Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
38. Apa iya aku cemburu ?


__ADS_3

Pagi hari, Seperti biasa Rendi datang ke rumah fani untuk menjemput Fani berangkat ke kantor. Rendi mengetuk pintu rumah fani tapi yang membukakan pintu adalah nenek.


"Pagi nek, Faninya ada ?" tanya Rendi.


"Loh nak Rendi ? Bukannya kata Fani dia berangkat ke kantor sendiri hari ini karena nak Rendi ga bisa nganter karena ada urusan pekerjaan ?" tanya nenek.


Rendi hanya diam bengong.


Aish.. Dia masih marah ya ? bahkan sekarang tidak mau aku mengantarnya bekerja


"Apa ada masalah antara kalian berdua ?" ucap nenek yang merasa ada kejanggalan.


"Tidak ada nek" ucap Rendi tersenyum.


"Maaf ya nak Rendi kalau misalnya sikap Fani agak keras dan mudah ngambekan. Tapi fani pasti punya alasan mengapa dia bersikap seperti itu" ucap nenek.


"Oh tidak kok nek. Benar - benar tidak terjadi apa - apa kok" ucap rendi.


"Kalau begitu saya berangkat dulu nek" ucap rendi.


"Iya, hati - hati" ucap nenek.


Rendipun bergegas berangkat pergi.


*************


Di Mandala Group, Jam menunjukkan pukul 12 tepat waktunya jam istirahat para pegawai.


"Maaf tuan hari ini kita akan makan siang dimana ? Nanti saya siapkan mobil !" ucap Roy, sekretaris pribadinya.


"Siang ini aku ada janji akan makan siang bersama teman - temanku. Biar aku sendiri saja yang mengendarai mobilku. Kau tidak usah ikut " ucap Rendi.


"Baik tuan !" ucap Roy.


"Oh iya Roy. Bagaimana keadaan Keyla ? Apa keluarganya sudah datang semalam ?" tanya Rendi.


"Keluarganya baru tiba pagi ini, sedangkan semalam tidak lama dari tuan pulang, temannya datang untuk menungguinya jadi saya bisa pulang. Dan keadaan nona Keyla semalam sudah baikan. Begitu sadar dia langsung bertanya tentang keberadaan tuan !" ucap Roy.


Rendi hanya diam.


"Apa anda masih peduli dengan keadaan nona Keyla tuan ?" tanya Roy.


"Dia pingsan saat itu, aku mengantarnya ke rumah sakit tidak lebih dari rasa kemanusiaanku saja !" ucap Rendi.


Sepertinya sekarang anda sudah bisa mulai menentukan sikap tuan


********


Di Cafe yang telah dijanjikan tiga sahabat telah berkumpul untuk makan siang.


"Jadi si Azzam bulan madu kemana sama Mimi ?" tanya Riko.


"Ke Swiss katanya kemarin !" ucap Fahri.


"Jadi gimana si Keyla bisa muncul di tengah - tengah pesta ?" ucap Riko bertanya pada Rendi.


"Entahlah. Mungkin Mimi yang mengundangnya. Karena setahuku Mimi satu kelas dengannya waktu kuliah dulu" ucap Rendi.


"Keyla terus bertanya padaku mengenai Fani saat kalian berdua pulang !" ucap Fahri.


"Oh, pantas saja dia tahu aku baru berpacaran dengan Fani beberapa bulan. Kau yang bercerita ya!" ucap Rendi kesal.


"Dia terus memaksa. Jadi aku jawab saja apa yang aku tahu !" ucap Fahri.


"Jadi kau akan tetap bersama Fani atau kembali pada Keyla sekarang ?" tanya Riko.


"Urus saja urusanmu sendiri. Masalahmu dengan Nisa saja belum beres sampai sekarang !" ledek Rendi.


"Kalian terus menyebut Nisa. Bahkan Fanipun mengenalnya. Apa dia temannya Fani ?" tanya Fahri.


"Iya !" jawab Rendi.


"Kau yang mengenalkan Nisa pada Riko ?" tanya Fahri lagi.


"Kau kira aku kurang kerjaan seperti kau ! Mengenalkan setiap teman pacarmu pada sahabatmu. Kau tanya sendiri padanya bagaimana dia mengenalnya !" ucap Rendi.


Fahri menaikkan salah satu alisnya meminta penjelasan Riko.


"Aku malas menjelaskannya padamu" ucap Riko.


