
Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya... Dukunganmu sangat berarti bagiku 🙏
Saranghaeyo dan Happy Reading ya 😘
*********************
Pagi ini dikantor Samudra Group Fani mulai mendengar desas-desus tentang dirinya.
"Bukannya Dia yang menjadi pacar PresDir Mandala Group itu, Lalu kenapa kemarin di televisi ada berita mengenai PresDir Mandala Group itu dengan selebriti Keyla Veronica"
"Mungkin sudah putus sepertinya, Kalau aku jadi PresDir itu juga mendingan memilih kekasih yang sama levelnya"
Dan masih banyak lagi obrolan yang terdengar kurang enak mengenai dirinya di lobby bawah.
Fani melangkah masuk ke lift menuju ruangannya. Dia berjalan dengan gontai menghampiri mejanya. Dia meletakkan tasnya diatas meja dan mulai menyalakan komputernya.
Dia juga semalam susah buat dihubungi dan juga tidak menghubungiku. Sebenarnya apa yang terjadi.. Apa itu hanya kebetulan ya ?
Tiba-tiba suara Zia yang baru datang bersama deka sehabis sarapan di kantin mengejutkan Fani.
"Fani baru datang yah ?" tanya Zia.
"Iya mbak" Ucap Fani tak bersemangat.
"Kami sudah lihat beritanya di televisi. Kamu lagi ada masalah ya sama Rendi ?" Tanya Mbak Zia.
"Enggak kok Mbak. Ga ada apa-apa" Ucap Fani.
"Kalau begitu kenapa Rendi bisa satu acara sama mak lampir itu dan mendampinginya selama acara ?" Ucap Deka kesal.
"Eh, itu.." Fani menjawab dengan terbata.
Tiba-tiba telepon di meja Fani berdering.
"Fani, ke ruangan saya sekarang !" Ucap Vino di telepon.
"Mbak Zia dan Deka, Fani tinggal dulu ya ke dalam" Ucap Fani yang melangkah pergi meninggalkan Zia dan Deka.
Huft, untung saja. Aku sudah bingung gimana menjawab mereka
Fani masuk ke dalam ruangan PresDir dan duduk di sofa tengah. Vino yang duduk berseberangan dengannya menatap wajahnya lekat.
"Kau baik-baik saja setelah aku mengantarmu kemarin ?" Tanya Vino.
"Ya, tentu saja. Memangnya Aku harus bagaimana ?" Tanya Fani balik.
"Apa aku harus bunuh diri kerena melihat berita itu ?" Ucap Fani yang bernada kesal.
Vino tertawa terbahak-bahak.
"Sudah, Jangan berpura-pura tegar didepanku. Kemarin saja sepanjang perjalanan kau hanya diam seperti batu setelah melihat berita kemarin" Ucap Vino.
Fani menunduk seolah membenarkan ucapan Vino.
"Nanti, Temani aku ke Pameran Seni ya sore ini" Ucap Vino.
"Pameran Seni ?" Tanya Fani.
"Iya, Setelah jam makan siang nanti. Itu bukan sekedar Pameran Seni biasa. Itu sejenis kegiatan amal yang diadakan para pengusaha muda. Lagipula ada banyak kolega dari perusahaan kita disana. Salah satunya ada yang sedang menjalin bisnis dengan perusahaan kita. Makanya Aku mengajakmu. Siapa tahu nanti, Kita akan membahasnya disana" Ucap Vino.
"Hmm.. Baiklah" Ucap Fani.
*****************
Sedangkan di Cafe Neon, Tempat yang biasa dijadikan tempat nongkrong oleh Rendi dan teman-temannya. Mereka berempat sudah duduk manis dikursi mereka masing-masing.
"Tumben Ren, elu yang ngajak duluan buat ngumpul. Biasanya juga, Elu yang paling males kalau diajak" Ucap Fahri
"Aku ingin meminta bantuan kalian" Ucap Rendi.
"Aish.. Pantes Dia yang ngajak kumpul duluan. Ada maunya rupanya !" Ucap Azzam.
