Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Ajak Lagi


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya🙏 Happy Reading gaes 😘


****************


Praaangggg !!!!


Gelas yang dipegang Yuda terhempas ke lantai. Pecahan kaca berserakan dimana-mana. Bukan karena meleset dari tangan Yuda. Tetapi karena Yuda sengaja membantingnya.


"Dimana Pria itu sekarang ?" teriak Yuda dengan suara menggelegar bertanya kepada Khanza.


Suara Yuda memenuhi ruangan itu. Bahkan Tiara yang berada di dalam kamarnya di lantai atas pasti mendengar teriakannya.


Para pelayan yang berkumpul di dapurpun takut dengan amarah Yuda saat ini.


Sorot matanya sangat tajam. Sarat akan emosi.


"Untuk apa kau mencarinya ? Kau ingin membunuhnya ?" ucap Khanza yang paham betul dengan watak Yuda.


Nanda yang telah duduk manis di ruang tamu itu hanya bisa menjadi pendengar atas perdebatan Yuda dan Khanza.


"Iya, aku akan menghabisinya !" ucap Yuda.


Khanza menyeringai.


"Lalu siapa yang akan menikahi Tiara kalau kau membunuhnya ? Siapa yang akan jadi ayah dari calon bayi yang dikandungnya ?" ucap Khanza.


Yuda terdiam.


"Yud, berpikir rasional lah sedikit. Aku tahu, sebagai kakak kau pasti merasa kesal tidak dapat menjaga adikmu dengan baik. Awalnya aku sama sepertimu. Tetapi setelah aku pikir-pikir, sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Perut Tiara akan semakin terus membesar, dia butuh ayah untuk calon anak yang dikandungnya. Dia tidak akan kuat bila menjalani semua ini sendirian" ucap Khanza.


Yuda masih diam tidak bergeming.


"Benar kak, kata Khanza. Anggap saja selama ini Tiara dan Pria itu sudah menerima hukuman mereka. Lagipula hal ini sudah terlanjur terjadi" ucap Nanda


Yuda menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya dia sudah dapat mengontrol emosinya sekarang.


"Kapan dia dan keluarganya akan kemari ?" ucap Yuda.


"Besok !"ucap Khanza.


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan masuk kantor besok. Dan kita atur rencana pernikahan buat Tiara secepat mungkin" ucap Yuda.


Khanza dan Nanda saling berpandangan. Mereka tersenyum lega.


****************


Keesokan harinya, Nanda yang juga izin tidak masuk kantor hari ini, membantu Khanza menata ruang tengah untuk menyiapkan acara lamaran buat Tiara. Sedangkan Ibu dan para pelayan sibuk di dapur mengurus makanan dan minuman yang akan dihidangkan.


Tak lama rombongan keluarga Ikbal datang ke kediamanan Dwitama. Mereka membawa seserahan alakadarnya. Keluarga Ikbal dan Keluarga Dwitama kini telah mengobrol di ruang tengah untuk membahas dan menentukan tanggal pernikahan untuk Tiara dan Ikbal sesegera mungkin.


Setelah menetapkan tanggal pernikahan dan menyantap hidangan yang telah disediakan, merekapun pulang.


"Duh, capek banget deh habis beres-beres tadi" ucap Nanda yang sudah rebahan di kamar Tiara. Nanda dan Khanza langsung berkumpul dikamar Tiara setelah acara selesai.


"Enggak apa-apa Nan, sekali-kali juga" ucap Khanza yang juga ikut rebahan di sebelah Nanda.


"Udah di bilang ada pelayan yang beres-beres, kenapa pada repot sih kakak-kakakku tersayang" ucap Tiara gemas.


"Dih, elo kalau ada maunya aja ya, bilang kita sayang !" protes Nanda.

__ADS_1


Tiara tertawa.


"Jangan lupa buat bikin susunan undangan, buat siapa-siapa yang mau di undang, Tia !" ucap Nanda.


"Oh, oke. Keluarga besar, teman kuliahku, para Direksi Dwitama Group, kolega-kolega perusahaan, ada lagi ?" ucap Tiara.


"Sudah cukup deh kayaknya" ucap nanda.


"Kak Vino kagak diundang nih ?" ucap Tiara sengaja memancing reaksi kedua gadis yang ada dihadapannya sekarang.


Ekspresi Khanza langsung berubah mendengar nama Vino. Begitu juga dengab Nanda.


"Ya, undang dong !" ucap Nanda.


Khanza masih diam tak bergeming. Dia melirik Nanda sekilas


"Kak Nanda masih suka ya sama Kak Vino ?" ucap Tiara.


Khanza ikut mendengarkan. Dia kelihatan tidak sabar mendengarkan jawaban Nanda.


"Udah, Enggak lagi. Susah banget ngambil hatinya. Udah dipepet berkali-kali juga. Tetep aja gak goyah-goyah !" ucap Nanda.


"Elo gak sebel kan Za, sama gue. Karena selama ini udah mencoba mendekati Vino ?" ucap Nanda.


Khanza hanya diam.


Bohong kalau selama ini gue gak sebel melihat Nanda deketin Vino. Gue sangat cemburu kalau lihat mereka sedang berduaan di dalam ruangan Vino. Walaupun itu hanya membahas masalah pekerjaan.


Batin Khanza.


"Elo diem, berarti elu sempat sebel ya sama gue" ucap Nanda.


"Udah deh, enggak usah pura-pura. Pasti elu sebel kan Za, sama gue. Itu artinya elo beneran cinta sama Vino. Jangan-jangan elo enggak menghubungi Vino sekarang, karena menjaga perasaan gue ya ? Gue udah move on kali Za" ucap Nanda seraya tersenyum.


