
Pagi hari yang sangat sibuk, semua orang memulai kegiatannya. Hanya nisa yang sibuk menyempatkan diri memakan nasi uduk untuk sarapannya di sela - sela jam bekerja yang sebentar lagi tiba.
"Nisa, kamu ga sempat sarapan ya dirumah ?" tanya mela yang melihat nisa sangat lahap menyantap nasi uduknya.
"Sudah kok. Tadi sarapan nasi goreng dirumah" ucap nisa.
"Haah ? sudah ? jadi ini kenapa makan lagi ?" tanya lili bingung.
"Soalnya masih belum kenyang mbak" jawab nisa.
"Wah, enak kamu nis. Mau makan sebanyak apapun body kamu masih segitu aja. Kalau mbak mungkin sudah melar kemana - mana " ucap mela.
Nisa hanya tersenyum mendengarnya.
Tiba - tiba mbak ira yang baru dari ruangan rendi datang dengan tergopoh - gopoh.
"Ayo bersiap - siap sekarang, meeting dengan kolega dari perusahaan lain yang bekerja sama dengan perusahaan kita sebentar lagi dimulai. Pak rendi meminta kita dari divisi perencanaan proyek untuk ikut meeting " ucap mbak ira.
"Ok mbak ira" ucap lili.
"Nis, kali ini kamu ya yang persentasi ke depan mengenai proyek kerja sama ini ya " ucap mbak ira.
"Kok nisa sih mbak ? bukannya jeni jadwal persentasi hari ini ?" tanya nisa.
"Iya jeni izin sakit ga bisa masuk hari ini. Jadi pak rendi minta kamu yang persentasi. Dia yakin kamu bisa kok" ucap mbak ira.
"Huftt.. iya deh mbak. Mana materinya ?" tanya nisa.
Mbak ira menyerahkan materi persentasi pada nisa. Nisa mulai membuka lembar demi lembar materi yang diberikan. Team Divisi perencanaan proyek yang terdiri dari mbak ira, mela, nisa, lili, dan haris menaiki lift menuju ruang meeting.
Disepanjang lift, mela, lili dan mbak ira tidak berhenti bergosip mengenai pimpinan perusahaan kolega yang akan bekerja sama dengan proyek ini.
"Perusahaan Buana group kan mbak yang bakal kerja sama dengan kita untuk proyek kali ini ?" tanya mela.
"Iya betul " ucap mbak ira.
"Yess, bisa cuci mata. Selain pak rendi kita bisa melihat cowok ganteng yang satu lagi diruang meeting nanti" ucap lili.
"Satu lagi ? Siapa ?" tanya nisa penasaran.
"Presdir Buana Group. Dia itu ganteng banget tau ga ? dan yang terpenting masih lajang. sebelas dua belas lah sama pak rendi gantengnya tapi kalau pak rendi kan ga bisa dilirik lagi soalnya sudah ada yabg punya" ucap mela.
"Iya, dia sudah beberapa kali mengadakan kerja sama dengan mandala group dan pesonanya tetap sama. Apalagi kalau tersenyum bikin klepek - klepek" ucap mela tak kalah genit.
"Sudah - sudah jangan mimpi ketinggian, dia itu presdir. Mantan pacarnya juga orang - orang hebat. Terakhir kan pacarnya artis kalau ga salah. Jadi kita mundur teratur saja deh" ucap mbak ira.
"Ah, mbak ira beraharap kan ga ada salahnya. Fani aja yang magang disini akhirnya jadi kekasih pak rendi. Sesuatu yang ga kita duga - duga" ucap lili.
Mbak ira menyenggol lengan lili, memperingatkannya untuk tidak berbicara lebih jauh tentang fani. Karena bisa saja nisa menyampaikan omongan jelek tentang sahabatnya itu pada presdir mereka.
Nisa yang dari tadi mendengarkan obrolan teman satu teamnya itu hanya tersenyum.
Huftt.. seganteng apa sih presdir buana group itu. Menurutku gantengan yang memegang tanganku kemarin. Oops..
Ya, semenjak riko memegang tangannya kemarin. Semenjak itu juga nisa susah tidur dibuatnya. Dia merasakan debaran aneh didadanya saat riko memegang tangannya.
Sejak kapan ya aku menyadari kalau riko begitu ganteng. Kenapa selama ini aku tidak memperhatikannya dengan seksama.
Nisa tersenyum sendiri sambil mengelus - elus tangannya mengingat kejadian itu.
"Nis, sampai kapan kamu mau berdiri di dalam lift itu ? ayo keluar ! kita sudah mau sampai di ruang meeting" ucap lili.
Suara lili membuyarkan lamunan nisa. Dia segera bergegas keluar lift.
