Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Apa jawabanmu


__ADS_3

Jangan lupa memberi dukunganmu melalui like, komen dan vote ya, makasih 🙏 Happy Reading gaes 😘


******************


Jam makan siangpun telah tiba, Khanza yang tidak membawa bekal makan siang berencana membeli nasi di kantin kantor.


"Pak, Ahmad ga masuk ya ? Kok dari tadi dicariin ga ada ?" Ucap Tina.


"Pak Ahmad lagi disuruh Nona besar beli sesuatu kayaknya" Ucap Deka.


"Nona besar ? Oh, Rahel maksudnya" Tina tertawa.


"Aduh, Ahmad pake disuruh Nona besar segala. Emang, Ahmad dia yang gaji ? Kita juga butuh Ahmad kali buat beliin nasi kita" Ucap Deka.


Khanza yang mendengar ucapan Deka dan kebetulan memang ingin membeli nasi ke kantin bawah. Akhirnya menawarkan bantuan.


"Kalau begitu aku aja yang beliin Deka. Yang lain juga boleh nitip kok" Ucap Khanza.


"Kamu ga bawa bekal, Za ?" Tanya Zia.


"Enggak, Ibu kan masih dirumah sakit. Jadi aku terpaksa beli, buat makan siang" Ucap Khanza.


"Ya, udah. Aku temenin kamu deh beli nasinya, Za. Sekalian aku juga mau milih sendiri menu-menunya" Ucap Deka.


Akhirnya Tina dan Zia menitip pada Deka dan Khanza yang akan ke kantin. Sedangkan Vira, tetap membawa bekal dari rumah.


Selang beberapa menit kemudian, Deka dan Khanza kembali ke ruangan mereka dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi makan siang mereka.


Zia, Tina dan Vira yang sedari tadi sudah menunggu duduk di sofa lobby sambil menonton televisi, sontak berteriak kompak ke arah Deka dan Khanza yang baru datang.


"Akhirnya !" Ucap mereka kompak.


"Wow, ga usah segitunya kali nyambut gue sama Khanza" Ucap Deka.


"Elo tu ya. Harusnya ga perlu ikut beli. Coba biar Khanza aja sama gue yang pergi. Atau ga sama Tina aja. Ini lama pasti karena elo yang banyak tingkah disana" Ucap Zia yang sudah kelaparan.


"Iya nih, Deka lama banget milihnya. Muka Ibu kantinnya udah sepet banget ngelihatin Deka dari tadi gonta-ganti menu makanan mulu. Untung Ibu itu punya stock sabar yang melimpah ruah" Ucap Khanza sambil ngeluarin nasi bungkus dari kantin tadi dan membaginya kepada masing-masing pemiliknya.


"Gue pernah nih beli baju sama Deka, ampun deh udah keliling 8 toko, milihnya lama banget yang dibeli cuma satu. Itu juga nawarnya setengah mati. Kasihan gue sama yang punya toko" Ucap Tina yang mulai membuka bungkusan nasinya.


"Makanya aku dulu suka perginya mending sama Fani atau Vira. Kalau ngajak Deka mah memang gitu. Ribet !" Ucap Zia.


"Huft, Jadi kangen Fani ya. Apa kabar Fani ya, sekarang" Sambung Zia sambil sesekali menyuap nasinya.


"Fani lagi hamil sekarang. Kemarin ketemu di mini market. Usia kandungannya sudah masuk 3 bulan" Ucap Khanza.


"Oh, berarti Fani bentar lagi punya baby dong. Duh, senengnya !" Ucap Deka.


"Khanza, Kamu kok kenal Fani sih ? Emang kamu sudah pernah ketemu Fani ?" Tanya Tina.


"Oh, Vino yang kasih tahu aku, kalau itu Fani" Ucap Khanza.


Semua mata langsung tertuju pada Khanza.


"Vino ? Kamu panggil Pak Vino tadi Vino, Za ?" Tanya Deka.


Aduh, kenapa aku bilang Vino sih. Ini gara-gara Dia nih, minta dipanggil namanya aja kalau sedang tidak ada orang kantor. Jadinya, aku kebiasaan gini deh !


Batin Khanzaa.


