
Ara menyantap makan siangnya dengan lahap. Dia tak menampakan kecemasan sedikit pun.
Ken memerhatikan semua yang dilakukan Ara. Mengira kalau Ara menyimpan sebuah rahasia.
"Kenapa bengong, Ken. Makanlah! Nanti perutmu sakit," ucap Ara ketika melihat Ken hanya diam saja.
Ken tersenyum, "melihatmu aja aku sudah kenyang, Ra!"
"Eeh! Emangnya gue apaan?" seru Ara sewot.
Ken tertawa kecil. Kecemasannya langsung lenyap melihat ekspresi Ara.
"Iya, iya ... aku makan!"
Ken mulai menyantap makanannya. Walau apapun yang terjadi, Ken gak akan melepaskan Ara.
Kini, Aralah yang tertegun melihat Ken yang mulai menyantap makanannya.
"Aah, Ken. Seandainya semua baik-baik saja. Aku tidak akan pergi darimu sedikit pun!" pikir Ara.
Sehabis makan, mereka pergi ke taman. Ken menggenggam tangan Ara erat. Ara hanya menikmati adegan romantis itu dengan penuh perasaan.
Tiba-tiba, Ken merasa tenggorokannya sangat kering. Tak lama dia pun cegukan.
"Ada apa, Ken?" tanya Ara cemas.
"A-aku sepertinya kurang minum. Sebentar ya, Ra. Aku beli minuman dulu!"
Ken melepaskan tangan Ara dan bersiap untuk pergi menuju minimarket terdekat.
"Tunggu, Ken! Biar gue aja yang beli. Elo tunggu aja di sini, ya!"
Ken tak mampu mencegah Ara. Gadis itu sudah terlanjur berlari jauh. Tiba-tiba terdengar suara ban mobil berdecit kencang.
__ADS_1
Duwaaar ...
Terdengar suara keras seperti suara dentuman meriam.
Wajah Ken berubah tegang. Dia melihat keramaian di seberang jalan. Jangan, jangan ....
Ken segera berlari menuju ke tempat keramaian itu. Sebuah mobil menabrak pagar pembatas hingga terbalik. Saat itu Ara sedang menyeberang jalan.
Tubuh Ken bergetar kencang. Ara tergeletak di atas aspal dengan penuh darah.
"Ra, Ara! Bangunlah. Ini aku Ken!" panggil Ken cukup kencang. Tapi Ara diam saja.
"Gadis itu ditabrak orang tapi yang menabrak melarikan diri. Mobil box itu menghindarinya sehingga membuang stir sampai menabrak pagar!" ucap penjaga minimarket yang melihat kecelakaan itu dengan jelas.
Ken segera menggendong Ara. Dia harus membawanya ke rumahsakit secepatnya!!!
Aldy sudah puas dengan adanya berita soal kematian ayahnya. Cepat atau lambat kebenaran akan segera terungkap.
"Setelah ini apa, Al?" tanya Andre yang masih penasaran.
"Aku punya kabar kalau kasus tanah itu didalangi oleh Danuarta. Dia adalah wakil walikota sekarang! Namanya pasti akan diendus wartawan."
"Iya, pasti itu! Mereka tidak bisa menutupinya lagi!"
Tiba-tiba, hape Aldy berdering.
~~iya, aku Aldy. Kamu siapa?
~~aku, Ken. Kami ada di rumahsakit. Ara kecelakaan!
Ternyata, Ken yang sudah menghubungi Aldy.
~~Ara kecelakaan? Di mana rumah sakitnya?
__ADS_1
Andre ikut terkejut mendengar ucapan Aldy.
"Sorry, gue harus ke rumah sakit, Dre. Ken telepon katanya Ara kecelakaan!"
"Gue ikut, Al!"
Andre segera mengikuti langkah Aldy yang segera menemui Ara.
"Kak Andre!" sapa Laras ketika melihat Andre. Tapi Andre tidak menyahut dan terus saja berlari. Laras menjadi cemas. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?
*****
Ken sangat menyesal karena membiarkan Ara pergi untuk membelikannya air. Seharusnya saat itu, Ken mencegahnya agar Ara tidak sampai kecelakaan.
"Maafkan aku, Ra. Seharusnya aku yang pergi, bukan kamu!" ucap Ken di depan ruang Igd. Ken tak dapat menahan perasaannya sampai menitikkan airmata. Baru sekali ini, Ken menangis.
Dokter masih memeriksa keadaan Ara. Lukanya cukup parah dan harus dioperasi secepatnya. Ken hanya bisa berdoa agar keadaan Ara bisa kembali seperti semula.
"Dimana Ara, Ken?" Aldy muncul dengan napas terengah-engah. Dia memacu sepeda motornya seperti orang kesetanan, kemudian langsung berlari ke ruang Igd.
"Dokter masih memeriksa keadaan Ara. Mereka memerlukan keluarga untuk mengoperasinya!"
"Operasi? Aku harus menemuinya!" Aldy benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya. Dia sangat takut kehilangan Ara apalagi orangtua mereka juga sudah tiada.
Aldy segera masuk ke dalam ruangan. Sementara itu, Ken menunggu dengan penuh debar.
"Ken!" panggil Andre yang baru saja tiba. Dia membawa motor Aldy kè tempat parkir dulu. "Apa yang terjadi dengan Ara?"
Ken menoleh. Matanya masih merah menahan airmata.
"Ara sudah ditabrak mobil. Aku yang salah karena membiarkannya pergi!" jawab Ken penuh penyesalan.
Andre juga tak bisa menahan amarah. Ken seharusnya menjaga Ara.
__ADS_1
"Ya! Ini memang salahmu. Seharusnya kamu menjaga Ara!!!"
*****