Sesampai diruang meeting, mereka mengambil kursi bagian sebelah kanan. Karena di bagian sebelah kiri nanti akan diisi oleh staff - staff dari buana group. Mereka akan duduk saling berhadapan. Nisa yang akan mempersentasikan materi duduk di dekat kursi rendi.
Rendi datang beserta pak roy sekretaris pribadinya. Semua team divisi perencanaan berdiri menyambutnya.
"Duduk !" ucap rendi.
__ADS_1
Rendi duduk di tengah. Dia melirik jam ditangannya dan melihat kursi di seberangnya yang harus diduduki oleh presdir dari buana group masih kosong. Begitu juga kursi para staff dari buana group yang juga masih kosong.
"Jam berapa meeting dimulai ?" tanya rendi pada pak roy.
"Jam 9 tuan. Ini masih sisa 8 menit lagi" ucap pak roy.
Raut wajah rendi kesal.
Huft, playboy ini ! beraninya membuatku menunggu. Selalu tidak disiplin !
Tiba - tiba bagian resepsionis masuk dan mengatakan presdir dan staff buana group telah tiba.
Semua team dari divisi perencanaan berdiri menyambutnya termasuk nisa. Hanya rendi yang tetap duduk.
"Ah, dia datang. Pangeranku sudah datang !" ucap lili berbisik.
"Pangeran kepalamu, itu pengeranku tau !" ucap mela dengan suara berbisiknya menyenggol lengan lili.
Nisa tersenyum mendengar suara berbisik temannya yang pada genit. Tapi seketika senyuman di wajahnya hilang. Raut mukanya berubah muram, mulutnya menganga seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Tubuhnya terasa kaku.
Riko berjalan didepan sekali dan duduk di kursi tengah berhadapan dengan rendi. Seorang laki - laki yang sepertinya sekretaris pribadinya berdiri disampingnya. Diikuti dengan staff buana group yang lain duduk berhadapan dengan kursi team divisi perencanaan mandala group.
Riko yang mulai menyadari ada kehadiran nisa tak kalah terkejutnya. Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sorot matanya tajam. Dan terus memandang ke arah nisa. Nisa menunduk tak mau bersitatap dengan riko.
Ah, sial.. ternyata dia bekerja di mandala group !
Ike yang bertugas sebagai moderator meeting memulai membacakan susunan meeting.
"Silahkan nona nisa dari divisi perencanaan proyek mempersentasikan materinya" ucap Ike.
Nisa yang tadinya tidak merasa gugup sekarang gemetar. Semua materi yang dipelajarinya tadi seakan - akan hilang dari ingatannya. Tubuhnya kaku. Matanya merah menahan tangis. Dia merasa sudah dibohongi mentah - mentah.
Pembohong ! ternyata dia berbohong !
Dia mencoba mengumpulkan semua keberaniannya kembali untuk berdiri mempersentasikan materi meeting. Mau tak mau dia harus mempertanggung jawabkan amanat yang sudah diberikan rendi.
Kamu bisa nisa, kamu bisa.. !
Batin nisa.
Nisa mulai menjelaskan materi meeting dengan lugas dan cekatan. Tetapi sesekali suaranya sedkit gemetar dan agak tersendat ketika matanya bersitatap dengan riko secara tak sengaja.
Riko tak lepas memandang nisa sedikitpun. Baru ini dia bisa melihat gadis yang dikenalnya sebagai gadis yang lucu dan suka bercanda bisa seserius ini dalam bekerja.
Bahkan sampai nisa telah selesai persentasi dan kembali duduk. Riko masih terus memandanginya.
"Presdir riko jadi bagaimana dengan keputusanmu tentang proyek ini?" tanya rendi.
Riko tak menjawab. Dia tidak mendengar dan melihat apa yang ada disekelilingnya. Matanya hanya fokus menatap nisa. Sedangkan nisa tidak berhenti menunduk mencoba menghindari tatapan riko.
Haiss ! berani mengacuhkanku ! untung kau ini sahabatku. Kalau tidak sudah aku batalkan kerjasama ini dan mengusirmu dari ruangan ini !
Batin rendi.
Sekretaris pribadi riko mendekati riko dan menepuk bahunya perlahan.
"Tuan, Presdir rendi menunggu jawabanmu " ucap sekretaris pribadi riko yang membuyarkan lamunannya.
Seketika riko langsung terhentak. Dia langsung mengalihkan pandangannya pada map didepannya yang berisi materi yang memang dibagikan kepada para peserta meeting. Dia membaca sekilas penawaran yang diajukan oleh mandala group.
"Acc !" ucap riko yang mengarah kepada rendi. Lalu kembali menatap nisa yang tertunduk.
Para staff dari buana group mulai membahas langkah selanjutnya dengan team divisi perencanaan proyek mandala group.