"Aish.. !" ucap Fahri jengah.


"Kalian kenal Vino ?" tanya Rendi.


"Presdir Samudra Group kan ? Aku beberapa kali bertemu dia di tempat pesta. Ada apa memangnya ? bukannya Fani bekerja disana sekarang ?" tanya Riko.


Rendi tidak menjawab.


"Aku pernah waktu kuliah satu kelas dengannya karena mengambil mata pelajaran yang sama" ucap Fahri.


"Oh ya ? Jadi menurutmu dia bagaimana ?" tanya Rendi.


"Tampan. Seperti yang kau lihat !" ucap Fahri.


"Astaga, aku seperti bertanya pada anak SD. Bahkan aku sekarang benar - benar meragukan predikat playboy yang melekat pada dirimu !" ucap Rendi.


"Sial*n elo !" ucap Fahri.

__ADS_1


"Yang aku tahu dia pribadinya baik dan orangnya juga ramah. Memangnya ada apa dengannya ?" ucap Riko.


"Sepertinya dia menyukai Fani" ucap Rendi.


"Haah ? Bagaimana mungkin ? Fani tidak begitu cantik, kenapa dia juga menyukainya ?" ucap Fahri keceplosan.


"Kau mau mati ya !" ucap Rendi kesal.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Jadi sekarang kau bagaimana ? Sedangkan Fani memang bekerja sekantor dengannya kan ?" tanya Fahri.


"Aku menghajarnya kemarin malam. Sepertinya Fani marah, belum lagi aku terlambat menjemputnya karena Keyla pingsan dikantorku kemarin. Jadi sekarang Fani tidak mau mengangkat telponku. Sepertinya dia sengaja tidak mau menemuiku" ucap Rendi.


"Kau sudah berusaha mendatangi kantornya belum ?" tanya Fahri.


"Apa aku harus ke sana ?" tanya balik Rendi.


"Tentu saja, siapa tahu itu membantu. Mungkin dengan cara itu dia bisa melihat usahamu meminta maaf !" ucap Fahri.


Rendi terdiam sebentar. Dia terlihat sedang berfikir mencerna ucapan Fahri.


Setelah selesai makan siang, Rendi benar - benar menghampiri Fani dikantornya. Dia menunggu di lobby. Dia beberapa kali menelpon dan mengirim pesan, tetapi tetap tidak ada balasan. Lalu Rendi berinisiastif berbicara pada resepsionis dilobby untuk menghubungi Fani via telepon. Tapi jawabannya tetap sama. Fani beralasan pada Resepsionis sedang keluar sebentar dan tidak berada ditempat kerja. Padahal jelas - jelas Fani berada di ruang kerjanya. Akhirnya Rendipun pulang kembali ke kantornya.


******


Jam menunjukkan pukul dua siang, Fani sibuk mengetik laporan jadwal meeting besok. Hari ini, hampir seharian dia tidak melihat Vino. Mbak Zia bilang, pak Vino ada meeting di perusahaan kolega dan hanya membawa sekretaris pribadinya beserta manager kontruksi beserta beberapa staff.


Huft.. untung saja hari ini tidak bertemu dia. Setelah semalam dia mengatakan itu, Aku pasti merasa sangat canggung saat bertemunya nanti.


Tiba - tiba handphone fani berdering. Dia merasa sangat malas untuk mengangkat telepon. Karena dari jam 10 pagi tadi sampai sekarang mungkin sudah ada sekitar 20 kali Rendi menelponnya.


Dia kira semudah itu aku mengangkat teleponnya. Rasakan sekarang, gimana rasanya saat kita berkali - kali menelepon tapi tidak diangkat ! Dia kira aku sudah tidak marah lagi apa ? Sudah tidak menjemputku, bukannya berterima kasih karena Vino yang mengantarku malah memukulnya sampai tersungkur ! Tapi Vino ini kenapa juga berbicara seperti itu didepan Rendi.. Argghh.. Ada apa sih dengan mereka berdua !


Drrt.. drtt..


Lagi - lagi handphone Fani berdering. Dengan malas, Fani mengangkat telepon.


"Hmm.. Kenapa lagi sih menelpon terus ?" ucap Fani marah - marah.


"Idih.. Siapa yang nelpon trus ? baru sekali ini kok !" ucap suara seorang wanita di telepon.


Fani melihat nama di layar ponselnya.


Oh, bukan dia ya ?


"Aish.. Kenapa Nis ? Tumben nelepon" ucap Fani.


