
Jangan lupa memberi like, vote dan komenπ Happy Reading Gaes.. π
*****************
"Za, hari ini bawa bekal lagi ya ?" Tanya Vira padaku.
"Hari ini aku enggak bawa bekal Vir. Aku bangun kesiangan. Jadi, enggak sempat nyiapin buat bekal" ucap Khanza.
Khanza teringat semalam, hal yang membuatnya bangun kesiangan. Gara-gara Vino yang terus meneleponnya dengan alasan kangen, terpaksa Khanza meladeninya ditelepon. Pembicaraan merekapun selesai jam 12 teng, itupun karena Khanza yang meminta mengakhiri karena sudah mengantuk.
Dasar bucin overload, padahal sudah tau ada meeting di Perusahaan lain hari ini. Masih sempat-sempatnya ngajakin begadang.
Batin Khanza.
Khanza yang mengingat kejadian semalam, langsung senyum-senyum enggak jelas dengan pipi merona merah.
"Elo ngapain Za ? Senyum-senyum sendiri dari tadi ? Kesambet ?" Tanya Deka yang sudah bertengger di depan meja resepsionis.
Lah sejak kapan Zia dan Deka di situ ?
"Enggak, lagi pingin senyum aja. Kan senyum itu ibadah" ucap Khanza dengan nada suara lemah lembut.
"Dih, tumben banget nih anak ngomongnya halus, pakai senyum lagi. Biasa juga ngomongnya serampangan. Za, elo enggak berteduh di bawah pohon gede kan waktu hujan semalam ?" tanya Deka.
"Dih, apa hubungannya. Enggak lah, gue di rumah semalaman" ucap Khanza.
"Oh, Syukurlah. Kirain kamu kesambet roh halus tadi" ucap Deka.
"Sembarangan nih Deka. Yang ada, roh halusnya yang takut sama Khanza. Takut dijudesin sama si Khanza" ucap Vira sambil tertawa.
Deka dan Ziapun ikut tertawa mendengarnya.
"Gue mau beli nasi nih. Ada yang mau titip ?" tanya Khanza pada mereka bertiga.
"Beli di Rice Bowl aja yuk. Tokonya baru buka tuh. Mangkoknya gede lagi gue lihat digambar. Kalau pembukaan hari pertama gini diskon 20% per item" Ucap Zia.
"Lokasinya dimana itu ?" tanya Deka.
"Enggak deket dan enggak begitu jauh sih dari sini. Di sebelah hotel Cozy" ucap Vira.
"Yok, beli ke sana. Tapi enakan makannya tetap di lobby sini aja. Kan Pak Presdir lagi meeting juga di luar kantor" ucap Zia.
"Kalau aku sih ikut aja. Semua aku makan kok" ucap Khanza.
"Ya, udah. Hari ini gue bawa motor. Yok, kita yang beli, Za. Males gue ngajak Deka, banyak pilihannya, yang ada kita mati kelaperan lagi nungguin dia milih menu. Kalau Vira, lama berdandannya. Males gue !" ucap Zia mengajak Khanza.
"Oke" ucap Khanza.
Akhirnya Zia dan Khanza pergi. Sesampai disana Zia dan Khanza sudah duduk menunggu pesanan yang mereka pesan.
"Tadi udah pas kan pesennya 4 paket ?" tanya Khanza sama Zia.
"Iya" ucap Zia.
Khanza dan Zia menunggu di teras toko makanan tersebut. Tiba-tiba mata Khanza langsung melirik pada sebuah mobil yang baru saja tiba di halaman Hotel, disamping toko makanan yang mereka beli. Bukan karena tertarik pada mobil tersebut, tetapi lebih tertarik pada wanita dan pria yang baru saja turun dari mobil tersebut.
Seorang lelaki paruh baya yang memakai jas mewah. Mungkin dilihat dari penampilannya seperti seorang pengusaha sukses. Dan yang satunya lagi seorang perempuan paruh baya yang sangat dikenalnya.
Mereka bergandengan tangan setelah turun dari mobil. Bahkan sang pria paruh baya tersebut terlihat merangkul pundak wanita disebelahnya itu.
Itu kan mamanya Nanda ? Apa yang dilakukannya bersama lelaki itu di dalam hotel ? Selingkuh ?
Batin Khanza.
"Zia, aku ke mini market deket sini bentar ya. Ada yang mau dibeli" ucap Khanza berbohong.
"Oke" Jawab Zia.
Khanza lalu masuk ke dalam hotel, mengikuti mereka dari belakang.
Mamanya Nanda dan Pria itu mengobrol sambil berjalan melangkahkan kakinya, sebelum masuk ke dalam kamar hotel. Khanza sekilas mendengar obrolan mereka yang terdengar samar-samar.
"Apa kau bawa obatnya ?" tanya mama Nanda pada pria itu.
"Tenang saja, aku membawanya. Sesuai pesananmu seperti biasa" ucap Pria itu sambil mengeluarkan botol kecil bewarna hijau.
Mama Nanda langsung mengambil botol obat tersebut dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Obat ? Itu obat apa ya ? Apa mama Nanda sakit ?
Batin Khanza.