"Minta bantuan apa ? Memilih antara Keyla atau Fani ? Wah, Elu gila juga ya Ren. Baru kemarin Aku lihat beritanya di televisi. Kau dan Keyla pergi bersama di acara peluncuran produk baru perusahaan Keyla. Ayolah, Ga mungkin kan itu hanya kerjasama bisnis saja. Jadi gimana sama Fani ?" Ucap Fahri.
"Ceritanya panjang. Yang jelas surat perjanjian antara Aku dan Fani ada ditangan Keyla. Aku mau tak mau harus menuruti keinginannya sekarang. Kalau tidak Fani yang akan menanggung akibatnya" Ucap Rendi.
"Surat perjanjian apa sih ?" Tanya Riko yang semula diam saja akhirnya membuka suara karena penasaran.
__ADS_1
"Aku ga bisa jelasin dengan rinci isi surat itu. Karena Aku sudah berjanji dengan Fani tidak akan memberitahu siapapun isi surat perjanjian itu. Jadi Aku ingin kalian membantuku bagaimana mendapatkan surat itu kembali" Ucap Rendi.
Aish... Mendengar nama Fani saja sudah membuatku rindu. Sudah dua hari ini Aku tidak bertemu dengan Fani akibat ancaman Keyla !
"Ya, Itu cukup sulit sih. Bisa saja dia menyimpannya di brankasnya atau menyimpan surat berharga seperti itu di bank atas namanya. Itu juga pasti surat perjanjiannya sudah di foto dan disimpan dihandphonenya. Atau di copynya sebanyak mungkin" Ucap Azzam.
Rendi menoleh pada Riko. Riko yang seolah mengerti maksud Rendi langsung memberi jawaban.
"Jangan meminta saran padaku ! Aku juga lagi ada masalah yang harus aku pikirkan solusinya" Ucap Riko yang terus melihat ponselnya sambil mengusap-usap kepalanya. Pikirannya seperti benang kusut sekarang.
"Aku ada ide !" Ucap Fahri.
Semua mata langsung fokus tertuju pada Fahri.
"Apa kita culik saja si Keyla dan melemparnya ke sungai terpencil" Ucap Fahri.
Rendi, Riko, dan Azzam langsung manyun mendengar ide Fahri.
"Akhirnya aku melakukan hal paling sia-sia dalam hidupku" Ucap Rendi.
"Apa itu ?" Tanya Fahri.
"Meminta saran darimu !" Ucap Rendi.
"Kau kira masalah akan selesai dengan ide konyolmu itu ?" Sambung Rendi.
"Emang susah nih buat mikir lurus, kalau otak isinya sudah penuh dengan sel*ngkangan" Ucap Riko pada Fahri.
"Sialan elo !" Ucap Fahri.
"Kau Kira kenapa Aku dari tadi diam saja ?" Ucap Riko pada Rendi.
"Makanya Aku dari tadi memilih diam saja. Mending mikirin solusinya sendiri daripada meminta saran mereka. Saran mereka itu pada sadis dan konyol !" Ucap Riko.
"Sudah diberi solusi gampang malah ga mau jangan salahin Aku ya kalau masalah kalian ga selesai-selesai !" Ucap Fahri kesal.
"Oh, ya selain Rendi yang sibuk jadi artis wara-wiri ditelevisi. Beritamu juga gak kalah heboh sepertinya. Isunya kamu Ayah dari anak yang sedang dikandung oleh artis siapa itu Ri ? Artis yang Kau kenalkan padanya dulu ?" Tanya Azzam.
"Mika maksudmu ?" Ucap Fahri.
"Iya betul. Mika !" Ucap Azzam.
"Kenapa Kau selalu menyamakan Aku denganmu ? Aku tidak gila sepertimu yang meniduri semua artismu !" Ucap Riko.
"Diralat ! Tidak semua ! Ada juga yang nggak mau diajak tidur olehku" Ucap Fahri sambil tertawa.
"Kalau begitu bagaimana dengan Mika ? Apa kau pernah tidur dengannya ? Seperti apa dia sebenarnya ?" Tanya Riko.
