
Kelak kamu akan menyadari, bagian terberat dari mencintai adalah sabar. (ctz)
Happy Reading Gaes 😘
*********************
Keesokan harinya, Vino memanggil Rahel ke ruangannya, untuk meminta pertanggung jawaban Rahel atas perbuatannya terhadap Khanza.
"Kenapa kemarin kau mengunci Khanza di gudang penyimpanan dokumen ?" Tanya Vino pada Rahel tanpa basa-basi.
"Saya ? Saya tidak menguncinya Pak Vino. Saya langsung pulang ke rumah kemarin !" Jawab Rahel berbohong.
"Ooh.. Lalu siapa gadis di dalam video ini ?" Ucap Vino yang melirik ke arah Rido, Sekretaris Pribadinya.
Sekretaris pribadinya, yang sedari tadi berdiri di sampingnya memutar video cctv di layar led di ruangannya.
Di dalam video, Rahel tampak berdiri di depan gudang seorang diri, dan terlihat jelas kalau dia mengunci pintu gudang tersebut. Sekarang dia tidak bisa berkilah lagi.
"Saya minta maaf, Pak. Saya hanya iseng melakukannya. Tidak ada niat lain" Ucap Rahel berbohong.
"Iseng ? Kau tahu, akibat perbuatanmu itu. Khanza harus menderita luka di kakinya. Dan kalau memang iseng, mengapa kau tidak membukakan pintu gudangnya kembali ?" Tanya Vino.
"Saya...Saya lupa, Pak" Ucap Rahel.
"Lupa ?" Ucap Vino dengan sorot mata yang sarat akan amarah.
Bagi Vino apa yang dilakukan Rahel sudah keterlaluan. Karena perbuatannya itu bisa membahayakan nyawa orang lain. Terlebih lagi, orang yang menjadi korbannya saat itu adalah Khanza. Orang yang dia sayangi.
"Mulai besok, kau tidak perlu lagi bekerja disini. Rido, Sekretaris Pribadiku akan mengurus pesangonmu !" Ucap Vino.
Rahel terkejut mendengarnya. Dia berusaha memohon kepada Vino.
"Pak Vino, tolong jangan pecat saya. Ini hanya sepele. Tolong, maafkan saya" Ucap Rahel.
"Sepele ? Siapa yang jamin kalau kejadian ini tidak akan terulang lagi. Ini tempat bekerja, bukan tempat bermain untuk keisenganmu yang membahayakan nyawa orang lain" Ucap Vino.
"Aku begini juga karena Pak Vino !" Ucap Rahel terisak.
"Karena aku ?" Ucap Vino heran.
"Iya. Aku membantu Pak Vino. Aku menjauhkan Pak Vino dari wanita yang selalu mencoba merayu Pak Vino. Sepertinya, dia selalu mendekati Pak Vino agar bisa menaikkan derajatnya yang..." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Vino memotong ucapan Rahel.
"Hentikan !" Ucap Vino yang sudah tersulut emosi.
"Dia tidak pernah mendekatiku apalagi merayuku. Akulah yang selalu berusaha mendekatinya dan mengejarnya. Jadi kalau sampai kau menganggunya lagi, aku tidak akan sungkan !" Sambung Vino dengan intonasi suara yang keras.
Apa ? Jadi, Vino menyukai wanita licik itu !
Batin Rahel.
"Sekarang kau boleh keluar dari ruangan ini dan tidak perlu datang kemari lagi. Rido, Sekretaris pribadiku akan segera mengurus pesangonmu !" Ucap Vino yang sudah diliputi perasaan jengkel.
"Lagipula sudah banyak sekali laporan tentangmu dari para pegawai. Mereka bilang, kau tidak bisa diajak bekerja sama dengan baik dan selalu membantah" Tambah Vino.
"Tolong jangan pecat saya Pak Vino. Saya tidak bersalah" Ucap Rahel yang terus memohon.
Tiba-tiba dua orang security yang ditelepon oleh Rido, datang ke dalam ruangan dan membawa paksa Rahel keluar.
Sudah bersalah tapi tidak mengaku salah ! Malah menyalakan orang lain. Bagus sekali !
Batin Vino.
******************
Sementara di Rumah Sakit.
Sekarang jam telah menunjukkan pukul 14:00 Siang. Dokter sedang memeriksa kondisi Ibu Khanza yang telah berangsur membaik setelah operasi.
"Ya, bagus. kondisinya sudah stabil semua. Hari ini sudah boleh pulang" Ucap Dokter.
Khanza yang mendengar ucapan Dokter senang bukan main. Dia segera merapikan barang-barang yang akan dibawa pulang, begitu Dokter keluar dari kamar rawat inap Ibunya.
Tiba-tiba, Khanza teringat akan ucapan Vino yang mengatakan akan berkunjung lagi ke Rumah Sakit hari ini.
Khanza melirik jam di tangannya.
