Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Tolong Aku


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya🙏 Happy Reading Gaes..😘


**************************


keesokan harinya, Aldi benar-benar menepati ucapannya. Dia datang pagi-pagi sekali ke perusahaan Samudera Group, hanya untuk melihat Khanza kembali. Hanya saja bedanya dengan kemarin, kali ini dia datang tidak dengan tangan kosong. Dia membagikan kopi mochacinno, yang berasal dari Coffee Shop miliknya kepada seluruh pegawai di ruangan Khanza. Bahkan, Vino juga mendapatkan kopi tersebut. Vino yang membaca nama Coffee Shop pada cup kopi tersebut, langsung tahu kalau yang memberikan kopi ini adalah Aldi.


"Pak Ahmad, dimana sekarang orang yang memberikan kopi ini ?" Tanya Vino pada Office Boy diruangan itu.


"Tuan Aldi ada di meja Resepsionis di depan, Pak Vino. Kelihatannya, dia lagi mengobrol dengan Nona Khanza" Jawab Ahmad.


"Mengobrol ?" Ucap Vino mengulangi ucapan Ahmad.


Aku rasa mana mungkin.


"Iya, Tuan" Ucap Ahmad.


Vino lalu keluar ruangannya. Matanya mengedarkan seluruh pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Dia mencari keberadaan Aldi di sana.


Dari kejauhan, Vino melihat Aldi yang sedang berdiri di depan meja Resepsionis menghadap ke arah Khanza. Sepertinya mereka berdua terlibat sebuah percakapan.


"Maaf, Sampai kapan anda mau berdiri di situ terus ? Saya mau bekerja sekarang" Ucap Khanza kesal.


"Sampai kau mau memberikan nomor ponselmu" Ucap Aldi.


Khanza tambah kesal mendengarnya.


"Apa kau tahu kopi apa ini ?" Tanya Aldi pada Khanza.


"Tahu, Mochacinno !" Ucap Khanza ketus.


"Wow, Kau tahu banyak tentang kopi" Ucap Aldi.


Khanza menatap nama Coffee Shop yang tertera di cup kopinya.


Tentu saja aku tahu, Aku pernah bekerja di Coffee Shop. Bahkan Coffee Shop tempatmu membeli kopi ini.


Batin Khanza.


"Kau tahu kenapa rasa kopi itu pahit ?" Tanya Aldi.


"Tidak tahu !" Ucap Khanza.


"Karena manisnya ada di kamu" Ucap Aldi sambil tersenyum.


Khanza manyun mendengarnya.


"Apa ada lagi yang ingin anda bicarakan ?" Tanya Khanza yang sudah mulai sewot dan menahan amarahnya.


"Oh, iya memang masih ada lagi kok" Ucap Aldi.


Khanza melotot mendengarnya. Dia berkata seperti itu bermaksud menyindir Aldi. Tetapi siapa sangka, yang disindir malah tidak peka.


"Papamu peternak ayam ya ?" Tanya Aldi pada Khanza.


"Papaku sudah meninggal" Ucap Khanza.


"Oh, Maaf aku tidak tahu. Kalau begitu, Ibumu saja. Ibumu peternak ayam ya ?" Tanya Aldi.


Khanza hanya diam.


"Khanza jawab dong kayak gini, "Kok tahu" ?" Ucap Aldi mengajarinya.


Khanza menarik nafas panjang.


"Kalau aku jawab seperti itu, apa kau akan segera pergi ?" Tanya Khanza.


"Iya" Ucap Aldi.


Dengan berat hati Khanza mengikuti ucapan Aldi.


"Aku ulang ya, Ibumu peternak ayam ya ?" Sambung Aldi.


"Kok tahu ?" Ucap Khanza yang menjawab dengan ogah-ogahan.


"Karena kau telah mematuk-matuk hatiku" Ucap Aldi sambil tertawa.


Khanza yang berusaha menahan tawa, akhirnya ikut tertawa bersama Aldi mendengar lelucon yang dilontarkan Aldi barusan.


Yes ! Setidaknya dia sudah mulai tertawa padaku sekarang.


Batin Aldi.


"Nah, Kau tambah cantik bila tersenyum seperti sekarang" Ucap Aldi memuji kecantikan Khanza.


Tiba-tiba suara Vino menghentikan tawa kedua orang tersebut.


"Aldi, ayo ikut keruanganku sekarang" Ucap Vino dengan sorot mata yang tidak bersahabat.


Akhirnya, Aldi dan Vino melangkah masuk ke dalam ruangan Vino.


"Kenapa Kau menganggu usahaku" Ucap Aldi pada Vino yang langsung duduk di sofa ruangan Vino.


