Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
TAKUT KEHILANGAN #1


__ADS_3

Ken terkesima melihat sosok Ara ketika sedang siaran. Dia menjadi tambah cantik. Bagaimana kalau tambah banyak cowok yang menyukai Ara?


"Siapa yang kalian bicarakan?"


Andre muncul dan penasaran dengan pembicaraan Hendrik dan Sarah.


"Ini beneran Ara kan? Kamu kan kenal Ara sejak lama!"


Hendrik menyerahkan hapenya. Andre mengamati dengan cermat. Disana ada seorang gadis yang sedang mewawancarai seorang artis cowok. Dia sangat cantik dengan rambut panjang yang lurus dan hitam. Wajahnya tak asing. Dia adalah Ara!


"Ara?"


Ken menarik napas panjang. Andre juga mengenali Ara. Dia gak begitu senang dengannya. Naluri jantannya menggelora. Persaingan dimulai!


Tanpa bicara apapun, Ken langsung keluar ruangan. Dia harus bertemu Ara secepatnya.


*****


"Kenapa kamu gak bilang kalau bukan Loly? Hadeh, sia-sia deeh kerja tangan emasku!"


Jeni sangat kesal karena Ara bukanlah reporter sebenarnya.


"Saya sudah mau bicara, tapi bapak gak mau dengar!"


Ara berusaha tenang meski badannya menjadi sangat dingin seperti di dalam kulkas.


"Aaakh! Bapak? Emangnya akyu bapakmu?!"


Muka Jeni memerah. Dari luar dia memang lelaki tapi dalamnya sangat lembut seperti jelly hihihi ....


"Kalau begini, kayaknya gue gak bisa magang disini deh, Pik. Gue kirain tadi itu mimpi indah. Otak gue bener-bener error!"


Ara sangat menyesal. Mengapa begitu naif dan mengikuti semuanya mengira hanya mimpi.


"Tapi elo emang sangat cocok jadi reporter, Ra. Gue yakin banyak yang suka dengan acara ini!"


"Yah mereka kan gak tahu kejadian sebenarnya, Pik."


Ara pesimis kalau bisa lanjut magang di sana karena kebodohannya.


Loly menjadi sangat kesal karena pekerjaannya telah diambil orang.


"Mengapa anak magang itu yang menjadi reporternya, pak? Ini adalah acaraku!"

__ADS_1


"Salahmu sendiri mengapa datang terlambat. Kalau tidak ada anak magang itu, sudah hancur acara ini!"


Ternyata director malah membela Ara.


"Lagi pula dia lumayan cantik dan cerdas. Dia memang hanya anak magang tapi bisa melaksanakan tugasnya sebagai reporter dengan sangat baik!" lanjut director.


"Tapi, pak. Besok aku akan tetap menjadi reporter disini. Aku janji gak akan telat lagi!"


"Lihat saja nanti!"


Director langsung ngeluyur pergi meninggalkan Loly yang masih naik pitam.


"Tuh liat, Ra. Bapak Directornya kesini!"


Ara cepat menoleh begitu mendengar perkataan Upik. Dilihatnya Director itu menuju ke arahnya.


"Terus gimana, Pik? Gimana kalau gue dijebloskan ke penjara?"


Ara gemetaran dan keringat dingin membasahi tangannya.


"Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan acaraku. Siapa namamu?"


Ternyata laki-laki itu tidak memarahinya.


"Besok datanglah lagi. Kalau reporternya telat, kamu masuk lagi seperti tadi!"


"Ba-baik, pak!"


Akhirnya Ara bisa bernapas lega. Sedikit lagi mimpinya menjadi reporter beneran akan terwujud.


*****


Janet sangat kesal karena Ara bisa langsung menjadi reporter. Sementara dirinya hanya menjadi duta kampus.


Seperti biasa, jika sedang emosi, Janet pasti pergi ke restoran langganannya.


"Aku mau beli makanan dulu, ya!" ucap Janet kepada supirnya.


"Restoran mana, neng?"


"Restoran yang biasa lah! Apa mamang sudah pikun?" jawab Janet ketus.


Sikapnya memang selalu seperti itu. Kesepian dan merasa ditinggalkan membuat Janet menjadi egois dan jutek.

__ADS_1


Dari kecil Janet sering ditinggal sendirian di rumahnya. Temannya hanya pembantu dan babysiter. Menjelang dewasa, Janet masih terperangkap masa kecil yang selalu mau diperhatikan semua orang.


"Mau pesan apa, Nona?"


"Aku mau .... Hei! Kamu yang ngantar makanan ke rumahku, ya?"


Pramusaji itu mendongak. Dia kelihatan sangat terkejut melihat Janet. Ternyata dia adalah Aldy!


"Oh, tukang sihir itu ya? Maaf maksud saya, kamu!"


Aldy hampir keceplosan. Pertemuan pertama tempo hari sangat tidak mengenakan.


"Ingat, ya! Kalau aku pesan lagi jangan sampai telat!"


Aldy agak risih melihat sikap Janet namun dia berusaha sabar.


"Baik, nona. Sekarang apa yang nona pesan?"


"Hhmmm! Aku pesan dua paket ayam seperti biasa. Kalau sudah jadi bawa ke mobil aku di depan, ya!"


"Tapi Nona ...."


Aldy tidak bisa menahan Janet yang sudah ngeluyur pergi.


"Kenapa, Al?"


Atasan Aldy menegur ketika melihatnya kebingungan.


"Gadis penyihir itu belum bayar, pak! Dia pesan dua paket ayam!"


"Gadis penyihir? Apa gadis yang tadi?"


Aldy langsung mengangguk.


"Oh, nona itu memang gak pernah bayar. Bapaknya kan yang punya restoran!"


"Apa? Yang punya restoran? Pantesan sikapnya begitu!"


"Ya sudah! Siapkan pesanannya dan antarkan ke tempatnya!"


Aldy menarik napas panjang. Pertempuran itu belum usai. Gadis penyihir itu untuk sementara menang.


*****

__ADS_1


__ADS_2