"Gila ! Yang aku kenalkan padamu itu belum pernah ada yang kutiduri. Tapi mengenai Mika. Anak itu memang ambisinya tinggi. Demi mendapatkan peran apapun dia rela mendekati Produser-produser Film yang sudah beristri. Yang aku dengar sekarang dia lagi sibuk menyiapkan Film perdananya yang segera tayang. Oh, Aku mengerti ! Jadi mungkin saja dia memakaimu untuk membuat sensasi agar rating filmnya bagus !" Ucap Fahri.
"Yang Aku heran bagaimana Dokter di Rumah Sakit itu bilang kalau tes DNA bayinya dan Aku cocok. Sedangkan Aku benar-benar tidak melakukannya" Ucap Riko.
"Yang Aku dengar sih dia punya saudara seorang Dokter di salah satu Rumah Sakit Terbesar di kota ini" Ucap Fahri.
"Sebentar !" Sambung Fahri.
Fahri menelepon Sekretaris Pribadinya untuk mengirimkan file data lengkap Mika Meriska.
Tiba-tiba email masuk ke ponsel Fahri. Dia menunjukkan pada Riko nama saudara kandung Mika Meriska yang merupakan seorang Dokter Kandungan bernama Dr.Irene, Yang bekerja di Rumah Sakit "Kasih" tempat mereka melakukan tes DNA kemarin. Riko mengeluarkan surat hasil tes yang berada di dompetnya dan mencocokan nama Dokternya. Riko menyeringai, Seperti secerca harapan muncul baginya. Dia seolah telah menemukan titik terabg masalahnya.
"Jadi bagaimana dengan Nisa sekarang ?" Tanya Azzam.
"Dia memutuskanku dan memintaku tidak menemuinya lagi. Teleponku juga tidak diangkat olehnya sekarang" Ucap Riko.
"Tapi aku tidak akan menyerah. Setelah selesai menyelesaikan semua ini. Aku akan segera menemuinya dan membawa bukti padanya" Ucap Riko.
"Sebaiknya Kau temui dulu Nisa dirumahnya sekarang. Mamanya tadi meneleponku. Meminta izin tidak masuk kantor hari ini. Katanya Nisa demam tinggi" Ucap Rendi.
"Apa ?" Wajah Riko langsung panik.
Riko mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja dan bersiap berdiri dari duduknya.
"Aku duluan ya !" Ucap Riko.
Lalu bergegas pergi meninggalkan teman-temannya.
Tiba-tiba ponsel Rendi berdering. Sebuah pesan whatsapp masuk ke ponselnya.
__ADS_1
Aishh.. Perempuan ini !
"Aku juga pergi ya. Menemani Keyla ke pameran lukisan" Ucap Rendi.
"Sampai kapan Ren kau akan seperti ini ?" Tanya Azzam.
"Entahlah Aku harap ini yang terakhir. Aku juga sudah muak dengan semua ini. Aku akan coba menghentikannya kali ini !" Ucap Rendi.
******************
Fani dan Vino yang telah berada di Pameran Seni siang ini sibuk mengobrol dengan orang-orang yang merupakan kolega perusahaan mereka.
Setelah cukup lama mengobrol akhirnya Fani dan Rendi memilih salah satu meja untuk duduk. Mereka berdua mengambil beberapa minuman yang telah disediakan. Kebetulan cuaca sangat panas siang ini.
Tiba-tiba Fani yang lagi meminum jus hampir saja tersedak. Dia melihat kedatangan Rendi dan Keyla yang berbarengan.
Fani dan vino melihat Keyla mencoba menggelantungkan tanganya di lengan Rendi. Tapi Rendi menepisnya.
Sudah dua hari aku tidak bertemu dengannya. Dan Aku terus memikirkan keadaannya. Ternyata dia disini bersenang-senang melihat pameran seni bersama mantan kekasihnya
Batin Fani.
Mata Fani terus menatap ke arah mereka berdua. Rendi dan Keyla yang asik berbincang dengan para pengusaha muda lainnya tidak sadar dengan kehadiran Fani yang melihatnya dari jauh.
Vino merasa kasihan pada Fani. Dia mencoba menghibur Fani.