"Bukannya kau yang mengganggu pegawaiku yang sedang bekerja" Ucap Vino.

__ADS_1


"Kau salah. Aku tidak mengganggunya. Aku sedang mendekatkan jodohnya" Ucap Aldi.


"Jodohnya ?" Tanya Vino.


"Iya, Jodohnya. Yaitu, Aku !" Ucap Aldi dengan pedenya.


Vino melotot mendengarnya.


"Dari dulu tingkat kenarsisanmu memang luar biasa" Ucap Vino.


Aldi tertawa mendengarnya.


"Jangan lagi menemuiku di kantor. Kalau kau ada perlu denganku, kita janjian di luar saja" Ucap vino.


"Kau ini kenapa ? Kenapa tidak mengizinkanku bermain ke kantormu" Ucap Aldi.


"Atau kau jangan-jangan menyukai Khanza juga ?" Sambung Aldi.


Vino terdiam. Dia menatap Aldi.


"Sudah dua hari ini kau selalu ke kantorku. Apa kau tidak bekerja ? Bukankah kau bilang, kau kemari karena ada masalah manajemen di Coffee Shopmu ?" Ucap Vino.


"Masalah itu aku sudah membereskannya dua hari yang lalu. Dan untuk bekerja, bukankah aku bosnya ? Terserah aku mau datang kapan saja" Ucap Aldi.


"Tapi, Kau jangan sedih ya. Besok sampai lima hari kedepan, mungkin kita tidak akan bertemu. Aku akan sibuk berkeliling, untuk memeriksa kantor cabang Coffee Shop milikku di luar kota" Sambung Aldi.


"Ah, aku bisa lega. Akhirnya, aku bisa terbebas darimu juga" Ucap Vino.


"Astaga, Kau ini teman macam apa ! Tapi tenang saja. Sesudah, aku pulang dari luar kota. Aku akan terus datang kemari untuk melihat Khanza" Ucap Aldi.


"Kantorku tidak menerimamu untuk bertamu !" Ucap Vino.


Aldi masih saja cengengesan dan pura-pura tidak mendengar ucapan Vino barusan.


"Sudah jam 9 pagi. Aku harus ke Coffee Shop untuk melihat laporan hasil penjualan bulan ini. Aku pergi ya Vin, Bye !" Ucap Aldi.


"Ehmm" Ucap Vino yang menanggapi ucapan Aldi barusan.


Akhirnya, Aldi bergegas pergi meninggalkan Perusahaan Samudera Group.


*********************


Sekarang jam menunjukkan pukul 15:00 Sore. Khanza sibuk menyusun arsip yang berhubungan dengan resepsionis. Begitu juga dengan Vira.


Tapi, tiba-tiba ponsel Khanza berdering. Khanza menatap nama yang tertera di layar ponselnya.


Om Fauzi ? Kenapa Ayahnya Syifa menelepon ya ? Tumben banget..


Batin Khanza.


"Halo, Ya ada apa, Om ?" Tanya Khanza pada Ayah Syifa diseberang sana.


"Khanza, Ibumu pingsan. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sepertinya kali ini lebih parah" Ucap Ayah Syifa.


"Sekarang Ibu dimana, Om ?" Tanya Khanza.


"Di rumah sakit Harapan Kasih, Za. Dokter bilang Ibumu harus segera melakukan operasi pemasangan ring pada pembuluh darahnya. Karena terjadi penyumbatan pembuluh darah di jantungnya. Tapi.. Dokter bilang kau harus segera melunasi pembayarannya terlebih dahulu, Za. Jumlahnya sekitar 80 juta" Ucap Ayah Syifa.


"80 juta ?" Ucap Khanza pelan. Tubuhnya tiba-tiba lemas mendengarnya.


"Aku akan mencoba cari pinjaman dulu kalau begitu, Om. Tolong jaga Ibuku sampai aku datang ya, Om" Ucap Khanza.


"Iya, Baiklah Khanza" Ucap Ayah Syifa menutup teleponnya.


"Ada apa Khanza ? Siapa yang menelepon ?" Tanya Vira.


"Tetanggaku yang menelepon. Dia bilang, Ibuku dilarikan ke rumah sakit dan harus segera dioperasi. Vira apakah aku bisa meminjam uang padamu ? Nanti setiap gajian akan aku angsur padamu setiap bulan" Ucap Khanza.


"Kau ingin meminjam berapa banyak, Za ?" Tanya Vira.


"Sekitar 80 juta Vir" Ucap Khanza.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu, Za. Bahkan, bila kau meminjam pada Zia ataupun Deka mereka tidak punya sebanyak itu" Ucap Vira.


