Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Menghalalkanmu


__ADS_3

Aku adalah jenis orang yang tidak mudah jatuh cinta. Ketika aku memilihmu, maka itu adalah sebenar-benarnya cinta.


***************


Keesokan harinya, Mereka sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan Pagi.


Hanya Tiara yang bermuka masam pagi ini dengan muka ditekuk. Saat semuanya memulai makan, Tiara malah mengeluarkan suara mual seperti orang mau muntah.


"Tiara yang sopan kalau sedang di atas meja makan ! Kau begini bukan bermaksud menyindir Khanza dan Ibunya kan ?" bentak Yuda.


"Enggak kak. Memang aku lagi enggak nafsu makan aja. Kayaknya aku masuk angin" ucap Tiara.


Tiara memang segan pada Yuda. Sebagai seorang kakak, Yuda memang sosok yang sangat bertanggung jawab kepada adik-adiknya. Dia akan melindungi adik-adiknya dari orang yang berniat jahat dan menyakiti adiknya. Oleh karena itu Tiara dan Nanda sangat menyayangi Yuda.


Mereka kembali melanjutkan sarapan pagi mereka.


"Za, Papa kan sudah menyerahkan anak cabang perusahaan padamu. Apa kau mau ke kantor sekarang atau bagaimana ?" tanya Yuda.


"Sepertinya enggak sekarang deh Yud. Aku lagi mempelajari dokumen tentang perusahaan yang dibawakan oleh Pak Dimas semalam. Lagipula aku akan menyambung kuliah bisnis disini biar benar-benar matang buat memimpin nanti" ucap Khanza.


Yuda mengangguk.


"Za, kamu jadi kan tinggal disini sama kita. Sesuai permintaan Papa di surat wasiat" ucap Nanda.


Khanza menoleh pada Ibunya. Dia kelihatan ragu.


"Iya, ayolah. Tinggal disini saja. Rumah tambah sepi kalau kalian pergi. Lagipula kita kumpul kayak gini enggak bakal lama. Kalau ada salah satu dari kita menikah, kita kadang sudah memisah dengan keluarga kecil kita masing-masing" ucap Yuda.


Khanza kelihatan berpikir. Tapi Ibu menggenggam tangannya sambil menganggukan kepala sebagai isyarat meyakinkan Khanza pada pilihannya.


"Emmm.. Baiklah. Aku juga kangen tau enggak selama ini pada kalian" ucap Khanza.


"Kami juga !" ucap Nanda dan Yuda berbarengan.


Setelah selesai sarapan, Yuda dan Nanda izin untuk berangkat ke kantor.


Sedangkan Nanda dan Ibu memilih menetap di rumah untuk membereskan rumah. Walaupun banyak pelayan yang bekerja untuk itu. Tetapi Ibu dan Khanza lebih senang melakukannya sendiri.


*************


Jam telah menunjukkan pukul 17:20 Sore. Khanza terkejut saat Kepala Pelayan, Pak Teguh memberi tahu, ada yang ingin bertemu dengannya.


"Syifa ?" teriak Khanza senang sekaligus kaget.


"Khanzaaa" ucap Syifa sambil memeluk Khanza.


"Aku kangen tau enggak sama kamu !" ucap Syifa.


"Aku juga !" balas Khanza sambil memeluk Syifa.


"Ayo duduk !" ajak Khanza.


"Baru pulang kerja, Fa ?" tanya Khanza.


Syifa mengangguk.


"Kamu enggak kerja, Za ?" tanya Syifa.


"Enggak. Izin dulu masih suasana berkabung. Tadi aku sudah menelepon Vira, temanku. Untuk menyampaikan izinku pada Vino" ucap Khanza.


Khanza tadi sempat menelepon ke kantor untuk izin beberapa hari. Tapi, ternyata Vira bilang, Vino sekarang lagi di luar negeri mengurus kerja sama dengan perusahaan asing.


Ah, tiba-tiba jadi mikiran dia. Dia inget aku enggak ya disana.


Batin Khanza.


"Eh, Za. Hellowww !! Elo ngelamun ya ? Gue dikacangin !" ucap Syifa.


"Oops, Sorry cipa" ucap Khanza seraya tertawa.


