
"Mana undanganku ?" tanya Riko.
"Ini" ucap Fahri sambil menyodorkan undangan pada Riko.
Riko membaca undangan tersebut dan tersenyum.
"Hei, Kau satu-satunya orang yang tidak marah padaku saat kuberi undangan itu ?" ucap Fahri heran.
"Kenapa aku harus marah ? Dari awal aku sudah tahu, orang sepertimu mana ada niat menikah untuk saat ini ! Aku sengaja datang karena kita sudah lama tidak kumpul" ucap Riko.
"Ah, Kau tidak seru !" ucap Fahri.
Riko hanya diam. Lagi-lagi dia melihat ke layar ponselnya. Seperti menunggu balasan pesan yang tak kunjung berbalas. Fahri dan Azzam terus mengamati tingkah laku Riko.
"Hei, Kau sedang PDKT sama seseorang ya ?" tanya Fahri.
"Kenapa Kau bisa tahu ?" tanya balik Riko.
"Kau terus-menerus mengecek ponselmu seperti menunggu sesuatu" ucap Azzam.
"Ooh.." Riko mengangguk.
"Sudah menyerah sajalah.. kalau Dia tidak membalas pesan darimu, artinya kau ditolak" ucap Fahri tertawa terbahak-bahak.
"Siapa yang kau suruh menyerah, hah ? aku tidak akan menyerah. Aku akan terus berusaha mendekatinya. Dia berbeda dari wanita-wanita yang lain, yang selama ini berusaha mendekatiku. Aku sangat penasaran padanya" ucap Riko.
"Astaga, Playboy tobat !" ucap Fahri.
"Kau ini sedang menyebut dirimu sendiri ya ?" ucap Riko kesal.
Tiba-tiba handphone Riko berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk.
"Kau sedang apa ? maaf selama ini tidak membalas pesanmu. Aku sibuk mengurus skripsi. Apa kau ada waktu ? Mari bertemu" (Nisa).
Sebuah senyum mengembang terpancar dari wajah Riko.
Tumben sekali dia yang menghubungiku duluan
Batin Riko.
"Oke !" (Riko).
Fahri dan Azzam bingung melihat kelakuan Riko yang dari tadi senyum-senyum sendiri menatap ponselnya.
*******
Riko datang ke kedai kopi, tempat Dia dan nisa janjian bertemu. Dia melihat Nisa sudah duduk manis di meja yang sudah dia pesan.
"Sudah lama ?" Tanya Riko sambil menggeser kursi dihadapan Nisa dan bersiap duduk.
"Tidak juga, Aku juga baru datang kok " ucap Nisa.
"Kamu pesan apa ?" tanya Nisa.
"Kopi disini wanginya enak dan rasanya juga mantap loh" ucap Nisa sambil memainkan jempolnya bergerak ke atas dan ke bawah.
__ADS_1
Riko tersenyum melihatnya.
Ntah mengapa, dia selalu membuatku tertawa
"Kalau begitu pesankan untukku yang menurutmu enak" ucap Riko.
"Ok !" ucap Nisa sambil memanggil pelayan cafe dan menunjuk beberapa pilihan di buku menu.
"Tumben sekali kau menghubungiku duluan, padahal setiap aku menanyakan kabarmu di whatsapp kau selalu lama membalasnya. Dan bila membalas juga menjawab seadanya" ucap Riko.
Nisa merasa malu mendengar ucapan Riko. Dia hanya bisa tersenyum lebar.
"Ada yang ingin aku tanyakan" ucap Nisa langsung ke intinya.
"Oh ya, Apa ?" tanya Riko penasaran.
"Katamu, Kamu dan Rendi adalah teman. Sudah berapa lama kamu berteman dengan Rendi ?" tanya Nisa.
"Aku berteman dengannya dari SMA sampai sekarang ini. Aku bersekolah di SMA yang sama dan kuliah di kampus yang sama. Mungkin sudah 9 Tahun, aku berteman dengannya" ucap Riko.
"Oh.. lumayan lama juga ya. Berarti kamu sangat tahu ya sifatnya luar dalam. Menurutmu sifat dia seperti apa ? Bisa kamu jelaskan padaku ?" ucap Nisa.
Riko mulai mencerna omongan Nisa. Dia tampak kesal.
"Jadi kamu mengajakku bertemu hanya untuk membahas Rendi ?" tanya Riko.
"Iya ! " ucap Nisa polos.
"Ck..." Rico berdecak.
"Aku ? Mana mungkin !" ucap Nisa sedikit berteriak.
"Rendi itu pacar temanku" sambung Nisa.
Oh, jadi dia temannya Fani, pacarnya Rendi
Batin Riko.
