
Ara sudah tertidur dan neneknya datang untuk menjaga. Sementara Aldy menemui Pak Karso, polisi tua yang bisa menjawab pertanyaan yang memenuhi kepala Aldy.
"Apa benar ayahku sudah neninggal, pak?" tanya Aldy langsung setelah bertemu dengan Pak Karso.
Pak Karso menatap Aldy tajam. Sepertinya dia mulai mencurigai kemayian ayahnya.
"Aku sudah mengatakan ketika itu ayahmu masih hidup dan mengatakan tentang sebuah dokumen. Akan tetapi ketika di rumah sakit, dokter mengatakan kalau ayahmu itu sudah meninggal. Jadi, silakan kau percaya atau tidak. Karena itulah yang aku ketahui!" jawab Karso pasti. Meskipun dia tahu kalau Satrio masih hidup.
"Baiklah! Tapi, saya baru saja bertemu seorang laki-laki berwajah cacat. Dia mempunyai tanda di tangan seperti yang dimiliki oleh ayah saya. Saya sempat berpikir kalau sosok itu adalah ayah saya!" ungkap Aldy yang membicarakan tanda di tangan ayahnya.
"Banyak orang yang mempunyai tanda yang sama. Kamu tidak bisa memastikannya dengan jelas!" jelas Pak Karso yang sebisa mungkin menutupi kejadian sebenarnya.
Aldy terdiam. Dia sangat berharap kalau ayahnya masih hidup. Setelah Ara kecelakaan, dia selalu memimpikan ayahnya. Kemudian sosok berwajah cacat itu muncul. Aldy merasa kalau dia benar adalah sang ayah.
*****
Andre berada dalam posisi yang sangat sulit. Seharusnya dia senang karena besok adalah keberangkatannya ke UK untuk mendapatkan beasiswanya. Di lain sisi, Aldy harus berpisah dengan Laras dan keadaan Ara juga belum membaik.
Siang itu, Andre mencari Laras padahal jam kuliahnya sudah selesai. Seharusnya Laras menunggunya di tempat biasa di taman kampus. Namun, Laras tidak kelihatan juga.
Andre mulai gelisah. Tidak ada waktu lagi karena besok pagi harus mengejar pesawat.
Hadeh! Kemana ya Laras? Dia pasti nyesel berat kalau gak ketemu Andre lagi!
Kemudian Aldy teringat tempat pertemuannya dengan Laras. Tempatnya bersembunyi itu ada di atas gedung jika Janet mencarinya. Pasti Laras ada di sana!
Sebenarnya, Laras memang berada di atas gedung. Airmatanya tidak bisa terbendung lagi. Sepanjang kuliah dia sudah menahan air matanya agar tidak tumpah.
Laras merasa hatinya hancur berkeping-keping. Andre harus pergi padahal hanya dialah tempat Laras menumpahkan kesedihannya. Apalagi soal Ara yang juga cuman sahabat satu-satunya. Gadis itu merasa sangat kesepian dan tak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba terdengar suara kaki yang menuju ke atas gedung. Langkahnya terdengar jelas karena tempat itu sangat sepi.
Laras bersembunyi tepat di bawah tangga. Tidak ada seorang pun yang tahu tempat itu selain dirinya.
__ADS_1
Langkah kaki itu semakin dekat. Laras mengusap sisa airmata dan menahan napas. Berharap agar orang itu cepat pergi.
Akan tetapi, langkah kaki itu malah berhenti di dekat Laras. Membuat gadis itu semakin pucat.
"Aakh! Andai saja aku menemukan seorang gadis di tempat ini, pasti akan aku jadikan pacar. Soal Laras belakangan aja, dia juga belum tentu mau menjadi pacarku!"
Laras melotot begitu mendengar suara itu. Apalagi, dia menyebut namanya. Jangan-jangan, dia adalah ....
"Siapa bilang aku gak mau menjadi pacar kakak?!" ucap Laras yang langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Ternyata, orang itu adalah Andre!
Andre pura-pura terkejut ketika nelihat Laras. Padahal dia sudah tahu kalau Laras berada di sana. Makanya dia memberi umpan dengan ucapannya yang membuat Laras naik darah.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Aldy pura-pura.
Laras masih memandangi Andre tajam. Hatinya menjadi panas seperti bara api.
