
Saat itu, Ken mengikuti perlombaan model remaja ketika masih SMA. Ada beberapa orang finalis selain dirinya. Pandangannya selalu tertuju kepada finalis perempuan yang selalu ceria dengan senyuman yang memesona.
Beberapa kali, Ken kepergok mencuri pandang ke arah gadis itu.
"Hai, kenalkan namaku Lola Angelina. Tapi panggil aku Loly aja!"
Loly mengulurkan tangannya. Sedikit ragu, Ken membalasnya.
"Aku Kenzo Damara! Panggil aku Ken."
Loly memberikan senyuman yang sangat manis. Ken tak akan melupakan senyuman itu.
Semenjak itu, mereka selalu berdua. Sampai akhirnya pengumuman model yang dimenangkan Ken. Sayang, Loly hanya pemenang harapan.
Loly menangis karena harapannya menang sudah kandas. Ken berusaha menghiburnya.
"Tenanglah, mungkin ditempat lain kamu akan memang!"
Loly menyeka airmatanya.
"Aku ingin menang karena ada hadiah beasiswa keluar negeri. Makanya aku sangat berharap bisa menang juara satu!" ungkap Loly.
"Aku yakin akan ada kesempatan lain. Bagaimana kalau hadiahku untukmu saja!"
Ken baru ingat sebagai juara satu, pasti mendapatkan hadiah beasiswa itu.
"Ken?"
Loly gak percaya Ken akan mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Aku kurang minat di dalam dunia modeling. Aku mau melanjutkan kuliah di kedokteran! Hhmm, aku akan bilang omku yang punya management perlombaan modelnya. Aku yakin kamu bisa mendapatkan beasiswa itu!"
Akhirnya Loly bisa mendapatkan beasiswa itu karena Ken yang memintanya. Waktunya memang hanya setahun di negara perancis. Namun, Ken gak bisa menunggu lebih lama.
Tiga bulan kemudian, Ken menyusul Loly ke perancis. Dia berniat akan menembak Loly disana.
Namun begitu sampai, Loly sudah mempunyai pacar orang perancis. Tentu saja membuat Ken patah hati. Membuatnya menutup hati dan sinis kepada wanita cantik.
Ken mulai membuka hatinya ketika melihat Ara. Penampilannya biasa dan tak begitu cantik. Dia selalu saja dibully namun tidak pernah marah atau sedih. Dia selalu ceria dan apa adanya. Bagi Ken, itulah cantik sebenarnya.
"Hei, Ken! Kenapa bengong begitu?"
Suara Om Bahtiar membuyarkan lamunan Ken.
"Aakh, engga kok, om!"
"Aku tahu sebabnya. Itu karena ada Lola, kan?"
"Aku jadi ingat waktu kamu memohon agar hadiah beasiswamu diberikan untuk Lola. Bahkan kamu sampai berlinang airmata!"
Ken terbelalak. Ternyata Om Bahtiar masih ingat kejadian itu.
"Aku malah lupa soal itu om."
"Memang seperti itulah kalau cowok bucin, nyawapun akan diberikan!"
"Om! Itu kan masalalu. Sekarang aku sudah punya Ara. Dia jauh lebih baik dari Loly!"
Ken berkeras pada keyakinannya.
__ADS_1
"Apa kamu yakin, Ken? Aku melihat Ara itu seperti berlian yang tertutup lumpur. Jika dia sudah bersinar, apa masih bisa melihatmu seperti sekarang?"
"Tentu aja, om. Siapa sih yang akan berpaling jika ada aku. Apalagi Ara, aku yakin kami tidak akan terpisah hanya masalah seperti itu!"
Ken langsung berdiri dan berbicara dengan berapi-api. Dia sangat yakin Ara bukanlah gadis seperti Loly.
*****
Ara memang jadi gak konsen, apalagi teringat Ken dan Lola sangat akrab. Lola adalah gadis modern yang cantik, enerjik dan pintar. Dia sangat pantas bersanding dengan Ken. Lalu bagaimana jika dengan Ara? Entahlah ....
"Hei, gadis hutan! Mengapa bengong begitu?"
Ara sangat terkejut mendengar suara Jeni. Dia memang sedang melihat Lola yang sedang siaran. Tapi pikirannya melayang entah kemana.
"Gak bengong, kok. Bapak aja yang bikin kaget saya!"
"Apa? Bapak lagi, bapak lagi! Hei, aku ini cowok cantik. Panggil namaku aja. Jeni!"
"Oke, Kak Jeni!"
"Ya begitu, lumayanlah! Aku perlu seorang model untuk iklan. Tapi wajah kamu gak keliatan. Mau gak?"
"Model? Aku gak bisa, Kak. Aku bukan fotogenic!"
"Aah, itu bisa diatur! Ayo, ikut aku!"
Jeni langsung menarik tangan Ara yang gak bisa menolak lagi.
Hadeh! Gimana jadinya kalau Ara jadi model ya???
__ADS_1
*****