
Januar, papinya Ken hanya terpaku begitu membaca biodata Ara. Hasil poling sudah keluar dan Ara yang akan mendampingi Ken sebagai duta kampus.
Arabella Purnomo adalah putri dari Satrio Purnomo!!!
Satrio Purnomo adalah mantan dosen di Universitas Nusantara. Dia meninggal dalam kecelakaan mobil bersama istrinya sepuluh tahun yang lalu.
Januar sangat mengenal Satrio. Dia memang seorang dosen namun memiliki sebuah rahasia.
*****
Sepuluh tahun yang lalu ....
"Aku gak bisa tinggal diam! Tanah ini masih jadi masalah. Suatu saat akan berbalik menjadi masalah buat kampus!" tegas Satrio.
Sebenarnya pendiri Universitas Nusantara ada tiga orang. Mereka adalah Januar, Satrio dan Rony.
Januar dan Rony adalah pemilik modal sementara Satrio adalah pakar akademis.
"Tenanglah! Masalah itu gampang. Sekarang banyak pegawai pertanahan yang bisa diajak kompromi!" ujar Rony santai.
"Iya! Tugas kau adalah mengurus izin ke lembaga pendidikan. Urusan lain biar menjadi urusan kami!" Januar juga berusaha membuat Satrio yakin.
Saat itu akhirnya Satrio memutuskan menyerahkan urusan tanah kepada Januar dan Rony. Mengira kalau semua akan baik-baik saja.
Semuanya memang baik-baik saja. Izin universitas sudah keluar dan urusan lahan sudah beres. Gedung pun dibangun dengan megahnya.
Tahun ketiga, masalah mulai muncul. Apa yang dikatakan Satrio ternyata ada benarnya. Pemilik lahan yang asli menuntut ke pengadilan. Namun, karena kekuatan uang bisa mempermainkan hasil pengadilan.
Satrio adalah orang yang idealis. Dia tidak bisa tenang karena sudah mendzolimi orang lain.
"Aku mau keluar dari kampus. Aku tidak bisa tenang jika hidup dari penderitaan orang lain! Sebaiknya kalian tobat. Aku akan bicara di kepolisian!" ungkap Satrio terakhir kali.
Januar dan Rony mulai gelisah. Apa yang diucapkan Satrio pasti akan dilakukan.
__ADS_1
"Sudahlah! Biar anak buahku yang mengatur. Kau jalankan universitas aja! Aku akan tinggal di luar negeri sampai semua masalah selesai!" terang Rony seperti biasa seperti tidak ada masalah.
Januar mempercayai ucapan Rony. Dia pun menggantikan tugas Satrio di kampus tanpa berpikiran buruk sedikit pun.
Seminggu kemudian, terdengar berita yang sangat mengejutkan. Satrio dan istrinya meninggal dalam kecelakaan. Rem mobilnya blong dan masuk ke dalam jurang.
Januar sangat terkejut, mengira kalau Rony yang sudah sengaja membuat kecelakaan itu.
"Gila, kau! Satrio meninggal dalam kecelakaan, bukan aku yang membunuhnya!"
Januar ingat benar yang dikatakan Rony. Dia sudah menanyakan di kepolisian juga dan mengatakan hal yang sama. Satrio dan istrinya meninggal karena murni kecelakaan.
Namun, sejak saat itu Rony selalu bepergian ke luar negeri. Dia seperti menghindari Januar setiap kali ingin bertemu.
*****
Januar masih memandangi bio data Ara. Dia sangat khawatir karena Ken sangat dekat dengan gadis itu.
"Gimana, Pih? Ara pintar kan? Sekarang dia magang di stasiun televisi punya Om Bahtiar, pih!" cerita Ken antusias.
Ken tertegun mendengar perkataan papihnya.
"Keluar negeri? Tidak, pih! Ken mau magang dulu di rumah sakit mamih!"
"Ken! Itu soal gampang. Kamu bisa melakukannya setelah pulang nanti!"
Ken langsung berdiri. Dia sangat tidak suka kalau papihnya mulai mengatur hidupnya.
"Ken tetap gak akan kemana-mana, pih!" ucap Ken sebelum pergi.
Januar hanya melihat kepergian Ken. Dia tahu mengapa Ken bersikap seperti itu. Pasti karena Ara!
*****
__ADS_1
"Terima kasih, kak. Sekarang hatiku sudah tenang. Aku sudah berterus terang kepada Ara!"
Laras sudah bisa tersenyum. Hatinya sangat lega.
Andre juga sangat senang melihat senyuman Laras. Namun ada sesuatu yang membuatnya sedikit cemas.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Bagaimana kuliahmu? Apa masih lancar setelah magang?"
"Semuanya lancar kok, kak. Aku lagi belajar menulis buku. Sepertinya menulis itu membuat hatiku semakin tenang!"
Andre terdiam. Hatinya semakin gelisah.
"Aku mendapat beasiswa ke UK, Ras. Setelah wisuda, aku langsung berangkat!"
Kali ini, Laras yang terdiam. Waktu mereka tidak lama lagi.
"Syukurlah, kak. Aku ikut senang. Selamat ya, kak!" ujar Laras seraya mengulurkan tangannya.
Sedikit ragu, Andre menyambut uluran tangan Laras.
"Apa kamu tidak sedih karena tidak bisa melihatku lagi? Apa kamu tidak akan merindukan aku?"
Deg! Laras merasa jantungnya berhenti berdetak. Dia pasti akan kehilangan. Cintanya layu sebelum berkembang.
"Aku pasti merindukan kakak. Tapi, kan ada hape. Pasti bisa menghubungi kakak kapan saja!"
Yang dikatakan Laras benar. Namun Andre harus memastikan sesuatu.
"Tapi, kamu akan menungguku pulang nanti kan?"
Laras menatap Andre lekat. Dia tahu apa yang dimaksudnya.
"Aku akan menunggu!"
__ADS_1
Akhirnya Andre bisa tenang begitu mendengar ucapan Laras. Dia pun menggenggam tangan Laras lebih erat. Kehadiran Laras menambah kekuatan agar bisa melangkah lebih pasti lagi.
*****