
Jangan lupa memberi dukunganmu pada novel ini ya, dengan cara like, komen dan vote.. makasih 🙏 Happy Reading Gaes 😘
************************
Khanza yang tersadar bahwa dirinya sedang memeluk Vino, terkejut bukan main. Sontak, Dia mendorong tubuh Vino, menjauh darinya.
"Eh, maaf. Aku minta maaf, Pak. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya" Ucap Khanza dengan pipi bersemu merah.
"Ya, aku mengerti" Ucap Vino.
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Rasa canggung menyelimuti perasaan mereka sekarang. Keduanya menjadi salah tingkah satu sama lain.
Akhirnya Khanza memberanikan diri membuka suara, untuk memecahkan keheningan.
"Tadi Dokter bilang, kemungkinan operasinya akan selesai dalam dua jam. Jadi, Sebaiknya Pak Vino pulang saja sekarang. Aku akan menunggu Ibuku disini. Terima kasih karena sudah memberikan pinjaman dan mengantarku kemari, Pak" Ucap Khanza.
Vino terdiam sesaat.
"Kalau diluar kantor jangan memanggilku Pak. Apalagi ini sudah diluar jam kerja. Panggil Vino saja. Aku jadi merasa tua banget kalau dipanggil begitu" Ucap Vino.
"Oh, maafkan saya Pak. Bukan, maksud saya, Vino" Ucap Khanza canggung.
Vino tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu tunggu disini sebentar. Aku akan membelikanmu makanan untuk makan malam nanti" Ucap Vino.
"Tidak perlu repot-repot. Aku sedang tidak punya nafsu makan, saat situasi seperti ini" Ucap Khanza.
"Justru itu, kau harus tetap makan. Karena bila kau sakit, siapa yang akan menjaga Ibumu ?" Ucap Vino.
Vino lalu beranjak dari duduknya. Dia melangkah pergi meninggalkan Khanza yang masih duduk di ruang tunggu operasi.
Selang beberapa menit kemudian, Vino kembali datang dengan membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
Dia duduk kembali di kursi kosong sebelah Khanza. Vino lalu menyodorkan kantong plastik yang sedari tadi ditentengnya.
"Ini makanlah dulu !" Ucap Vino.
Khanza membuka bungkusan kantong plastik yang diberikan Vino. Dia melihat ada dua paket ayam KFC lengkap dengan nasi, sup, kentang, puding dan mocca float dan air mineral.
"Cuma ada restoran cepat saji itu di dekat sini. Aku lihat, kamu cukup lahap memakannya sewaktu kita bersama Abi kemarin" Ucap Vino.
Khanza tersenyum mendengarnya.
"Bukan hanya ini. Aku memang lahap memakan apapun jenis makanan. Aku bukan orang yang memilih-milih makanan. Bahkan bila kau hanya memberiku tahu dan tempe saat itu, aku juga pasti akan melahap habis semuanya" Ucap Khanza.
"Keadaan membuatku tak sempat untuk memilah-milih makanan" Ucap Khanza dengan mata yang sendu.
Vino merasa terenyuh mendengar ucapan Khanza.
"Oh, iya. Bolehkah saya izin tidak masuk kantor selama dua hari, Pak ?"Ucap Khanza.
Vino mengerenyit.
"Pak lagi ?" Tanya balik Vino.
__ADS_1
"Oh, iya. Maaf. Aku lupa lagi. Maksudku Vino" Ucap Khanza yang masih canggung menyebut nama Vino.
"Iya, tentu saja boleh" Ucap Vino.
"Terima kasih, Vin. Soalnya Dokter tadi bilang kalau masa pemulihan untuk operasi ini mungkin sekitar 3 sampai 5 hari" Ucap Khanza.
Khanza lalu mengambil botol air mineral di dalam kantong plastik dan meminumnya. Dia juga mengambil satu botol air mineral lagi dan diberikannya kepada Vino.
"Ayo, kau juga minum Vin" Ucap khanza sambil menyodorkan botol air mineral kepada Vino.
Vino menyambut botol tersebut dan meminumnya.
"Berarti kau menginap disini nanti malam ?" Tanya Vino.
"Iya" Ucap Khanza.
"Aku tadi sudah menelepon temanku untuk membawa baju tidurku dan keperluanku untuk menginap" Ucap Khanza.
"Temanmu laki-laki ?" Tanya Vino.
Khanza mengerenyit.
"Perempuan. Namanya Syifa. Anak dari Om Fauzi tadi. Dia tetangga sekaligus sahabat terdekatku" Ucap Khanza.
"Oh.." Ucap Vino.
"Sewaktu bertemu denganmu di sebuah Coffee Shop, aku kira kau hanya bekerja disana saja. Tapi Bu Ulik bilang, kau juga mengajar private anaknya" Ucap Vino.
"Iya. Selama itu halal, aku mengambil semua jenis pekerjaan untuk kelangsungan hidupku dan Ibuku" Ucap Khanza.
"Sewaktu kau bercerita dengan Abi, kau bilang saat kau kecil, kau pernah terjatuh dari pohon jambu. Sehingga membuat keningmu dijahit ? Apa itu benar ? Ternyata sewaktu kecil, kau nakal juga ya !" Ucap Khanza sambil tertawa.
Vino tersenyum mendengarnya.
"Tadinya, aku ingin naik ke puncak pohon jambu yang paling atas. Ternyata ada lebah madu disana. Karena ketakutan, aku cepat-cepat turun dari pohon dan akhirnya jatuh" Ucap Vino.
"Tapi, lebahnya tidak apa-apa kan ?" Tanya Khanza sambil tertawa.
