
"Ingatlah, Ken. Setelah operasi Ara selesai, jangan dekati Ara lagi!" ucap Pak Januar semalam. Itu karena keluarganya sudah banyak menyakiti keluarga Ara. Kecelakaan Ara juga terjadi karena ada Ken dan Janet.
"Tapi, pih. Ken sangat mencintai Ara. Ken gak bisa hidup tanpa Ara!" Ken tetap berkeras untuk selalu mendampingi Ara.
"Sudah cukup, Ken. Kalau kamu mencintainya, maka menjauhlah darinya! Papi sudah menyiapkan kepindahan kuliahmu ke luar negeri. Kalau memang kalian berjodoh pasti akan dipertemukan lagi!"
Ken masih berada di luar gedung rumah sakit. Mungkin Ara sudah masuk ke ruang operasi. Yang dikatakan papinya ada benarnya. Ken masih merasa bersalah dengan kecelakaan yang terjadi pada Ara.
Semua kenangannya bersama Ara kembali terbayang. Wajah lugu Ara dan sikap sabarnya yang membuat Ken jatuh cinta. Ken sangat takut kalau terjadi hal paling buruk padanya. Ken tak sanggup menghadapi kenyataan yang akan terjadi.
*****
Operasi Ara berjalan dengan lancar. Dokter Raffi melakukan semuanya sebaik mungkin. Untung saja, darah untuk Ara sudah tersedia.
Dokter Raffi melihat gadis kecil yang menangis waktu itu kembali hadir. Dia berdiri di samping Ara dengan air mata mengalir di pipinya. Semua itu adalah pertanda kalau Ara akan hidup meski dalam keadaan berbeda.
"Bagaimana keadaan Ara, dok?" tanya Aldy begitu dokter Raffi keluar dari ruang operasi.
"Alhamdulillah operasinya lancar. Untuk mengetahui keadaannya tunggu esok pagi. Kalian jangan terkejut jika Ara menjadi berbeda!" jelas dokter Raffi.
"Berbeda bagaimana, dok?" tanya Satrio.
Dokter Raffi menatap Satrio tajam. Dia sempat mendengar Ara memanggilnya dengan sebutan Ayah.
"Apakah bapak adalah ayahnya Ara?" tanya dokter Raffi memastikan.
"I-iya, dok. Saya adalah ayahnya Ara!" jawab Satrio sedikit gagap. Namun tanpa ada keraguan lagi.
"Iya, dok. Beliau adalah ayah kami!" Aldy juga ikut menjawab.
Dokter Raffi mengangguk meski sedikit bingung. Dia teringat peristiwa dulu orang tua Ara meninggal karena kecelakaan. Namun, dokter Raffi tidak akan mengungkitnya lagi.
__ADS_1
"Baiklah! Silakan ke ruang kerja saya nanti. Kita bisa bicara lebih banyak lagi. Saya permisi dulu," jelas dokter Raffi dengan sopan.
Dokter Raffi pun langsung pergi. Dia merasa tenang karena Ara sudah selesai operasi. Namun, dia belum tahu apa yang akan terjadi pada Ara jika sudah sadar nanti.
Ken hanya bisa melihat dari kejauhan. Dia bersyukur karena Ara sudah selesai operasi. Perkataan papinya kembali terngiang. Ken gak sanggup kalau hal buruk terjadi lagi pada Ara.
"Apa, Ken? Kamu mau ke luar negeri? Katanya kamu mau magang dulu di sini?"
Ken disambut berbagai pertanyaan oleh maminya. Dia berniat untuk meneruskan kuliahnya di luar negeri.
"Iya, mih. Ken sudah memutuskan untuk pergi!" jawab Ken pasti.
"Bagaimana dengan Ara? Mami dengar Ara sudah selesai dioperasi," tanya Mami Ken lagi.
"Ada banyak orang yang menyayangi Ara di sampingnya, Mih. Ken yakin Ara bisa melewati hari-harinya bersama mereka meskipun tanpa Ken!"
Mami Ken gak bisa banyak bicara lagi. Ken sudah mulai dewasa dan bisa berpikir lebih bijak. Meskipun dia tahu, Ken pasti sangat sedih karena harus meninggalkan Ara.
Laras clingak clinguk mencari Ken. Namun Ken tidak datang juga padahal Ara sudah selesai di operasi.
"Kenapa Ken gak kesini, ya? Padahal kan dia ada di depan!" ungkap Laras dengan wajah cemasnya.
"Mungkin dia ada urusan lain. Jangan cemaskan Ken, kan masih ada aku disini!" ucap Andre ketus. Dia juga berniat untuk berpamitan karena besok akan pergi ke luar negeri.
"Iya-iya. Kakak gak sakit, kan?" tanya Laras sedikit bergurau.
"Sakit? Bisa jadi. Nanti aku pasti akan sakit malarindu kepadamu. Besok kan aku mau berangkat. Apa kamu gak sedih kalau aku pergi?" ucap Andre sedikit merajuk.
Laras tersenyum, "pasti kakak baik-baik saja dimana pun berada. Asal matanya jangan jelalatan aja ngeliatin bule yang cantik dan sexy!"
Andre terdiam dan pura-pura sedang membayangkan sesuatu.
__ADS_1
"Hhmm, iya ya. Mereka pasti cantik-cantik ...." ucapnya pelan.
Laras melotot. Andre pasti sedang membayangkan yang tidak-tidak.
Bruuug ....
Andre sangat terkejut ketika sesuatu mengenai punggungnya.
"Apaan, tuh?" tanyanya sambil menoleh ke belakang.
"Ga ada apa-apa. Kakak aja kali yang lagi membayangkan yang nggak-nggak!" celetuk Laras pura-pura gak tahu. Padahal tadi Laras melemparkan tas ke arah Andre.
Baru aja, Andre akan membalasnya. Ara keluar dari ruang operasi. Dia masih gak sadarkan diri di atas ranjang. Dua orang perawat mendorong ranjangnya ke ruang rawat inap.
Laras langsung berlari menghampiri Ara. Andre juga menyusulnya. Dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu. Di sana juga ada Aldy dan neneknya. Mereka juga gak kalah khawatir.
Ara seperti anak kecil yang sedang tertidur pulas. Entah apa yang akan terjadi padanya setelah bangun nanti.
*****
Tiga tahun kemudian ....
"Araaa, cepatlah kemari. Taksinya udah datang. Kita bisa terlambat menemui dokter!" teriak Mak Isah dari depan pintu. Ara belum keluar juga padahal taksi yang mereka pesan sudah datang.
Di dalam rumah sederhana itu, seorang gadis berbaju warna pink tengah menyisir rambutnya yang diikat dua. Tidak lupa, gadis itu menyisir poninya yang hampir menutupi matanya.
"Iya, nek. Sebentar lagi ...."
Gadis itu tersenyum manis. Maniiis sekali sampai semutpun bisa pingsan bila menggigitnya. Wajahnya pun bersemu merah dan cantik sekali. Gadis itu adalah Ara. Dia akan memulai harinya dengan penuh ceria.
Namun ada yang aneh. Dandanan dan baju yang dipakai Ara seperti anak kecil. Dia pun segera berlari ke luar rumah. Gak lupa, menyambar sebuah permen gagang yang langsung masuk ke mulutnya.
__ADS_1
Ya! Ara memang sudah sehat seperti semula. Akan tetapi, pikirannya kembali menjadi gadis kecil!!!
*****