"Sorry ya, Za aku baru sempat kesini. Aku baru tahu kabar ini semalam dari televisi. Turut berduka cita ya Za atas meniggalnya Papa Kamu" ucap Khanza.


"Iya enggak apa-apa, Cip. Kamu kesini aja tengokin aku. Aku sudah seneng banget" ucap Khanza.


"Eh, elo kesini beneran nengokin gue kan ? Bukan buat tengokin Yuda ?" ucap Khanza.


"Apaan sih Khanza ! Siapa coba yang mau nyari dia. Gue ke sini beneran nengokin elo" ucap Syifa dengan pipi merona merah begitu mendengar nama Yuda.


Khanza tertawa.

__ADS_1


"Ya, kalau nengokin Yuda juga enggak apa-apa kali. Yang ditengok juga pasti bakal happy banget" ucap Khanza meledek Syifa.


Syifa tambah salah tingkah.


"Beneran deh elu, Za ! Hobi banget ya ngeledekin gue. Bukannya elo enggak suka gue deket-deket sama Yuda ?" ucap Syifa.


"Itu dulu. Sewaktu ada penghalang yang cukup besar buat kalian. Kalau sekarang sih aman. Mama Yuda sudah masuk penjara Cip, atas kejahatan dia sendiri" ucap khanza.


"Ohh.." ucap Syifa sambil memgangguk.


Mendengar nama Yuda aku jadi kangen beneran nih dengan dia. Biasa kan dia selalu nangkring di coffee shop tempat gue bekerja sehabis dia pulang kerja.


Batin Syifa.


Sekarang gantian Syifa yang melamun.


Seolah mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya itu, Khanza langsung memberikan penjelasan pada Syifa.


"Cip, Yuda sekarang pasti sibuk banget. Soalnya Papa memberikan amanat padanya untuk menggantikannya menjadi Presdir. Mungkin sekarang Yuda lagi adaptasi sama pekerjaannya" ucap Khanza.


"Oooohhhhhhhhhhhhhhhh..." Syifa mengangguk.


"Panjang bener "O" nya" ucap Khanza seraya tertawa.


"Ya, udah deh O doang" ucap Syifa.


Lantas keduanya tertawa berbarengan.


Syifa melihat jam ditangannya.


"Za, gue pulang ya. Takut kemaleman sampai dirumahnya" ucap Syifa.


"Iya, hati-hati ya. Enggak nunggu Yuda dulu nih ? Bentar lagi jamnya pulang kantor loh !" ucap Khanza.


"Khanza elu bener-bener ya !" teriak Syifa.


Khanza tertawa.


"Bye, Aza gue pulang ya" ucap Syifa.


"Iya" ucap Khanza.


Saat hendak berjalan ke pintu gerbang, Sebuah mobil sport bewarna biru metalik memasuki kediamanan Dwitama.


Kaca mobilnya terbuka saat melintas di depan Syifa.


"Syifa ? Dari rumah ?" ucap yuda.


"Iya, tadi udah ketemu sama Khanza" ucap Syifa.


"Tunggu sebentar ya" ucap Yuda yang memarkirkan mobilnya di dekat situ.


Nanda yang hari ini kebetulan ikut nebeng mobil kakaknya, ikut menghampiri Syifa untuk menyapa.


"Kenalin ini adek gue Nanda" ucap Yuda.


"Hai, aku Nanda" ucap Nanda tersenyum lebar.


"Syifa" ucap Syifa membalas senyuman Nanda.


"Oh, jadi ini kak yang namanya Syifa. Yang berhasil bikin kak Yuda yang tadinya brutal sekarang menjadi bucin" ucap Nanda menggoda kakaknya.


"Dia sering cerita soal elo ke gue Syif !" ucap Nanda.


"Oh, ya ?" ucap Syifa dengan pipi merona.


"Udah masuk sana ! Bawel jadi perempuan !" ucap Yuda menyuruh adiknya masuk.


"Dih, yang enggak mau diganggu" ucap Nanda yang sudah beranjak pergi dari sana.


"Duduk di teras yok !" ajak Yuda sambil menggandeng paksa tangan Syifa.


Ini orang emang suka bertindak sekendak jidatnya aja. Tangan orang ditarik-tarik.


Batin Syifa.


Sekarang mereka sudah duduk di teras samping yang penuh dengan kebun bunga dan kolam ikan yang cukup besar.