"Lebahnya tidak apa-apa, sehat wal'afiat. Pohonnya juga gak patah, masih berdiri kokoh. Tapi, akunya yang babak belur jatuh dari atas sana" Ucap Vino.
Khanza tertawa mendengarnya.
Akhirnya malam itu, mereka berdua terus bercerita. Layaknya dua orang sahabat yang berbagi cerita kehidupan mereka.
Tiba-tiba, Dokter keluar dari ruang operasi. Khanza segera menghampiri Dokter yang berdiri di dekat pintu.
"Dok, Apa operasinya berjalan lancar ? Bagaimana keadaan Ibuku ?" Tanya Khanza.
"Ibumu baik-baik saja. Operasinya berjalan lancar. Sekarang, Ibumu masih tertidur sehabis operasi, mungkin akan terbangun satu sampai dua jam lagi. Sekarang, perawat akan membawanya ke ruangan rawat inap untuk beristirahat" Ucap Dokter.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Dok" Ucap Khanza.
Khanza dan Vino lalu mengikuti perawat yang mendorong brankar dorong tempat tidur streatcher, yang membawa Ibunya Khanza.
Mereka akhirnya sampai di sebuah kamar ruangan rawat inap. Para perawat tadi, akhirnya memindahkan Ibunya Khanza ke atas kasur, di dalam ruangan tersebut. Sekarang keadaan Ibu Khanza, sudah jauh lebih membaik.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Syifa datang dengan membawa sebuah tas jinjing yang besar.
"Khanza, bagaiman keadaan Ibumu ? Maaf, aku baru datang. Aku harus bekerja dulu tadi" Ucap Syifa.
"Tidak apa-apa, Cipa. Sekarang kondisi Ibuku sudah membaik. Dia baru saja selesai di operasi. Banyak sekali yang kau bawa ? Pasti aku sangat merepotkanmu, kan ?" Ucap Khanza.
"Tidak kok. Kita berteman, jangan bilang begitu" Ucap Syifa.
Khanza tersenyum.
"Makasih ya, Cipa" Ucap Khanza yang memang memanggil Syifa dengan sebutan Cipa. Nama panggilan Syifa dirumah.
"Oh, iya. Syifa kenalin. Ini Vino atasanku di kantor. Dan Vino, ini Syifa. Teman sekaligus tetanggaku" Ucap Khanza.
Vino mengangguk memberi salam.
"Karena sudah ada Syifa, kau boleh pulang sekarang Vin. Lagipula kau akan bekerja lagi besok, jadi kau harus segera beristirahat" Ucap Khanza.
"Cipa, aku titip Ibu ya. Aku mau mengantar Vino keluar dulu" Ucap Khanza.
Syifa mengangguk.
Vino dan Khanza lalu berjalan melangkah keluar ruangan. Mereka berbincang sambil berjalan.
"Ah, aku sangat lega. Saat Dokter bilang operasinya berhasil dan keadaan Ibuku sudah membaik sekarang" Ucap Khanza.
"Ya, baguslah kalau begitu" Ucap Vino.
"Terima kasih juga ya, Vin. Kalau tidak berkat bantuanmu memberikan pinjaman dan mengantarku tepat waktu kemari, aku tidak tahu harus berbuat apa" Ucap Khanza yang menghentikan langkahnya.
"Tidak masalah. Itu bukan apa-apa" Ucap Vino.
"Ternyata berita yang mengatakan kalau kau itu orang yang baik dan peduli, bukan isapan jempol semata ya. Tadinya aku kira itu hanya sebuah rumor yang terlalu dibesar-besarkan di perusahaan. Tapi setelah aku mengalaminya sendiri, ternyata itu benar. Kau memang orang yang sangat baik. Kau bahkan mau membantuku. Orang yang dulu suka berdebat dan membantahmu" Ucap Khanza.
Vino terdiam. Dia menatap Khanza cukup lama.
"Hmm.. Ada apa ? Apa aku salah bicara ?" Tanya Khanza.
"Tidak. Tapi aku benci dianggap baik" Ucap Vino.
Khanza kebingungan.
"Hah ? Kau tidak suka dibilang baik ?" Tanya Khanza yang merasa heran.
"Iya. Karena image yang sudah melekat itulah, aku jadi tidak bisa menunjukkan keseriusanku untuk peduli pada orang yang memang ingin aku jaga dan aku lindungi. Padahal aku menganggapnya berbeda" Ucap Vino menatap Khanza lekat. Sorot matanya begitu tajam. Dia memandang Khanza hampir tidak berkedip.
Deg !
Kenapa tatapannya membuatku berdegup kencang ya. Aku benar-benar gugup mendengar ucapannya barusan. Tidak, aku jangan GR, pasti yang dimaksud bukan aku. Banyak sekali gadis-gadis cantik dan berpendidikan tinggi yang berada disekelilingnya. Dan mungkin saja, itu untuk sekretaris lamanya yang sering diceritakan orang-orang dikantor. Ya, itu pasti bukan ditujukan kepadaku. (Batin Khanza).
"Baiklah. Kalau begitu. Masuklah ke dalam. Siapa tahu, Ibumu sudah bangun dari tidurnya dan mencarimu. Dan mungkin besok, aku akan berkunjung kemari lagi" Ucap Vino sambil tersenyum.
Vino lalu bergegas melangkah pergi meninggalkan Khanza yang masih berdiri mematung, menatap punggungnya yang berangsur-angsur menghilang dari kejauhan.
#Sorry ya gaes telat update.. "Karena sesungguhnya perempuan itu sederhana.. yang rumit itu moodnya 😁" jangan lupa beri like, komen dan votenya... 🙏 makasih 😘
__ADS_1