
Jangan lupa memberi like, vote dan komen๐ Happy Reading Gaes ๐
****************
Setelah selesai menenangkan dirinya, Khanza kembali menatap cek yang berada di depannya.
Apa-apan Papa ini ! Aku sudah bilang tidak memerlukannya tetapi tetap meninggalkan cek ini disini. Aku tidak sudi menerima uangnya. Tapi, aku tahu sebaiknya kuberikan pada siapa cek ini.
Batin Khanza.
Khanza lalu melangkah ke ruangan Vino. Seperti biasa, dia masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Khanza ?" ucap Vino.
Vino melirik Sekretaris Rido, mengisyaratkan agar dia keluar dari ruangan. Sekretaris Rido yang seolah paham maksud dari lirikan tersebut, langsung menuruti perintah sang bos.
Setelah Sekretaris Rido keluar, Khanza baru berani meletakkan cek senilai 500 juta itu di atas meja Vino.
"Vin, aku kemari untuk membayar hutangku" ucap Khanza.
Vino melirik cek tersebut. Sorot matanya kesal.
"Bagaimana keadaanmu sekarang ? Apa jauh lebih baik ?" tanya Vino.
Eh, Dia bertanya tentang keadaanku ?
Batin Khanza.
"Hmm.. Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat" ucap khanza.
Vino memandang Khanza intens.
Mata sudah bengkak karena menangis seperti itu, masih bilang baik-baik saja ? Keras Kepala !
Batin Vino.
"Vin, aku ingin melunasi hutangku. Disini tertulis jumlahnya 500 juta. Sisa dari membayar hutang nanti, kau sumbangkan saja pada panti asuhan" ucap khanza sambil mengambil cek yang sudah diletakkannya diatasa meja. Kali ini dia mengulurkan tangannya, memberikan cek itu langsung ke hadapan Vino.
Vino yang sudah merasa sangat kesal dari tadi, berdiri dari duduknya. Dia lalu menarik tangan Khanza. Kini tangan Khanza sudah di cengkramnya. Posisi mereka saling berhadapan sekarang.
"Tampaknya kau tak sabar ingin menjauh dariku ya ? Ambil kembali uangmu ! Kau pikir aku tidak punya uang sebanyak itu ?" ucap Vino.
"Bukankah kau sendiri yang bilang aku harus membayar hutangku bila ingin keluar dari sini ?" ucap Khanza yang masih merasa risih tangannya masih di cengkram oleh Vino.
"Saat aku bilang kau harus mebayar hutangmu, saat itu aku tidak bersungguh-sungguh. Itu aku lakukan agar kau tidak lepas dari genggamanku. Aku sudah lama telah memberikan uang itu secara cuma-cuma kepadamu. Namun aku tahu, bila aku mengatakannya, kau pasti menolaknya" ucap Vino.
Khanza terkejut mendengar ucapan Vino.
"Emm.. Tolong lepaskan tanganku Vin. Aku tidak nyaman kita berbicara seperti ini" ucap Khanza yang mencoba melepaskan cengkraman tangan Vino.
Vino yang melihat Khanza memberontak, langsung menarik tangan khanza dengan kuat. Sehingga tubuh Khanza terhempas ke dadanya. Vino membekapnya. Dia memeluk Khanza dengan erat.
"Sudah, kita hentikan saja perdebatan ini ya. Aku sudah tidak tahan lagi. Maaf kalau kemarin aku bilang, aku butuh waktu untuk mempercayai ucapanmu kembali. Aku juga merasa bersalah saat aku mengacuhkanmu selama beberapa hari ini" ucap Vino.
"Aku tidak tahu kalau kau semenderita ini dulu. Aku sudah mendengar semuanya. Maafkan aku yang telah mendengar pembicaraanmu dengan ayahmu. Aku tidak sengaja lewat tadi. Sekarang aku tahu mengapa selama ini kau begitu keras kepala" ucap Vino.
Vino meminta maaf ?
Batin Khanza.
Khanza yang berada di dalam dekapan Vino, hanya diam. Dia mencoba mencerna ucapan Vino.
"Khanza jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Hiduplah denganku. Aku ingin menikahimu !" ucap Vino.
Khanza terperanga mendengarnya. Mata Khanza dan Vino saling nenatap. Khanza melihat kesungguhan di mata Vino.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Vira yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu sangat terkejut melihat Vino yang sedang memeluk Khanza.
"Oops.. Maaf Pak Vino, saya tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Saya tidak tahu kalau anda dan Khanza sedang..." ucap Vira yang panik setangah mati, sampai kehilangan kata-kata untuk meneruskan ucapannya.
Matilah Aku !!
__ADS_1
Batin Vira.