Khanza sempat mengeluarkan ponselnya, mengambil foto Mama Nanda dan Pria itu saat mereka berangkulan dan mulai memasuki pintu kamar mereka, sampai pada akhirnya pintu kamar tertutup.
Aku akan simpan foto ini. Siapa tahu suatu saat aku memerlukannya buat menghinanya balik.
Batin Khanza.
Khanza lalu kembali ke tempat Zia menunggu makanan tersebut.
__ADS_1
"Sorry, lama Zia. Tadi ke toilet dulu bentar" ucap Khanza berbohong.
"Enggak apa-apa. Ini juga baru kelar di bungkusnya" Ucap Zia.
Mereka lalu berjalan ke parkiran. Khanza yang sudah bersiap mau menaiki motor Zia, tiba-tiba menghentikan lamgkahnya. Dia berbalik saat suara seorang perempuan yang dia kenal menyapanya.
"Khanza" ucap Tiara yang baru datang bersam teman-temannya. Mungkin ada sekitar 4 orang perempuan temannya Tiara.
Tiara berjalan menghampiri Khanza.
"Masih naik motor ? Bukannya kau kekasih seorang Presdir ?" ucap Tiara.
"Bukan urusanmu !" ucap Khanza.
"Oh ya ? Tapi aku heran. Kenapa Vino mau berpacaran dengan orang miskin dan berpendidikan rendah sepertimu ? Kau pasti yang memaksa Vino menghentikan kerja sama yang sedang berlangsung dengan perusahaan Dwitama" ucap Tiara.
Zia terkejut mendengarnya. Matanya terbelalak saat Tiara menyebut Vino yang berpacaran dengan Khanza.
"Lantas kenapa ? Kau tidak terima ?" ucap Khanza sorot matanya mulai kesal.
"Kau hanya berpura-pura kan menyukai Vino ? Hanya untuk membalaskan dendammu pada keluarga kami. Kau tahu kan kalau kak Nanda sangat menyukai Vino. Pasti kau sengaja melakukannya. Kau sengaja mematahkan harapan kami untuk mendekati Vino" ucap Tiara.
Khanza menyeringai.
"Iya, tebakanmu benar. Bagaimana rasanya saat harapan kalian yang melambung tinggi, tiba-tiba terhempas ke bawah. Menyakitkan bukan ?" ucap Khanza.
"Kau licik ! Jadi benar kan, Kau hanya memanfaatkan Vino saja !" ucap Tiara yang menunggu jawaban Khanza.
Khanza kembali menyeringai.
"Cerdas !" ucap Khanza yang tersenyum lebar dan bergegas melangkah menaiki motor Zia.
Tiara menatap kepergian Khanza yang mulai menjauh.
"Apa kau merekam semuanya ?" tanya Tiara pada salah satu temannya yang berdiri dibelakang.
"Sesuai perintahmu Tia" ucap temannya itu.
"Good Job !" ucap Tiara yang tersenyum licik.
Tunggu hari kehancuranmu Khanza !
Batin Tiara.
Sepanjang perjalanan diatas motor, Zia sudah tidak tahan untuk bertanya.
"Itu adik tiriku Zia. Tepatnya bukan siapa-siapa bagiku. Aku sudah menarik diriku keluar untuk tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan mereka" Ucap Khanza.
"Beneran Za apa yang dibilang cabe-cabean tadi ? Katanya elo pacaran sama Pak Vino ? Jawab dong, penasaran gue !" Tanya Zia.
Khanza terdiam lama.
"Iya, Za. Tapi, please.. Rahasiain ini dari semua ya. Apalagi Deka. Gue takut hubungan kita tersebar kemana-mana" ucap Khanza.
Zia mengangguk.
"Za, elo beneran enggak cinta sama Pak Vino ? Habis dari tadi yang gue tangkep omongan elo ke cewek tadi menyiratkan elo cuma memanfaatin Pak Vino doang" ucap Zia.
"Ceritanya panjang Za. Awalnya aku memang cuma niat buat memanfaatkan Vino doang. Tapi keadaan merubah semuanya" ucap Khanza yang memberikan jawaban gantung buat Zia.
"Tapi, beneran elo janji ya Zia. Orang kantor jangan pada tahu kejadian ini" ucap Khanza.
"Oke, deh Zia. Untung hari ini elo perginya sama gue. Kalau sama Deka tadi, dih.. ga jamin deh gue cerita elo aman" ucap Zia.
"Makasih enggak elo sama gue ?" ucap Zia penuh kebanggaan, padahal enggak melakukan apa-apa sama sekali.
"Iya, bawel !" ucap Khanza.
Mereka lalu masuk ke dalam kantor. Dan bergabung dengan Deka dan Vira yang sudah menunggu di lobby ruangan mereka.
Mereka berempat melahap habis makanan yang baru di beli tadi.
"Za, tadi Pak Vino nanyain elo kemana ? Yah, gue jawab pergi sama Zia beli makan siang" ucap Vira pada Khanza.
Zia langsun refleks menoleh pada Khanza dengan senyum dikulum.
"Oh, mungkin dia mau nanyain arsip yang dititipin oleh manager di lantai 2 kemarin" ucap Khanza berkilah.
