
Satrio tertegun melihat sosok anak muda yang berdiri di hadapannya. Anak muda itu adalah Aldy, puteranya sendiri.
"Bapak siapa?" tanya Aldy yang menatap Satrio tajam.
Satrio pun menjadi gugup. Saatnya belum tepat untuk berkata jujur.
"Maaf, saya mau pergi," jawab Satrio sambil menunduk dan bersiap untuk pergi. Namun, Aldy tidak menyingkir dan tetap berada didepan Satrio.
"Saya yang harus minta maaf karena sudah banyak menyusahkan bapak. Saya tahu kalau bapak sudah memberikan darah untuk adik saya. Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih," ungkap Aldy yang berusaha sopan. Padahal hatinya tidak menentu dan ingin tahu siapa sosok laki-laki itu sebenarnya.
Aldy pun menjulurkan tangannya. Satrio sedikit ragu menjabat tangan puteranya itu.
Satrio tidak menyangka kalau Aldy bersikap seperti itu. Dia sangat bangga karena sikapnya sangat baik meski tanpa didikan orang tua.
"Tidak! Saya hanya ingin membantu saja, den!" jawab Satrio yang memanggil Aldy seperti kepada seorang majikan. Dia tetap merunduk agar tidak bisa melihat tatapan puteranya.
"Jangan begitu, pak. Saya cuman orang biasa aja. Bagaimana kalau kita bicara lebih dekat lagi. Bapak sudah makan?" tanya Aldy seramah mungkin. Dia tidak mau kehilangan laki-laki misterius itu.
"Maaf, den! Saya lagi ada pekerjaan. Nanti saja kalau saya kesini lagi," tolak Satrio dan langsung ngeluyur pergi. Dia tidak ingin Aldy mengenalinya. Saat kecelakaan itu terjadi, Aldy sudah mampu mengingat.
Aldy tidak berusaha mencegah kepergian laki-laki itu. Dia sudah mengetahui sesuatu. Ingatannya kembali ke masa kecil ketika sedang bersama ayahnya. Di tangan sang ayah ada tanda hitam yang cukup besar. Saat itu, Ara menangis menyangka kalau tanda itu adalah kecoa. Tanda itu juga ada di tangan laki-laki misterius itu. Apakah dia adalah ayahnya?
*****
Ken memutuskan menemui maminya di ruang praktek. Airmatanya tak tertahan ketika sudah bertemu sang mami.
"Ada apa lagi, Ken?" tanya Mami Ken yang sangat heran dengan sikap Ken yang jadi pemurung.
"Ara pingsan lagi, mih. Dia ga ingat Ken lagi juga dengan kakaknya. Ken sangat menyesal karena membuat Ara jadi seperti itu. Ara berteriak kesakitan, mih. Kalau bisa, Ken aja yang merasakan sakitnya!" terang Ken sambil mengusap matanya yang basah.
Mami Ken sangat terkejut mendengar ucapan Ken. Padahal waktu bertemu keadaan Ara baik-baik saja.
"Tenanglah, Ken. Nanti selesai tugas, mami akan mencari tahu keadaan Ara yang sebenarnya. Sudahlah! Hapus airmatamu itu. Kau ini seperti anak kecil aja, sih!" ujar Mami Ken yang ingin menghibur anaknya.
__ADS_1
Sebenarnya, Mami Ken juga merasa bersalah. Satrio sudah memintanya untuk menjaga Ara namun belum bisa dilakukannya.
"Apa Ara berobat keluar negeri aja, Mih. Mungkin disana peralatannya lebih lengkap," usul Ken yang hamoir putus asa melihat kekasihnya menderita.
"Tidak, Ken. Peralatan disini juga sudah bagus. Hanya saja, Ara harus melakukan pemeriksaan yang lebih mendetail. Mungkin karena efek samping operasi kemarin sehingga Ara pingsan lagi!" jelas Mami Ken .
Tapi, Ken merasa tidak puas, "mungkin dokter yang merawatnya kurang teliti, mih. Tadi aja Ken lihat dia datang tanpa memakai baju dokternya untuk menemui Ara. Memangnya siapa dia?" tanya Ken berapi-api.
"Siapa? Dokter Raffi? Doa iti dokter yang sangat baik, Ken. Ara sudah berada pada dokter yang tepat. Kamu ini kenapa, sih? Apa kamu cemburu sama dokter Raffi?" tebak Mami Ken yang sangat tepat.
"Apa? Cemburu sama dokter itu? Aakh! Ken cuma serasa aneh aja, Mih. Sepertinya dokter itu menyembunyikan sesuatu. Bahkan dia memberikan boneka jari untuk Ara. Emangnya Ara anak kecil apa pake dikasih boneka segala!" gerutu Ken.
