Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Kenangan


__ADS_3

Beberapa Keindahan memang ditakdirkan untuk dinikmati saja. Seperti Fajar, Senja dan dirimu misalnya. (cz).


******************


Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil hening. Mereka tidak bicara satu sama lain. Entah mengapa keadaan seperti ini membuat Khanza bersedih. Mereka berada di dalam mobil yang sama, dan duduk bersebelahan tetapi serasa jauh sekali. Sesekali Khanza melirik ke arah Vino yang masih fokus mengemudi.


Vino orangnya baik banget, apa mungkin suatu saat nanti dia mau nerima aku yang telah membohonginya. Huft.. Kenapa juga dia bersikap seperti tadi ? Apa karena cuma enggak mau kalah bersaing dari Aldi doang ? Enggak mungkin kan karena cinta. Dia sendiri yang bilang butuh waktu buat menerima kebohonganku kemarin.


Batin Khanza.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, mobil yang dikendarai oleh Vino dan Khanza tiba.


Khanza langsung membuka pintu mobil tanpa berbicara sepatah katapun dan langsung berjalan dengan tergesa-gesa memasuki rumahnya.


Dasar, Keras kepala !


Batin Vino.


************


Sedangkan di Coffee Shop Nanda yang sedang menangis, berulang kali mengelap air matanya. Dia memilih duduk sebentar di Coffee Shop itu untuk menenangkan dirinya.


Tiba-tiba suara lelaki menghentikan tangisannya.


"Udah, jangan nangis lagi. Nih, hot chocolate bagus diminum buat yang lagi bad mood" ucap Aldi memberikan segelas coklat panas kepada Nanda.


Nanda mengambil minuman itu dan meneguknya sampai habis.


Busyet nih cewek ! Sudah berapa hari kagak minum !


Batin Aldi.


Setelah meminum coklat panas tadi, Nanda melanjutkan kembali tangisannya yang sempat tertunda.


"Yaelah, Dia nangis lagi !" ucap Aldi.


"Ngapain sih semua orang pada ngerebutin Vino, kagak ada laki-laki lain apa. Vino juga maruk banget kayaknya semua cewek cantik pada deketin dia ! Emang dia, enggak ada jiwa berbagi untuk yang membutuhkan kayaknya" ucap Aldi.


Ini kan cowok tadi yang duduk di sebelah Khanza.. ngomong mulu dari tadi..


Batin Nanda.


"Udah, diem. Stop nangisnya. Gue juga dulu sempat kayak elo patah hati. Tapi sudahnya gue mikir ngapain gue berlarut-larut dalam kesedihan toh yang dipikirin juga enggak tahu. Dia tetep aja bahagia sama pilihannya. Jadi ngapain gue juga susah-susah mikirinnya" ucap Aldi.


Nanda bengong menatap Aldi.


Lalu Aldi mulai ngebanyol dengan lawakan kampungannya untuk menghibur.


"Sini aku kasih kamu tebak-tebakan aja ya" ucap Aldi.


"Kamu tau enggak bedanya kamu sama mobil ?" Sambung Aldi.


Nanda menggeleng.


"Kalau mobil itu brem-bremmm bunyinya.. Kalau kamu itu, ehem-ehem.." ucap Aldi


Nanda tertawa.


Eh, manis juga nih cewek kalau ketawa.


Batin Aldi.


Melihat Nanda tertawa. Aldi mulai melanjutkan banyolannya untuk menghibur Nanda. Kurang lebih 30 menit mereka duduk di meja yang sama, Nanda tidak henti-hentinya tertawa.


Walaupun semua yang dikatakan pria ini omong kosong semua isinya.. tetapi cukup membuatku terhibur.


Batin Nanda.


"Nah, gitu dong senyum" ucap Aldi.


"Terkadang beberapa keindahan memang ditakdirkan hanya untuk dinikmati saja. Seperti Fajar, Senja dan Dirinya" ucap Aldi dengan tampang yang serius kali ini, dan nada bicara yang tegas. Matanya menatap nanar ke depan. Tiba-tiba dia teringat Khanza, gadis yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi kini dia harus merelakannya karena sepertinya susah baginya menerobos celah kecil di hati Khanza yang sudah terisi oleh Vino.