Ini masih jam dua siang kan ? Belum jam pulang kantor. Aku harus mengemasi barang-barang ini lebih cepat. Jangan sampai bertemu dengannya.
Batin Khanza.
__ADS_1
Melihat Khanza yang mengemasi barang dengan terburu-buru, Ibunya merasa heran.
"Jangan terburu-buru Khanza. Kakimu belum benar-benar sembuh. Santai saja mengemasinya" Ucap Ibu Khanza yang merasa aneh melihat Khanza yang secepat kilat mengemasi barang-barang mereka.
"Kakiku sudah baikkan, Bu. Iya nih, aku terlalu bersemangat untuk pulang. Sudah beberapa hari kita berada di Rumah Sakit, membuatku kangen sama rumah" Ucap khanza berkilah.
"Iya, Ibu juga rindu kembali ke rumah" Ucap Ibu Khanza.
Akhirnya, setelah membereskan barang-barang bawaan mereka. Khanza cepat-cepat memesan taksi online untuk menjemput mereka pulang.
"Aku sudah memesan Taksi Online bu. Mungkin sebentar lagi sampai. Bagaimana, kalau kita menunggu di depan saja ?" Ucap Khanza yang lagi-lagi, terlihat seperti terburu-buru.
"Yah, sebaiknya kita menunggu di depan saja" Ucap Ibu.
Khanza yang membawa tas besar, menggandeng lengan Ibunya untuk mengajaknya keluar.
Tapi, tiba-tiba Khanza menabrak seseorang yang baru masuk dari arah pintu. Wajahnya membentur sesuatu saat dia akan keluar dari kamar itu.
"Awww.." Khanza meringis.
"Khanza, kau tidak apa-apa ? Bagian mana yang sakit ?" Tanya pria itu sambil memeganginya.
Betapa terkejutnya Khanza, saat mengetahui pemilik suara itu adalah Vino. Ternyata, dia tadi menabrak dada bidang milik vino.
"Vino ?" Teriak Khanza dengan wajah kagetnya.
"Kenapa kau sudah disini ? Ini masih jam dua siang kan. Kau seharusnya masih bekerja dikantor sekarang !" Ucap Khanza, yang kali ini raut wajahnya sudah berubah kesal.
"Hari ini, di kantor sedang tidak begitu banyak pekerjaan. Jadinya aku kemari lebih awal" Ucap Vino.
Oh iya, Aku lupa dia Bos-nya ! Suka-suka dia mau pulang jam berapa !
Batin Khanza.
Vino lalu menyalami Ibunya Khanza yang berdiri di belakang Khanza.
"Saya Vino, Bu. Teman kerjanya Khanza" Ucap Vino memperkenalkan diri.
Walaupun sudah beberapa kali Vino ke rumah sakit membesuk Ibunya Khanza. Tetapi sekalipun Ibunya belum sempat bertatap muka dengan Vino. Karena, setiap kali Vino datang berkunjung selalu bertepatan dengan jam tidur Ibunya yang sedang beristirahat.
Ibu Khanza mengangguk penuh kebingungan.
Khanza menunduk.
Vino yang melihat khanza menenteng tas yang besar. Lalu bertanya.
"Kenapa sudah berkemas-kemas ? Apa Ibu sudah diizinkan pulang oleh Dokter ?" Tanya Vino.
"Iya, hari ini Ibu sudah boleh pulang nak Vino. Dokter bilang kondisi Ibu sudah membaik" Ucap Ibu Khanza.
"Kalau begitu, saya akan mengantar Ibu dan Khanza pulang" Ucap Vino.
"Jangan !" Ucap Khanza yang cepat-cepat menjawab.
Vino dan Ibu menoleh berbarengan.
"Maksudku, aku sudah memesan taksi online tadi. Jadi sebaiknya, kau pulang saja Vin" Ucap Khanza dengan kikuk.
Vino mengerenyit. Dia merasa ada yang aneh pada tingkah Khanza sedari tadi.
Tiba-tiba ponsel Khanza berdering. Khanza mengangkat teleponnya.
"Halo, Mbak. Maaf orderannya di cancel aja ya. Posisi saya jauh banget sama lokasi Mbak. Jadi saya minta di cancel aja orderannya dari mbak" Ucap sopir taksi online itu.
"Di cancel ? Ya, baiklah" Ucap Khanza yang terdengar lesu.
"Kenapa Za ?" Tanya Ibu.
"Orderan taksi onlinenya di cancel, karena kejauhan katanya, Bu" Ucap Khanza.
"Kalau begitu, naik mobilku saja. Biar saya yang mengantar kalian" Ucap Vino.
"Tidak perlu. Aku akan memesan taksi online sekali lagi kalau begitu" Ucap Khanza yang sudah siap-siap menekan tombol di ponselnya.