"Aku hanya ingin tahu mengapa seorang Presdir yang kaya raya dan banyak dikelilingi oleh wanita cantik, mau dengan temanku yang biasa saja. Aku takut dia mempermainkan temanku. Aku hanya ingin melindungi temanku" ucap Nisa.
Riko tersenyum lega mendengarnya.
"Lagipula tadinya Fani itu sangat membenci Rendi, tapi tiba-tiba sekarang mereka pacaran. Aku rasa itu hal yang aneh ! apa Rendi mengancam Fani ya ?" ucap Nisa berapi-api.
"Aku rasa Rendi bukan tipe orang seperti itu" ucap Riko.
"Rendi itu memang paling cuek diantara kami. Dia memang susah tersenyum orangnya. Tetapi kalau sudah didekat kami sahabatnya, dia bisa tertawa lepas. Rendi kalau pacaran orangnya sangat setia kok. Aku dan teman-teman juga sempat bingung mengapa Rendi bisa memilih Fani menjadi kekasihnya. Rasanya selera Rendi bukan gadis seperti Fani. Tapi mungkin Rendi punya kriteria sendiri kali ini !" sambung Riko.
"Kau kenal Fani ?" tanya Nisa terkejut.
"Iya, Rendi mengenalkanku dengannya tadi siang" ucap Riko.
"Jangan bilang Fani ya, Rik. Kalau aku menemuimu. Aku takut dia marah aku mencari tahu tentang Rendi " ucap Nisa dengan wajah memelas.
"Aku tidak janji" ucap Riko mengerjai Nisa.
__ADS_1
Nisa cemberut. Riko sampai gemas melihat ekspresi Nisa.
"Ok, tapi ada syaratnya !" ucap Riko.
"Apa ?" tanya Nisa.
"Kapan-kapan makan malam denganku. Aku yang traktir" ucap Riko.
"Hmm.." jawab Nisa bimbang.
"Ya sudah, aku tidak janji kalau sampai Fani tahu kalau..." belum selesai Riko menyelesaikan ucapannya nisa langsung memotong.
"Oke aku setuju" ucap Nisa terpaksa.
Riko tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa kau takut Rendi mempermainkan Fani ?" tanya Riko sambil menyeruput cappucinonya.
"Karena aneh saja. Rasanya tidak mungkin seorang Presdir dari perusahaan ternama mau dengan orang biasa-biasa saja. Itu hanya terdengar seperti cerita novel saja. Aku saja yang hanya anak dari seorang pemilik perusahaan kecil, tidak berani bermimpi seperti itu. Aku pikir kebanyakan dari mereka, tidak serius dan hanya bermain-main. Hidup mereka sudah banyak dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Dan pada akhirnya mereka berakhir pada pernikahan bisnis yang sudah ditentukan" ucap Nisa.
"Hahaaha.. kau terlalu banyak menonton drama korea ya ? sepertinya imajinasimu terlalu berlebihan" ucap Riko sambil tertawa.
"Tapi benar kok. Biasanya kenyataannya seperti itu. Makanya aku sudah hilang minat pada pimpinan-pimpinan perusahaan yang masih muda yang mengatasnamakan diri mereka "Presdir" ! "ucap Nisa.
Seketika Riko berhenti tertawa. Wajahnya pias. Hampir saja dia tersedat meminum capucinonya, ketika mendengar Nisa berucap seperti itu.
"Kapan kau wisuda ?" tanya Riko berusaha mengubah topik.
"Senin depan" ucap Nisa.
"Apa aku boleh datang ?" tanya Riko.
"Tidak !" ucap Nisa.
"Kenapa ? Apa aku tidak boleh datang karena kau mengajak pacarmu sebagai pendamping wisudamu ?" tanya Riko.
"Hahahahaa" Nisa tertawa.
"Bukan. Aku tidak bisa mengajakmu masuk karena undangan yang bisa masuk kegedung hanya untuk 2 orang. Jadi, aku akan mengajak kedua orang tuaku" ucap Nisa.
"Jadi kau tidak punya pacar ?" tanya Riko mencari tahu.
"Untuk saat ini aku sedang tidak ingin punya pacar !" ucap Nisa.
"Dan kau sendiri aku ajak bertemu disini, pacarmu tidak akan salah paham kan ?" tanya Nisa.
"Aku tidak punya pacar. Aku sekarang sedang berusaha mendekati seseorang" ucap Riko sambil menatap tajam ke arah Nisa.
Sedangkan yang ditatap tidak menyadarinya.
"Ooh..." ucap Nisa yang fokus menyeruput capucino hangat dihadapannya, tanpa sadar sama sekali bahwa yang dimaksud Riko adalah dirinya.
Aish, sungguh gadis yang tidak peka..
# Tidak henti - hentinya saya memiinta jempolnya ya guys untuk like dan vote novel ini 🙏 jempol kalian sangat berarti 👌
__ADS_1