Nanda sempat terpaku mendengar penuturan Aldi barusan.


Eh... Nih cowok akhirnya juga bisa ngomong bener.


Batin Nanda.


Nanda mengambil tasnya dan berdiri bersiap pulang.


"Aku pulang ya, makasih karena telah menghiburku" ucap Nanda sambil melangkah pergi.


"Hei, kau belum memberitahu namamu ?" ucap Aldi.


"Nanti saja. Kalau memang kita ditakdirkan bertemu, suatu hari nanti kita pasti bertemu kembali ! Saat itu aku akan memberitahumu siapa namaku" ucap Nanda yang sudah bergegas pergi.


Aldi tersenyum mendengarnya.


***********


Keesokan harinya, di kediamanan keluarga Dwitama.

__ADS_1


"Rahmaaaaa !" teriak Pak Dwitama.


Pagi ini di kediamanan keluarga Dwitama, dihebohkan dengan teriakan Pak Dwitama yang memanggil Rahma, mamanya Nanda.


Mamanya Nanda yang tadinya berada di dalam kamar mandi segera keluar dan cepat-cepat berlari menghampiri suaminya.


Yuda, Nanda, Tiara dan beberapa pelayan juga sibuk berdatangan ke asal suara, saking kagetnya.


Mama Nanda terkejut mendapati ponselnya yang sudah berada di dalam genggaman Pak Dwitama.


"Ada.. ada apa sayang ?" tanya Rahma pada suaminya.


"Jelaskan maksud pesan yang dikirim Erwan padamu ini ?" tanya Pak Dwitama.


Mama Nanda tampak gugup mendengar nama Erwan. Kaki dan tangannya gemetar mendengar ucapan Pak Dwitama.


Erwan adalah supir pribadi keluarga Dwitama yang telah dipecat karena diduga memiliki affair dengan Sarah, ibunya Khanza.


"Itu.. mungkin dia hanya ingin meminta bekerja lagi disini" ucap Mamanya Nanda berkilah.


"Kau berbohong ! Sudah lama ternyata kau mengiriminya uang setiap bulannya sampai saat ini, sebagai bayaran kerjasama kalian menjebak Sarah" ucap Pak Dwitama dengan emosi yang sudah tidak terkontrol.


"Dan bodohnya, aku mempercayai kalian berdua. Kalau saja aku tidak melihat isi pesan yang dikirim oleh Erwan kepadamu untuk meminta uang, Mungkin sampai mati aku akan mengira bahwa Sarah benar-benar selingkuh saat itu !" Sambung Pak Dwitama.


Tiba-tiba Kepala Pak Dwitama terasa pusing yang sangat hebat. Badannyapun lemas.


"Aw..." ucap Pak Dwitama memegangi kepalanya. Badannya sempoyongan.


"Papa.." ucap ketiga anaknya sambil memegangi lengan dan tubuh papanya.


"Sayang, kamu enggak apa-apa ? Bibi Atin tolong ambilkan obat Bapak" ucap Mamanya Nanda.


Bibi Atin, pelayan kepercayaan Mama Nanda datang membawa sebuah botol kecil dan segelas air minum.


"Ayo, sayang minum obatnya" ucap Mama Nanda.


Saat Mama Nanda akan menyuapi obat tersebut, Pak Dwitama langsung menepisnya.


"Aku bisa sendiri" ucapnya.


Pak Dwitama mengambil sendok dari tangan Mama Nanda dan meminumnya sendiri.


Seringai muncul di bibir mama Nanda.


"Aku akan menemui Khanza dan Sarah untuk menceritakan kebenaran ini padanya. Dan kau bersiap-siap untuk keluar dari rumah ini, karena aku akan segera menceraikanmu" ucap Pak Dwitama.