"Kenapa ngajakin gue duduk di sini ?" ucap Syifa.

__ADS_1


"Kepingin aja !" ucap Yuda.


"Dih, enggak jelas. Udah ah, gue mau pulang" ucap Syifa yang sudah berdiri dan bersiap melangkah pergi.


Tapi tiba-tiba Yuda menarik tangan Syifa, sehingga membuat Syifa berbalik dan membentur dada Yuda. Yuda memeluknya.


"Tetep disini sebentar. Semuanya begitu berat. Bantu aku menenangkan diri" ucap Yuda.


Syifa teringat akan ucapan Khanza tadi siang.


Dia membiarkan Yuda memeluknya lama.


Kasihan Yuda. Banyak sekali tanggung jawab yang harus dipikulnya, di saat masalah datang padanya secara bertubi-tubi.


Setelah cukup lama memeluk Syifa, Yuda melepaskan pelukannya. Suasana tiba-tiba canggung bagi keduanya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang ?" ucap Syifa memulai obrolan.


"Ya, begitulah. Kau bertanya seperti itu apa karena kau mengkhawatirkanku ?" ucap Yuda.


"Tuh kan, kamu mulai lagi. Aku memang mengkhawatirkanmu, tapi khawatir sebagai teman" ucap Syifa ketus.


"Oh, ya ? Mana ada orang yang berteman itu ciuman !" ucap Yuda.


"Yuda !" teriak Syifa.


Wajah Syifa sudah memerah sekarang. Apalagi di tempat mereka berdiri banyak pelayan yang berjaga dan lalu lalang.


Yuda tersenyum melihat pipi Syifa yang merona.


"Kenapa ?" ucap Yuda tanpa dosa.


"Malu tahu di denger orang ! Gimana kalau Khanza denger !" ucap syifa panik.


"Biarin aja ! Khanza juga palingan sudah di cium sama Vino" ucap Yuda Santai.


Astaga mulutnya !


Batin Syifa.


"Dasar elu ya ! emang otak elo isinya cuma ciuman doang kayaknya !" ucap Syifa.


Kali ini sorot mata Yuda berubah. Dia terlihat dengan mimik wajah yang serius.


"Aku bukan orang jahat Syifa. Tolong rubah pemikiran kamu tentang aku. Aku sudah berkali-kali berusaha membuktikan keseriusanku kepadamu. Tetapi tidak ada respon darimu" ucap Yuda.


"Aku adalah jenis orang yang tidak mudah jatuh cinta, Syif. Ketika aku memilihmu, maka itu adalah sebenar-benarnya cinta" ucap Yuda.


Syifa terdiam untuk sesaat. Dia Merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Aku.. Aku.." ucap Syifa terbata.


"Dengar ! Semenjak aku yang mengambil ciuman pertamamu. Semenjak saat itu juga tidak ada lagi yang boleh menciummu selain aku !" ucap Yuda sambil memegangi kedua bahu Syifa.


Mata Syifa berkaca-kaca.


"Apakah kau menyukaiku juga ?" ucap Yuda.


Syifa mengangguk.


Yuda tersenyum lebar. Dia langsung menyerbu Syifa dengan pelukan. Syifapun membalas pelukan Yuda.


Ada raut wajah bahagia dari pasangan yang baru saja mengikrarkan perasaan mereka saat ini.


Yuda lalu melepaskan pelukannya.


"Ayo, aku antar pulang sekalian aku juga mau menemui orang tuamu" ucap Yuda.


"Ketemu orang tuaku ? buat apa ?" ucap Syifa.


"Buat melamar anaknya lah. Masa' mau dicium tapi enggak mau dihalalin ?" ucap Yuda yang sudah menggandeng tangan Syifa mengajaknya naik ke mobil.


"Dasar mesum !" ucap Syifa sambil menyelipkan lengannya di lengan Yuda.


"Tapi aku sayang" Sambung Syifa.


Yuda tersenyum mendengarnya.


Lelahan yang mana ? Mengejar dengan kaki ? Atau berharap dengan hati ? Eakkkk..🤭 Mana nih timnya Yuda sama Syifa.. kuy ramaikan🤗 Jangan lupa like, vote dan komen-komen ceriwis kalian ya😘

__ADS_1


__ADS_2