Meetingpun berakhir.
"Pak rendi, kalau sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya mohon izin keluar duluan menyelesaikan laporan proyek pembangunan internasional mall" ucap nisa yang tidak ingin berlama - lama berada dalam ruangan itu. Lehernya terasa tercekik, dia merasa kesulitan bernafas satu ruangan dengan riko.
"Silahkan ! Meeting juga sudah selesai kan ?" ucap rendi.
__ADS_1
"Terima kasih pak" ucap nisa yang bergegas meninggalkan ruangan meeting itu.
Tiba - tiba riko ikut berlari keluar mengejar nisa.
Rendi yang melihat kejadian itu merasa ada yang tidak beres antara nisa dan riko.
Nisa masuk lift, riko mengejar dan ikut masuk ke dalam lift. Nisa yang tidak mau satu lift dengan riko mencoba menekan tombol kembali untuk keluar. Tapi riko menahan tangan nisa. Sehingga lift kembali tertutup.
"Lepaskan !" ucap nisa.
"Dengerin aku dulu nis, aku bisa jelasin semuanya !" ucap riko.
"Apa yang mau dijelasin ? semuanya sudah jelas kan ? kamu ternyata tidak lebih dari seorang pembohong. Aku menyesal sudah berteman dengan pembohong sepertimu. Aku benar - benar merasa seperti orang bodoh yang ditipu mentah - mentah olehmu !" ucap nisa menahan tangis.
"Aku tidak pernah berbohong. Kau tidak pernah bertanya. Dan kau juga selalu tidak pernah memberikanku kesempatan untuk menjelaskan padamu !" ucap riko.
"Heeh ! kau pasti senangkan bermain - main denganku ? aku membencimu !" ucap nisa yang meninggalkan riko sendirian begitu lift terbuka.
Riko keluar dari lift ingin mengejar nisa ke ruangannya tetapi rendi menelponnya.
"Keruanganku sekarang !" ucap rendi.
"Shit !!!" riko mengumpat.
*******
Riko langsung menerobos masuk ke ruangan rendi tanpa mengetuk pintu lagi.
"Roy bisakah kamu keluar dulu ?" perintah rendi.
"Baik tuan !" jawab roy yang bergegas meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa kau memanggilku ?" tanya riko serius.
"Kemana kau sesudah meeting tadi ?" tanya rendi.
"Aku tadi keluar" ucap riko dengan jawaban menggantungnya.
"Ooh... sepertinya presdir riko sangat tertarik dengan salah satu pegawaiku" tembak rendi langsung.
Riko terkejut mendengarnya.
"Dari mana kau mengenal nisa ?" tanya rendi.
"Aku mengenalnya pertama kali saat berkunjung ke kantormu. Saat itu dia magang disini. Aku benar - benar tidak menyangka ternyata dia bekerja disini pada akhirnya" ucap riko.
"Dasar playboy cari wanita lain untuk kau jadikan pacarmu. Jangan pegawaiku !" ucap rendi.
"Sudah aku bilang jangan panggil aku playboy. Aku bukan orang seperti itu. Namanya pacaran wajar aku memutuskan karena merasa tidak cocok. Mereka semua menuntut berlebihan untuk waktuku. Padahal mereka tahu kalau aku sangat disibukkan oleh pekerjaan. Mereka akan marah sejadi - jadinya bila aku tak menuruti keinginan mereka. Para pacarku terdahulu sangat manja dan materialistis. Sangat berbeda dengan nisa yang jauh dari semua itu" ucap riko.
"Jauhi dia. Fani tidak akan senang mendengarnya jika tahu kau mendekati temannya " ucap rendi.
"Kenapa aku harus menuruti ucapan kekasihmu ? aku akan terus mendekatinya walaupun nisa sendiri yang akan mengatakan itu !" ucap riko tegas.
Riko segera bergegas meninggalkan rendi. Namun langkahnya terhenti dan berbalik.
"Oh ya, Fahri bilang weekend ini kita kumpul di tempat biasa. Jangan lupa !" ucap riko mengingatkan.
"Aku tidak bisa. Weekend ini aku akan memancing dengan papaku dan fani " ucap rendi.
"Memancing ? ayolah kau bahkan sangat membenci pekerjaan membosankan itu !" ucap riko tertawa.
"Papaku memaksaku !" ucap rendi.
"Papamu memaksamu atau karena ada fani kau jadi mau ikut ?" ucap riko yang bergegas meninggalkan rendi yang memandangnya tajam.
Rendi terdiam mencerna omongan riko barusan.
# Tidak henti - hentinya memohon like, vote dan komen kalian ya readers.. Bahagia itu.. ketika baca komen - komen kalian yang selalu minta update 😘✌
__ADS_1