui Rendi.


Tapi apa iya itu Rendi yang mengirim ?


Batin Riko.


"Sudah tenangkan dirimu, berhenti menangis ini hari ulang tahunmu. Mengapa kau selau menangis karenanya ?" Ucap Vino tiba - tiba yang membuat semua orang tersentak mendengarnya.


"Iya, Aku memang bodohkan ?Aku selalu menangis karenanya, tetapi anehnya aku tidak bisa meninggalkannya. Aku masih saja mengharapkannya" Ucap Fani yang menangis segugukan.


Vino yang mendengar ucapan Fani sempat tersentak. Dia merasa kalau cinta Fani begitu besar kepada Rendi. Meskipun Rendi sering mengecewakannya berkali - kali.


Nisa dan Dila berusaha menenangkan Fani. Mereka mengelus rambut fani dan memeluknya. Fani merasa ini kado ulang tahun yang paling buruk yang pernah diterimanya.


# Makasih untuk semua dukungannya gaes.. "Aku tanpamu.. butiran debu.." #Gubrak 😂 Minta Like - nya ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2