
Dokter Raffi menunggu kedatangan Ara dengan penuh debar. Setelah tiga tahun perasaan itu semakin berkembang. Dia bukan lagi melihat Ara sebagai pasien. Tetapi sesuatu yang membuat jantungnya berdegup.
"Pak dokteeer, Ara dataaang!" teriak Ara yang baru saja muncul. Dia langsung berlari ke arah dokter Raffi dan bergerayut di lehernya. Tingkah Ara memang seperti gadis kecil. Dia tidak bisa memikirkan sikapnya baik atau tidak.
Mak Isah memilih menunggu Ara di luar. Dia selalu tidak enak dengan sikap Ara meski dokter Raffi gak pernah marah.
"Apa kabar, Ra? Bagaimana dengan Buddy? Apa dia menyusahkanmu?" sahut dokter Raffi yang menanyakan boneka jari pemberiannya dulu. Dia mengalihkan perhatian Ara padahal hatinya sendiri yang gak menentu.
Tiba-tiba, Ara diam. Raut wajahnya menjadi sedih.
"Maaf, Pak dokter. Kenapa yang ditanyain bukannya Ara? Kemarin Buddy terjatuh ke selokan lalu Ara mandikan aja. Tapi, Buddy malah rusak. Kasihan dia," jelas Ara dengan mata yang mulai basah. Dia agak ngambek sekaligus sedih juga.
"Jangan menangis, Ara. Aku juga selalu menunggu kamu. Bagaimana kalau kita mencari buddy yang baru besok. Kebetulan aku libur. Apa kamu mau?" cetus Raffi. Dia lupa padahal sudah ada janji dengan Irena.
"Asyiiik! Tentu aja, Ara mau Pak dokter," ujar Ara yang ceria kembali. Dia segeta menghapus matanya yang terlanjut basah.
Raffi tersenyum melihat Ara melupakan kesedihannya. Seharusnya, Ara sudah mendapatkan ingatannya kembali. Entah mengapa, tak ada kenangan sedikitpun yang diingatnya.
"Oh, iya. Nanti Ara mau sekolah. Kata Bu dokter, Ara boleh belajar sampai ke tinggi langit. Tapi, Ara bingung bagaimana naiknya, ya?" tanya Ara lugu.
Raffi tertawa kecil, "apa kamu mau aku mengantarmu. Aku kan cukup tinggi untuk menyentuh langit!"
Mata Ara langsung berbinar, "Ara mau pak dokter!" ucapnya langsung melompat kegirangan.
"Tapi, kamu harus janji dulu. Kalau di luar rumah sakit jangan panggil aku dokter, ya" pinta Raffi yang sejak lama diinginkannya.
Ara terdiam. Dia mencari panggilan yang sesuai untuk dokter Raffi. "Trus, Ara harus manggil apa?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau kakak aja. Aku kan masih single!" cetus Raffi.
Ara langsung tersenyum, "iya. Ara panggil kakak aja. Hhmm, Kak Raffi!" celetuk Ara yang langsung menyebut panggilan barunya.
"Nah! Itu kan lebih enak!" sahut Raffi yang tersenyum puas.
Kesepakatan itu pun terjadi. Raffi sangat senang karena akhirnya melepas panggilan yang selama ini sangat tidak mengenakkan.
*****
"Apa dokter Raffi ada? Kami ada janji untuk makan siang?" tanya dokter Irena kepada perawat yang berjaga di kantor Raffi.
"Maaf, dok. Kan hari ini dokter Raffi sedang libur," jawab perawat itu yang heran karena dokter Irena gak mengetahuinya.
"Libur? Kenapa dia gak bilang aku, ya? Apa kamu tahu kemana dokter Raffi?" Irena berniat menyusul Raffi kalau memang ada di rumahnya.
"Ee anu, dok. Kemarin sih saya dengar kalau dokter Raffi mengajak Nona Ara ke suatu tempat!" jawab perawat itu sedikit ragu.
