Pacar Settingan Presdir

Pacar Settingan Presdir
(S2) Sakit hati


__ADS_3

Seperti itulah wanita, ketika kau melukainya dia menangis.


Dan ketika dia melukaimu dia menangis. (cz).


****************


Khanza melangkah masuk ke dalam rumah. Dia memberi salam pada ibunya dan langsung masuk ke dalam kamar.


Ibunya yang sedari tadi asyik menonton televisi merasa ada yang aneh pada Khanza yang tidak keluar kamar semenjak pulang.


Biasanya Khanza akan duduk di samping Ibunya bercerita panjang lebar mengenai makan malamnya bersama Vino.


Ibu lalu mencoba mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar Khanza. Khanza yang sedang berada pada posisi tengkurap dengan wajah yang dihumuskan ke bantal, sangat terkejut saat mengetahui sang Ibu sudah duduk disebelahnya sambil menepuk-nepuk lembut bahunya.


"Ibu !" ucap Khanza sambil mengelap buliran air mata yang masih meluncur bebas dari kedua sudut matanya.


"Kenapa Aza menangis ? Berantem ya sama Vino ?" tanya Ibu.


"Bu, Khanza menyesal. Khanza sudah menyakiti hati Vino. Bukan hanya Vino. Tetapi Nanda juga" ucap Khanza yang masih terus terisak.


"Maksudnya bagaimana ? coba ceritakan pada Ibu !" ucap Ibu.


Akhirnya Khanza menceritakan dari awal, semua kejadian yang dia alami selama ini. Ibu yang mendengarkan dengan seksama, merasa prihatin dengan keadaan Khanza sekarang.


Sekarang giliran mata Ibu yang berkaca-kaca mendengar penuturan anaknya.


"Kenapa harus Vino yang menjadi korban, Za ? Dia tidak tahu apa-apa. Selama ini dia sudah sangat baik pada kita. Begitupun dengan Nanda" ucap Ibu.


Khanza tidak menjawab. Hanya air mata yang terus mengalir, sebagai jawaban atas pertanyaan Ibunya barusan.


Lalu Ibu mulai memeluk Khanza, dan mengelus puncak kepalanya.


"Sudah. Jangan menangis lagi, Za. Anggap saja ini sebagai hukuman kamu karena telah membohongi Vino dan Nanda" ucap Ibu.


"Seharusnya kau tidak perlu balas dendam anakku. Karena ada Allah yang akan membalas semuanya" ucap Ibu.


Khanza masih sibuk mengelap air matanya, dan mencerna setiap ucapan Ibunya.


"Kamu anak yang baik, Jangan hanya terluka kamu menjadi jahat" ucap Ibu.


Khanza kembali terisak. Tetapi kini ada perasaan lega karena telah menceritakan semuanya kepada Ibu.

__ADS_1


*************


Pagi ini Khanza sudah masuk ke kantor seperti biasanya. Dengan mata yang masih sembab, dia mulai mengerjakan pengarsipan.


"Za, mata elo kenapa bengkak ?" tanya Vira yang dari tadi memperhatikan wajah Khanza.


"Oh, ini.. Ini tadi kemasukan debu sewaktu mau menyebrang jalan tadi" Khanza berkilah.


"Oh, kirain elo nonton film India semalem jadinya nangis bombay deh" ucap Vira.


"Emangnya elo !" ucap Khanza sambil tersenyum.


Vira ini emang termasuk orang yang kuat pendiriannya. Disaat orang-orang zaman sekarang pada sibuk dan suka nonton drakor, dia dengan setianya masih ngegelantung manja sama film bollywoodnya. Seperti yang dia bilang sih, kalau dia itu titisan Sri Devi dimasa sekarang. Dih... !


Panggilan sayangnya ke pacarnya aja bikin gue geli sampai sekarang. Yang cowok manggil dia "Sri Devi" yang Vira manggil ayang beibnya "Tuan Takur". Jadul banget dah pokoknya !


Tiba-tiba Vino datang bersama Sekretaris Rido.


Vira dan Khanza langsung berdiri memberi salam selamat pagi.


Kalau biasanya dia akan berhenti ketika melewati meja resepsionis. Menyapa dan memberikan senyum secerah sinar mentari, tetapi tidak dengan kali ini. Dia hanya melirik sekilas ke arah Khanza dan melewatinya tanpa membalas salam dari Khanza dan Vira.


"Dih, Pak Vino kok sombong amat ya Za pagi ini ! Enggak biasanya deh dia enggak jawab salam kita" ucap Vira.


***********


Ini sudah hari ketiga, memasuki fase ngambeknya Vino terhadap Khanza. Awalnya Khanza kaget saat mengetahui perubahan sikap Vino yang berubah drastis. Semisal dalam memberikan ucapan selamat pagi, dia sudah terbiasa dengan pandangan mata sinis Vino yang tidak menjawab salam selamat pagi dari Khanza dan vira.


