Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KABUT YANG SIRNA #3


__ADS_3

Ara merasa deburan ombak sangat menarik. Dia ingin menggapai buih bersinar seperti kristal. Namun, ketika bisa menggapai buih itu pandangannya menjadi gelap dan napasnya sesak. Perlahan air laut yang asin masuk ke dalam mulutnya tanpa bisa dicegah.


Sebentar lagi, mungkin Ara akan tiada dan menyatu dengan laut. Namun, samar dia melihat sosok laki-laki menggapai tangannya dan menariknya ke atas. Sosok tampan itu sangat dikenalnya. Dia adalah Ken, pacarnya!


"Bangunlah, Ra. Ini aku, Ken!" teriak Ken kencang. Tapi, Ara gak bisa mendengar jelas. Telinganya seperti tersumbat sesuatu yang hanya terdengar suara dengung.


Semua kisah berputar seperti sebuah film. Ara mengenal sosok Ken dan tiba-tiba sudah menjadi pacarnya. Semua terjadi sangat cepat. Kemudian sebelum kecelakaan terjadi. Ken berteriak memanggilnya. Sebuah mobil datang dan langsung menabraknya. Sekilas, Ara melihat siapa yang menyetir mobil itu. Dia adalah Janet. Ya! Ara ingat betul siapa Janet.


"Kamu gak apa-apa, Ra? Apa kamu ingat siapa aku?" tanya Ken begitu Ara siuman. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Ara. Padahal, tadi Ken sempat mendengar Ara bicara sebelum pingsan. Dia ingin memastikannya lagi.


"Ken? Kenapa gue ada disini?" tanya Ara dengan gaya bicara seperti dulu.


Ken tertegun. Sikap Ara biasa aja seperti gak terjadi apa-apa. Ken gak bisa mengungkapkan perasaannya. Ara sudah kembali! Ken ingin memeluk Ara erat dan gak akan meninggalkannya lagi. Tapi, dia tersadar kalau di ruangan itu masih ada dokter dan perawat. Kecelakaan itu ternyata malah membuat Ara kembali seperti dulu.


*****


Aldy sangat terkejut mendengar Ara hampir tenggelam di laut. Yang membuatnya semakin marah karena Ken sedang bersama Ara. Sekali lagi, Ken membuat Ara mengalami kejadian buruk.


"Kak Aldy!" Ken langsung berdiri begitu melihat Aldy muncul.


Ara sudah diperiksa dokter dan saat ini sedang ganti pakaian. Ken sendiri sampai lupa kalau pakaiannya juga basah.


"Apa yang kamu lakukan, Ken. Sudah berkali-kali aku percaya padamu tapi kamu selalu saja gak bisa menjaga Ara!" ujar Aldy dengan nada suara tinggi. Dia berusaha menahan diri namun kemarahannya meluap juga ketika melihat Ken.

__ADS_1


"Maafkan saya, kak. Ara langsung berlari ke pantai begitu turun dari mobil. Saya sudah berusaha mengejarnya. Untung saja, saya cepat membawa Ara ke tepian!" jelas Ken.


Amarah Aldy gak mereda juga meski sudah mendengar penjelasan Ken.


"Mungkin sebaiknya kamu pergi saja dan gak usah menemui Ara selamanya. Dengan begitu Ara akan baik-baik saja! Aku akan menemui Ara," ucap Aldy yang sedikit pedas.


"Tunggu, kak. Kakak harus mengetahui sesuatu!" cegah Ken.


Namun, Aldy gak mau dengar dan langsung masuk ke ruangan Ara dirawat.


Ken membiarkan Aldy yang sudah menghilang. Sepertinya, Aldy akan tahu keadaan Ara sendiri tanpa Ken beritahu.


Aldy tertegun melihat ruangan itu kosong. Sayup dia mendengar seseorang di dalam kamar mandi.


Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Seorang gadis muncul. Dia sangat mirip dengan Ara. Tapi sikap dan dandanannya berbeda.


"Ara?!" Aldy sangat terkejut setelah tersadar kalau gadis itu memang benar adiknya. Badannya masih gemetaran.


"Kak Aldy? Gimana kakak tahu kalau Ara disini?" tanya Ara yang sudah kembali seperti sebelum kecelakaan.


Apa semua yang dilihatnya itu mimpi? Aldy mencoba menepuk pipinya dan terasa sakit. Berarti sekarang bukanlah mimpi.


"Ka-kamu, Ara kan?" tanya Aldy.memastikan.

__ADS_1


Ara tertawa. Dia bukanlah gadis kecil lagi tapi seorang wanita dewasa.


"Iya lah, kak. Aku adalah Ara, adiknya Kak Aldy yang cantik!" jawab Ara disela tawanya. Bahkan Ara sudah bisa bercanda.


Tak lama Ken pun masuk. Ternyata Aldy sudah mengetahui keadaan Ara yang kembali seperti dulu.


"Maaf Kak Aldy. Sebenarnya tadi saya mau memberitahu soal Ara. Tapi Kak Aldy sudah masuk duluan!" jelas Ken.


"Emangnya ada apa sih? Kalian ini bikin Ara bingung aja. Jadi, siapa yang ngasih tahu kalau Ara disini. Apa kamu, Ken?" tanya Ara dengan sikap biasa aja seakan gak pernah terjadi sesuatu padanya.


"Iya, Ra. Aku menghubungi Kak Aldy agar gak terkejut kalau kamu pulang agak malam. Ayo, kak. Kita ngopi di depan. Biar Ara istirahat dulu!" ajak Ken. Kali ini, Aldy menurutinya tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Ara? Apa sekarang Ara sudah kembali seperti dulu?" tanya Aldy ketika sudah berada di cafe. Secangkir kopi sudah gak menarik bagi Aldy. Sekarang keadaan adiknyalah yang terpenting.


"Ketika saya membawanya ke tepi pantai, Ara dalam keadaan pingsan. Kemudian setelah tersadar, Ara sudah kembali seperti dulu. Saya sudah mengecek semuanya, kak. Ara sudah delapan puluh persen kembali. Dua puluh persennya adalah ingatannya sebagai gadis kecil jadi hilang!" jelas Ken.


"Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi, Ken. Seharusnya aku berterima kasih padamu bukannya memarahimu!" ujar Aldy yang merasa bersalah. Dia baru bisa menyeruput kopinya yang mulai dingin.


"Saya salah juga, kak. Saat itu kurang mengawasi Ara sampai hampir tenggelam. Saya gak tahu harus bagaimana kalau Ara terluka lagi!" sahut Ken yang juga sudah tenang.


"Mulai hari ini jagalah, Ara. Dia sangat membutuhkanmu!" ucap Aldy lagi. Dia sudah lebih ikhlas melepaskan adiknya.


"Iya, kak. Saya berjanji akan menjaga Ara selamanya!" Ken sudah memastikan jiwa dan raganya hanya untuk Ara.

__ADS_1


*****


__ADS_2