Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
APAKAH KAU ADALAH AYAHKU? #1


__ADS_3

Ara merasa keadaannya sudah sangat baik. Dia juga sudah mulai belajar berjalan di sekitar kamarnya.


"Kakak mau keluar sebentar, Ra. Nanti nenek yang akan menjagamu," ungkap Aldy yang harus menyelesaikan sesuatu di tempatnya bekerja. Dia tidak cerita kalau sedang ada pengurangan karyawan kepada Ara.


"Iya, kak. Sebentar lagi Ken juga datang, kok!" jawab Ara sambil tersenyum.


"Aah, Ken lagi. Kamu itu meski ga ingat dia tapi kenapa sih masih bucin aja?" tanya Aldy sedikit menggoda.


"Iiih, siapa yang bucin. Ara kan gak bisa melarang siapapun yang mau kesini!" sanggah Ara dengan muka memerah.


Aldy hanya tertawa kecil melihat ekspresi adiknya. Padahal ada sedikit iri juga di dalam hatinya.


"Ya, sudah. Kakak pergi dulu, ya. Jangan kelewatan pacarannya!" pesan Aldy serius.


"Iyaaa. Sudah pergi sana tapi hati-hati. Pasti diluar sana ada yang naksir kakak diam-diam. Kakak aja yang gak paham!" celetuk Ara.


Aldy yang sudah ingin keluar malah membalikan badannya lagi.


"Mana ada yang mau sama kakak, Ra. Jaman sekarang ini banyak cewek yang melihat laki-laki itu dari hartanya. Kakak kan cuman kuli!" jawab Aldy dengan memasang wajah sedih.


"Jangan begitu, kak. Ara yakin nanti kakak bertemu dengan wanita yang baik. Asal bukan Janet!"


Tanpa sadar, Ara menyebut nama Janet. Aah! Ara menyesal sudah mengingatkan kakaknya soal Janet.


"Sudahlah! Kakak mo pergi aja. Lama-lama disini bisa jadi tukang ngerumpi!"


Aldy langsung ngeluyur pergi. Ara hanya tersenyum sampai kakaknya itu menghilang di balik pintu. Tetapi pintunya tidak tertutup dengan rapat. Ara berjalan menuju pintu berniat untuk menutupnya.


Tiba-tiba, wajahnya berubah. Ara seperti melihat seseorang yang pernah ada di dalam mimpinya. Laki-laki berwajah cacat itu berdiri memandanginya dari kejauhan.


Ara tidak jadi menutup pintu dan membukanya lebar-lebar. Dia ingin melihat sosok itu lebih jelas. Namun, bayangannya sudah tidak kelihatan. Kemana perginya orang itu, ya???


Tanpa menunggu lama, Ara memutuskan untuk mencari sosok berwajah seram itu. Jelas tadi dia melihatnya tapi kemudian menghilang tiba-tiba.

__ADS_1


Perlahan, Ara menyusuri lorong. Memerhatikan setiap sudut dan orang-orang yang ada di sana. Namun sosok itu tidak kelihatan juga.


Tanpa terasa, Ara sudah sampai di taman. Ini adalah kedua kalinya Ara ke tempat itu. Angin sepoi mengambutnya. Membuat Ara merasakan kesegaran yang hampir terlupakan.


Aroma bunga dan dedaunan menusuk hidungnya. Membuat Ara melupakan tujuan pertamanya ke tempat itu. Dia pun terus berjalan ke tengah taman. Di sana ada bangku tepat di samping air mancur.


Sebenarnya matahari sedikit terik. Ara sengaja ke sana karena ingin merasakan hangatnya mentari. Tiba-tiba, pandangannya menjadi buram. Tubuhnya pun terasa sangat lemas membuatnya sempoyongan. Sebelum terjatuh, Ara masih sempat melihat sosok yang sedang dicarinya mendekat. Setelah itu Ara tidak sadarkan diri.


Sosok yang dilihat Ara memang ada di sana. Dia adalah Satrio. Sebenarnya, dia hanya ingin melihat keadaan Ara. Namun kepergok saat sedang berdiri di depan kamarnya. Satrio pun buru-buru pergi dan tidak tahu kalau Ara mencarinya.


Untung saja, Satrio berhenti di taman. Di sanalah, dia melihat Ara yang sedang terhuyung. Bahkan hampir saja Ara terjatuh. Untung saja Satrio sampai di saat yang tepat. Dia masih bisa menangkap tubuh putrinya sebelum sampai ke lantai.


