Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KABUT YANG SIRNA #1


__ADS_3

Pagi-pagi, Ara sudah terjaga. Dia masih penasaran dengan hape yang mengandung banyak kenangan di dalamnya. Namun hingga beberapa saat, Ara hanya memandangi hape itu.


Sementara itu, Laras masih tertidur pulas karena menjelang pagi baru bisa terpejam. Kebetulan hari ini, Laras libur magang dan siang baru masuk kuliah.


Tiba-tiba, terdengar suara dari hape. Ara hampir saja melompat mendengarnya. Dia menoleh ke arah Laras tapi dia masih tertidur pulas. Ara merasa gak tega membangunkannya.


Perlahan, Ara membuka hapenya dan penasaran ingin tahu pesan dari mana.


Selamat pagi, Ara ...


Deg! Ternyata, Pesan itu dari dokter Ken!


Ara sangat bingung bagaimana menjawabnya. Dia hanya bisa memandanginya tanpa menulis apapun.


Ken tahu kalau hape Ara sedang menyala. Dia juga ingin tahu apakah Ara yang membuka hape itu. Ken menunggu beberapa lama. Tetapi tak ada jawaban apapun.


Raffi juga sangat terkejut ketika tahu hape Ara sudah aktif lagi. Dia ingin tahu apakah Ara yang memegang hape itu. Raffi pun segera menghubunginya.


Ara kembali terkejut ketika suara hapenya lebih kencang. Dia benar-benar panik dan menyembunyikannya di bawah bantal agar Laras gak bangun.


"Ada apa, Ra? Kenapa kamu gak jawab?" tanya Laras yang terbangun katena mendwngar suara dari hape Ara.


"Ara gak bisa bukanya, kak! Ara takut kalau kakak bangun," jawab Ara masih dengan keluguannya.


"Aku gak apa-apa kok, Ra. Begini cara bukanya!" Laras segera mengajari Ara cara membuka hapenya.


"Hallo, apa kamu Ara?" tanya Raffi yang masih berada di rumahnya.


"Jawab, Ra. Itu dari dokter Raffi!" bisik Laras yang melihat nama dokter Raffi.


Dengan sedikit gemetar, Ara memegang hapenya, "i-iya, pak dokter. Ini, Ara. Ada apa ya, pak dokter?" tanya Ara pelan. Dia takut bicara terlalu keras.


"Oh jadi benar ini kamu ya, Ra. Aku hanya ingin memastikan aja karena sudah lama hape kamu gak aktif. Aku sangat senang karena kamu sudah bisa menggunakannya. Baiklah, sampai jumpa lagi di sekolahmu ya, Ra!"


"I-iya, Pak dokter. Terima kasih. Tapi Ara hari ini libur, Pak dokter," jawab Ara yang ingat jadwal sekolahnya hanya dua kali seminggu.


"Oh iya, aku lupa. Apa hari ini kamu ada acara? Apa mau ke tempat rekreasi lagi?"


"Ara mau Pak dokter! Tapi, sekarang Ara mau ke kampus!"


"Kampus? Sama siapa?" tanya Raffi penasaran. Apa Ara pergi dengan Ken?


"Sama Kak Laras, Pak dokter! Kemarin Pak dokter Ken mengantar Ara ke kampus dan bertemu dengan Kak Laras!"

__ADS_1


Akh! Berarti kemarin Ken bersama Ara. Bisa jadi hari ini Ara akan bersamaKen lagi. Entah mengapa Raffi merasa hatinya bergemuruh. Gak mungkin dia cemburu dengan Ken. Padahal tahu kalau Ken masihlah pacarnya Ara.


"Baiklah, Ra. Hati-hati di jalan, ya! Aku mau ke rumah sakit," ucap Raffi sebelum mematikan hapenya. Namun, dia masih saja menggenggam hape itu erat. Merasa sesuatu hilang di dalam hatinya. Namun Raffi tidak tahu apa itu!


Ara tersenyum lebar karena bisa berkomunikasi dengan dokter Raffi lewat hapenya. Dia sangat senang karena sudah bisa menghunakan hapenya.


"Itu ada pesan masuk juga, Ra. Kayaknya dari Ken!" ujar Laras yang melihat ada pesan masuk di hape Ara.


"Bagaimana jawabnya, kak? Ara gak pandai menulis," jawab Ara yang masih kebingungan.


"Kamu telpon aja langsung!" Laras pun menekan telepon langsung dan Ara melihatnya dengan saksama.


Tak lama kemudian terdengar suara.


"Hallo, Ara?" Ken langsung menjawab setelah tahu Ara yang menelponnya.


"I-iya, Pak dokter. Maaf Ara gak bisa menulis banyak!"


"Aku yang salah, Ra. Aku ingin tahu apakah benar hape kamu sudah aktif," jawab Ken mengutarakan maksudnya.


