
Jangan lupa memberi like, komen dan votenya ya 🙏 Happy Reading gaes 😘
**************************
Mobil yang dikendarai Yuda tiba di Rumah Sakit. Begitu sampai, Syifa langsung dilarikan ke ruang UGD untuk diperiksa. Yuda langsung menghampiri Dokter, begitu Dokter telah selesai memeriksa keadaan Syifa.
"Bagaimana keadaannya Dok ?" Tanya Yuda.
"Dia hanya keletihan. Perutnya kosong sekarang. Sepertinya dia belum makan dari tadi pagi, tetapi sudah bekerja berat. Ditambah lagi kondisinya yang sedang berhalangan membuat kondisi tubuhnya semakin lemah" Ucap Dokter.
"Berhalangan ?" Ucap Yuda bingung.
"Iya berhalangan ? Kau tidak tahu ?" Tanya Dokter.
Yuda menggeleng.
Melihat Yuda yang kebingungan, akhirnya Dokter itu mendekat dan berbisik di telinga Yuda.
"Datang bulan !" Bisik Dokter tersebut.
Yuda terkejut mendengarnya.
Dokter yang melihat raut wajah Yuda yang terkejut sontak tertawa.
"Kau harus tahu mengenai hal ini. Nanti kalau seandainya kalian menikah kau sudah paham duluan" Ucap Dokter itu bercanda.
Yuda tambah bengong mendengarnya.
Tiba-tiba ponsel yang diserahkan perawat pada Yuda, dari kantong Syifa berdering. Yuda membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
Soulmate ? Apa ini kekasihnya ?
Dengan ragu Yuda mengangkat telepon tersebut.
"Syifa, Kau sedang apa ? Bisakah aku minta tolong padamu ?" Ucap suara diseberang sana.
Perempuan ? Jadi soulmate itu perempuan.
Batin Yuda.
"**Maaf, apakah kau teman dari pemilik ponsel ini ? Aku harap kau segera ke rumah sakit Harapan Kasih sekarang. Karena temanmu sedang dirawat dalam keadaan pingsan sekarang" Ucap Yuda.
"Di ruangan mana dia dirawat ?" Tanya suara di seberang sana penuh kecemasan**.
"Di VVIP, ruangan Anggrek" Ucap Yuda.
"Baiklah, aku akan segera ke sana" Ucap Perempuan itu, lalu mematikan teleponnya.
Yuda akhirnya ke ruangan rawat inap VVIP, tempat Syifa dirawat setelah diperiksa di UGD tadi.
Dia memandangi gadis yang sedang tertidur di atas tempat tidur tersebut. Dia menatap lekat wajah Syifa dari dekat. Walaupun wajah Syifa sekarang begitu pucat dan tangannya berselangkan infus, tetapi tidak mengurangi kecantikan pada wajahnya. Bulu mata Syifa yang begitu lentik dan panjang, bibirnya yang tipis serta hidungnya yang begitu mancung sempat membuat Yuda terpukau untuk sesaat.
Kalau diam begini, dia kelihatan jauh lebih cantik.
Batin Yuda.
__ADS_1
Tiba-tiba, Syifa membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, seperti silau melihat sebuah sinar lampu.
"Kau sudah sadar ?" Tanya Yuda.
Syifa menoleh ke asal suara.
"Kau ? Kau lagi ? Dimana aku sekarang ?" Tanya Syifa penuh ketakutan sambil memegangi tubuhnya seolah-olah melindungi dirinya.
"Sudah, tenanglah. Jangan takut. Kau ada dirumah sakit sekarang. Tadi kau pingsan saat dilarikan kemari. Dokter bilang, perutmu kosong. Bila kau tak menyukai makanan yang ada dirumah sakit ini, kau bisa memilih makanan yang ada diatas meja itu. Tadi aku menyuruh bawahanku, membelikan beberapa makanan untukmu" Ucap Yuda.
"Ayo makanlah ini, perutmu harus segera di isi ?" Sambung Yuda, sambil mendekatkan salah satu makanan pada Syifa.
"Cih ! Kau pikir aku sudi, memakan makanan darimu ?" Ucap Syifa dengan sorot mata penuh kebencian.
Yuda menyeringai.
"Terserah, kau saja. Kalau Kau betah dan tidak ingin keluar dari Rumah Sakit ini, kau boleh tidak memakan makanan ini. Kata dokter, kau harus segera makan bila ingin cepat pulang dari sini" Ucap Yuda.
Akhirnya dengan wajah kesal bin cemberut, Syifa mengambil makanan yang telah disodorkan Yuda tadi. Dia memakan makanan tersebut dengan sangat lahap.
"Tolong, ambilkan yang itu juga" Ucap Syifa menunjuk salah satu kantong plastik yang berisi makanan.
Yuda mengambil dan memberikannnya pada Syifa. Syifa kembali menghabiskan makanan tersebut. Lalu dia kembali menunjuk beberapa kantong plastik lagi pada Yuda, dan memakani semuanya dengan lahap. Mungkin ada sekitar 4 jenis makanan yang telah dilahap habis oleh Syifa.
"Whoaa, aku kenyang sekali sekarang. Rasanya perutku mau meledak sekarang" Ucap Syifa.