"Maksud aku, Pak Vino. Sorry, tadi semangat banget ceritanya sampai lupa nyelipin kata Pak-nya" Ucap Khanza berkilah.


"Ooh" Jawab mereka kompak.


"Kok Pak Vino bisa sama kamu sih, Za ? Ga sengaja ketemu ya ?" Tanya Zia.


"Enggak. Pak Vino waktu itu lagi temani aku ke mini market. Sewaktu dia lagi besuk Ibuku yang di Rumah Sakit" Ucap Khanza.


"Pak Vino besuk Ibu kamu di Rumah Sakit ?" Tanya Deka.


"Iya" Ucap Khanza.


"Kapan ?" Tanya Tina.


"Lusa sama kemarin" Ucap Khanza.


"Dua kali ? Berarti dua kali dong dia membesuk Ibumu. Waktu Ibuku masuk Rumah Sakit, Pak Vino ga pernah membesuk Ibuku sekalipun" Ucap Deka.


Mendengar ucapan Deka, dua sahabatnya Zia dan Tina kompak menyenggol kaki Deka. Mengisyaratkan jangan terlalu banyak bicara.


Sedangkan Khanza hampir keselek mendengar ucapan Deka barusan. Dia terbatuk berulang kali, hingga Vira memberinya minuman.


"Makasih ya, Vir minumannya" Ucap Khanza.


"Mungkin kebetulan aja, Pak Vino sedang lewat disana. Kan kalian sendiri yang bilang, kalau Pak Vino itu orang yang peduli dan baik" Sambung Khanza berkilah.


Tapi Zia, Tina, Deka dan Vira saling berpandangan, dan saling menyimpulkan dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


Kayaknya Pak Vino suka sama Khanza deh !


Batin Zia.


Sementara di balik ruangan itu ada seseorang yang mengepalkan tangannya geram mendengar obrolan para gadis-gadis itu.


************


Jam sekarang menunjukkan pukul 16:00 sore. Semua pegawai sudah bersiap untuk pulang. Khanza yang juga sudah berkemas, tiba-tiba dipanggil oleh Rahel.


"Ngapain sih nenek sihir itu manggil kamu saat jam pulang. Ga tahu apa orang mau buru-buru pulang" Ucap Vira.


"Ga apa-apa kok, Vir. Siapa tahu dia memang perlu bantuan" Ucap Khanza.


"Iya, tapi hati-hati ya elo sama dia. Aku pulang duluan ya, Za. Udah di jemput dibawah soalnya" Ucap Vira.


"Oke, Vir. Tenang aja. Aku bisa jaga diri kok" Ucap Khanza.


Khanza lalu menemui Rahel. Hanya ada dia dan Rahel di ruangan itu. Karena semua pegawai di ruangan itu sudah pulang. Pak Ahmad yang bertugas sebagai Office Boy juga barusan keluar untuk membeli alat tulis kantor yang di suruh Rahel. Sedangkan Vino ada diruangannya.


"Khanza, boleh kan aku minta tolong untuk melihat arsip resepsionis. Aku mau lihat daftar tamu yang berkunjung dari Perusahaan kolega, untuk membuat Surat ke Perusahaan mereka" Ucap Rahel.


"Yah, baiklah" Ucap Khanza.


Kenapa memberi perintah ketika sudah mau jam pulang sih ! Padahal aku mau buru-buru pulang ketemu Ibu.


Batin Khanza.


Khanza lalu pergi ke gudang penyimpanan berkas. Gudang penyimpanan berkas tersebut, terletak di sudut ruangan belakang. bersebelahan dengan pantry. Khanza yang sudah masuk di dalam gudang, mulai membuka satu persatu map yang berisi file dokumen resepsionis.


Akhirnya, ketemu juga !


Batin Khanza.


Tetapi sewaktu Khanza mau keluar gudang, pintu sudah tertutup rapat dan terkunci.


"Rahel.. Rahel apa kau masih disana ? Tolong buka pintunya ! Rahel !" Ucap Khanza yang berteriak sekencang mungkin.


Tetapi tidak ada jawaban dari luar.


Rahel tertawa sinis dari luar gudang.