Khanzapun tak kalah panik. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Mungkin hanya Vino yang berwajah santai disini. Seolah tidak terjadi apa-apa. Vino melepaskan pelukannya pada Khanza.
"Ada apa Vir ?" tanya Vino.
"Ada telepon dari Pak Yuda Dwitama, Pak. Dia Mencari Khanza. Katanya, ada hal penting yang ingin dia sampaikan" ucap Vira.
Yuda ? Ada apa ya ? Firasatku enggak enak !"
Batin Khanza.
"Oke, kamu boleh kembali Vir. Nanti, saya angkat dari sini saja" ucap Vino.
"Baik, Pak" ucap Vira yang menutup pintu kembali.
Vino mengangkat ganggang telepon dan memberikannya pada Khanza.
"Halo, Yud. Ada apa mencariku ?" tanya Khanza.
"Za. Aku cuma mau ngabarin. Papa sudah meninggal barusan. Barusan aku juga sudah bawa papa ke rumah sakit buat memastikan kondisi papa. Ternyata memang sudah enggak ada, kata dokternya" ucap Yuda.
Jleb !
Kaki Khanza terasa lemas seketika. Rasanya dia tidak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Rasanya baru tadi pagi, Dia mengobrol dengan Papanya. Semua terasa seperti mimpi.
Matanya mulai memerah.
"Sekarang jenazahnya Papa dimana, Yud ?" tanya Khanza dengan suara bergetar.
"Sekarang dibawa kembali ke rumah. Rencananya Sore ini akan dikubur. Kamu ke rumah ya dengan Ibu" ucap Yuda.
"Iya, entar aku ke sana" ucap Khanza menutup telepon.
Setelah menutup telepon, Khanza sudah bersiap-siap bergegas pergi. Tetapi, tangan Vino menahannya.
"Ada apa, Za ?" tanya Vino.
"Papa meninggal, Vin. Aku mau pulang jemput Ibu buat melihat Papa untuk terakhir kalinya" ucap Khanza.
Vino lalu memgambil kunci mobilnya dan bergegas pergi bersama Khanza menuju lift.
Semua pegawai yang melihat mereka keluar berdua dengan tergesa-gesa, ditambah Vino yang berjalan sambil menggandeng tangan Khanza. Membuat para pegawai yang ada diruangan itu meyakini, bahwa ada hubungan yang tidak biasa, yang terjadi di antara mereka berdua.
Aishh.. Semuanya melihat ke arahku ! Aku sudah tidak perduli lagi. Sekarang yang ada dipikiranku hanya Papa !
Batin Khanza.
"Vir, bilang pada Sekretaris Rido untuk menghandle pekerjaan saya" ucap Vino saat melewati meja resepsionis.
"Baik, Pak" ucap Vira.
Khanza dan Vino akhirnya memasuki lift dan menuju parkiran.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Vino lalu melajukan mobilnya.
***********
Setelah menjemput Ibunya dirumah, Khanza dan Vino langsung menuju ke kediamanan keluarga Dwitama.
Disana sudah banyak sekali karangan bunga sebagai ucapan turut berduka cita atas meninggalnya Presdir Dwitama Group.
Khanza yang kembali menginjakkan kakinya di sana merasa lemas ketika melihat jenazah Papanya yang sudah berbaring, terbujur kaku di ruang tengah.
Dia langsung membuka kain penutup dan menciumi kening Papanya. Sedangkan Ibunya Khanza hanya memamdang dengan iba, jenazah mantan suaminya. Air matanya tidak berhenti menetes.
Sementara Mama Nanda dan Tiara yang melihat dari kejauhan merasa kesal dengan kehadiran Khanza dan Ibunya.
Dasar Yuda, Ngapain sih pake telepon Khanza dan Ibunya. Kelihatan banget kalau mau minta warisan !
Batin Rahma, Mamanya Nanda.
__ADS_1
Khanza dan Ibunya terus berdoa dan membacakan Yasin disamping jenazah Papanya. Sedangkan Vino duduk diluar bersama para pimpinan perusahaan yang banyak dia kenal, yang juga datang melayat.
Yuda dan Nanda menghampiri Khanza dan Ibunya. Mereka menyalami Ibu Khanza.
"Yud, Gimana ceritanya Papa bisa meninggal ? Padahal tadi pagi dia sempat mengobrol denganku di kantor" ucap Khanza.
terisak.
"Papa memang sudah satu bulan ini sakit-sakitan, Za. Menurut pengakuan sopir sama asisten pribadi Papa, Setelah pulang dari menemui kamu, Papa langsung ke Dwitama Group untuk bekerja kembali. Dia sempat mengundang pengacara Frans dan notaris untuk datang ke kantor. Setelah mereka pulang, papa mulai sempoyongan dan enggak sadarkan diri dan akhirnya Papa menghembuskan nafas terakhirnya" ucap Yuda.