Khanza ikut tersenyum mendengarnya. Kali ini senyumannya tulus.


"Udah deh jangan bahas gue kenapa ? Mending kita bahas persiapan buat nikahan Tiara aja sekarang" ucap Khanza mengalihkan pembicaraan.


"Dih, ngeles !" ucap Nanda dan Tiara berbarengan.


Mereka lantas tertawa bersama-sama.


Kayaknya aku punya rencana deh buat kak Khanza biar dia dapetin kebahagiannya juga.


Batin Tiara.


***********


Sementara di London, Inggris. Jam menunjukkan pukul 17:00 sore.


Vino yang telah selesai mengadakan meeting untuk kerjasama Perusahaannya kembali ke rumah, dimana Papa dan Mamanya menetap saat ini. Papa dan Mama Vino memang tinggal disini untuk urusan bisnis. Mereka membeli rumah yang cukup megah di kawasan ini.


"Sudah pulang Vin ? Gimana tadi, Lancar ?" tanya Mama Vino yang telah membawakan teh hangat untuk anak kesayangannya.


"Lancar, Ma" ucap Vino.


Mama Vino meletakkan gelas tehnya di atas meja, dan duduk di sebelah Vino.


"Kamu tuh ya, Mama kirain datang ke sini mau bawa calon mantu buat mama. Enggak tahunya datang ke sini cuma buat urusan bisnis doang !" ucap Mama Vino.

__ADS_1


Vino tidak menjawab. Hanya tersenyum mendengar celotehan Mamanya.


Vino lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dia memandangi lama layar ponselnya.


"Ngapain melihat ponsel dari tadi ?" ucap Mama Vino.


Vino yang sadar mamanya mengawasi tingkah lakunya, langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


"Enggak ada, Ma !" ucap Vino berkilah.


"Enggak ada, tapi dari tadi itu ponsel di pelototin terus" ucap Mama Vino.


"Nungguin telepon dari resepsionis yang sering kamu ceritaiin itu ya ?" ucap Mama Vino.


"Dia bukan resepsionis di kantorku lagi, Ma. Dia sudah pegang anak perusahaan Dwitama Group yang sudah diwariskan Papanya sekarang" ucap Vino yang teringat kejadian siang tadi saat melihat berita bisnis online di ponselnya.


"Kok bisa ? Dwitama Group ? Pak Dwitama yang baru saja meninggal itu Papanya Khanza ?" tanya Mamanya Vino.


Vino mengangguk.


"Khanza anaknya Pak Dwitama dari istri pertamanya" ucap Vino.


"Jadi bagaimana dengan hubungan kalian sekarang ?" tanya Mama.


"Aku sudah pernah mengajaknya menikah, Ma. Tetapi, dia belum memberikan jawaban. Sewaktu itu dia sedang mendapat kabar duka. Mana kondisinya sekarang dalam keadaan berkabung" ucap Vino.


"Lalu, kenapa kau tidak bertanya sekali lagi pada Khanza untuk mengajaknya menikah ? Kamu kok payah sekali sih sayang, enggak seperti papamu yang muka tembok. Contoh dong papamu yang sudah mama tolak ribuan kali masih saja berusaha dapetin hati mama. Lama-lama kan mama mau enggak mau menerimanya juga. Iya enggak pa ?" tanya Mama Vino pada Papa Vino.


Papa Vino yang lagi asyik memainkan ponselnya, langsung menghentikan kegiatannya.


"Mama jangan buka aib papa dong di depan si bujangan ini. Bikin malu papa aja !" ucap Papa.


Mama dan Vino tertawa sejadi-jadinya.


"Ayo, ajak Khanza menikah sekali lagi ! Kalau kamu enggak menikah Tahun ini, mama bakal jodohin kamu dengan anak relasi bisnis papa kamu !" ucap Mama.


Vino tersenyum mendengar ancaman mamanya.


Mama Vino termasuk orang yang tidak mempermasalahkan status sosial seseorang. Saat Vino bercerita padanya di telepon mengenai kedekatannya dengan resepsionisnya. Dia tidak mempermasalahkan itu. Yang penting baginya, Vino segera menikah dan memberikan cucu untuk mereka.


Sebagai orang tua mereka tahu persis sifat anak semata wayang mereka. Bila Vino bilang tidak menginginkannya, dia benar-benar tidak bisa dipaksa untuk menyukainya hal tersebut. Begitu juga sebaliknya, bila dia menyukai sesuatu, dia akan bertahan pada pilihannya tersebut.


Drttttttt.....


Tiba-tiba ponsel Vino berdering. Vino menatap layar ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.


Awalnya dia ragu untuk mengangkatnya. Tetapi, karena sadar tidak banyak orang yang mengetahui nomor ponsel pribadinya, membuat Vino mengangkat panggilan tersebut.


"Halo !" ucap Vino.


"Halo, Kak Vino. Ini aku Tiara Dwitama, adiknya kak Khanza" ucap Tiara di sebrang sana.


Tiara ?


Batin Vino.


"Ada apa ?" tanya Vino.


Tiara lalu berceloteh panjang lebar di telepon. Menceritakan detail demi detail kepada Vino. Vino lalu menutup telepon dari Tiara saat obrolan mereka telah selesai. Sebuah senyuman mengembang dari bibir tipis Vino.

__ADS_1


Jangan lupa Like, vote dan komentarnya ya... Besok kita ending ya, bab terakhir. Met weekend dan Jangan lupa bahagia ! 😘


__ADS_2