"Tolong, tolonglah puteri saya!" teriak Satrio sambil membopong Ara. Wajahnya sudah tidak tertutup masker sehingga luka bakarnya kelihatan jelas.


"Ada apa, pak?" tanya seorang perawat laki-laki.


"Ini adalah puteri saya, namanya Ara. Dia sedang dalam perawatan dan pingsan di taman!" jelas Satrio yang tanpa ragu mengakui kalau Ara adalah puterinya.


"Baiklah, pak. Saya akan ambilkan ranjang dorong ke ruang Ugd," ucap perawat itu lagi.


Setelah sampai di ruang UDG, Ara terbaring di rajang. Lamat-lamat, Ara tersadar dan melihat sosok berwajah cacat di sampingnya.


"Apa kau adalah ayahku?" tanya Ara pelan hampir tak terdengar.


Satrio sangat terkejut ketika mendengar ucapan Ara. Sepertinya tidak perlu menutupi rahasia itu lagi.


"Ya! Aku adalah ayahmu!" jawab Satrio tanpa ragu.


Ara tersenyum, "ayah ...," ucapnya sebelum kembali terpejam.


Satrio semakin cemas. Dia takut terjadi hal buruk pada puterinya itu. Tak lama, dokter Raffi tiba dan segera memeriksa Ara. Dia juga kelihatan cemas.


Sekilas, Raffi melihat kehadiran sosok berwajah cacat di samping Ara. Dia belum pernah melihatnya di rumah sakit.

__ADS_1


"Maaf, bapak siapanya Nona Ara?" tanya Raffi setelah memeriksa keadaan Ara.


"Sa-saya adalah ayahnya, dok. Tapi puteri saya tidak tahu siapa saya. Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Satrio yang masih cemas.


Dokter Raffi terdiam. Sepertinya Ara sudah mengalami penyumbatan darah di bagian kepala. Dia harus memeriksanya lebih lanjut.


"Baiklah, pak. Saya adalah Raffi yang merawat Nona Ara. Sekarang Nona Ara memang masih pingsan. Setelah sadar, harus melakukan rangkaian tes yang lebih mendetail. Saya belum bisa memastikan penyakitnya sampai hasil tesnya sudah ada!" terang Raffi dengan cukup jelas.


Raffi tidak ingin mencampuri urusan keluarga pasiennya. Lagi pula Raffi juga sangat mencemaskan Ara. Operasi di kepalanya ternyata menyisakan efek samping yang cukup fatal.


"Maaf, dok. Tolong rahasiakan siapa saya dari Ara dan kakaknya. Jika memerlukan darah hubungi saya saja. Ini adalah nomor hape saya," ujar Satrio seraya menyerahkan secarik kertas.


Raffi segera mengambil kertas itu, "baiklah, pak. Jadi yang kemarin mendonorkan darahnya untuk Nona Ara adalah bapak?" tanyanya ingin tahu.


"Iya, dok. Untung saya datang tepat waktu. Saya titip puteri saya, dok! Tolong jaga dia," ungkap Satrio dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah tugas saya untuk menjaga semua pasien saya, pak. Namun untuk Ara, saya akan memberikan perhatian lebih. Karena Ara mengingatkan saya kepada seorang gadis kecil yang saya temui dahulu!" jelas Raffi tentang perasaannya.


"Terima kasih, dok. Masih banyak masalah yang harus saya selesaikan. Jadi, biarlah Ara tidak mengetahui siapa saya sebenarnya!" Satrio memilih tetap misterius.


Tadi Ara sempat melihat Satrio. Dia juga sudah mengakui siapa dirinya. Entahlah, apa Ara akan mengingatnya.


Tak berapa lama, Ara siuman. Dia berada di ruang yang berbeda dengan kamarnya. Namun tidak ada siapapun di dekatnya. Dia mencoba mengingat mengapa berada di ruangan itu. Namun, tak bisa mengingatnya sama sekali.


"Araa! Kamu baik-baik saja? Ini aku, Ken. Aku mencarimu ke mana-mana!" Ken muncul dengan napas terengah-engah. Dia sangat khawatir setelah tidak menemukan Ara di kamarnya.


"Keen?" tanya Ara sedikit ragu. Sepertinya ingatannya kembali terganggu.


Ken tertegun melihat ekspresi Ara yang seperti tidak mengenalnya.


"Iya, Ra. Aku, Ken. Pacar kamu!" ungkap Ken pasti.


Namun tatapan Ara menjadi berbeda. Ken takut kalau Ara tidak mengingatnya lagi.

__ADS_1


*****


__ADS_2