Lagi-lagi, dokter Raffi bersama Ara. Irena mulai berpikir kalau dokter Raffi memperlakukan Ara bukan sebagai pasiennya saja tapi lebih dari itu. Jangan-jangan ... dokter Raffi menyukai Ara!!!
Saat ini, Raffi memang sedang bersama Ara di tempat hiburan. Dia mengatakan akan membelikan boneka yang baru. Tapi, alasan utamanya adalah ingin mengajak Ara jalan-jalan berdua saja.
Ara sangat senang berada di tempat hiburan itu. Dia selalu berlarian ke sana kemari tanpa rasa takut, padahal banyak orang di sana.
Raffilah yang selalu mencemaskan Ara. Dia takut kalau Ara menghilang dan tersesat. Makanya dia segaja menggenggam tangan Ara terus menerus. Membuat jantungnya berdegup tanpa henti.
Sebagai dokter, Raffi tidak tahu apa yang dialaminya. Dia tidak sedang demam atau pun sakit kepala. Tekanan darahnya juga normal.
__ADS_1
"Ayo, kak! Kita ke sana. Ara lihat ada boneka mirip Buddy tapi tubuhnya besar!" cetus Ara sambil menunjuk ke kedai boneka. Dia pun melepaskan pegangan tangan Raffi dan langsung berlari.
Raffi sangat kaget ketika pegangan tangan Ara terlepas. Dia pun langsung mengejar Ara. Tiba-tiba, seseorang muncul di depan Raffi. Spontan saja, mereka pun bertabrakan.
"Maaf, saya lagi buru-buru!" sungut Raffi seraya mengambil tas Ara yang terjatuh.
"Dokter Raffi?"
Raffi mendengar orang itu memanggil namanya. Alangkah terkejutnya Raffi ketika sadar kalau orang yang ada di depannya adalah ken! Di sebelahnya ada seorang gadis cantik berwajah bule dan berambut pirang.
"Ken?" tanya Raffi gak percaya. Setahunya Ken sedang berada di luar negeri. Dia segera mencari Ara namun dia gak kelihatan lagi.
"Iya, dok. Apa kabar?" tegur Ken sambil mengulurkan tangannya.
"Kabar baik, Ken. Maaf, saya sedang mencari adik saya. Takutnya dia tersesat!" ucap Raffi sebelum pergi.
Ken hanya diam saja melihat kepergian dokter Raffi. Dia memang kelihatan cemas dan terburu-buru. Sebuah tas anak-anak berada di tangannya. Mungkin adiknya masih kecil.
Dari jauh, Ken melihat dokter Raffi sedang bersama seseorang. Ken gak bisa melihat jelas. Wajah gadis itu juga tidak kelihatan. Tapi, mengapa dokter Raffi membawa tas anak kecil padahal dia lagi bersama seorang gadis?
"Kamu kenal orang itu, Ken?" tanya Jessica. Ternyata, meskipun dia bule tapi bahasa indonesianya cukup lancar. Dia adalah sepupu Ken. Selama di luar negeri, Ken tinggal bersama keluarganya.
"Iya. Dia seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan mami. Dia pernah merawat seseorang yang aku kenal juga!" jawab Ken.
"Hhmmm, mengapa kamu malah bekerja di luar negeri? Bukankah bisa bekerja di sini?" tanya Jessica lagi.
"Sesuatu pernah terjadi. Lebih baik aku di luar negeri daripada hal buruk kembali terjadi. Ayolah kita pergi saja!" ajak Ken. Dia gak mau mengingat hal yang menyedihkan lagi.
__ADS_1
Sebenarnya, Raffi sengaja menghindari Ken. Dia gak tahu apa yang terjadi kalau ken tahu kalau Ara sedang bersamanya. Raffi juga gak tahu bagaimana reaksi Ara kalau bertemu dengan Ken lagi. Entah mengapa Raffi merasa takut kalau Ara akan mengingat semuanya dan kembali bersama Ken!
*****