Mami Ken tertawa kecil, "Kamu itu malah harus belajar banyak darinya, Ken. Itulah mengapa banyak pasien yang menyukai dokter Raffi dengan pendekatan yang lebih nyaman. Dia selalu memberikan boneka itu kepada semua pasien perempuannya, bukan cuma Ara. Mereka bisa melupakan sakitnya dengan boneka itu. Kamu juga nanti akan menjadi dokter. Jadilah dokter seperti dokter Raffi!" terang Mami Ken yang malah membela dokter Raffi.
Ken terdiam. Tetap saja, hatinya panas melihat kedekatan dokter itu dengan Ara!
*****
Tak lama kemudian, Ara kembali sadar. Dia melihat seorang laki-laki berdiri di samping tempat tidurnya. Wajahnya sangat tampan, melihatnya Ara sudah merasa nyaman.
Ara mengangguk. Namun kepalanya masih terasa kosong. Sepertinya tak ada isinya sama sekali.
"Kamu siapa?" tanya Ara dengan tatapan asing.
Raffi tersenyum. Dia sudah menduga kalau Ara kembali kehilangan ingatannya.
"Namaku Raffi. Aku adalah temanmu. Apa kamu gak ingat sama aku?" Raffi balik bertanya.
Ara menggeleng pelan dan mencoba untuk duduk.
"Istirahatlah dulu. Jangan dipaksakan jika tubuhmu masih lemah," jelas Raffi yang tidak memakai baju dokter. Membuatnya merasa lebih nyaman.
"Badanku sakit semua. Mengapa aku ada disini?" tanya Ara lagi.
__ADS_1
"Kamu terjatuh di taman. Sebenarnya, apa yang kamu lakukan di sana sendirian? Kau bisa memberitahuku kalau ingin ke tempat itu!" ucap Raffi lembut.
Ara terdiam. Mencoba mengingat apa yang dilakukannya di taman. Sebuah bayangan tanpa wajah hadir. Ara merasa sangat mengenal bayangan itu.
"Maaf, bagaimana keadaan adik saya, dok?"
Tiba-tiba, Aldy masuk dengan penuh kecemasan. Apalagi mendengar kalau Ara sakit lagi.
"Keadaannya baik-baik saja. Besok pagi datanglah ke ruang praktekku. Nanti aku akan menjelaskan semuanya," jawab Raffi.
Ara tertegun, " bukanlah tadi kamu bilang kalau kamu adalah temanku. Tapi, mengapa orang ini memanggilmu dokter?" tanya Ara kebingungan.
Aldy juga ikut terdiam. Ternyata Ara sudah melupakannya juga.
"Kita memang berteman, kok. Kerjaku saja yang seorang dokter!" jawab Raffi sambil tersenyum.
Aldy masih terdiam padahal dokter Raffi sudah pergi. Padahal banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya. Terutama sosok berwajah cacat yang ditemui Ara di taman.
Ara juga tidak banyak bicara karena merasa tidak mengenal Aldy. Namun hatinya mulai penasaran dengan sosok laki-laki itu.
"Apa benar, kamu adalah kakakku?" Akhirnya Ara memulai pembicaraan.
Aldy langsung semangat mendengar pertanyaan Ara, "tentu saja aku adalah kakakmu. Kita adalah keluarga, Ra!" jawab Aldy dengan mata berbinar.
Ara tersenyum tipis, "maaf, kak. Aku gak bisa mengingat apa-apa," ucap Ara pelan. Dia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa, Ra. Nanti kamu juga akan ingat. Istirahatlah, besok pagi pasti akan kembali normal!"
Ara mengangguk. Dia juga mengharapkan hal yang sama.
Tak lama kemudian, Ara kembali ke ruang rawat inap. Ken hanya bisa melihatnya dari jauh dan tidak berani mendekat. Dia mendengar dari suster kalau Ara belum mengingat apapun.
Ara melihat laki-laki yang mengaku sebagai pacarnya dari jauh. Laki-laki yang sangat tampan dan keren. Jika benar dia adalah pacarnya maka Ara adalah gadis yang sangat beruntung. Sayang, Ara tidak bisa mengingatnya.
__ADS_1
Ken sendiri hanya bisa menahan napas ketika Ara melihatnya dengan tatapan asing. Rasa takut kehilangan masih memenuhi hatinya. Namun, Ken hanya bisa berdoa agar Ara bisa mengingatnya kembali. Mengingat semua kenangan yang sudah mereka lewati.
*****