Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KEPASTIAN CINTA #1


__ADS_3

Ara menatap Ken penuh arti. Pengakuan Ken membuat kepastian cintanya semakin nyata.


"Maafkan aku, Ken. Aku memang merasa kalau kamu adalah pacarku. Tapi ..., aku belum bisa mengingat semuanya. Apa kamu mau sabar menunggu?" tanya Ara memastikan.


Ken tersenyum dan berjongkok di depan Ara yang duduk di kursi roda, "aku akan selalu ada di dekat kamu, Ra. Percayalah, aku akan menunggu sampai kamu bisa mengingat semuanya!" tegas Ken seraya menggenggam tangan Ara erat.


Akhirnya Ara merasa lega. Dia sudah memastikan hubungannya dengan Ken. Ingatannya memang masih buram. Setidaknya, kehadiran Ken membuatnya lebih bersemangat.


Hari itu semakin cerah. Ken cukup lama menemani Ara di taman. Mereka mulai bisa bicara lebih santai. Ken menceritakan tentang perasaannya ketika bertemu Ara pertama kali.


"Ayolah, Ken. Aku ingin tahu mengapa kamu mau pacaran sama aku!" pinta Ara antusias.


Ken hanya tertawa kecil. Sebenarnya dia masih malu menceritakan saat itu. Tapi, Ara memang harus tahu kejadian sebenarnya.


"Sebenarnya, aku menyukaimu sejak kamu pertama masuk kuliah. Aku selalu memerhatikanmu dari jauh ketika orientasi ...."


Ken mulai mengingat ketika pertama kali melihat Ara. Gadis cupu dengan rambut mengembang bak singa. Saat itu Ken belum tahu nama Ara.


"Aku melihat kamu selalu saja dibully Janet dan kawan-kawannya. Anehnya kamu gak pernah marah dan selalu tersenyum. Aku kagum padamu bisa sesabar itu. Bahkan, sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu, Ra." Ken melanjutkan ceritanya.


Ara terdiam ketika mendengar nama Janet. Ingatannya kembali ketika kecelakaan itu terjadi. Dia masih ingat melihat Janet di belakang kemudi mobil yang sudah menabraknya.


"Janet! Sepertinya aku melihatnya di dalam mobil yang sudah menabrakku! Tapi, aku gak yakin," ucap Ara pelan sambil memejamkan mata. Kepalanya selalu pusing jika dipaksa mengingat sesuatu.


"Benarkan begitu, Ra. Jadi benar kalau Janet yang sudah menabrak kamu. Soalnya aku juga mendengar kamu menyebut namanya sebelum tak sadarkan diri!" ungkap Ken.


"Iya, Ken. Aku sempat melihatnya sebelum mobil itu menabrakku. Aakh! Kepalaku sakit sekali," ujar Ara seraya memegang kepalanya.

__ADS_1


Ken tidak tega melihat Ara seperti itu, "sudahlah, Ra. Nanti juga ingatanmu kembali. Jangan terlalu dipaksakan," kata Ken khawatir.


Ara memang tidak bisa memaksakan otaknya untuk mengingat semuanya. Sepertinya ada sebuah jarum yang masih menancap di kepalanya. Membuat Ara merasakan sangat kesakitan.


"Sebaiknya kita ke kamarmu aja, Ra!" Ken segera mendorong kursi roda yang diduduki Ara.


Ara tidak membantah dan hanya menuruti Ken. Dia pun memejamkan mata agar kepalanya tidak terlalu sakit.


Di tempat yang agak jauh. Laki-laki berwajah cacat memerhatikan Ara dan Ken. Sepertinya, dia tidak menyukai kedekatan mereka. Dia harus memisahkan keduanya!


*****


"Laraaas!" panggil Sisi dan Dea ketika Laras berada di halte.


Laras terpaksa tidak jadi naik bus ketika melihat keduanya berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Laras sedikit ketus. Dia teringat perlakuan Sisi dan Dea ketika masih ada Janet.


Laras menggeleng, "gue gak tahu!" jawab Laras singkat. Sebenarnya, Laras hanya pura-pura saja. Ken sudah mengatakan soal Janet sebelumnya.


"Sikap Janet jadi aneh, Ras. Sepertinya dia sudah melakukan hal buruk!" ujar Dea juga.


"Aku gak ketemu Janet lagi!" ungkap Laras lagi.


Sisi dan Dea menyadari sikap dingin Laras. Mereka pun saling pandang dan memberikan kode.


"Sebenarnya, gue sama Dea mau minta maaf, Las. Akhirnya kami baru sadar kalau gak ada perlunya dekat dengan Janet. Makanya kami mutusin untuk menjadikan kamu idola kami yang baru!" jelas Sisi dengan nada suara rendah.

__ADS_1


Namun, Laras sudah kapok dengan keduanya. Dia tahu yang sering manas-manasin Janet selama ini adalah mereka berdua.


"Sorry, ya. Sebaiknya kalian cari orang lain aja. Gue lebih baik sendiri aja sekarang!" jawab Laras masih dingin.


Sisi dan Dea kembali saling pandang, "jangan begitu, Ras. Kami janji gak melakukan hal buruk lagi, deh!" kata Sisi lagi.


"Kalian memang seharusnya tidak melakukan hal buruk kepada siapapun. Bukan karena gue tapi untuk diri kalian sendiri. Semua pasti ada karmanya. Apa yang kalian tanam itulah yang akan kalian tuai!"


Tiba-tiba, Laras menjadi pujangga. Dia hanya berusaha menahan diri.


"Baiklah, Ras. Kami akan melakukan apa yang elo katakan. Sekali lagi, maafkan kami ya!" ungkap Dea. Sisi juga langsung mengangguk.


Laras sebenarnya masih menyimpan amarah kepada Janet dan anak buahnya. Mereka selalu melakukan hal buruk kepada orang lain terutama kepada Ara dan dirinya. Tapi Laras tidak ingin terus menerus memikirkan mereka.


Hampir satu jam berlalu. Laras harus ke rumah sakit untuk menemani Ara karena neneknya harus istirahat. Kak Aldy harus kerja lembur untuk menebus liburnya kemarin.


Tiba-tiba sebuah motor berhenti di hadapannya. Laras mengenali siapa laki-laki yang mengendarai motor itu.


"Kak Andre," ucap Laras begitu melihat Andre membuka kaca helmnya.


"Kamu mau pulang, Ras. Aku akan mengantarmu," ucap Andre .


Laras menggeleng, "gak, kak. Aku akan menemani Ara malam ini. Soalnya Kak Aldy lembur sampai malam," jawabnya.


"Ya, sudah. Naiklah! Aku akan mengantarmu ke rumah sakit!" Andre menyodorkan sebuah helm kepada Laras.


Laras pun segera menaiki motor Andre setelah memakai helmnya. Laras senang, Andre selalu ada disaat membutuhkannya.

__ADS_1


Sementara Andre merasa sedikit sedih. Saat perpisahan semakin dekat. Dia harus ke luar negeri karena beasiswa yang didapatnya.


*****


__ADS_2