Begitu juga saat dia menyambungkan telepon dari kolega Perusahaan ke line ruangan Vino, Vino akan menanggapinya dengan datar. Atau saat mengantar dokumen ke ruangannya, Vino seakan-akan sibuk bekerja menatap layar komputernya dan tidak menatap Khanza sama sekali. Palingan dia akan bilang menyuruh Khanza menaruhnya di meja saja.


Begitu juga dengan Nanda yang selama tiga hari ini semakin gencar mendekati Vino. Dengan alasan pekerjaan, dia selalu rajin datang ke ruangan Vino setelah meeting. Walaupun ditanggapi biasa aja sih oleh Vino.


Setelah mengamati perubahan pada diri Vino. Khanza akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Vino. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan Vino.


Vino masih sama seperti biasa. Tidak menghentikan pekerjaan yang sedang dia kerjakan, dan tidak menatap Khanza sedikitpun.


"Maaf, Pak Vino" ucap Khanza yang kembali memanggil sebutan Pak pada Vino.


"Hmm.." Jawab Vino dengan mata masih fokus ke layar komputer.


"Saya ingin mengajukan surat pengunduran diri saya bekerja di sini. Dan mengenai masalah hutang saya sama perusahaan. Nanti saya akan menyicil setiap bulannya" ucap Khanza sambil menyerahkan surat pengunduran dirinya dengan meletakkannya di atas meja Vino.

__ADS_1


Vino sempat menghentikan kegiatannya sesaat. Tetapi tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Baiklah kalau begitu. Karena Pak Vino sudah menerima surat pengunduran diri saya, saya izin keluar" ucap khanza yang sudah berbalik melangkah keluar.


Tetapi, Brukkkkk !


Khanza kalah cepat dari Vino. Vino mendahuluinya berjalan dan membanting pintu ruangannya yang telah di buka Khanza barusan.


"Kau.. kau mau apa ?" ucap Khanza yang kini sudah meringsek mundur menempel di dinding, karena posisi Vino semakin mendekat padanya.


Vino mencengkram dagu Khanza.


"Dengar baik-baik, Kau tidak boleh berhenti bekerja dari sini. Bukankah aku sudah bilang aku butuh waktu untuk menerima semua itu" ucap Vino.


"Tapi, sampai kapan Vin. Aku benar-benar tidak tahan dengan sikapmu selama beberapa hari ini, yang menganggapku seperti musuh. Aku tersiksa. Tolong lepaskan saja aku. Aku minta maaf atas semua perbuatanku. Biarkan aku pergi dari sini !" ucap Khanza yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Vino cukup kaget melihat mata Khanza yang mulai berair.


"Jangan harap kau bisa lepas dariku. Anggap saja itu mimpi. Seharusnya kau tahu. Saat kau bermain-main denganku. Kau sudah tidak bisa lagi keluar jauh" ucap Vino


"Mengapa kau senang sekali mempermainkanku ? Kau menarikku mendekat, setelah itu kau mendorongku jauh ! Dan sekarang kau ingin pergi begitu saja. Jangan harap !" ucap Vino kembali. Kali ini nada suaranya mulai berubah tinggi.


"Aku sudah minta maaf padamu. Lalu aku harus apalagi. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Sebaiknya aku pergi. Itu lebih baik !" ucap Khanza yang sudah mau beranjak mau membuka pintu kembali tetapi tangan Vino menahannya.


"Baiklah, bukankah kau sendiri yang bilang kau akan membayar hutang pada Perusahaan. Kalau begitu jangan berhenti dari sini sebelum kau dapat melunasi hutangmu !" ucap Vino.


Aku tidak tahu lagi bagaimana cara mengikatmu agar kau tetap disini denganku. Kalau memang ini satu-satunya cara agar kau tetap disini, aku akan memakainya.


Khanza menatap Vino dengan tatapan yang memancing permusuhan. Seolah-olah menantang Vino.


"Oke ! Aku ambil surat pengunduran diriku sekarang. Aku akan berusaha melunasi hutangku secepat mungkin agar bisa pergi dari sini !" ucap Khanza yang sudah melepas pegangan tangan Vino.


Dia akhirnya keluar membuka pintu ruangan Vino.


Sedangkan Vino masih terdiam terpaku di balik pintu tersebut.


# Jangan pada ngamuk ya kalau gue bikin konfliknya seperti ini. Gue kalau bikin konflik enggak pernah lama-lama amat kok. Paling 2 bab kelar konfliknya. Gue juga ga suka terlalu lama molor di konflik, bikin ceritanya ngebosenin. Tapi konflik harus dibuat biar ceritannya nyambung buat alur selanjutnya. Ditunggu updatenya lagi jam 12an malem yak.. Jangan lupa memberi like, vote dan komen kalian yang selalu bikin aku semangat nulis 😍 Saranghaeyo 😘


Jangan lupa membaca novel sahabatku "mamika" ya.. yang judulnya "Membuka Hatimu" dibaca ya 😘


__ADS_1



__ADS_2