Teriak saja sesukamu ! Tidak akan ada yang bisa mendengarmu di ruangan kedap itu. Makanya jangan main-main denganku. Berkaca dulu sebelum bersaing denganku !


Batin Rahel.


Jam sudah menunjukkan puku 18:00 sore. Sudah dua jam Khanza terkurung di ruangan kedap suara itu.


Dengan putus asa Khanza berusaha kembali mencari jalan keluar. Dia melihat ada ventilasi kecil diruangan itu. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa keluar dari ventilasi itu. Sedangkan badannya tidak akan muat untuk ukuran ventilasi itu, ditambah letak ruangan mereka berada di lantai 15.


Aku coba memanjat dulu, siapa tahu orang bisa melihat dari bawah dan menolongku.


Batin Khanza.


Khanza lalu menggeser kursi tua yang ada di dalam gudang dan menaikinya. Dia mencoba memanjat untuk menjangkau ventilasi. Tetapi karena kursi putar itu sudah rusak dan kaki kursi tersebut ada yang patah, akhirnya Khanza tidak seimbang dan jatuh tersungkur ke lantai. Mengenai rak yang berisikan map-map berkas dokumen.


"Aw !" Khanza meringis kesakitan.


Bahkan kakinya berdarah mengenai sudut rak dokumen disana.


Aku harus segera keluar dari sini !


Batin Khanza.


Akhirnya Khanza mempunyai ide ketika melihat ventilasi itu. Karena dengan kondisi kakinya yang luka tidak memungkinkan baginya untuk memanjat. Akhirnya Khanza melempar kaca ventilasi itu dengan map yang berserakan. Akhirnya kaca itu pecah dan bunyinya terdengar nyaring.


Pak Ahmad yang tadinya sedang membuatkan kopi untuk vino yang sedang bekerja lembur, mendengar suara kaca yang pecah dari gudang. Dia segera datang ke asal suara. Dia mencoba membuka pintu gudang. Tetapi pintu gudang terkunci. Untung dia ingat, dia masih mempunyai kunci cadangan.


Akhirnya Pak Ahmad, membuka pintu gudang tersebut memakai kunci cadangan. Betapa, terkejutnya Pak Ahmad mendapati Khanza yang sedang terduduk dengan kaki yang penuh luka.


"Ya, ampun Neng Khanza. Kenapa bisa begini" Ucap Pak Ahmad sambil membantu Khanza berdiri dan memapahnya keluar dari gudang.


"Apa Rahel masih disini Pak ?" Tanya Khanza pada Pak Ahmad.


"Neng Rahel sudah pulang dari jam empat tadi Neng Khanza. Aduh gimana nih luka neng Khanza. Darahnya terus mengalir. Bapak ambil kotak obat dulu ya di pantry" Ucap Pak Ahmad.


Sialan dia mengerjaiku ! Tunggu pembalasanku nanti !


Batin Khanza.


"Makasih ya Pak" Ucap Khanza.


Pak Ahmad yang sudah membawa kotak obat, lalu mengambil kopi yang sudah dibuatnya tadi dan mengantarkannya terlebih dahulu kepada Vino.


"Ini kopinya Pak Vino" Ucap Pak Ahmad sambil meletakkan kopi Vino.


"Makasih Pak" Ucap Vino sambil melirik Pak Ahmad. Sekilas dia melihat kotak obat yang dibawa Pak Ahmad.

__ADS_1


"Pak Ahmad, kenapa membawa kotak obat ? Apa Pak Ahmad luka ?" Tanya Vino.


"Oh, ini. Ini bukan buat saya Pak. Tapi buat Khanza" Ucap Pak Ahmad.


"Khanza ?" Tanya Vino terkejut.


"Iya, Pak. Neng Khanza terkunci di gudang berkas. Lalu kakinya berdarah karena terjatuh dari atas kursi dan terbentur rak map yang ada disana" Ucap Pak Ahmad.


Vino langsung berdiri dari duduknya dan mencari Khanza. Pak Ahmad mengikutinya dari belakang.


Vino yang melihat Khanza sudah duduk di sofa lobby ruangan, langsung menghampirinya.


"Kau terluka ?" Tanya Vino dengan raut wajah yang cemas.