"Pulang kerja nanti ketemuan yuk sekalian cari makan malam.. banyak yang mau aku ceritain. Sekalian mau curhat. Mumpung lagi ga ada kerjaan hari ini. Nyantai" ucap Nisa.


"Kok bisa ga ada kerjaan ? Makan gaji buta ya di Mandala Group ?" tanya fani.


Handphonenya tinggal ? Jadi dia bukan sengaja tidak mengangkat telepon dan tidak mengabariku ? Apa itu yang mau dijelaskannya semalam. Lagian aku ini ngambek karena apa ya ? Apa karena dia yang masih peduli dengan Keyla ? Apa iya aku cemburu ? Aishh.. Ga mungkin kan !


"Eh, Fani ! Bengong aja. Jadi ga malam ini temani akunya makan ?" tanya Nisa.


"Ga jadi. Ada keperluan mendadak !" ucap Fani.


"Coba ajak Dila. Siapa tahu dilanya lagi ga sibuk Nis !" sambung Fani.


"Dia juga ga bisa, tadi sudah aku telpon. Ya sudah deh paling weekend aja kita ngumpul lagi" ucap Nisa.


"Oke deh. Weekend kita ngumpul lagi" ucap Fani.


"Bye, Fani !" ucap Nisa.


"Bye !" ucap Fani mengakhiri telpon.


Fani membuka pesan whatsapp yang masuk dari Rendi.


Ada begitu banyak pesan yang masuk dari Rendi. Fani membacanya satu - persatu.


Kenapa tidak mengangkat telponku ? Masih marah ya ?


Fani kembali membaca lagi.


Tadi aku menjemputmu ke rumah, nenek bilang kamu sudah pergi duluan. Kenapa tidak menungguku ?


Oh, jadi dia tadi menjemputku ke rumah


Fani tersenyum.


Aku ada di lobby bawah sekarang, Ayo turunlah sekarang. Bicara padaku !


Fani tersenyum lagi.


"Nah, ini kenapa senyum - senyum sendiri sekarang !" ucap mbak Zia.


"Hmm.. Ada deh !" ucap Fani.


"Mbak Zia, jam 5 tepat aku pulang duluan ya. Soalnya ada keperluan mendadak" ucap Fani.


"Oke deh Fani. Keperluan mendadaknya ketemu presdir mandala group tercinta ya ?" ledek mbak Zia.


Fani tersenyum seolah tidak membantah.


*******


Vino yang baru pulang dari perusahaan kolega. Melirik ke arah meja Fani yang sudah kosong.

__ADS_1


"Fani kemana Zia ? Pulang ?" tanya Vino.


"Iya, Pak. Barusan saja" ucap Zia.


"Tumben cepat sekali" ucap Vino.


"Dia bilang sih ada keperluan mendadak Pak. Tapi kayaknya dia pergi menemui pacarnya. Tau ga Pak, kayaknya tadinya mereka berantem. Soalnya waktu presdir mandala group itu ke sini, nungguin Fani di lobby buat ketemu dan membujuknya, Faninya ga mau turun nemuin pacarnya itu. Eh, tiba - tiba tadi sore dia sangat bersemangat pulang duluan mau ketemu pacarnya. Kayaknya mereka sudah baikan lagi deh. Hadeh, Syukurlah" ucap Zia.


Jadi tadi Rendi ke sini. Seorang Rendi datang kesini hanya untuk membujuk Fani yang sedang ngambek ? Itu bukan seperti Rendi yang kukenal


*******


Sore hari di Mandala Group. Nisa yang baru turun dari lantai atas terkejut dengan kehadiran Fani yang baru saja masuk ke pintu lobby.


"Hei, katanya ga jadi ada keperluan mendadak. Untung aku belum pesen taksi online buat pulang. Ayo kita pergi sekarang !" ucap Nisa.


"Sorry Nis.Tadi kan aku sudah bilang memang ga jadi !" ucap Fani.


"Jadi ngapain kamu ke sini ? bawa mie ayam segala !" ucap Nisa kesal sambil melirik kantong yang dibawa Fani.


"Oh, aku tahu. Kamu mau ketemu pacarmu kan ? Ampun deh yang lagi falling in love, lupa sama teman sendiri" ucap Nisa.


"Ya, ampun enggaklah Nis. Kamu tetap sahabat terbaik kok. Cuma ini benaran ada kesalahpahaman sedikit yang harus diluruskan" ucap Fani.