Pak Dwitama lalu memandang wajah ketiga anaknya. Terutama Nanda dan Tiara yang sudah menitikkan air mata.


"Sayang, jangan ceraikan aku. Aku mohon !" ucap Mama Nanda dengan berurai air mata.


Tetapi Pak Dwitama tidak memperdulikan ucapan Rahma. Dia terus melangkah pergi, mencari Khanza.


***************


Sedangkan di Perusahaan Samudera Group.


Vira dan Khanza sedang asyik menatap layar komputer didepan mereka. Mereka melihat resep masakan yang lagi viral di dalam mbah google.


Mereka berdua tertawa karena merasa resep yang ditulis agak sedikit tidak masuk akal.


Tiba-tiba Vino dan Sekretaris Rido, yang baru saja selesai meeting melewati meja mereka.


Sesuai peraturan, Khanza dan Vira langsung berdiri memberi salam.


"Selamat Pagi, Pak Vino !" ucap Khanza dan Vira berbarengan.


"Pagi !" ucap Vino. Sekilas Dia menatap Khanza yang sedang berdiri.


Eh, dia menjawab ?


Batin Khanza.


Lalu, Vino dan Sekretaris Rido kembali melangkah memasuki ruangannya.


"Lah, tumben hari ini dijawab. Kirain kemarin-kemarin Pak Vino marah sama kita, Za. Sampai mikir gue, salah apa ya yang udah gue perbuat" ucap Vira.


Khanza tersenyum.


Kasihan Vira, mikirnya kejauhan.


Batin Khanza.


Lalu, Mereka kembali melihat-lihat resep masakan yang lainnya di dalam komputer.


Tiba-tiba suara seorang Pria mengganggu obrolan dua wanita yang masih saja seru menatap layar komputer.


"Khanza" Panggil Pak Dwitama.


Sekarang Pak Dwitama berdiri di hadapannya. Diikuti 1 orang sekretaris pribadinya dan 1 asistennya.


Lah ini kan Presdir Dwitama Group. Kok bisa kenal dengan Khanza ?

__ADS_1


Batin Vira.


"Pak Dwitama. Ada apa kemari. Mau bertemu dengan Pak Vino ?" tanya Khanza.


"Tidak. Aku kemari bukan ingin menemui Presdir. Aku kemari ingin menemuimu. Yuda pernah cerita pada Papa, kamu bekerja disini" ucap Pak Dwitama.


Papa ? Presdir Dwitama Group adalah Papanya Khanza.


Batin Vira.


"Bertemu denganku ? Untuk apa lagi ?" jawab Khanza ketus.


"Bisa kita mengobrol sebentar ?" ucap Pak Dwitama.


Pak Dwitama lalu berjalan menuju sofa di lobby itu. Dia mengajak Khanza untuk duduk bersama.


Karena Khanza tidak mau berbuat keributan dikantor. Akhirnya Khanza menuruti permintaan Papanya.


"Sudah lama kau bekerja disini ?" tanya Pak Dwitama.


"Baru 2 bulan" ucap Khanza singkat.


"Apa Ibumu sehat ? Dimana kalian tinggal sekarang ?" tanya Pak Dwitama.


Khanza mengerenyit. Wajahnya tampak tidak senang.


"Sebenarnya apa tujuan Pak Dwitama kemari ?" tanya Khanza.


"Kau memanggil aku dengan sebutan Pak ? Aku ini Papamu Khanza" ucap Pak Dwitama.


"Kita sudah bukan keluarga lagi. Apa anda lupa, Anda pernah mengusir Aku dan Ibuku dari rumah ? Kemana anda selama ini saat aku dan Ibu butuh biaya buat makan dan berobat ? Dan sekarang anda minta aku memanggilmu Papa ? Lucu ! Aku baru tahu terkadang hidup selucu ini !" ucap Khanza.


"Maafkan Papa, Za. Papa tidak tahu kalau Mamanya Nanda menjebak Ibumu. Papa baru tahu kebenarannya sekarang. Ternyata Ibumu tidak mengkhianati Papa" ucap Pak Dwitama.