"Tapi, mengapa disini banyak pesan yang Ara kirim, namun gak dijawab? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Pak dokter gak membawa hape?" tanya Ara cemas.


Ken terdiam. Akhirnya Ara tahu Ken pernah meninggalkannya.


"Ara mau menemani Kak Laras ke kampus!"


"Ya, sudah. Aku akan menjemput kalian. Tunggu, ya! Jangan pergi dulu. Aku akan terbang kesana!" ujar Ken sebelum mematikan hapenya. Dia pun bergegas menuju ke mobilnya.


"Kamu mau kemana, Ken? Apa gak kerumah sakit sekalian dengan mami?" tanya Mami Ken di depan rumah.


"Sekolah lagi libur, mih. Ken mau ke rumah Ara!" jawab Ken segera mengeluarkan mobil dari dalam garasi. Tingkahnya seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.


Mami Ken hanya geleng-geleng kepala. Sebenarnya dia merindukan sikap Ken yang kekanakan seperti itu. Berharap Ara bisa kembali lagi ke dalam hidup puteranya dan membuatnya semangat lagi.


"Ada apa, Ra? Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" tanya Laras yang melihat Ara tertawa kecil.


"Pak dokter Ken lucu, kak. Masa dia mau kesini dengan terbang. Emangnya dia superman?" ucap Ara disela tawanya.


"Itu berarti karena Kak Ken sangat menyukaimu, Ra. Makanya sampai mau terbang agar cepat bertemu denganmu!"


"Masa sih, kak? Terus, mengapa dulu Pak dokter gak menjawab pesan dan telepon Ara?"


Laras terdiam mendengar pertanyaan Ara. Dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang malah membuat Ara bingung.

__ADS_1


"Mungkin hapenya mati seperti hape kamu, Ra. Aku gak tahu pastinya. Nanti kamu tanyakan aja langsung sama Kak Ken!" jawab Laras sebisanya.


"Iya, kak. Ayo kita cepat beres-beres. Ara mau cepat sampai ke kampus. Di sana tempatnya sangat luas dan nyaman. Ara betah lama-lama di sana!" seru Ara seraya berlari menuju ke kamar mandi.


Laras sangat senang melihat sikap Ara seperti itu. Sebuah awal yang baik dan berakhir dengan baik pula. Karena Laras ingin nelihat Ara bisa kembali lagi seperti dulu dan bersama Ken lagi.


Padahal, Laras sendiri masih galau soal Andre yang tanpa kabar. Aldy juga gak mau ngomong. Laras merasa telah seterjadi sesuatu dengan Andre.


*****


Tak lama kemudian, Ara melihat Ken sedang menunggu di depan rumahnya. Cowok ganteng yang akan membuat setiap gadis jatuh cinta. Beberapa orang yang lewat juga gak bisa berpaling dari pemandangan itu meski mereka sudah berumur.


Ara merasa tidak asing dengan pemandangan itu. Apalagi ketika melihat Ken melambaikan tangannya dengan senyuman mengembang. Ara seperti melihat kabut yang sirna disapu angin. Sekarang matanya semakin jelas.


"Ada apa, Ra? Kenapa kamu bengong begitu!"


Lamunan Ara buyar ketika mendengar suara Laras.


"Eeh, gak Ras. Cuma sedikit ngantuk aja!" jawab Ara.


Ada yang aneh dengan ucapan Ara. Gaya bicaranya sudah normal seperti dulu. Sekarang Laras malah yang bengong.


"Kalian kenapa sih, pada bengong di depan pintu. Pamali tahu!" seru Mak Isah melihat cucunya berdiri di depan pintu.


"Eeh, gak kok, nek. Ara berangkat dulu ya!"


"Iya, nek. Laras juga mau berangkat!"


"Nak Ken eeh Pak dokter gak mampir?" Mak Isah malah fokus kepada Ken. Ara dan Laras hanya tertawa melihatnya.


"Sepertinya, saya gak bisa, nek. Ara sudah gak sabar mau kuliah lagi. Iya kan, Ra?" Ken malah bertanya pada Ara.


Ara langsung mengangguk.


"Ya, sudah. Kalian hati-hati, ya!"


"Iya, nek. Ara kuliah dulu, ya!" sahut Ara dengan gaya bicara seperti dulu.


Mak Isah juga tertegun mendengar ucapan Ara seperti dulu. Dia baru sadar, penampilan cucunya itu juga berbeda. Dia membawa tas selempang yang biasa dipakainya kuliah dulu.


Mata Mak Isah sedikit basah ketika menyadari perubahan itu. Dia masih berdiri di tempat semula meski pun Ara sudah gak kelihatan lagi. Mak Isah berharap kalau cucunya itu bisa kembali lagi seperti dulu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2