"Hei, Jangan bersedih lagi. Bukannya ini pameran seni. Kau harus bahagia ditempat yang penuh dengan keindahan ini" Ucap Vino sambil mencoba menepuk bahu Fani dan mengelus rambutnya.
Tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar di telinga mereka.
"Lepaskan tanganmu ! Jangan menyentuhnya !" Ucap Rendi yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang mereka.
Rendi yang tidak sengaja sekilas melihat Fani dan Vino langsung meninggalkan Keyla sendiri ditengah obrolan mereka dengan para pengusaha muda.
Rendi berjalan ke arah mereka berdua. Emosinya semakin memuncak melihat Vino yang mencoba menenangkan Fani dengan cara memegang bahu dan mengelus rambut Fani. Dia sangat merasa terganggu dengan pemandangan yang dilihatnya.
Rendi langsung menarik tangan Vino dan menghajarnya. Vinopun tersungkur. Vino yang mencoba berdiri dan sudah mengepalkan tangan siap menghajar Rendi. Tapi Fani menahannya.
"Tolong jangan bertengkar disini" Ucap Fani.
Semua tamu undangan melihat ke arah mereka bertiga. Keylapun mendekat melihat kejadian yang menghebohkan isi ruangan itu.
Semua tamupun berbisik.
"Bukannya itu Rendi yang tadinya datang bersama Keyla. Lalu kenapa Dia memperebutkan seorang gadis yang bersama Vino ?" Ucap salah satu tamu undangan.
"Aku pernah melihatnya di televisi. Gadis yang bersama Vino sih memang pacarnya Rendi yang sekarang. Berarti Rendi memang lebih memilih pacarnya yang sekarang ketimbang Keyla"
Semua tamu memandang Keyla dengan tatapan iba. Keyla yang sempat mendengar bisik-bisik itu malu bukan main. Wajahnya pias. Seperti habis dilempari buah tomat yang banyak.
Fani yang melihat sekeliling menatap mereka bertiga, Menarik tangan Rendi untuk menepi dari tempat kejadian. Dia takut kalau Rendi masih disitu semakin membuat masalah.
Vino hanya terdiam di tempatnya menatap Fani yang menarik tangan Rendi keluar dari ruangan itu.
"Kenapa Kau suka sekali memukul Vino ? Apa salahnya padamu ?" Tanya Fani yang mulai emosi.
"Karena dia suka sekali merayumu ! Jadi Aku membencinya ! Dia juga mencoba menyentuhmu tadi !" Ucap Rendi yang juga terdengar kesal.
"Menyentuhku ? Lalu bagaimana denganmu ?" Tanya Fani balik.
"Aku tidak pernah menyentuh Keyla dan dia juga tidak aku izinkan menyentuhku !" Ucap Rendi.
"Hehh !" Fani mencibir.
"Kalau Kau bebas dekat dengan Keyla mengapa Aku tidak boleh dekat dengan Vino ? Kenapa ? Aku akan mencoba membiarkan Dia mendekatiku mulai sekarang !" Ucap Fani yang sangat sarat akan emosi.
Wajah Rendi berubah masam. Wajah yang biasanya terlihat tampan itu kini terlihat sangat menakutkan bagi Fani.
Rendi berjalan mendekat ke arah Fani. Saking takutnya Fani memundurkan langkahnya hingga tidak bisa lagi bergerak karena ada dinding menghalanginya. Badannya sudah merapat ke dinding tidak bisa lagi menghindar dari Rendi yang terus mendekat ke arahnya. Rendi memukul dinding tepat disebelah kanannya. Fani sangat ketakutan.
Apa aku akan dipukul juga..
Batin Fani.
Rendi menepuk-nepuk lembut pipi Fani dengan tangannya. Jarak wajah mereka sangat dekat. Fani merasa sangat canggung.
"Jangan melakukannya.. Aku tidak menyukainya ! Aku cemburu !" Ucap Rendi.
__ADS_1
Deg !
#Jangan Lupa beri dukunganmu melalui like, vote dan komen ya.. Maafkan selalu update dengan waktu yang tidak menentu.. Tapi kedepannya akan Author usahakan ontime.. Terima kasih sudah setia membaca.. Aku padamu Readers 😘