
Perlahan Laras menyalakan hape Ara. Baterainya sudah penuh setelah dicas beberapa lama. Hatinya penuh debar. Berharap tidak ada hal buruk di dalam hape itu.
Terdengar suara ratusan notif pesan yang terkirim dalam waktu lama. Laras menatap layar hape Ara dengan cermat.
Sementara Ara juga menunggu Laras dengan antusias. Dia sama sekali gak mengerti dengan benda itu.
"Apa ada pesan buat Ara, Kak Laras?" tanya Ara begitu melihat Laras hanya diam saja.
Laras terkejut mendengar suara Ara. Notif pesan di hape Ara baru saja berhenti. Di sana ada beberapa orang yang mengirimkan pesan termasuk dari Laras. Namun, ada banyak pesan yang dikirimkan Ara untuk Ken tapi gak dijawab. Ada apa dengan Ken? Mengapa gak menghiraukan Ara dan mengapa sekarang kembali lagi?
"Ada apa, Kak? Apa ada sesuatu yang buruk?" tanya Ara ketika Laras gak mengeluarkan sepatah katapun.
"Aakh, tidak. Aku hanya terlalu serius membaca pesan-pesan di hape kamu ini! Lihatlah, aku mengirimkan banyak pesan untukmu!" ungkap Laras seraya menunjukkan pesan yang dia kirim dulu.
Ara melihat layar hapenya dengan saksama. Banyak tulisan di sana meski Ara gak mengerti maksudnya.
"Ara gak ingat mengapa hape Ara bisa mati. Seharusnya Ara bisa menjawab semua pesan itu dengan cepat. Maafkan Ara ya, kak!" ucap Ara dengan penuh penyesalan.
Laras sedikit bingung bagaimana memberitahukan Ara soal Ken. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
"Iya, Ra. Aku ngerti kok. Bagaimana kalau kita lihat foto? Pasti banyak foto kita di kampus!" ujar Laras mengalihkan perhatian. Dia pun membuka galeri yang menyimpan banyak foto.
"Iya, kak. Ara ingin tahu bagaimana Ara dulu!" Wajah Ara kembali bersinar. Dia sangat antusias untuk melihat dirinya yang dahulu.
Laras pun membuka foto di hape Ara satu demi satu. Ternyata, di sana lebih banyak foto Ara dengan Ken.
"Ini, Ra. Kamu bisa melihatnya sendiri. Ini banyak fotomu dengan Ken juga." Laras menyerahkan hape itu kepada Ara. Dia tidak bisa berkata apapun ketika melihat foto Ara dan Ken yang sangat dekat. Mungkin Ara bisa mengingatnya setelah melihat foto itu.
Ara mengamati foto itu lekat. Dia melihat seorang gadis cupu berambut keriting dan berwajah penuh bekas jerawat. Di sebelahnya ada seorang cowok ganteng dengan senyuman mengembang. Ara pernah melihat cowok itu. Dia adalah dokter Ken!
"Jadi, benar kalau dulu Ara dan dokter Ken sangat dekat? Tapi mengapa baru sekarang dokter Ken muncul? Seharusnya, dia selalu ada di dekat Ara seperti dokter Raffi!"
Laras hanya diam saja. Berusaha menguntai kata-kata agar Ara bisa mengerti.
"Dokter Ken keluar negeri untuk melanjutkan kuliahnya di sana, Ra. Dia juga bekerja di salah satu rumah sakit jadi belum sempat menemui kamu. Sama seperti aku juga. Aku sibuk kuliah dan bekerja. Maafkan kalau aku juga gak menemuimu!" jelas Laras yang malah mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Gak apa-apa, kok. Ara ngerti. Tapi, mengapa Ara gak bisa mengingat kamu dan juga dokter Ken? Ara ingin seperti dulu lagi," ucap Ara lirih.
Laras hanya memeluk sahabatnya itu erat. Berharap Ara kembali seperti dulu lagi.
Malam semakin larut. Ara tertidur sambil memeluk hapenya. Sementara Laras memaksakan untuk terpejam. Meskipun usahanya gak berhasil.
Akhirnya, Laras memutuskan untuk mengambil air di dapur. Mungkin setelah minum, dia bisa tidur.
Tenggorokannya terasa segar setelah minum air putih beberapa teguk. Hatinya masih belum plong. Sesaat Laras teringat Andre yang juga menghilang tanpa kabar. Sudah setahun, hape Andre gak bisa dihubungi. Seharusnya dia sekarang sudah selesai kuliah S2nya. Mungkin Andre terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Laras berusaha tetap sadar dan tidak berpikiran buruk kepadanya.
Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang membuka pintu depan. Laras takut kalau penjahat yang datang. Dia gak melihat Aldy dan Ken. Mungkin mereka sedang keluar. Laras pun segera mengambil sebuah panci dan menunggu di depan pintu.
Tak berapa lama, pintu itu pun terbuka dan lampu pun menyala.
"Astaga! Kamu mau ngapain?"