"Apa benar kakak mau mencari gadis lain?" tanyanya sambil berkacak pinggang.
"Hhmm, bisa jadi. Aku capek mencarimu yang selalu menghilang. Jadi, aku putuskan mencari gadis lain saja!" jawab Andre yang mengira kalau Laras akan luruh.
"Ya, sudah. Kalau memang begitu. Aku juga gak bisa memaksakan perasaan kakak!" ucap Laras sambil membalikan badannya dan berniat untuk pergi. Sementara airmatanya semakin deras mengalir.
Baru saja akan melangkah pergi, Andre sudah menahan tangannya. Laras terpaksa berhenti.
"Tunggu, Ras. Aku cuma bercanda aja, kok. Kamu kan tahu aku sangat mencintaimu!" terang andre tentang perasaannya.
Laras terdiam dan mengusap airmatanya, "apa benar, kak? Apa kakak gak bohong?" tanyanya sambil menatap Andre lekat.
"Tentu saja sangat benar sekali! Seharusnya kamu jangan meragukan hatiku!" Andre menghapus sisa airmata di pipi Laras.
Laras tersadar kalau sudah tenggelam di dalam kesedihan sehingga gak bisa berpikir jernih.
"Aakh, kamu ini seperti anak kecil saja. Berjanjilah! Jangan menangis lagi. Aku tidak akan tenang kalau kamu masih seperti ini!" ucap Andre yang langsung memeluk Laras erat.
__ADS_1
Laras hanya diam saja, dan mengangguk pelan. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Apalagi, ketika Andre mencium keningnya. Laras merasa semua kesedihan itu hilang seketika.
*****
Ara tertidur sangat nyenyak, mungkin karena meminum obat yang mengandung obat tidur. Dia tidak tahu kalau neneknya datang dan menemaninya sementara Aldy pergi.
Tiba-tiba, sosok berwajah cacat itu kembali muncul. Dia hanya berdiri di depan pintu sambil memandangi puterinya. Dia adalah Satrio yang berani datang karena tahu kalau Aldy sedang pergi.
Mak Isah yang mengira kalau yang datang adalah Aldy segera membuka matanya.
"Kamu sudah datang, Al!" ucapnya pelan. Kemudian matanya terbelalak setelah menyadari orang itu bukanlah cucunya.
Satrio sangat terkejut karena Nenek Ara terbangun dan berniat untuk pergi.
"Satrio? Apa itu kamu?"
Mak Isah sangat ingat bentuk tubuh ayahnya Ara. Karena dia adalah puteranya.
"Katakan sesuatu, Satrio. Kamu gak bisa membohongi ibu. Selama ini kamu masih hidup kan? Kamu juga yang memberikan amplop berisi uang untuk keperluan anak-anakmu!"
Sebenarnya, setahun setelah kecelakaan itu terjadi. Mak Isah menerima amplop berisi uang yang selalu diletakan di meja jualannya setiap bulan. Dia sendiri tidak pernah melihat orang yang memberikannya. Tapi, Mak Isah yakin kalau orang itu adalah puteranya.
"Ibu ...," ucap Satrio lirih. Tubuhnya gemetar. Dia sangat ingin memeluk ibu dan anak-anaknya meski tidak bisa dilakukannya.
"Iya, nak. Ibu tahu kalau kamu masih hidup. Jangan pergì lagi! Kasihan anak-anakmu."
Mak Isah segera mendekati puteranya dan memegang tangannya. Di tangan itu ada tanda hitam yang pernah dilihat Aldy.
Satrio membalikan badannya, "maafkan Satrio, bu. Satrio sudah mati ketika kecelakaan itu terjadi. Lihatlah, wajahku! Sekarang aku hanyalah monster."
Mak Isah langsung menangis melihat wajah Satrio yang dipenuhi luka bakar.
Dengan tangan gemetar, Mak Isah memegang luka di wajah puteranya, "apapun yang terjadi, kamu adalah putera ibu. Ayah dari anak-anakmu. Kembalilah dan jangan pergi lagi!"
__ADS_1
Ibu dan anak itu pun berpelukan dan melampiaskan semua kesedihan dan kerinduan yang menjadi satu. Seorang ibu tidak akan melupakan anaknya meski sudah menjadi monster. Seorang anak tidak akan bisa berbohong di depan ibunya sendiri.
*****