"Ya udah deh sana temuin pacarmu. Aku doain langgeng ya. Jangan sampai ada pelakor diantara kalian" ucap Nisa asal nyeplos.


"Ih, anak ini ga berubah ! ngomongnya asal !" ucap fani.


Nisa tersenyum, lalu bergegas pergi meninggalkan Fani.


Fani memasuki lift menuju ruangan Presiden Direktur Mandala Group. Karena melihat meja resepsionis yang kosong, Fani mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangan Rendi.


"Oops, maaf aku tidak tahu kalau disini sedang ramai membahas pekerjaan. Habisnya meja resepsionis kosong jadi aku langsung masuk tadi" ucap Fani yang sangat terkejut mendapati ada dua orang laki - laki yang sedang membahas pekerjaan dengan Rendi.


Rendi tersenyum melihat kedatangan Fani. Dia tidak menyangka gadis itu mau datang ke kantornya setelah susah payah dia menghubunginya.


"Oh, tidak apa -apa nona Fani. Kami tidak masalah" ucap salah satu dari mereka.


"Duduklah ! Kenalkan ini pak Ari Manager IT dan pak Rahmat Manager Produksi" ucap Rendi.


"Salam kenal pak Ari dan pak Rahmat" ucap Fani ramah sambil duduk di sofa.


"Iya nona Fani salam kenal kembali. Nona Fani semakin cantik saja ya sekarang. Memang pantas menjadi pacarnya pak presdir" ucap pak Ari.


Rendi yang mendengar Fani dipuji oleh pak Ari hanya tersenyum.


"Ehem..!!!" ucap Rendi.


"Oh iya, kalau tidak ada lagi yang dibicarakan kami permisi dulu pak" ucap pak Rahmat yang seakan - akan mengerti maksud dari Rendi.


Dan lagi - lagi Rendi hanya menjawab "Hmm.."


"Saya juga permisi keluar pak" ucap Roy yang bergegas keluar


Rendi tidak menjawab.


Rendi berdiri dari kursinya, dan duduk mendekat disebelah Fani.


"Jadi kau tidak marah lagi sekarang ?" tanya Rendi.


"Marah ? Siapa yang marah ?" ucap Fani mengelak.


Rendi tersenyum.


"Itu apa yang kau bawa ?" Ucap Rendi menunjuk kantong yang dibawa Fani.


"Ini Mie ayam. Aku sengaja membelinya karena pasti enak kalau kita makan mie ayam sore - sore begini !" ucap Fani.


"Ini mie terenak di dekat kantorku. Rasanya tidak kalah enak dengan mie ayam yang dijual di mall !" sambung Fani yang membukakan mangkok plastik mie ayam milik Rendi dan mendekatkan sendoknya.


Fani memakan mie ayam miliknya dengan lahap. Rendipun tampak menikmati memakan mie ayam miliknya.


"Lumayan" ucap Rendi.


"Oh ya, besok malam temani aku ke pesta amal ya" ucap Rendi.


"Pesta amal ?" tanya fani mengulangi ucapan Rendi.


"Iya. Pesta yang diadakan para pengusaha muda untuk mengumpulkan penggalangan dana yang hasilnya akan disumbangkan untuk orang yang tidak mampu" ucap Rendi.


"Ooh.. Ok !" ucap Fani.


"Aku akan menjemputmu nanti. Dan besok aku juga akan menjemputmu berangkat ke kantor. Jangan pergi duluan lagi !" ucap Rendi.


" Hmm.. tentu saja aku akan berangkat denganmu besok ke kantor. Lumayan menghemat ongkos naik ojek" ucap Fani.


Rendi tersenyum mendengarnya.


"Wow, sepertinya kau sudah sangat terbiasa untuk tersenyum sekarang" ucap fani tak percaya.


"Sebelumnya, aku juga tidak menyangka aku bisa tersenyum seperti ini. Berkatmu aku bisa tertawa lepas seperti ini. Dan baru denganmu ini, aku harus bersusah payah membujuk seseorang" ucap Rendi.


Deg !


Tiba - tiba pipi Fani memerah mendengarnya.


# Mohon like, vote dan komen ya guys.. 🙏Maaf kalo updatenya sangat - sangat lama kali ini 🙏 Karena memang ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Terima kasih buat kalian yang setia membaca dan menunggu. Jempolmu ! Semangatku !! 😘

__ADS_1


__ADS_2