
Suasana di perpustakaan selalu sama. Sunyi dan sepi. Laras menyukai tempat itu sejak pertama masuk kuliah.
Entah bagaimana mulanya Laras bisa berubah menjadi Upik Abu, pelayan Janet. Mungkin, dari perpustakaan itu pertama kalinya Laras merasa ingin menjadi salah satu teman Janet. Tapi bukan pelayan!
"Aku duduk di sini, ya!"
Laras sedikit terkejut ketika Andre muncul dan langsung duduk di sebelahnya.
"Banyak bangku kosong, kenapa duduk di sini, pak? Eeh, kak?"
Laras langsung salting deh!
"Karena ada kamu di sini!"
Tak perlu waktu lama bagi Andre untuk menjawab pertanyaan Laras.
Laras terdiam. Masih banyak pertanyaan di dalam kepalanya.
"Mengapa mau duduk di dekatku?" tanya Laras lagi dengan sangat pelan.
Andre tersenyum.
"Karena aku suka kamu apa adanya," jawab Andre meladeni setiap pertanyaan Laras.
"Mengapa suka sama aku?"
Laras menutup wajahnya dengan buku. Berharap Andre tidak melihat wajahnya yang memerah.
"Karena kamu cantik dan baik hati!"
Laras terdiam. Ada yang salah dengan jawaban Andre barusan.
"Aku bukan orang baik. Bahkan aku sama jahatnya dengan Janet!" ungkap Laras. Menyadari dirinya sudah banyak melakukan kesalahan apalagi kepada Ara.
"Itu karena kamu salah memilih teman. Pada dasarnya hatimu seputih salju. Kamu hanya harus ikuti kata hatimu," jelas Andre sambil menatap Laras lekat.
Laras mendongak. Hatinya menjadi tenang begitu melihat senyuman Andre. Laras pun ikut tersenyum.
"Tuh kan, senyumanmu manis sekali!"
"Kak Andre! Malu aah, nanti ada yang dengar," bisik Laras.
"Kenapa malu? Aku bicara fakta, kok!"
__ADS_1
Laras tetap saja menyembunyikan wajahnya di balik buku.
Andre semakin geregetan. Laras! Kamu unyu banget sih!!!
*****
"Ra, ada yang mau gue omongin!"
Akhirnya Laras mendapatkan keberanian untuk berterus terang kepada Ara.
"Kenapa Ras?"
Laras mengatur napas agar bisa menambah keberanian di hatinya.
"Gue minta maaf, Ra. Gue banyak salah sama elo. Selama gue gabung sama Janet udah sering nyakitin elo. Termasuk ..., peristiwa pot kembang yang jatuh dan hampir menimpa elo. Sebenarnya gue yang dorong, Ra," jelas Laras.
Mata Laras berkaca-kaca. Dia sangat menyesal karena Ara banyak menderita.
Ara menatap Laras lekat. Sama sekali tidak nampak kemarahan.
"Gue udah tahu, Ras. Lagipula, itu kan karena elo disuruh sama Janet!"
Laras sangat terkejut mendengar ucapan Ara. Ternyata selama ini, Ara mengetahui ulahnya.
Air mata mulai menetes di pipi Laras.
"Gue sangat menyesal karena sudah melakukan hal buruk itu. Maafin gue ya, Ra!"
Tangis Laras pecah. Ara segera memeluk sahabat karibnya itu.
"Sudahlah, Ras. Dulu elo kan cuman salah pergaulan. Gue tahu sebenarnya elo baik, kok!" bisik Ara.
Hati Laras langsung menjadi tenang. Dia tahu Ara sangat baik dan mau memaafkan. Hanya Laras saja yang belum berani mengakui kesalahannya.
"Gue malah lagi cemas sama kakak gue. Ternyata, Kak Aldy kerja di restoran punya orangtuanya Janet. Gue rasa, Kak Aldy juga kena bully Janet!"
Ara jadi teringat kakaknya. Berharap Aldy bisa mengendalikan Janet seperti janjinya.
"Kayaknya Janet suka sama kakak loe, Ra!" celetuk Laras seraya menghapus airmatanya.
Ara melotot begitu mendengar ucapan Laras.
"Apa? Janet suka sama Kak Aldy?"
__ADS_1
"Iya! Gue dengar dari Sisi dan Dea. Sekarang Janet jarang ngumpul sama mereka. Malah sering makan-makan sendiri dan gak ngundang mereka lagi. Mungkin karena sudah ada Kak Aldy jadi sifat Janet berubah!"
Ara hanya diam saja mendengar cerita Laras. Entah bagaimana kalau Kak Aldy bener jadian sama Janet. Hadeh! Bahaya juga itu!!!
*****
"Aldy! Non Janet minta anterin pesanannya setelah kerjaanmu selesai. Katanya gak usah pake seragam kerja! Cie, ciee ... kayaknya ada yang mau nembak nih!" ledek atasan Aldy.
Muka Aldy langsung panas, begitu juga hatinya.
"Hadeh, pak! Kemarin aja di kampus, dia sudah bikin panas hati. Gimana mau jadian sama nenek sihir itu?"
"Eeh, Non Janet itu kan cantik juga, Al. Itu karena kesepian yang membuatnya jadi gadis sombong dan angkuh. Ayo, semangat! Aku dukung kamu seribu persen!"
Aldy hanya menarik napas panjang. Berusaha menenangkan hatinya sebelum menemui Janet.
Yang dikatakan atasannya memang benar. Sebenarnya Janet itu cantik, blasteran chinese dan indonesia. Namun sifatnya yang sangat menyebalkan!
Jam delapan, Aldy sudah sampai di rumah Janet. Seperti permintaan Janet, Aldy sudah melepaskan seragam kerjanya.
"Kenapa lama bener datengnya, sih?"
Seperti biasa sambutan Janet sangat tidak menyenangkan. Aldy langsung ilfill.
"Agak macet tadi, Non. Ini pesananya. Maaf saya mau pergi!"
Aldy meletakan pesanan Janet di atas meja dan berniat langsung pergi.
"Siapa bilang kamu boleh pergi? Ayo ikut denganku!"
Aldy melotot ketika Janet langsung menarik tangannya menuju keluar rumah. Janet berhenti di salah satu mobil mewah yang terparkir di garasi.
"Kamu bisa nyetir, kan? Antarkan aku ke mall! Ada yang mau aku beli."
"Apa? Mall? Nyetir? Maaf, non. Saya gak bisa nyetir!"
Aldy berusaha mencari alasan. Sebenarnya dia bisa menyetir mobil.
"Ya, sudah! Kali ini aku yang nyetir. Besok kamu yang nyetir, ya!"
Apa? Besok? Hadeh! Aldy langsung kliyengan.
*****
__ADS_1