Vino lalu duduk jongkok sambil memegang kaki Khanza. Cepat-cepat Vino mengambil kotak obat dari tangan Pak Ahmad dan mengeluarkan kapas untuk membersihkan luka Khanza. Khanza yang terkejut dengan perlakuan Vino, langsung menepis tangan Vino.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri" Ucap Khanza.


Tapi Vino tetap melakukannya. Dia memegangi kembali kaki Khanza dan membersihkan lukanya. Tidak sepatah katapun keluar dari mulut Vino saat membersihkan luka Khanza. Khanza yang memakai rok pendek merasa agak risih saat Vino membersihkan luka dikakinya. Vino juga sempat meniup-niup luka di kaki Khanza, saat Khanza berteriak, kakinya diolesi obat luka.


Apa iya dia sebaik ini pada setiap pegawainya.


Batin Khanza.


Setelah membersihkan luka dikaki Khanza, Vino berdiri dari jongkoknya.


"Berikan tasmu !" Ucap Vino.


"Tas ? Untuk apa ?" Tanya Khanza.


"Aku akan memapahmu berjalan" Ucap Vino.


"Oh, tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri" Ucap Khanza yang berusaha berdiri.


Dia berkelahi dengan pacar Fani saja, jadi bahan gosip seantero kantor. Apalagi kalau satpam itu melihat Vino memapahku. Apa jadinya nanti..


Batin Khanza.


"Jangan keras kepala, kau berdiri saja kesusahan seperti itu. Berikan tasmu atau aku akan menggendongmu ?" Ucap Vino dengan nada suara yang keras.


Deg !


Bukan hanya Khanza yang terkejut mendengar ucapan Vino barusan. Pak Ahmad yang sedari tadi berdiri menjadi obat nyamuk, juga tak kalah terkejut.


"Kalau begitu biar Pak Ahmad saja yang memapahku" Ucap khanza.


Ya, Tuhan.. kenapa kau melibatkanku neng Khanza.


Batin Pak Ahmad.


"Apa ? Kau benar-benar ingin aku menggendongmu ya ? Kau harus tau, aku orang yang selalu menepati ucapanku. Sekarang berikan tasmu !" Ucap Vino.


Pak Ahmad yang merasa ada sinyal-sinyal bahaya, segera mencari alasan untuk kabur.


"Saya baru ingat ada sesuatu yang harus saya ambil di lantai 2" Ucap Pak Ahmad sambil bergegas berlari meninggalkan ruangan.


Khanza yang melihat Pak Ahmad yang segera kabur hanya bisa menggelengkan kepala.


"Aku bisa sendiri !" Ucap Khanza yang masih kekeh dengan pendiriannya. Dia berbalik, dan berusaha berjalan dengan kesusahan.


Vino yang mendengar penolakan Khanza, kesal bukan main.


"Hentikan ! Jangan berpura-pura kuat lagi. Aku benar-benar sudah tidak tahan melihatnya. Sikapmu yang seperti inilah yang membuatku semakin ingin melindungimu !" Teriak Vino yang menghentikan langkah kaki Khanza.


Jleb !


Sontak Khanza kaget mendengarnya.


"Kenapa kau bicara omong kosong seperti ini. Orang-orang akan salah paham bila mendengarnya. Mereka akan berpikir..." Belum selesai Khanza menyelesaikan ucapannya, Vino menyela.


"Berpikir kalau aku menyukaimu ?" Ucap Vino.


Khanza terdiam


"Aku memang menyukaimu !" Ucap Vino.


Deg !


Sudah lama aku mendekatimu dan memberikan perhatian lebih untukmu. Tapi sepertinya, kau tidak pernah peka" Sambung Vino.


Dia lalu melangkahkan kakinya, mendekati Khanza yang berdiri mematung.


"Jadi apa jawabanmu ?" Ucap Vino dengan sorot mata yang tajam memandangi Khanza yang berdiri dihadapannya.


Kenapa jantungku terasa mau keluar dari tempatnya sekarang...


Batin Khanza.

__ADS_1


#Ada yang dalam, tapi bukan galian... hayo apa 🤭 Jangan lupa beri like, komen dan votenya ya... makasih 🙏


__ADS_2