Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
MIMPI INDAH #2


__ADS_3

Pagi-pagi, Ken sudah di ruang admin. Tujuannya jelas yaitu untuk membatalkan keikutsertaannya sebagai duta kampus.


"Maaf, pak. Saya gak ikut acara duta kampus!" ungkap Ken pasti.


"Maaf, Ken. Kamu udah pasti jadi kandidatnya. Gak ada yang sepopuler kamu di kampus ini!"


Aakh! Bikin nyesek aja. Ken berpikir keras agar bisa mencari cara lain.


"Saya yakin masih banyak yang lebih baik. Bagaimana kalau lewat pemilihan agar lebih adil!"


Hendrik terdiam. Usul Ken masuk akal juga.


"Ya, sudah nanti saya bicarakan lagi. Tapi besok sudah acara peresmian predikat duta kampusnya. Kalau gak bisa diganti, kamu harus mau, Ken!"


Ken terdiam. Cuma satu hari harapannya agar bisa merubah kandidat duta kampus.


"Baik, pak. Saya akan mencalonkan Ara!"


"Ara? Dari jurusan komunikasi? Yang dapat beasiswa itu?"


"Nah, betul itu. Ara kan populer juga. Nyatanya bapak kenal!"


Kali ini diam terdiam. Ada sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya.


Sebenarnya, Ara tidak begitu pintar. Alasan mendapatkan beasiswa adalah karena ayah Ara pernah mengajar sebagai dosen.


Ken merasa tenang karena sudah mengajukan Ara sebagai calon kandidat. Berharap Ara bisa menggantikan posisi Janet.


*****


"Awas, awas! Duta kampus mau lewat!"


Sisi mendorong mahasiswa yang masih berkumpul di depan ruang belajar. Termasuk Ara yang hampir terjelembab. Untung saja masih bisa memegang daun pintu.


Duh! Kekanakan sekali sih mereka! Disangka masih Tk kali, yeee ....

__ADS_1


Janet berjalan dengan sok cantik. Kelakuannya tambah aneh aja, deh!


"Ra, elo jadi ga mo izin magang?"


Ara mencari suara yang barusan terdengar. Ternyata Upik bersembunyi diantara mahasiswa.


"Jadi dong, Pik? Emangnya kapan?"


"Setelah selesai kuliah, ya!"


"Oke!"


Ara memberi kode dengan melingkarkan jarinya.


Janet sempat melihat tingkah aneh Ara dan Upik. Untung saja, dosen langsung datang sehingga Janet dan pelayannya gak senpat berulah lagi.


*****


Ara dan Upik langsung ke stasiun televisi yang membuka lowongan dari jurusan komunikasi.


Upik lagi menemui bagian hrd. Ara hanya sendirian menunggu dengan penuh kebìngungan.


"Hei! Penyiar magang! Cepat ganti baju dan pake make-up. Siarannya sebentar lagi!"


Seorang laki-laki setengah baya berteriak. Entah kepada siapa. Ara menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari orang yang diajak ngomong laki-laki itu.


"Aduh! Kenapa clingukan gitu sih! Jeni, bawa anak magang itu dan dandanin dia!"


Seorang laki-laki kemayu disampingnya mengangguk.


"Ayo, say. Ikut aku!"


Ara tertegun. Mengapa cowok kemayu itu mengajaknya, ya?


"Aduh, say. Kenapa jadi linglung gitu sih. Ayo cepet, nanti aku yang kena semprot!"

__ADS_1


Ara gak bisa mengelak ketika cowok kemayu itu menarik tangannya masuk ke dalam sebuah ruangan. Jangan-jangan, Ara mau dijadikan badut!


Upik kebingungan gak melihat Ara. Dia sudah muter-muter tapi Ara gak kelihatan juga. Hapenya gak aktif juga. Hadeh, Ara kemana ya???


Sementara itu, Ara masih di dalam sebuah ruangan bersama Jeni, si cowok kemayu. Dia mendandani Ara dengan pakaian bagus dan mencatok rambutnya hingga menjadi lurus.


"Aakh, jadi cantik bener kamu, ya. Tentu dong karena tangan emas akyuu!"


Jeni cekikikan. Tiba-tiba hapenya berdering.


"Ya, bos. Anak.magangnya udah okeh!"


Jeni segera menutup hapenya.


"Ayo, say. Waktunya kamu kerja!"


"Kerja? Ngapain?"


Hadeh, Ara tambah bingung aja, deeh!!!


*****


Sementara, Ken kebungungan mencari Ara. Dia mau cerita kalau sudah mencalonkan Ara untuk menjadi duta kampus.


"Ken? Apa benar Ara mau magang?"


Andre muncul dengan sebuah pertanyaan.


"Magang? Saya gak tahu soal itu!"


"Tolong sampaikan sama Ara kalau izin dari kampus sudah keluar, ya!"


Ken gak menjawab apa-apa. Bahkan hari ini Ara belum kelihatan sama sekali. Duh! Dimana sih kamu, Ra???


*****

__ADS_1


__ADS_2