"Emang, Pak Bos sudah selesai meeting apa ?" tanya Khanza.
"Sudah. Barusan balik, belum lama kok" ucap Deka.
Khanza langsung membuka ponselnya dan benar saja, begitu banyak pesan whatsapp yang masuk dari Vino untuknya.
β Sayang pergi kemana sih ? Kenapa capek-capek beli nasi ? Padahal aku sudah bawa bungkusan nih buat kamu. Selesai makan sama klien tadi, aku bungkusin kamu beberapa makanan buat makan siang (Vino).
Khanza mengetik sesuatu.
β Simpen dulu aja ayang. Aku lagi makan nih sama yang lain di lobby. Enggak enak sama yang lain, kalau aku ambil ke sana (Khanza).
__ADS_1
Khanza menunggu lama tapi tidak mendapatkan balesan lagi.
Tiba-tiba Vino keluar dari ruangannya dan menghampiri mereka.
"Kalian lagi pada makan ? Ini ada makanan buat kalian, kebetulan mampir tadi pulang dari meeting" ucap Vino.
"Wah, Pak Bos emang super duper baik deh" ucap Deka.
Deka langsung nyamber kantong pemberian Vino dan membukanya.
"Wah, ini enak-enak banget Pak Vino. Makasih ! Tapi kok pedes semua Pak Vino ? Ini sih Khanza yang menang banyak. Dia suka banget yang pedes gini" ucap Deka tanpa dosa.
Zia dan Vira langsung saling bertatapan. Terutama Zia yang kembali menahan tawa sampai mukanya merah padam.
Nih, anak beneran deh mulutnya pingin gue tampol. Lagian yang ini juga, udah dibilang simpen aja dulu tapi kayak kagak ketahanan buat ngasih.
Batin Khanza.
Si Vino cuma cengar-cengir doang.
"Dah, saya masuk lagi ya lanjut kerja" ucap Vino.
"Oke, Pak. Makasih" ucap Mereka berbarengan.
Selang berapa menit kemudian, ponsel Khanza kembali berdering. Sebuah pesan whatsapp dari Vino masuk ke ponselnya.
β I love you, sayang.. (Vino).
Astaga !
Sekarang giliran Khanza cengar-cengir menatap layar ponselnya.
***********
Jam menunjukkan pukul 17:30 Sore. Khanza yang sengaja pulang belakangan dibandingkan pegawai yang lain, langsung memasuki ruangan Vino.
"Masih lama ya ayang ?" tanya Khanza.
"Sudah kok sayang. Tinggal matiin komputer doang" ucap Vin.
Vino lalu mematikan komputernya. Dan Khanza membantu Vino membereskan mejanya.
"Ayo, kita pulang" ucap Vino.
Khanza mengangguk.
Mereka menuju parkiran lalu naik ke dalam mobil. Mobilpun melaju.
Sementara di dalam mobil.
"Sayang, temani aku makan malam dulu ya diluar. Soalnya kalau di rumah kadang males makan sendirian" ucap Vino.
"Tapi makannya di rumahku aja ya, ay. Soalnya Ibu masak capcay sama ayam balado kesukaan aku hari ini" ucap Khanza.
"Oh, boleh. Sekali-kali nyicip masakan calon mertua sekaligus penghematan pengeluaran" ucap Vino sambil tertawa.
"Dasar calon mantu enggak ada ahlak kamu yang. Makan kok nebeng calon mertua" ucap Khanza.
Vino tertawa terbahak-bahak.
"Eh, yang. Aku mau tanya. Kalau misalnya laki-laki sama perempuan yang bukan pasangan. Rangkul-rangkulan masuk ke dalam kamar hotel. Menurut ayang, mereka kira-kira melakukan hal yang tidak-tidak enggak di dalam kamar ?" Tanya Khanza.
"Tergantung Niat mereka sih mau ngapain di dalam sana" ucap Vino yang masih fokus menyetir.
"Ya, tapi memang udah enggak bener sih kalau sudah masuk sana berduaan" Sambung Vino.
"Oh...." ucap Khanza mangguk-mangguk.
"Tumben nanya ginian, emang siapa sih sayang ?" Tanya Vino penasaran.
"Hmm.. Tetangga cerita begituan tentang lakinya" ucap Khanza berbohong.
Duh, lancar bener deh mulut gue kalau bohong ! Udah kayak mobil nerobos jalan tol aja.
Batin Khanza.
Vino yang masih menyetir, melirik sekilas ke arah Khanza. Terbesit sedikit ide untuk menjahilinya.
"Sayang, kamu nanya kayak tadi bukan ngasih kode ke aku kan buat ngajak ke hotel ?" ucap Vino menggoda Khanza.
"Dih, maunya !" ucap Khanza sambil mencubit pinggang Vino yang lagi asyik menyetir.
"Aw, Tega banget, pacar sendiri dicubit-cubit" ucap Vino.
"Salah sendiri, ngusilin aku melulu sih" ucap Khanza sambil tertawa.
Vino meringis.
#Jangan lupa memberi like, vote dan komentar kalian ya.. π
__ADS_1