"Iya, Kau benar" Ucap Khanza.


Kemana aku harus mencari pinjaman uang ? Aku tidak mungkin meminjam uang pada Bu Ulik. Aku sudah terlalu sering menyusahkannya. Aku juga tidak mungkin meminjam uang pada keluarga Dwitama, Mereka akan semakin menginjak-injak harga diriku. Lagipula aku sudah berjanji tidak akan menginjakan kakiku disana lagi. Ya, Tuhan.. dimana aku harus mencari pinjaman uang untuk operasi Ibu.


Batin Khanza.


Melihat Khanza yang bersedih, Vira akhirnya memberikan saran pada Khanza.


"Coba, Kau ke bagian kepegawaian.Walaupun, kau baru tiga minggu bekerja disini. Tapi, tidak ada salahnya kau mencoba. Siapa tahu Perusahaan mau berbaik hati memberikan pinjaman padamu" Ucap Vira.


"Makasih ya Vir sarannya. Aku ke ruangan kepegawaian dulu" Ucap Khanza.


Khanza lalu berlari menuju lift. Dia segera bergegas menuju ruangan kepegawaian.


Khanza melangkah masuk ke ruangan kepegawaian, dia menemui pegawai yang menangani masalah karyawan. Khanza memohon, supaya diberikan pinjaman dan berjanji akan membayarnya setiap bulan melalui gajinya. Tetapi pegawai itu, juga tidak bisa memberikan keputusan.


"Sebaiknya, Kau temui Pak Presdir saja. Kami tidak bisa memutuskan. Masalahnya, peraturan perusahaan mewajibkan masa kerja minimal selama tiga bulan bagi karyawan yang ingin mendapatkan pinjaman. Sedangkan kau sendiri, bahkan belum genap satu bulan bekerja disini" Ucap Pegawai itu.


Akhirnya Khanza kembali ke ruangannya. Dengan ragu, Khanza mengetuk ruangan Vino. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Vino.

__ADS_1


"Ada apa ?" Tanya Vino, yang menghentikan kegiatannya yang sedang menandatangani berkas, saat melihat Khanza masuk.


"Pak, bisakah aku meminta tolong. Bolehkah, saya meminjam uang perusahaan sekarang. Aku benar-benar membutuhkannya saat ini. Ibuku butuh biaya operasi sesegera mungkin. Tadi aku sudah menemui bagian kepegawaian. Mereka bilang, aku harus meminta persetujuan Pak Vino dulu untuk memberikan pinjaman. Karena masa kerjaku yang belum genap tiga bulan. Tolong aku, Pak. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Perusahaan bahkan punya alamat rumahku kan. Aku akan menyicil setiap bulannnya dengan gajiku. Aku mohon, Pak !" Ucap Khanza.


Vino menatap Khanza dengan intens. Dia kelihatan berpikir keras.


Gadis ini memohon ? Jarang sekali orang seperti dia mau memohon. Aku rasa dia benar-benar membutuhkannya.


Batin Vino.


"Berapa biaya yang kau butuhkan ?" Ucap Vino.


"80 juta" Ucap Khanza.


Vino akhirnya menekan tombol telepon di depannya. Dia menelepon bagian kepegawaian.


"Ya, ada apa Pak Presdir ?" Ucap suara diseberang sana.


"Segera beri pinjaman sebesar 80 juta pada pegawai yang bernama Khanza sekarang juga" Ucap Vino.


"Baik, Pak !" Ucap suara diseberang sana.


Vino lalu menutup teleponnya.


"Terima kasih banyak, Pak" Ucap Khanza.


Khanza lalu melangkah pergi menuju ruangan kepegawaian lagi. Dia akhirnya mendapatkan uang cash sebagai pinjaman untuk biaya operasi Ibunya. Khanza lalu berkemas merapikan mejanya, dan segera bergegas pulang. Kebetulan ini memang sudah jam pulang kantor.


Khanza yang terus berdiri di pinggir jalan mencoba memesan taksi online agar sampai ke tujuan dengan lebih cepat dan lebih aman dalam membawa uang cash. Tetapi berulang kali dia memencet tombol order driver, untuk memesan taksi online, selalu tidak mendapatkan driver.


Apa aku coba meminjam ponsel Vira saja untuk memesan taksi online


Batin Khanza.


Akhirnya Khanza melangkah kembali memasuki kantor untuk meminjam ponsel Vira. Tetapi sebuah sapaan di halaman parkir kantor, membuatnya menghentikan langkahnya.


