
Ara masih aja bengong. Dia hanya berdiri tertegun melihat bayangannya di cermin. Apa benar ini Ara???
"Hhmm, kamu jadi cantik kan, say? Sudahlah! Cepat ke stage tuh artisnya sudah menunggu!"
"Apaan stage? Artis siapa?"
Ara masih menanyakan hal yang sangat membingungkan.
"Aakh, sudahlah! Jangan pura-pura lupa, ya. Artisnya itu Boy Sandy! Artis yang lagi viraal!"
Jeni langsung menarik tangan Ara.
"Ingat, ya! Ini adalah siaran langsung. Jangan kasih pertanyaan yang aneh-aneh!" pesan laki-laki setengah baya itu yang ternyata seorang director.
Waduh! Harus pasang alarm nich. Perasaan Ara baru mau ngelamar magang, kok udah siaran aja!!!
Ara hanya tersenyum. Ini pasti sebuah mimpi indah. Dia memang sangat ingin menjadi penyiar. Ternyata keinginannya itu dikabulkan meski hanya dalam mimpi.
Dengan penuh keyakinan Ara memasuki ruang siaran. Boy Sandy artis yang sedang viral tengah menunggunya. Walaupun hanya di dalam mimpi, Ara akan melakukan tugasnya dengan baik.
*****
Ken hampir putus asa karena gak menemukan Ara di kampus. Sudah itu harus bertemu dengan Janet di ruang admin sebagai duta kampus.
"Berhubung ada yang mengajukan ide untuk melakukan pemilihan langsung kepada para mahasiswa. Untuk sementara tugas kalian sebagai duta kampus diundur dulu sampai menemukan kandidat yang fix!" jelas Hendrik.
"Apa? Diundur? Pemilihan langsung? Apa kalian gak nyadar. Aku dan Ken sudah paling terbaik di kampus ini! Siapa lagi yang bisa mengalahkan kami?"
__ADS_1
Janet sangat terkejut dengan pemberitahuan itu.
"Maaf, itu untuk menghilangkan pembicaraan kalau kami sudah pilih kasih. Kalian berdua adalah anak pemilik kampus. Jadi akan dilakukan pemilihan ulang dengan kandidat dari mahasiswa lainnya!"
"Aku gak percaya! Pokoknya aku dan Ken yang fix jadi duta kampus!"
Janet benar benar berang.
Sementara Ken tersenyum puas. Dia berjanji siapapun yang dipilih akan didukung meskipun bukan Ara yang penting bukan Janet.
"Pak Hendrik! Coba bapak lihat siaran langsung di stasiun tv di internet. Apa benar penyiarnya adalah Ara, mahasiswa disini?"
Seorang perempuan mendekati Hendrik dan menyebutkan nama Ara.
"Ara? Apa benar dia jadi penyiar? Bukannya izin magangnya baru keluar?"
Janet juga melakukan hal yang sama. Dia menebak kalau itu cuma hoax aja. Mana mungkin gadis butek kayak Ara bisa jadi penyiar???
Ken melihat reporter itu lebih jelas. Dia mempunyai penampilam yang sangat cantik dan rapih. Rambutnya lurus dan tertata. Wajahnya memang sangat mirip Ara.
"Ara???"
Ken tersadar ketika melihat reporter itu tertawa. Dia benar-benar Ara!!!
*****
Ara melakukan tugasnya dengan sangat baik seperti seorang reporter senior. Bahkan director memberi jempol dari jauh.
__ADS_1
Tiba-tiba, seorang gadis cantik muncul dengan napas terengah-engah.
"Maaf, pak! Aku terlambat. Tadi macet benar!"
Director langsung menoleh.
"Kamu siapa?"
"Aku Lola angelina, pak. Reporter acara disini!"
Director itu tertegun.
"Lalu, dia siapa?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Ara yang masih melakukan siaran.
Upik sampai juga ke ruang siaran. Dia tertegun melihat Ara di sana. Anehnya penampilannya sangat berbeda.
Ara bisa bernapas lega. Acara siaran itu berlangsung lancar. Mimpinya benar-benar indah. Dia malah enggan terbangun dan kembali ke dunia nyata.
Setelah selesai siaran, dia baru melihat Upik dan segera menghampirinya.
"Gue sangat senang, Pik. Mimpi ini sangat indah!"
"Mimpi? Woy sadarlah, Ra. Elo itu siaran beneran!"
Ara tertegun. Bukan mimpi? Apa tadi dia siaran beneran. Araaa! Bangun!!!
*****
__ADS_1