
Tim rumpi lantai 15 yang telah kembali usai makan siang di kantin, duduk satu persatu di meja kerjanya. Semua terlihat kekenyangan sehabis makan di kantin tadi. Hanya Khanza yang menyenggol nasinya hanya sedikit.
"Elo masih enggak enak badan ya, Za ? Kok tadi makannya dikit bener" Tanya Vira.
"Aku enggak nafsu makan Vir. Mungkin bawaan kakiku yang masih sakit" Ucap Khanza yang asal menjawab.
Vira bingung mendengarnya.
"Lah ? Kaki yang sakit, kok bisa enggak nafsu makan, Za ? Gimana ceritanya itu ?" Ucap Vira.
Khanza tertawa mendengarnya.
Tiba-tiba suara khas lelaki menyapa mereka berdua.
"Kalian berdua sudah makan ?" Tanya Vino yang baru saja datang.
Khanza dan Vira menoleh ke asal suara berbarengan.
Khanza yang tadinya tertawa langsung merubah mimik mukanya. Dia cemberut.
Kenapa ekspresinya seperti itu ? Sudah aku bilang jangan bersikap canggung padaku dikantor. Tetapi tunggu dulu, itu bukan ekspresi canggung tetapi seperti mau marah.
Batin Vino.
"Sudah, Pak. Tadi kita semua ditraktir makan sama Indri di kantin bawah" Ucap Vira.
"Oh, kapan kalian ke sana ? Kenapa saya enggak lihat. Jam istirahat ? Saya juga makan disana tadi" Ucap Vino.
Tentu saja kau tidak melihat kami, kau sedang asyik berduaan. Dasar playboy !
Batin Khanza.
"Iya, Pak. Jam istirahat" Ucap Vira.
Hanya Vira yang terus menjawab pertanyaan Vino. Sedangkan Khanza hanya diam tidak bergeming.
"Kalau begitu ini untuk kalian berdua. Tadi kebetulan membelinya untuk kalian berdua, saya kira kalian belum makan siang" Ucap Vino sambil memberikan kantong plastik yang berisi makanan dan menyodorkannya.
Vira menyambut kantong plastik tersebut.
"Pak Vino memang baik hati ya. Ini Khanza, punyamu satu dan yang ini punyaku satu" Ucap Vira mengeluarkan kotak makanan dari dalam kantong plastik itu.
"Untukmu saja, Vir. Aku sudah kenyang tadi" Ucap Khanza menolak secara halus.
Vino dan Vira kaget mendengar ucapan Khanza.
Setidaknya dia bisa menerimanya dulu kan. Baru memberikannya pada Vira, kalau aku sudah pergi. Ada apa dengannya hari ini ? Dia terlihat tidak seperti biasanya.
Batin Vino.
"Kenyang dari mana ? Kan kamu cuma makan beberapa sendok tadi !" Ucap Vira berbisik.
Khanza hanya diam tidak menjawab.
"Kalau begitu, saya ke ruangan saya dulu ya. Ada yang harus dikerjakan" Ucap Vino.
"Baik, Pak" Ucap Vira.
__ADS_1
Vino akhirnya melangkah menuju ruangannya.
Setelah melihat dan memastikan bayangan punggung Vino yang telah memasuki ruangannya, Vira langsung mengomel pada Khanza.
"Za, jangan jutek kayak gitu dong sama Pak Presdir. Dia kan sudah berniat baik membelikan kita makanan" Ucap Vira.
"Tapi, beneran aku ga mau Vir. Buat kamu aja ya" Ucap Khanza.
"Beneran nih ? Ya, udah. Aku senang banget dapat 2 kotak kalau gitu" Ucap Vira kegirangan.
Akhirnya Vira dan Khanza kembali melanjutkan pekerjaan mereka, menginput nama tamu di dalam buku tamu ke dalam komputer.
****************
Jam telah menunjukkan pukul 15:50 sore.
"Asyik, 10 menit lagi waktunya pulang" Ucap Vira kegirangan. Dia sudah bersiap memasukkan handphone dan dompetnya ke dalam tas.
"Duh, sigap banget kalau sudah mendekati jam pulang. Mulai deh gerakan cepat" Ucap Khanza.
"Ya, iya dong Za. Besok kan weekend. Jadi mau persiapan buat malam mingguan sama abang" Ucap Vira.
"Genit !" Ucap Khanza sambil tertawa.
Tiba-tiba telepon di meja resepsionis berdering. Vira mengangkatnya.
"Halo, Disini Samudera Group. Dengan saya Vira, ada yang bisa saya bantu ?" Ucap Vira.
"Vir, Khanza ada disitu tidak ?" Ucap Vino.
"Oh, Pak Vino. Iya, ada Pak" Ucap Vira yang mengenali suara bosnya itu.
