Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
8. Hukuman Lagi


__ADS_3

Sudah satu minggu ini fani setiap paginya mengepel ruangan. Dia juga sudah mulai mengerjakan tugas membuat laporan keuangan, mengentry data ke komputer, dan lain - lain.


"Mbak lia kenapa melamun, apa ada masalah ? " tanya fani.


"Ini pak rendi waktu mengecek laporan yang mbak bikin dia bilang ada selisih di pemasukan dan pengeluaran. Jadi mbak disuruh revisi ulang. Tapi mbak benar - benar bingung di bagian mana yang harus direvisi " ucap mbak lia.


"Boleh aku lihat mbak laporannya ? " ucap fani.


"Boleh, ini fan " ucap mbak lia sambil menyodorkan laporan keuangan yang dipegangnya.


Fani melihat laporan itu dengan seksama, matanya meneliti tiap baris angka demi angka pada laporan tersebut. Lama dia berfikir. Fani lalu mengambil pena yang berada di meja mbak lia, dan mulai mencoret - coret jumlah pada angka - angka tersebut. Selesai mengoreksi laporan tersebut fani menyerahkan kertas laporan tersebut kepada mbak lia.


"Nih mbak sudah fani koreksi. Kayaknya letak salahnya di beban operasionalnya. Seharusnya bukan 980 juta tetapi cuma 865 juta. Coba mbak lihat deh" ucap fani sambil menyodorkan laporan yang sudah dikoreksinya.


Mbak Lia meneliti laporan yang dibuat fani.


"Oh, iya benar kamu fan. Makasih yah sudah bantuin mbak. Sesuai deh kamu dijulukin mahasiswa berprestasi dikampusmu " ucap mbak lia.


"Loh, mbak tau dari mana ? " tanya fani.


"Dari bagian HRD. managernya kan teman dekat mbak. Dia bilang kamu itu mahasiswa magang rekomendasi " ucap mbak lia.


Fani cuma tersenyum.


******


Di Sebuah kantin Perusahaan. Hiruk pikuk mulai terdengar. Orang - orang sibuk memilih menu makanan dan ada juga yang sudah duduk manis menikmati makanan mereka.


"Kok kantin rata - rata pada cewek semua ya isinya ? mana karyawan cowok yang tampan - tampan yang biasa makan saat jam istirahat yah ? jadi ga semangat nih " rengek dila dengan genitnya.


"Dasar lemot, ini hari apa coba ? ini hari jum'at tau ! wajar kalau cowok - cowok pada ga ada. Semua pada ke masjid shalat " ucap nisa.


"Oh iya ya.. aku lupa.. tumben kamu pinter nis. Biasa juga kan kamu yang lemot " ucap dila ga mau kalah


"Sudah - sudah jangan berantem. Ga terasa yah udah setengah bulan kita magang disini. Aku benar - benar berharap ini semua cepat selesai. Jadi kita bisa bikin skripsi, sidang dan wisuda. Cepat cari kerjaan deh " ucap fani


"Aku ga mau cari kerja ah. Aku mau nerusin perusahaan papaku aja. Biar ga sebesar perusahaan - perusahaan ternama lainnya tapi setidaknya aku bosnya disana " ucap dila.


"Kamu juga nis mau nerusin perusahaan keluargamu ? " tanya fani.


" Ga ah, Aku tetap mau cari kerja. Sekantor sama keluarga sendiri bikin geli. Mana tiap hari ketemu dirumah, eh ketemu lagi kantor " ucap nisa.


"Kalau aku sih mau ga mau harus cari kerja. Buat perekonomian keluargaku lebih baik. Buat bantuin nenek dan bahagiain nenek " ucap fani.

__ADS_1


Dila dan Nisa tersenyum mendengarnya.


Tiba - tiba mereka mendengar suara bu yani yang mengeram kesakitan.


"Awww, pinggangku " rintih bu yani.


Bu yani adalah kepala kantin disini. Dia menjual bermacam - macam jenis makanan, mulai dari bakso, nasi beserta lauk - pauknya, siomay, es dan jus dan masih banyak lagi. Walaupun sebagai kepala kantin, bu yani juga turun tangan sendiri dalam membuat jus dagangannya, sedangkan untuk yang memasak dan melayani pembeli ada beberapa pelayan yang bekerja padanya.


"Ada apa bu ?" seru fani, dila dan nisa berbarengan.


"Sakit pinggang ibu kambuh kayaknya gara - gara mau ngangkat galon ini ke dispenser" ucap bu yani sambil menunjuk galon yang berisi air penuh yang siap mau dipindahkan ke dispenser.


"Ya ampun, ibu kan sudah tua jangan ngangkat yang berat - berat " ucap nisa dengan polosnya.


"tapi jangan bilang kalau ibu yani itu "tua" juga kali nis " bisik dila sambil menyenggol lengan nisa.


"Ga apa - apa kok ibu memang sudah tua. Benar kata temanmu itu " ucap bu yani sambil tersenyum.


"Biasanya sih juga bukan ibu yang ngangkat galon ini ke dispenser, biasanya mang ujok yang angkat. Tapi kan mang ujok lagi shalat jum'at. Dan pesanan jus banyak. Jadi mau ga mau ibu coba angkat, eh ga taunya malah sakit pinggang ibu " ucap bu yani.


