
Ara pastinya sangat senang sudah bisa magang di tempat impiannya. Apalagi bersama Upik yang sudah menjadi sahabat baiknya.
"Gue sangat senang bisa magang, Pik. Mulai hari ini, gue akan selalu semangat dan bekerja lebih keras lagi!"
"Gue juga seneng, Pik. Sebelum pulang kita ke kafe dulu, yu!" ajak Upik seraya memegang lengan Ara.
Ara melirik jam tangannya. Sudah hampir jam enam. Sebentar lagi malam akan menjelang.
"Oke! Tapi jangan lama-lama, ya. Soalnya tadi gak minta izin sama nenek gue!"
"Iya, paling minum jus. Gue yang traktir deh!"
"Beneran, Pik? Ya udah, ayok!"
Ara balas menggandeng tangan Upik.
Tapi begitu sampai di kafe, Ara menghentikan langkahnya.
"Ada Boy, Pik. Cowok yang tadi gue wawancara. Duh! Malu gue. Tadi pasti udah bikin dia bete."
Ara baru sadar kalau tadi sempat berbuat sedikit nyeleneh kepada Boy.
"Emangnya kenapa, Ra? Boy kan ganteng dan baik juga!"
"Iya sih! Tapi gantengan Ken!"
"Elo udah jadian sama ken ya, Ra?"
"Ken sih udah nembak gue, Pik. Tapi gue belum jawab. Gue takut Ken malah ninggalin gue kalo udah jadian!"
"Kok bisa ninggalin elo sih, Ra. Menurut gue sih, Ken itu tulus sama elo, Ra!"
Bener juga sih kata Upik. Tapi Ara masih saja ragu. Mungkin karena Ken anak orang berada sementara Ara orang gak punya. Ken itu ganteng sedangkan Ara gak cantik. Meskipun sekarang kecantikan Ara sudah terbukti.
__ADS_1
"Hai! Kalian mau makan disini? Bagaimana kalau aku traktir!"
Tiba-tiba, Boy sudah berada di dekat Ara dan Upik. Spontan keduanya kaget.
"Bo-boy! Maaf, kami hanya minum jus aja!"
Ara benar-benar grogi. Padahal di stage, Ara sangat percaya diri.
"Gak usah, Boy. Kami juga sudah mau pulang. Ayo, Pik!'
Ara segera berdiri dan akan beranjak pergi.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan mengantar kalian."
Ara melotot, sikap Boy sedikit agresif. Membuat Ara kehilangan kata-kata.
"Maaf! Kedua gadis ini sedang menungguku!"
"Ken?"
"Maaf aku telat ya, sayang!"
Ken segera merangkul Ara sambil memberi kode lewat kedipan mata.
"Ooh, iya sayang. Ayo kita pulang. Maaf ya Boy, aku harus pergi!"
Boy hanya mengangguk. Sepertinya dia mengaku kalah dengan kegantengan Ken.
"Gue pulang sendiri aja ya, Ra!"
Upik tidak enak dengan Ken. Sebenarnya Ken sempat melihat Upik mendorong pot kembang yang hampir menimpa kepala Ara tempo hari.
"Kenapa, Pik? Gue bawa mobil kok!"
__ADS_1
"Gak, Ken. Gue mau mampir ke toko, ada yang mau gue beli. Kalian pulang aja duluan."
"Tapi kamu harus hati-hati ya, Pik. Besok kan kita harus kerja!"
"Iya, tenang aja. Sudah! Jalan sana."
Upik mendorong tubuh Ara. Dia hampir mati dengan rasa bersalah setiap kali melihat tatapan Ken. Dia teringat kejadian kemarin.
"Elo harus ngomong sama Ara, Pik! Gue tahu elo yang dorong pot kembang itu, kan?"
"Gu-gue disuruh Janet, Ken!"
"Seharusnya elo punya hati nurani, Pik. Jangan dengerin orang jahat seperti Janet. Jika Ara sampai meninggal, emang dia mau tanggung jawab? Kan elo juga yang masuk penjara! Lagi pula Ara itu sangat suka sama loh. Kenapa elo bisa tega sih?
Upik terdiam. Perkataan Ken langsung masuk ke dalam hatinya. Rasa bersalah itu gak bisa hilang sebelum Upik berterus terang. Nyatanya, Upik belum siap!
*****
Di parkiran, Ken melihat Boy memerhatikan mereka dari dalam mobil. Ken sengaja memegang tangan Ara biar kelihatan mesra.
"Ken! Jangan begitu aach! Malu dilihat orang."
Ara mengibaskan tangannya. Namun Ken kembali meraihnya.
"Jangan lepaskan, Ra! Biarkan tanganmu dalam genggamanku dan hatimu dalam jiwaku. Aku gak mau kehilangan loh, Ra!"
Ken menatap Ara lekat. Kali ini, dia tak akan melepaskan Ara lagi.
Ara merasakan dadanya berdegup semakin kencang. Genggaman tangan Ken begitu kuat. Ara tak mampu untuk mengelak.
Ya, Ken. Gue juga takut kehilangan elo. Jadilah pacar gue, Ken!!!
******
__ADS_1