Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
TERLAHIR KEMBALI #2


__ADS_3

Janet sudah menjalani operasi dengan lancar. Dia masih gak sadarkan diri dan gak tahu apa yang terjadi dengan sebelah kakinya.


"Kemana sebelah kakiku, mih?!" teriak Janet histeris begitu siuman.


Mamih Janet hanya bisa menangis dan memeluk puterinya itu erat.


"Aku gak mau hidup kayak gini, mih! Normal aja berat apalagi cuma punya satu kaki!"


Janet gak bisa menerima keadaannya sekarang. Airmatanya terus mengalir. Gak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya.


"Kamu harus bersyukur, Net. Kamu masih bisa hidup!" ucap Mami Janet disela tangisnya.


"Buat apa hidup kalau seperti ini, mih! Lebih baik Janet mati aja!"


Janet terus meronta. Akhirnya Mamih Janet melepaskan pelukan dan menghapus air matanya.


"Mamih sudah menyerah, Net. Seharusnya kamu.menyukuri keadaanmu seperti ini. Bahkan Kakak Ara sudah memberikan darahnya untukmu padahal adiknya hampir mati karenamu!"


Janet tertegun mendengar ucapan maminya. Jadi, Aldy sudah membantunya!


Akhirnya Janet terdiam. Hanya airmatanya saja yang masih mengalir. Dia benar-benar bingung harus berbuat apa.


Tiba-tiba seorang wanita berjas dokter muncul. Dia adalah dokter Ratna, mamihnya Ken.


"Apa kabarmu, Janet?"


Wajah Janet berubah pucat. Perasaannya gak menentu karena kedatangan Mamih Ken.


"Ba-baik, tante!" jawab Janet sambil menghapus sisa air matanya.


"Terima kasih, bu dokter. Saya gak bisa membalas semua kebaikan bu dokter kepada anak saya!" ungkap Mamih Janet yang malah semakin bersimbah airmata.


"Sudahlah, mam. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang Janet harus lebih bersemangat. Nanti ada program untuk mendapatkan kaki palsu sehingga kamu bisa beraktifitas lagi!" jelas Mamih Ken yang menyemangati Janet.


"Makasih, tante. Selama ini, Janet sering melakukan kesalahan sama banyak orang. Jadinya sekarang jadi seperti ini!"

__ADS_1


"Jangan khawatir, Janet. Banyak orang yang masih menyayangimu, kok! Maaf, tante pergi dulu, ya. Di luar ada Ara dan Laras yang ingin menemuimu. Mereka adalah kawan yang sangat menyayangimu!"


Janet terbelalak. Ara disini? Janet mulai gemetaran. Semua kesalahannya kepada Ara kembali terlintas di benaknya.


"Hai, Janet!" sapa Ara begitu sampai di depan Janet.


"Apa kabarmu, Net?" Laras juga menyapanya.


"Kalian mengobrol aja. Tante masih ada urusan!"


Mamih Janet sengaja keluar dari kamar Janet. Dia tahu Janet memerlukan waktu bersama teman-temannya.


"Baik, tante!" jawab Ara dan Laras berbarengan.


Janet gak tahu harus bicara apa. Wajahnya semakin pucat.


Ara tahu bagaimana perasaan Janet dan memeluknya, "sabarlah, Net. Kami selalu bersamu!" bisiknya.


Mata Janet kembali basah. Orang yang sangat dibenci sekarang memeluknya dengan penuh ketulusan. Dia merasa malu, bukan hanya karena fisik juga kelakuannya dulu.


Ara gak mampu membendung air matanya lagi, begitu juga Laras.


"Yang lalu biarlah berlalu, Net. Aku yakin mulai saat ini, kita semua terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih baik. Aku gak akan membencimu atau siapapun yang pernah melukaiku. Kita sama-sama manusia yang juga punya salah!"


Janet merasakan hatinya sangat tenang mendengar ucapan Ara. Semua kebencian di hatinya telah melebur dan berganti dengan suka cita. Rasa sepi pun lenyap tak berbekas. Ternyata, dia memiliki kawan yang hatinya dipenuhi dengan kasih sayang.


*****


Setahun kemudian


"Nona Ara! Cepat, ya. Sebentar lagi acaranya dimulai!" tegur seorang kru.


"Hadeeeh! Jariku keriting, deeh. Kenapa sih, selalu aja buru-buru!" teriak Jeni yang masih memakaikan make-up Ara.


Ara hanya tersenyum. Hari ini sangat spesial karena Ayah dan Janet akan menjadi nara sumber acaranya. Mereka sama-sama penyintas yang terlahir kembali dari sebuah tragedi.

__ADS_1


"Sabar, Jeni Sayang. Jemarimu kan terbuat dari emas. Makanya sekarang aku seperti ini!" puji Ara yang membuat Jeni langsung melayang.


"Iya, saaay. Coba aja kamu ingat pertama kali jemariku menyentuhmu. Kulit seperti kulit badak, rambutmu seperti singa. Makanya aku menyebutmu gadis hutan!" ungkap Jeni yang blak-blakan. Ara gak marah malah tertawa geli.


"Aduh, sebentar, say. Ada yang kelupaan. Kamu merem aja ya! Jangan buka mata dulu. Aku mau ambil sesuatu!"


"Jangan lama-lama ya, Jeni Sayang. Semenit lagi, aku pasti kabur!"


"Iya-iya! Pokoknya kamu jangan melek dulu! Aku pergi beberapa detik aja, kok!"


Ara tersenyum mendengar ucapan Jeni yang selalu cetar membahana. Dia pun menurutinya dan memejamkan mata.


Gak lama kemudian, Ara yang sedang memejamkan mata merasa ada seseorang yang datang. Pasti Jeni sudah kembali.


"Sudah belum, Jeni Sayang. Aku malah menngantuk kalau memejamkan mata kayak gini!"


Ara pun membuka mata. Tapi, dia malah tertegun melihat seorang laki-laki tampan berdiri di depannya sambil memegang rangkaian bunga. Dia adalah seseorang yang sangat dirindukannya.


"Ke-ken?!"


Ara mengerjapkan matanya mengira kalau sedang halu. Ternyata, laki-laki itu beneran Ken.


"Iya, sayang. Ini aku, kekasihmu!" sahut Ken dengan bahasa bucin.


"Keeen! Kenapa gak bilang-bilang kalau mau pulang?" teriak Ara histeris. Dia hampir aja melompat untuk memeluknya.


"Heeei! Mau kemana kamu? Jangan bikin hasil karyaku berantakan, ya! Eeh kamu, Ken! Ngapain kamu disini? Keluar sana!" usir Jeni sambil mendorong Ken.


"Eeeh, aku masih kangen sama pacarku!" teriak Ken.


"Nanti aja mesra-mesraannya. Sekarang waktunya kerja, tahu!" celetuk Jeni.


Ara gak berani membantah Jeni. Salahnya Ken juga kenapa muncul saat sedang kerja! Tapi, Ara sangat senang Ken sudah kembali. Jantungnya kembali berdetak kencang.


*****

__ADS_1


__ADS_2