Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Saturday Night


__ADS_3

Jangan lupa memberi like, vote dan sisipkan komentarnya yak ๐Ÿ™ Happy Reading gaes๐Ÿ˜˜


*************


Weekend kali ini, bertepatan dengan tanggal gajian pegawai Perusahaan Samudera Group. Khanza yang awalnya sudah tidak terlalu peduli dengan yang namanya gajian, mengingat gajinya yang akan habis dipotong karena mempunyai hutang yang besar kepada Perusahan sewaktu membiayai operasi Ibunya, dikagetkan dengan bunyi pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya.


Sebuah pemberitahuan sms banking yang lmenyatakan bahwa sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya dari Perusahaan Samudera Group, sebesar jumlah gajinya sebagi resepsionis di terima full.


Sontak Khanza kaget membaca pesan singkat itu.


Kok aku menerima gaji dengan bayaran penuh sih ? Bukannya, semestinya aku hanya menerima separuhnya.


Batin Khanza.


Khanza lalu menekan nomor ponsel Bu Ulik untuk menanyakannya perihal gajinya tersebut. Karena, Bu Ulik juga merupakan manager HRD di perusahaan tersebut. Tetapi setelah mencoba meneleponnya, ternyata ponsel Bu Ulik tidak aktif sama sekali.


Oh, iya ! Inikan weekend. Bu Ulik, memang tidak pernah mengaktifkan ponselnya di waktu weekend. Dia ingin quality time sama keluarganya. Kalau begitu, aku telepon siapa ya ? Aku tidak punya nomor ponsel karyawan bagian HRD yang lainnya.


Batin Khanza.


Khanza lalu teringat Vino yang pernah memasukkan nomor ponselnya sendiri ke dalam ponsel Khanza. Dia bilang, Khanza boleh menghubunginya bila memerlukan bantuannya. Akhirnya Khanza memberanikan diri menelepon atasannya tersebut.


"Ha..halo!" Ucap Khanza saat teleponnya sudah diangkat oleh Vino.


"Tumben, nelpon. Ada apa ? Mau mengajak jalan ?" Ucap Vino menggoda Khanza.


"Enggak, Apaan sih Vino !" Ucap Khanza dengan pipi bersemu merah.


Terdengar suara tawa diseberang sana.


"Vin, aku mau nanya nih. Kenapa aku menerima gaji dengan bayaran penuh ? Padahal seharusnya aku hanya menerima separuhnya saja, karena sudah dipotong biaya operasi Ibuku" Ucap Khanza.


"Maaf ya kalau aku menanyakan hal ini padamu. Padahal ini hari ini libur. Karena sewaktu menelepon Bu Ulik, ponselnya tidak aktif sama sekali. Dan aku juga tidak punya nomor pegawai HRD yang lainnya" Sambung Khanza.


"Sepertinya untuk bulan pertama memang belum ada pemotongan gaji" Ucap Vino.


"Oh, ya ? Kenapa bisa begitu ?" Tanya Khanza.


"Kenapa ?" Tanya balik Vino.


Iya, Apa alasannya, ya? Aku tidak bisa bilang kalau sebenarnya aku memberikan uang biaya operasi itu secara cuma-cuma. Dia pasti menolaknya.


Batin Vino.


"Emm.. Karena memang itu aturan Perusahaan" Ucap Vino asal.


"Oh... Syukurlah kalau begitu. Jadi hari ini, aku bisa membelikan Ibuku baju baru dan keperluan lainnya" Ucap Khanza.


"Hmm.. Kalau begitu aku antar ya ?" Ucap Vino.


"Tidak perlu.. Tidak perlu. Aku bisa naik bis saja dengan Ibu. Lagipula wanita kalau berbelanja suka lama" Ucap Khanza menolak.


Kenapa laki-laki ini, selalu terobsesi untuk mengantar orang.


Batin Khanza.


"Baiklah kalau begitu, aku akan datang nanti malam saja" Ucap Vino.


"Nanti malam ?" Ucap Khanza panik.


"Iya" Ucap Vino.

__ADS_1


"Tapi, kenapa kau harus datang ke rumahku nanti malam ?" Tanya Khanza bingung.


"Karena malam ini kan, Saturday night" Ucap Vino dengan santainya.


Sontak Khanza terkejut mendengarnya


Lalu kenapa kalau malam ini saturday night ? Apa hubungannya denganku ?