Laras sangat terkejut. Ternyata yang datang adalah kakaknya Ara. Dia pun segera menyembunyikan panci yang tadi dipegangnya.
"Eeh, aku kira orang jahat. Maaf ya, kak!" sungut Laras sambil menahan malu.
"Ara sudah tidur, kak. Aku belum bisa tidur dan merasa haus," jawab Laras. Tiba-tiba terdengar suara dari perutnya. Dia baru ingat kalau belum makan dari siang. Pantas aja Laras gak bisa tidur! Ternyata cacing diperutnya juga kelaparan.
Laras takut Aldy mendengar suara keroncongan perutnya. Dia pun bergegas untuk kembali ke kamar.
"Maaf, kak. Saya mau kembali ke kamar!" ucap Laras seraya membalikan badannya.
"Tunggu, Ras!"
Laras menghentikan langkahnya. Sementara masih aja terdengar suara dari dalam perutnya. Aakh! Memalukan sekali.
"I-iya kak, ada apa?"
"Aku membeli martabak, makanlah dulu!" jawab Aldy seraya menyodorkan sebuah bungkusan.
Laras merasa malu sekali. Dia berniat menolaknya tapi cacing di dalam perutnya gak bisa diajak kompromi lagi.
__ADS_1
Tak berapa lama, Laras dan Aldy berada di meja makan. Laras sudah menyantap beberapa potong martabak manis sementara Aldy memakan martabak telur. Untung aja, dia sempat membeli makanan itu setelah turun dari mobil Ken.
"Apa yang kamu lakukan sekarang, Ras?" tanya Aldy setelah berhenti makan.
Laras cepat menelan makanan yang ada dimulutnya. Tetapi, itu malah membuatnya tersedak dan batuk-batuk.
Aldy gak tinggal diam melihat Laras seperti itu dan segera mengambilkan air minum, "pelan-pelan aja makannya. Maaf kalau aku mengajakmu bicara!" ucapnya.
"Makasih, kak. Bukan begitu. Aku yang salah makannya kecepatan!" sahut Laras setelah meminum air yang diberikan Aldy. Akhirnya Luna bisa bernapas lega.
"Aku kerja lagi di stasiun tv sambil kuliah, kak. Mereka banyak menanyakan Ara dan berharap bisa kembali kerja disana!" lanjut Laras lagi.
Aldy terdiam. Dia merasa bersalah karena sudah bicara terlalu keras kepada Laras dulu. Makanya Laras gak pernah lagi menemui Ara.
"A-ku mau minta maaf, Ras. Dulu aku memang galau abis. Kamu kan tahu Ara menangis terus karena Ken menghilang. Aku sangat marah dan melampiaskannya padamu. Sekali lagi aku minta maaf. Seharusnya Ara tetap bersamamu tapi aku malah memisahkan kalian!" ungkap Aldy lirih. Dia harus mengeluarkan isi hati yang terpendam selama ini.
"Iya, kak. Aku ngerti, kok. Aku juga salah karena meninggalkan Ara. Mulai saat ini, aku akan selalu ada disisinya!" janji Laras juga kepada dirinya sendiri.
"Makasih ya, Ras. Maaf aku tinggal duluan, ya. Jangan tidur kemaleman!" Aldy bangkit dari tempat duduknya dan siap melangkah menuju ke kamarnya.
"Tunggu, kak. Maaf, apa kakak tahu kabar Kak Andre? Sudah setahun ini, aku gak bisa menghubungi hapenya! Aku sangat cemas gak tahu harus menghubungi siapa," tanya Laras. Dia harus tahu keadaan Andre sekarang.
Aldy hanya tertegun. Sebenarnya, dia tahu keadaan Andre. Namun belum waktunya memberitahu Laras.
"Maaf, aku juga gak tahu. Seingatku, dia sudah bekerja di luar negeri. Nanti juga pasti pulang! Aku tinggal dulu ya, Ras," jawab Aldy yang memilih untuk segera pergi.
Tinggal Laras yang masih termenung sendirian. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Andre. Sepertinya Laras harus menemui keluarganya agar lebih jelas. Tapi, dia sungkan karena Andre gak pernah mengenalkan keluarganya.
*****
Ken juga tidak bisa langsung tidur. Dia masih teringat perkataan Aldy yang menyuruhnya gak ninggalin Ara lagi. Tentu aja, Ken gak akan pergi lagi meskipun Ara tetap gak mengingatnya.
Perlahan, Ken membuka hapenya lagi. Dia masih ingin mengingat masa indahnya bersama Ara di dalam foto. Kemudian Ken sangat terkejut karena menyadari hape Ara menyala lagi.
Apakah Ara sudah bisa mengingat dirinya? Di dalam hapenya pasti banyak tersimpan foto-foto mereka. Termasuk panggilan telepon dan pesan dari Ara yang gak pernah dijawab Ken. Itu karena Ken gak membawa hapenya. Apakah Ara akan marah setelah tahu Ken pernah menghilang?
__ADS_1
*****