"Kebetulan tadi aku lagi enggak ada di kantor. Aku lagi inspeksi ke kantor cabang. Aku juga ditelepon sama Sekretaris Pribadi Papa" Sambung Yuda.
Khanza semakin sedih. Dia berusaha menahan tangisnya. Padahal tadinya, Papa sempat punya keinginan untuk berkumpul bersama kembali. Dia menyesal telah bersikap sedikit kasar dengan papanya tadi pagi.
Berulang kali Khanza mengelap air matanya menggunakan saputangan pemberian Vino.
"Kalau begitu, gue ke depan dulu ya Za. Enggak enak sama-sama teman-teman Papa yang melayat" ucap Yuda.
Khanza mengangguk.
Yuda lalu keluar menghampiri kerumunan para petinggi perusahaan yang merupakan teman Papanya.
Yuda yang melihat Vino, yang juga ikut duduk di sana dan mengobrol dengan para petinggi perusahaan langsung menyapanya.
"Vin, disini juga. Tau kabar darimana ?" tanya Yuda.
"Kebetulan waktu kamu ngabari Khanza tadi, Aku lagi bersama Khanza" ucap Vino.
"Turu berduka ya, Yud" ucap Vino menepuk bahu Yuda.
"Makasih, Vin. Masuk ke dalam yuk, ada Khanza di dalam" ucap Yuda
"Sudah tadi, Yud. Biarin aku gabung disini aja. Khanza juga butuh ketenangan sepertinya" ucap Vino.
Sedangkan di dalam rumah. Terlihat Mama Nanda dan Tiara yang sibuk melayani tamu yang mengucapkan belasungkawa.
Sedangkan Nanda mengobrol dengan Ibunya Khanza.
Akibat suasana yang sesak, karena tamu yang terus berdatangan, membuat Ibunya Khanza terbatuk-batuk.
"Ibu batuk ?" Aku ambilkan minum ya" ucap Khanza.
Ibu mengangguk.
Khanza lalu pergi ke dapur mengambilkan minum untuk Ibunya.
Tetapi sewaktu mengambilkan air minun untuk Ibunya dia mendengar pertengkaran kecil di dapur.
"Kenapa aku tidak boleh meminumnya, Bu. Bahkan Tuan Besar belum meminum jus ini sama sekali. Lihat jusnya masih utuh" rengek anak kecil itu pada Ibunya yang merupakan pelayan kepercayaan Mama Nanda.
"Pokoknya jangan memakan makanan yang ada dikamar Tuan besar. Kalau kau masih mau tetap hidup !" ucap Bibi Atin dengan nada suara yang sarat akan amarah pada anaknya.
Memangnya ada apa dengan jus itu ? Kenapa Bibi Atin terlihat marah sekali pada anaknya yang ingin meminta jus dari kamar Pak Dwitama itu. Seperti ada yang tidak beres.
Batin Khanza.
Anaknya Bi Atin yang masih saja merengek meminta minuman Pak Dwitama itu, akhirnya dibuatkan jus yang baru oleh Bibi Atin.
"Ayo minum dikamar saja. Enggak enak dilihat orang kalau kamu minum disini" ucap Bibi Atin mengantar anaknya ke kamar atas.
Melihat Bibi Atin yang sudah naik ke atas, Khanza akhirnya mencari gelas yang berisi jus tadi. Dia mencari kantong plastik di dapur tersebut dan memasukkan jus tersebut ke dalam kantong plastik untuk diperiksanya.
Dia juga tidak sengaja menemukan botol obat bewarna hijau yang telah kosong di kotak sampah dapur.
Botol obat ini tampak tidak asing. Dimana ya aku pernah melihatnya. Oh, iya. Ini kan obat yang pernah di bawa pria yang bersama mamanya Nanda di hotel.
Batin Khanza.
Khanza mengambil botol obat tersebut dan memasukkanya ke dalam tas sandangnya.
Mencurigakan sekali. Kalau feelingku tidak meleset. Aku yakin, Mama Nanda dan Pria yang ada dihotel tersebut ada kaitannya dengan kematian Papa.
__ADS_1
Batin Khanza.
Happy deh baca komenan kalian yang pada asyik dengan argumennya masing-masing. Bikin aku semangat nulis dan senyum-senyum sendiri ๐ค Ini bentar lagi tamat ya, mungkin sekitar 5 bab lagi lah.. Jangan lupa beri like, vote dan komen kalian ya ๐ค Dukungan kalian sangat berarti๐ Jangan lupa juga untuk selalu tersenyum ya, Karena sedekah tidak harus rupiah ๐๐