"Sini bu, fani aja yang angkat " ucap fani sambil membopong galon dan menancapkannya di dispenser.


Mulut dila dan nisa mengangap. Beberapa Karyawan di kantin juga ada yang memperhatikan dan sempat bengong.


Fani hanya tersenyum.


Tiba - tiba pelayan yang sedang melayani penjualan bagian bakso, mendekati bu yani.


"Bu yani, kita kehabisan gas. Mang ujok sudah datang belum buat gantiin gas ? pelanggan sudah banyak nunggu nih bu " ucap pelayan itu.


Bu yani kebingungan.


"Sini aku saja bu, aku bisa kok gantiin gas " ucap fani sambil berjalan ke arah kedai bakso.


"Ga akan meledak kan fan, kalau kamu yang gantiin " ucap nisa.


"hust, jangan bilang meledak - meledak, aku belum nikah nih " ucap dila.


"Aman, tenang aja kok" ucap fani sambil mulai mengganti gas yang lama, dengan memasang gas yang baru.


"Selesai " ucap fani.


wow, ternyata aku benar - benar multitalenta. Hanya tinggal berdua dengan nenek membuatku, mau tak mau melakukan semuanya sendiri.

__ADS_1


"Makasih ya fani " ucap bu Yani.


"Sama - sama bu " ucap fani.


Merekapun siap - siap kembali ke ruangan masing - masing. Mereka berjalan menuju lift beriringan. Yang mengantri di depan pintu liftpun banyak sekali. Tiba - tiba pintu lift terbuka.


"Cacingggg " teriak orang - orang dari dalam lift berhamburan keluar. Semua pegawai yang rata - rata perempuan itu menepuk - menepuk pakaian dan kakinya. Takut kalau cacing - cacing itu menempel di pakaian dan kakinya. Semua berteriak takut dan geli melihat cacing - cacing itu. Tampak Bu Sarni, Office girl di ruangan nisa yang juga berada dalam lift tersebut sibuk menangkapi cacing yang berjatuhan dengan kantong kresek tetapi tidak dapat ditangkap karena kantong kresek itu licin. Disampingnya tampak ada toples yang berisi tanah yang sudah terguling dan tutupnya terbuka. Seperti habis terhempas.


Dengan sigap fani menangkapi cacing - cacing yang berjumlah sekitar 10 ekor tersebut dengan tangan kosong.


Dimasukkannya satu persatu cacing tersebut kedalam toples, dan tidak lupa memungut tanah yang berhamburan ke dalam toples.


Semua bengong melihat kejadian tersebut.


Tiba - tiba suara tegas yang hampir dikenali oleh seluruh pegawai di perusahaan itu terdengar memenuhi ruangan.


"Siapa yang membuat keributan ini !!!! " ucap sang presdir yang baru saja datang diiringi pegawai laki - laki lainnya dari shalat jum'at.


Suasana yang semulanya gaduh berubah hening. Semua orang menunduk ketakutan. Akhirnya bu Sarni, melangkah ke depan.


"Maaf pak, tadinya cacing - cacing ini untuk tugas sekolah anak saya, tiba - tiba toples ini terjatuh dari tangan saya dan membuat cacing - cacing ini berhamburan keluar. Maafkan saya ya pak sudah membuat keributan disini " ucap bu sarni.


"Saya telah memaafkan ibu, tapi ibu juga tetap harus saya hukum karena bagaimanapun disiplin harus ditegakkan. Ibu bersihkan semua ini sekarang juga, dan selama seminggu setiap paginya ibu membersihkan kamar mandi dari lantai pertama sampai lantai 5 " ucap rendi.


"Maaf pak, bagaimana bisa ? ibu ini kan tidak sengaja menjatuhkan toplesnya. Ini juga bukan kehendaknya. Lagipula bu Sarni juga sudah meminta maaf. Kasihan bu Sarni kalau mau membersihkan toilet dari lantai 1 sampai lantai 5 " ucap fani lantang.


Rendi memandang ke asal suara. Raut mukanya terlihat sangat marah. Dilihatnya tangan fani yang berlumur tanah.


Cih ! siceroboh ini lagi !


Semua orang saling memandang heran. selama ini tidak ada yang berani sekalipun melawan perintah sang presdir. Itu sama saja dengan cari mati.


"Benar juga katamu, kasihan kalau ibu sarni yang membersihkan toilet dari lantai satu sampai 5 . Maka dari itu bu sarni tidak perlu mengerjakan pekerjaan itu " ucap rendi.


Semua heran kenapa pak rendi bisa berubah secara mendadak karena ucapan perempuan ini. Rasanya tidak mungkin.


Fani tersenyum mendengarnya. Dia lega karena bu sarni tidak jadi dihukum.


"Oleh karena itu, kamu anak magang ! yang akan menggantikannya selama seminggu membersihkan toilet ! ucap rendi meneruskan kata - katanya yang belum selesai tadi. Rendipun bergegas meninggalkan tempat itu.


Duarr !! fani merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Baginya hukuman kali ini tingkat penyiksaan yang paling parah.


Jadi aku sekarang menjadi pembersih toilet juga. Hei, diktator kejam apa salahku padamu !

__ADS_1


# Please kasih likenya ya readers, biar author jadi tambah semangat nulisnya..


__ADS_2