"Suruh dia ke ruangan saya, sekarang" Ucap Vino.
"Oh, Oke. Baik Pak!" Ucap Vira.
Vira lalu menutup telepon.
"Za, kamu disuruh Pak Vino ke ruangannya, sekarang" Ucap Vira.
"Aku ? Ngapain ?" Tanya Khanza.
"Mana aku tahu, Pak Vino enggak bilang" Ucap Vira.
Aduh, kenapa dia memanggil aku ke ruangannya ya ? Padahal kan sebentar lagi jam pulang.
Batin Khanza.
Akhirnya, mau tak mau Khanza menemui Vino. Dengan gontai, dia melangkahkan kakinya memasuki ruangan Vino setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Vino yang masih sibuk menatap layar komputernya, menghentikan kegiatannya saat Khanza masuk ke ruangannya.
"Pak Vino memanggil saya ? Ada apa ya, Pak ?" Tanya Khanza.
"Duduklah di sofa. Aku mematikan komputer dulu" Ucap Vino
Khanza akhirnya duduk di sofa tengah sesuai perintah Vino.
__ADS_1
Setelah mematikan layar komputernya, Vino duduk di sebelah Khanza.
"Sebentar lagi jam pulang kantor, Kita pulang bareng ya ?" Ucap Vino.
"Pulang bareng ?" Tanya Khanza.
Vino mengangguk.
Khanza yang menatap Vino, akhirnya mengalihkan pandangannya. Khanza hanya diam, tidak menjawab. Dia tampak berpikir keras.
"Kalau kau keberatan yang lain melihat, kita tunggu sebentar lagi. Sampai pegawai lain sudah banyak pulang" Ucap Vino.
Khanza kembali menatapnya.
"Kenapa kau mengajak aku pulang bareng ? Padahal kau punya kekasih. Aku tidak ingin mencari ribut dengan kekasih orang" Ucap Khanza.
Sontak Vino kaget mendengarnya.
"Kekasih ? Maksudnya ?" Tanya Vino yang tidak mengerti dengan ucapan Khanza.
"Iya, kekasihmu yang kau ajak makan di kantin siang tadi" Ucap Khanza.
Vino mengerenyit. Dia tampak berpikir mengingat sesuatu.
"Kalau kau sudah mempunyai kekasih, mengapa kau masih terus mengangguku ? Atau kau hanya ingin menjadikanku sebagai mainanmu, di kala kau bosan dengan kekasihmu itu" Ucap Khanza.
"Kau salah paham. Dia bukan kekasihku. Dia, Nanda Dwitama. Dia Manager Proyek dari Perusahaan Dwitama Group, yang sedang bekerja sama dengan perusahaan kita. Aku hanya sekedar makan siang dengannya. Tidak lebih. Aku merasa tidak enak padanya, karena sudah terlalu sering menolak ajakannya. Sedangkan dia terus mendesakku" Ucap Vino.
"Dia yang mendesakmu atau kau yang mendekatinya ? Sudah aku duga, mana mungkin kau benar-benar suka padaku !"
Ucap Khanza yang sudah menaikkan nada bicaranya.
Vino memandang Khanza lekat. Kemudian senyuman tipis tersungging dibibirnya.
"Apa kau cemburu ?" Tanya Vino.
Cemburu ? Iya, ya.. Kenapa aku jadi marah ?
Batin Khanza.
"Cemburu ? Yang benar saja !" Ucap Khanza memalingkan wajahnya yang mulai memerah.
"Nanda Dwitama itu orang yang lemah lembut. Dia juga berpendidikan tinggi dan mempunyai status sosial yang setara denganmu. Aku rasa sebaiknya kau mendekatinya saja dan berhenti mengangguku" Ucap Khanza sambil tertunduk.
Vino tersenyum mendengarnya.
"Tapi aku sukanya dengan gadis yang galak dan keras kepala" Ucap Vino.
Khanza mendongakkan kepalanya. Menatap pria di hadapannya. Pipinya bersemu merah. Sekali lagi, dadanya berdebar kembali mendengarkan ucapan Vino.
"Dasar Aneh !" Ucap Khanza.
"Ya, aku memang aneh. Ayo aku antar pulang. Sepertinya semua pegawai sudah banyak yang pulang" Ucap Vino sambil menarik paksa tangan Khanza.
Sontak Khanza tekejut dengan perlakuan Vino. Vino lalu melangkah ke luar ruangan dengan posisi menggandeng tangan Khanza. Sedangkan, Khanza mengikuti dari belakang.
Rasanya aku belum menyetujuinya untuk mengantarku pulang. Kenapa dia main tarik saja
__ADS_1
Batin Khanza.
#Jangan lupa memberi like, komen dam vote ya 🙏🤗 makasih.. 😘