Tapi, tiba-tiba Vino langsung menarik tas besar yang di pegang Khanza, di tangan kirinya. Khanza terkejut dengan apa yang dilakukan Vino.
"Jangan dipesan lagi. Ayo naik ke mobilku. Aku yang antar" Ucap Vino yang sudah bergegas melangkah keluar.
Ibu dan Khanza akhirnya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Vino melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati. Suasana di dalam mobil sangat hening. Sepanjang jalan mereka hanya terdiam satu sama lain.
Akhirnya mobil yang mereka kendarai telah sampai. Khanza turun dari mobil sambil memegangi Ibunya. Sedangkan Vino menenteng tas besar yag berisi pakaian mereka.
"Terima kasih, atas bantuannya Vin. Sekarang kau boleh pulang. Kau harus istirahat untuk bekerja besok" Ucap Khanza.
Vino terkejut mendengar ucapan Khanza.
"Khanza !" Ucap Ibunya.
"Bukankah sebaiknya menyuruh Vino masuk dulu ke dalam. Dia baru saja datang. Mengapa kau menyuruhnya segera pulang ?" Ucap Ibunya.
Khanza menunduk. Tidak berani menjawab Ibunya.
"Maafkan Khanza ya, Vin. Dia belum pernah membawa teman laki-lakinya kemari. Jadi mungkin dia bingung bagaimana harus bersikap" Ucap Ibu Khanza.
"Iya, Bu. Saya mengerti" Ucap Vino.
"Sekarang kamu duduk dulu, Ibu akan membuatkan teh untukmu" Ucap Ibu.
"Tidak perlu repot-repot, Bu" Ucap Vino sambil menarik kursi yang ada diteras itu dan mendudukinya.
"Tidak repot kok, Vin hanya teh saja" Ucap Ibu Khanza.
"Kalau begitu aku masuk dulu membereskan rumah" Ucap khanza mencari alasan untuk tidak mengobrol dengan Vino.
"Sudah. Kau duduk disini saja. Temani Vino mengobrol. Ibu yang akan membuat teh dan membereskan rumah.
Akhirnya Ibu ke dalam membuatkan teh untuk Vino ke dalam. Meninggalkan Khanza dan Vino di teras. Khanza lalu duduk bersebelahan dengan kursi di sebelah Vino. Suasana canggung meliputi mereka berdua. Akhirnya Vino berinisiatif berbicara memecahkan keheningan.
"Bagaimana dengan kakimu ?" Tanya Vino sambil menyentuh kaki Khanza untuk memeriksa lukanya
Tiba-tiba, Khanza refleks menepis tangan Vino dan memundurkan tubuhnya.
Vino cukup kaget dengan respon yang diberikan Khanza.
"Oh, maaf. Maafin aku ya, Vin. Aku tidak sengaja melakukannya" Ucap Khanza gugup.
Tiba-tiba Ibu Khanza keluar membawakan Nampan yang berisi dua gelas teh.
"Silahkan diminum, Vin. Maaf, ga ada apa-apa" Ucap Ibu Khanza.
"Ini saja sudah cukup, Bu" Ucap Vino.
Setelah meletakkan nampannya. Ibu Khanza lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Suasana kembali hening. Tapi kali ini Khanza yang berinisiatif memulai obrolan.
"Apa aku boleh kembali bekerja besok ? Luka dikakiku sudah membaik sekarang" Ucap Khanza.
"Ya, terserah kau saja" Ucap Vino.
"Aku sudah memeriksa rekaman cctv saat kejadian kemarin. Ternyata Rahel memang sengaja menguncimu di gudang kemarin. Jadi aku telah memecatnya sekarang" Sambung Vino.
"Apa ? Kau memecatnya ?" Ucap Khanza.
"Ya, perbuatannya sudah keterlaluan. Aku hanya tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Lagipula sudah banyak laporan negatif mengenai dia dari pegawai yang lain" Ucap Vino.
Yah, dia memang pantas sih mendapatkannya.
Batin Khanza.
Vino lalu meminum tehnya dengan beberapa kali tegukan. Lalu dia meletakkan gelasnya kembali diatas meja.
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Dan bila masuk kantor besok, jangan bersikap canggung padaku. Apalagi menghindar. Bersikap seperti biasanya saja" Ucap Vino.
Dia tahu aku menghindarinya ?
Batin Khanza.
"Kau harus tahu, aku tipe orang yang selalu gigih mendapatkan apa yang aku mau. Jadi sejauh apapun kau lari dan menghindar dariku. Aku akan terus mengejarmu" Ucap Vino.
Deg !
Sontak Khanza terkejut mendengar ucapan Vino barusan. Matanya menatap lekat pria dihadapannya itu.
Kenapa kau berbicara seperti itu. Itu membuatku takut...
Batin Khanza.
__ADS_1
#Sorry ya baru bisa update sekarang. Jangan lupa memberi like, vote dan menyisipkan komentar kalian... 🙏