Batin Khanza.


"Ya sudah, tunggu aku nanti malam ya !" Ucap Vino.


"Nanti malam aku mau per..." Belum sempat Khanza menyelesaikan ucapannya, Tiba-tiba terdengar nada suara telepon tertutup.


Tut..tut..tut..


Aish, dia pasti sengaja menutup teleponnya. Dia tau aku mau menolaknya datang ke sini.


Batin Khanza.


Sementara jauh disana,Vino tersenyum sendiri sambil memegangi ponselnya.


*****************


Jam telah menunjukkan pukul 10:00 pagi, Khanza dan Ibunya yang baru turun dari bis segera memasuki sebuah mall.


"Khanza, Apa tidak apa-apa kalau kita belanja disini ? Ibu takut uang kamu tidak cukup" Ucap Ibu Khanza.


"Ibu tenang saja. Khanza kan baru gajian. Khanza ingin Ibu jadi orang pertama yang menyicipi gaji pertama Khanza yang bekerja di Perusahaan besar. Ya, walaupun cuma sebagai Resepsionis dan gajinya tidak begitu besar. Tapi, Khanza ingin membahagiakan Ibu sekali-kali. Karena sudah lama rasanya kita tidak pernah pergi ke mall" Ucap Khanza.


"Bagi Ibu, mempunyai anak sepertimu adalah kebahagiaan terbesar buat Ibu. Kau anak yang berbakti" Ucap Ibu.


Mereka saling tersenyum dan melangkah menelusuri mall tersebut.


"Kalian disini juga ? Memangnya ada uang untuk membeli pakaian ini ?" Ucap Mamanya Nanda dengan nada menyindir.


"Paling beli yang diskonan, Ma" Ucap Tiara, adik bungsunya Nanda.


Khanza yang mendengar ejekan tersebut, sontak emosi.


"Kalian ini memang konsisten ya dari dulu. Selalu berbicara dan melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain" Ucap Khanza dengan nada bicara yang keras.


"Kau tidak belajar sopan santun ya ? Bagaimana cara berbicara pada orang yang lebih tua ?" Ucap Mama Nanda.


"Wajar, Ma. Kan Pendidikannya enggak tinggi. Cuma tamatan SMA, hahaha" Ucap Tiara yang tertawa terbahak-bahak dan diikuti oleh Mamanya.


"Ma, Tia, sudah, cukup ! Kenapa menghina Khanza dan Ibunya. Dia tidak menganggu kita. Lagipula sudah bertahun-tahun tidak bertemu, seharusnya kita bertanya tentang keadaan Khanza dan Ibunya" Ucap Nanda.


"Khanza, kemana saja kau selama ini ? Semenjak kau dan Ibumu pindah kontrakan. Aku dan kak Yuda, selalu mencarimu. Kami mengkhawatirkanmu" Ucap Nanda dengan tulus.


Khanza terenyuh mendengar ucapan Nanda. Dia tahu, Nanda memang wanita yang baik. Berbeda dengan dua iblis yang berada disampingnya.


"Kak Nanda, ngapain sih baik sama Khanza ! Dia itu ga pantes di baikin. Nanti ngelunjak. Nanti dia datang terus, meminta uang pada kita dengan alasan biaya berobat Ibunya" Ucap Tiara.


Mama Nanda tersenyum mendengarnya, seakan membenarkan ucapan anaknya.


Khanza yang emosinya sudah diubun-ubun, menjambak rambut Tiara yang tergerai panjang. Baginya ucapan Tiara sudah sangat keterlaluan. Apalagi hal itu dilakukan didepan Ibunya.


"Awwww.." Teriak Tiara kesakitan.


"Khanza, sudah nak. Lepaskan ! Sudah, kita pergi saja ya" Ucap Ibu Khanza dengan suara yang parau.

__ADS_1


Semua orang yang berbelanja di dekat mereka, sontak menoleh ke asal suara keributan. Ada dari mereka yang juga mencoba membantu melerai.


"Apa salah kami pada kalian. Sehingga terus menyakiti kami. Padahal kami sudah menjauh, sejauh mungkin ! Kalau sampai kalian menghina aku dan Ibuku lagi. Aku tidak akan segan !" Ucap Khanza yang akhirnya bergegas meninggalkan tempat itu mengikuti keinginan Ibunya.