"Khanza, kenapa masih disini ? Bukannya kau harus segera ke rumah sakit menyerahkan biaya operasi Ibumu ?" Tanya Vino.


"Aku sudah mencoba mengorder taksi online. Tetapi, belum mendapatkan driver. Makanya aku mau naik kembali ke atas, untuk meminjam ponsel Vira mengorder taksi online" Ucap Khanza.


"Hmm.. Apa Pak Vino bisa mengorderkan taksi online buat saya melalui ponsel Pak Vino ?" Sambung Khanza.


"Tapi aku tidak punya aplikasi semacam itu" Ucap Vino.


"Ya, sudah. Naiklah ke mobil. Aku akan mengantarmu ke Rumah Sakit" Ucap Vino.


Khanza tampak termenung berpikir.


"Tunggu apalagi ? Bukankah Ibumu harus segera dioperasi" Ucap Vino.


Khanza mengangguk. Tanpa pikir panjang lagi, dia segera naik ke dalam mobil Vino.


Vino melajukan kendaraannya menuju Rumah Sakit tempat Ibu Khanza dirawat.


*************


Sesampai di Rumah Sakit, Khanza dan Vino langsung menemui Papanya Syifa.


"Bagaiamana Keadaan Ibu, Om ?" Tanya Khanza pada Ayah Syifa.


"Dia ada di UGD. Sebaiknya kau menemui Dokter dan bagian administrasi, agar Ibumu bisa segera dioperasi" Ucap Ayah Syifa.


"Baiklah, aku akan segera ke sana" Ucap Khanza yang meninggalkan Vino dan Ayah Syifa berdua.


"Kamu temannya Khanza ?" Tanya Ayah Syifa.


"Iya, saya teman sekantornya" Ucap Vino.


"Kasihan sekali Khanza. Dia hanya mempunyai Ibunya, satu-satunya keluarga yang dimilikinya sekarang. Padahal dia sudah pontang-panting bekerja keras untuk dapat membiayai kebutuhan sehari-hari dan membeli obat-obatan untuk Ibunya. Tapi ternyata, penyakit Ibunya semakin parah" Ucap Ayah Syifa.


"Padahal, Khanza terkadang sudah mati-matian mengambil dua sampai tiga pekerjaan untuk semua itu. Khanza benar-benar anak yang mandiri dan tegar" Ucap Ayah Syifa.


"Karena Khanza sudah disini. Oom sepertinya harus pulang. Karena buru-buru ke sini tadi, Oom lupa, sudah mengunci toko manisan Om atau belum. Tolong sampaikan salam Om untuk Khanza ya" Ucap Ayah Syifa.


"Ya, nanti saya sampaikan" Ucap Vino.


Setelah Ayah Syifa pergi, Vino lalu bertanya kepada perawat disana, dimana ruang operasi Ibu Khanza. Setelah mendapatkan jawaban, Vino mencari Khanza disana.


Dia mendapati, Khanza yang sedang duduk di kursi ruang tunggu operasi. Vino melihat gadis itu duduk sambil menekuk lututnya dan menutupi wajahnya menggunakan lengannya. Sudah dua kali, dia melihat gadis ini bertingkah seperti ini.


Vino duduk di kursi disebelahnya.


"Jangan menahannya. Kau selalu berpura-pura kuat saat menghadapi masalahmu. Kau selalu tidak ingin, orang tahu kalau kau sedang menangis. Memang Apa salahnya dengan menangis ? Bila itu membuatmu lega. Luapkan saja kesedihanmu itu. Jangan menahannya lagi" Ucap Vino.


Khanza yang mendengar ucapan Vino barusan, tiba-tiba refleks memeluk Vino yang berada disampingnya. Dia menangis sejadi-jadinya.


"Aku tidak mau kehilangan Ibu, Dia satu-satunya yang aku punya di dunia ini" Ucap Khanza terisak.


Vino sontak terkejut melihat perlakuan Khanza yang tiba-tiba memeluknya.


Khanza akhirnya meluapkan semua emosinya, yang ditahannya dari tadi. Khanza menangis cukup lama, dengan posisi masih memeluk Vino.


Kenapa aku ikut sedih melihat Khanza menangis ya.. Dan kenapa dadaku berdebar kencang saat dia memelukku seperti ini..

__ADS_1


Batin Vino.


# Selamat hari minggu, buat kalian yang selalu setia menunggu.. Tunggu terus update selanjutnya ya.. Jangan lupa untuk memberi like, komen dan komentar kalian ya.. Jangan lupa juga untuk selalu tersenyum manis ya☺ Karena Senyum Manis itu lebih baik daripada janji manis.. Oops🙊


__ADS_2