"Papa tau ini sudah terlambat, tapi papa ingin menebus kesalahan Papa selama ini. Papa harap kamu dan Ibumu kembali ke rumah kita dulu" ucap Pak Dwitama.


Cih !


Batin Khanza.


"Maaf aku tidak tertarik ! Walaupun kami hidup sederhana, tetapi aku dan Ibu hidup bahagia" ucap Khanza.


"Tolong pikirkan baik-baik. Papa benar-benar ingin menebus kesalahan Papa. Mungkin kau memerlukan biaya tambahan untuk hidupmu dan biaya berobat untuk Ibumu suatu hari nanti. Tolong maafkan Ayah dan kembalilah ke rumah. Kita mulai semuanya dari awal" ucap Pak Dwitama.


Sesekali terdengar suara batuk dari mulut Pak Dwitama.


Papa, masih sakit sepertinya !


Batin Khanza.


Khanza memandangi wajah Papanya yang pucat dan terlihat lemas.


"Papa tau ini terdengar munafik. Tapi kau tidak tahu kalau sebenarnya Papa sangat merindukan Ibumu dan Kau, Kahnza. Papa kadang terbayang akan dirimu yang masih kecil berada dipangkuan papa. Kau masih sangat polos dan lucu saat itu. Kau anak pertama papa. Anak yang sangat dinanti-nanti kala itu" ucap Pak Dwitama dengan mata berbinar.


"Tapi kenyataannya sekarang, kau membuangku dan ibuku" ucap Khanza yang sudah meneteskan air mata.


"Aku bahkan sempat tidak percaya akan ucapan Pria yang mencoba dekat denganku, bila aku teringat akan perbuatan Papa yang sudah menyelingkuhi Ibu dan mengusir Ibu dari rumah" ucap Khanza terisak.


Pak Dwitama memeluk Khanza.


"Papa tahu ini berat bagimu. Kau pasti sangat membenci Papa. Papa anggap ini sebagai hukuman yang harus Papa terima karena telah menelantarkan Kau dan Ibumu. Tapi Papa benar-benar berharap. Di sisa hidup Papa, Kita bisa berkumpul kembali di rumah kita" ucap Pak Dwitama.


Khanza diam tidak menjawab.


"Tenangkan dirimu terlebih dahulu. Pikirkan baik-baik ucapan Papa. Ini papa titip untuk membeli keperluan kalian sehari-hari" ucap Pak Dwitama yang telah meletakkan selembar cek bertuliskan 500juta di atas meja.


Pak Dwitama lalu berdiri dan bersiap pergi meninggalkan lobby.


"Aku tidak butuh uangmu Pak. Ambil kembali" ucap Khanza.


Tetapi, Pak Dwitama hanya menoleh padanya dan kembali melangkah menuju lift. Dia tetap meninggalkan cek itu diatas meja.


Khanza yang masih mematung duduk diatas sofa, kembali terisak. Dia berusaha mengelap air matanya yang tidak hentinya mengalir menggunakan tangannya.


Tiba-tiba sebuah saputangan terulur ke depan wajahnya. Khanza melirik ke atas, melihat siapa orang yang memberinya saputangan.


Vino ? Sejak kapan dia ada disini ?


Batin Khanza.


Karena melihat Khanza yang masih bengong menatapnya dan tidak merespon sapu tangan yang diberinya, Vino lalu duduk jongkok mengambil tangan Khanza dan meletakkan sapu tangan pemberiannya di telapak tangan Khanza.


Dia tersenyum melihat Khanza. Dan menghapus air mata khanza sekilas, menggunakan jemarinya.


Vino lalu kembali berdiri dan pergi meninggalkan Khanza yang duduk di sofa.


Aku tahu kamu perlu waktu untuk menenangkan diri sekarang.


Batin Vino.


Selama masih ada yang bilang otw tapi masih rebahan dan belum mandi, saya yakin saya masih di Indonesia..🤭 Merdekaaa !

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya..


__ADS_2