Cih ! Bukankah tadi kau bilang tidak sudi memakan makanan dariku. Sekarang malah kau menghabiskan semuanya seperti orang yang sedang kesurupan !
Batin Yuda.
"Kenapa kau tersenyum ? Kau mengejekku ya ?" Ucap Syifa.
"Heh !" Yuda mendengus.
"Aku sudah memberitahu "soulmatemu" tadi. Kalau kau dirawat disini. Mungkin dia akan ke sini dan menjemputmu pulang bila kondisimu sudah baikan" Ucap Yuda.
"Soulmatemu, suaranya seperti suara wanita. Apa kau penyuka sesama jenis ?" Ucap Yuda.
Soulmate ? Ah, gawat.. Kalau mereka sampai bertemu, Apa Khanza akan marah padaku nantinya ?
Batin Syifa.
"Kau pikir semua lelaki dunia ini sudah mati, sehingga aku harus menjadi penyuka sesama jenis" Ucap Syifa kesal.
Brakkk...
Tiba-tiba suara pintu terbuka. Khanza yang datang dengan raut wajah yang panik langsung menerobos masuk.
"Syifa kau tidak apa-apa ?" Ucap Khanza.
Syifa dan Yuda menoleh ke arah Khanza berbarengan.
Yuda terkejut saat melihat Khanza yang baru saja datang. Begitu juga dengan Khanza.
Jadi Soulmate itu Khanza ? Kebetulan sekali..
__ADS_1
Batin Yuda.
"Kau ? Bagaimana kau bisa disini bersama Syifa ? Apa yang kau lakukan padanya ?" Tanya Khanza membabi buta.
Syifa dan Yuda saling berpandangan mendengar ucapan Khanza.
Aish, Bagaimana ini. Bagaimana kalau Yuda bilang dia menciumku. Aku malu sekali pada Khanza...
Batin Syifa.
"Maafkan Aku" Ucap Yuda.
"Sebelum dia pingsan aku sempat..." Belum sempat Yuda menyelesaikan ucapannya, Syifa memotongnya.
"Eh, dia menyelamatkanku. Dia yang membawaku kemari ketika aku pingsan di coffee shop. Eh.. kebetulan dia sedang membeli kopi disana" Ucap Syifa berusaha meyakinkan Khanza.
Yuda yang mendengar ucapan Syifa barusan cukup terkejut dengan pengakuannya.
Ternyata dia tidak mau, aku menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Batin Yuda.
Sedikit mencurigakan
Batin Khanza.
"Khanza, sudah selama ini aku mencari keberadaanmu dan Ibumu. Aku mengkhawatirkan kau dan Ibu semenjak kalian keluar dari rumah. Bagaimana keadaan kalian sekarang ?" Tanya Yuda.
"Untuk apa kau mengkhawatirkanku ? Bukankah aku sudah bilang. Semenjak aku diusir dari rumah itu, sejak itu juga aku tidak punya hubungan keluarga lagi pada kalian" Ucap Khanza.
"Kau jangan terlalu keras kepala. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Dari kecil kita sudah terbiasa bersama, begitu kau keluar dari rumah aku dan Nanda benar-benar merasa kehilangan" Ucap Yuda.
"Heh.. ! Jangan berpura-pura peduli. Melihat kalian berdua, membuatku mengingatkan kembali pada luka lama. Aku minta jangan menemuiku lagi dan mencari tahu tentang keberadaan aku dan Ibuku lagi" Ucap Khanza.
Yuda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kerasnya sifat Khanza.
"Baiklah, kalau kau tidak mau aku mendekatimu. Setidaknya, kau mau mengambil kartu ini untukmu. Setiap bulan aku akan mengirim uang untuk biaya hidupmu dan Ibumu sehari-hari" Ucap Yuda sambil mengeluarkan black card dari dompetnya.
Khanza hanya memandangi kartu yang sedang dipegang oleh Yuda, yang terulur dihadapannya. Khanza mengambil nafas panjang dan meraih kartu yang diberikan Yuda.
"Terima kasih untuk niat baikmu. Tapi, sayangnya aku tidak membutuhkannya" Ucap Khanza yang memasukkan kembali kartu tersebut ke dalam kantong jas Yuda.
"Oh, ya. Dan satu lagi, Aku harap kau tidak mengganggu Syifa lagi. Aku tidak suka orang-orang disekitarku, berhubungan dengan keluarga Dwitama" Sambung Khanza.
"Sekarang kau bisa keluar dari sini sekarang juga. Aku yang akan menjaga Syifa disini. Pastikan kau membayar biaya rumah sakitnya, karena kau yang menyebabkan kekacauan ini" Ucap Khanza yang seolah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Yuda mengangguk. Dan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Syifa yang melihat dan mendengar semua yang barusan terjadi dihadapannya, mulai mengetahui bagaimana sifat Yuda yang sebenarnya.
Ternyata dia tidak seburuk yang kukira !
Batin Syifa.
#Yang pada nungguin Vino dan Khanza besok yak.. Soalnya nanggung kalau ga diselesaikan cerita Syifa dan Yuda di bab ini. Jangan lupa sisipkan komentar, like dan vote.. makasih buat yang masih setia membaca, Saranghaeyo 😘
__ADS_1