Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
INIKAH KARMA? #1


__ADS_3

Setelah beberapa bulan, Ara mendapatkan program acara di televisi yang sesuai dengan pengalamannya sebagai penyintas. Tamunya adalah orang-orang yang juga pernah mengalami kecelakaan lalulintas, kebakaran atau musibah bencana alam.


Acara yang dipandu Ara sangat disukai penonton dan selalu rating. Ara sangat senang dan mencintai pekerjaannya sekarang. Namun ada satu yang kurang. Gak ada Ken di sisinya.


Tanpa terasa, Ken sudah pergi sejak dua bulan yang lalu. Katanya dia gak tega meninggalkan pasien yang masih membutuhkannya. Ara berusaha mengerti keputusan Ken. Namun, terkadang Ara menyerah ketika kerinduan datang menyiksanya.


"Kapan kamu pulang, Ken? Aku kangen," rengek Ara. Sebenarnya selama ini, Aralah yang selalu bisa menahan rasa rindunya. Namun, kali ini rasa rindu itu kian menyiksa.


"Masa, sih? Bukannya kamu sibuk dengan pekerjaanmu? Apa Boy masih suka menemuimu?" Ken malah menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Dia memang cemburu karena Boy masih mengejar Ara.


"Aah! Jangan sebut dia, deh. Makanya kamu cepat pulang!" cetus Ara dengan nada kesal.


Ken terdiam. Dadanya selalu berdegup kencang setiap kali vc dengan Ara. Selain itu Ara semakin bertambah cantik membuat Ken ingin sekali memeluknya.


"Sebentar lagi aku akan pulang. Emangnya kalau aku sudah di dekatmu, kamu mau apa? Apa memelukku? Atau menciumku?" tantang Ken.


Ara melotot. Ken selalu aja seperti itu. Padahal Ara hanya ingin melihatnya langsung. Itu aja sudah membuatnya senang.


"Hhmmm, mau apa ya? Aku akan memandangimu sampai aku puas!" jawab Ara sebisanya.


"Aakh! Kalau cuma itu kan bisa seperti sekarang ini!"


"Iih, beda lah! Aku bisa mencubit pipimu. Tapi, sekarang kamu lebih kurus. Pipimu pasti sudah gak cabi lagi!"


"Masa, sih? Coba cubit pipiku dari jauh?"


Ara tertegun ketika Ken menempelkan pipinya di layar hape. Mana bisa dia mencubit pipinya. Tiba-tiba, Ara mencium layar hapenya.

__ADS_1


"Eeeh! Itu bukan mencubit, kalau itu mencium! Kamu curang," tegur Ken memastikan.


Ara menutup layar hapenya dengan tissu. Dia gak mau Ken melihat mukanya yang menjadi merah.


"Jangan ditutupin dong, Ra. Aku juga mau melakukan hal yang sama. Ayo, dong!" Kali ini Ken yang merengek seperti anak kecil.


Akhirnya Ara gak tega juga. Tapi dia malah memamerkan wajahnya di layar hape.


"Hhmmm, ini yang aku suka!"


Sedetik kemudian, Ken juga mencium layar hapenya. Namun, bukan mencium pipi Ara melainkan bibirnya.


Malam masih panjang. Keduanya masih bucin aja seperti anak abg. Sementara yang lain sudah terlelap.


*****


Malam kian larut, jalanan sudah mulai sepi. Seorang gadis keluar dari salah satu cafe yang baru saja tutup. Langkahnya gontai dan sedikit sempoyongan. Sepertinya kondisi gadis itu gak begitu baik.


Gadis itupun segera melangkahkan kakinya melewati zebra cross. Suasana jalan sangat sepi, hanya terlihat sebuah mobil yang masih jauh.


Tiba-tiba, gadis itu melihat lampu mobil yang sangat terang dan suara ban yang mendecit karena mendadak direm. Gadis itu hanya tertegun tanpa bergerak sedikit pun.


Bayangannya kembali ke masa lalu. Ketika dia berada di posisi di dalam mobil itu. Gadis itu menginjak gas dengan kencang. Seorang gadis yang dikenalnya berada di posisinya sekarang.


Mungkin, inilah yang namanya karma. Gadis itu sudah siap menerima hukumannya. Tak lama kemudian, mobil itu menabraknya sehingga tubuhnya terpental.


Gadis itu mengerang kesakitan dan darah membasahi tubuhnya. Airmatanya mengalir. Hidupnya sebentar lagi berakhir!

__ADS_1


Sementara itu, Laras sudah menjadi pegawai tetap namun masih dibagian lapangan. Tapi, dia sangat senang karena masih bisa bertemu Ara meski hanya di kantor.


Bahkan saat ini, dia masih berada di lapangan karena harus meliput kecelakaan di jalan raya.


"Saat ini telah terjadi kecelakaan lalu lintas di jalanan yang sangat sepi. Saya akan melaporkan keadaan korban. Siapa nama korbannya dan keadaannya, pak?" tanya Laras kepada salah satu polisi yang ada di TKP ketika sedang siaran.


"Keadaannya lumayan parah. Kakinya patah dan mengeluarkan banyak darah. Kalau gak salah, namanya adalah Nona Janet!" jawab polisi itu.


Laras sangat terkejut mendengar nama itu. Mungkin bukan Janet yang dikenalnya.


"Apa korban itu membawa kartu identitas, pak? Mungkin ada penonton yang mengetahui siapa gadis itu!" tanya Laras lagi. Dia sengaja memastikan kecurigaannya.


"Oh, ada. Ktpnya ada di dalam tas korban. Ini kartu identitasnya!" Polisi setengah tua itu menyerahkan kartu identitas korban kepada Laras.


Alangkah terkejutnya Laras ketika melihat foto yang ada di dalam kartu itu. Dia memang Janet yang dikenalnya!


"Dimana korbannya sekarang, pak? Sepertinya saya mengenal gadis itu!"


"Oh, barusan sudah dibawa ambulance, mba!"


Laras segera mengakhiri siarannya dan berniat mencari Janet.


"Aku mau ke rumah sakit, bang. Aku kenal korban kecelakaan barusan!" ungkap Laras.


Bang Rusdy dan Harry saling pandang.


"Kami ikut, Ras. Kita juga harus menyiarkan keadaan korban itu!" sahut Bang Rusdy gak mau ketinggalan. Harry pasti ikut karena dia yang membawa kamera.

__ADS_1


Mau gak mau, Laras mengikuti kemauan Bang Rusdy yang memang seorang director lapangan. Namun, pikirannya semakin gak menentu. Jika benar Janet yang mengalami kecelakaan itu. Ada seseorang yang harus mengetahuinya. Dia adalah Aldy.


*****


__ADS_2