"Dasar wanita bar-bar" Teriak Tiara dengan rambut yang masih acak-acakan karena ditarik oleh Khanza.


"Tiara jaga bicaramu ! Benar, kata Khanza sikapmu sudah keterlaluan !" Ucap Nanda.


"Ma, Sepertinya aku tidak bisa ikut kalian berbelanja lagi. Nanda mau istirahat saja dirumah" Ucap nanda yang bergegas meninggalkan Mamanya dan Tiara.


**************


Khanza melihat Ibunya yang berjalan gontai. Seakan-akan sudah tidak mempunyai nafsu lagi untuk berbelanja, bahkan sekedar melihat-lihat.


Khanza mengajak Ibunya menepi di sebuah restoran siap saji, untuk membelikan Ibunya makanan dan minuman.


"Ibu ayo minum dulu" Ucap Khanza.


Ibunya lalu meminum air mineral itu beberapa tegukan. Khanza mulai memakan makanannya, sedangkan Ibunya masih tidak menyenggol sama sekali makanan tersebut.


"Bu, kenapa tidak dimakan nasinya ?" Tanya Khanza.


"Ibu tidak ada nafsu makan Khanza. Bagaimana kalau makanan yang Ibu di bungkus saja. Ibu akan memakannya dirumah" Pinta Ibu.


"Jadi, kita tidak jadi membeli baju untuk Ibu ?" Tanya Khanza.


Ibu menggeleng.


"Kapan-kapan ya. Lain kali kan bisa. Ibu ingin istirahat sekarang" Ucap Ibu.


Bukan tanpa alasan Ibunya Khanza meminta makan dirumah saja. Dia tidak ingin kembali berpapasan dengan wanita yang pernah merebut suaminya dulu dan anaknya Tiara yang selalu mencari masalah dengan Khanza.


Khanza mengangguk. Dia lalu menyelesaikan memakan makanannya.


"Bu, Khanza cuci tangan dulu ya, ke belakang" Ucap Khanza.


Ibu mengangguk.


Setelah mencuci tangan, Khanza bergegas kembali ke mejanya. Dari kejauhan, dia melihat Ibunya tertunduk, tidak berhenti mengelap air matanya. Sedari tadi, Ibunya menahan agar air matanya jangan sampai jatuh mengalir, terlihat oleh Khanza. Dia tidak ingin anaknya tahu kalau Ibunya bersedih.


Khanza segera menghampiri Ibunya. Dan duduk disebelah Ibunya. Dia memegangi bahu ibunya. Berusaha menenangkan Ibunya.


"Ibu menangis ?" Tanya Khanza.


"Tidak, Ibu tadi hanya kelilipan" Ucap Ibu berbohong dengan matanya yang sembap.


"Ibu bohong. Khanza bisa melihat dan merasakan kesedihan yang Ibu rasakan" Ucap Khanza.


"Ibu jangan menangis lagi. Khanza ikutan nangis, kalau Ibu menangis" Ucap Khanza sambil memeluk Ibunya.


"Sudah-sudah. Kita ada di tempat makan sekarang. Tidak enak dilihat orang-orang, Za. Sekarang Ibu sudah tidak menangis lagi. Ayo coba lihat mata Ibu" Ucap Ibu mencoba tersenyum agar Khanza berhenti menangis.


Khanza menatap wajah Ibunya lekat. Dia menghapus air matanya, agar Ibunya tidak kembali sedih melihatnya menangis.


"Aku sayang Ibu. Ibu jangan menangis lagi ya. Khanza janji tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti Ibu" Ucap Khanza.


Aku bersumpah, akan balas dendam pada keluarga Dwitama !


Batin Khanza.


Makasih yang sudah baca, jangan lupa like, vote dan komentar syantiknya ya ๐Ÿ˜Š Maaf juga ya, kalau kalian kesyell nunggu aku yang up-nya kagak menentu ๐Ÿ˜, Selamat hari raya idul Adha bagi yang merayakan, Mohon maaf lahir dan batin. Buat kamu, Jangan lupa makan ketupat yang banyak ya, biar bahunya bisa dikuatin lagi buat aku senderan ! Soalnya, Bumi semakin berlebihan nih bercandanya *Oops๐Ÿคญ

__ADS_1


Jangan lupa juga baca novel karya sahabatku Syala Yaya yang judulnya Istri Kedua Tuan Krisna



__ADS_2