Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
RAHASIA YANG TERPENDAM #3


__ADS_3

Ara sangat senang berada di pantai. Dia berlarian ke sana ke mari mengejar ombak namun menjauh begitu ombak datang. Tawanya tak berhenti membuat kecantikan alaminya semakin bersinar.


Ken tak berhenti memandangi Ara. Merasakan dadanya terus berdegup kencang. Berharap tidak akan terpisah dengan Ara selamanya.


"Ayo, Ken. Main air denganku!" teriak Ara dari jauh.


Ken sedikit berpikir. Dia adalah seorang perfeksionis. Penampilannya pasti berantakan jika sudah kena air.


Akhirnya, Ken tidak bisa menahan hatinya. Dia menggulung celananya dan berlari menyusul kekasihnya.


Mereka pun menikmati suasana pantai. Tak bosan mengejar ombak dan bermain pasir. Waktu seakan terhenti. Hanya ada Ara dan Ken yang sedang bucin.


"Tahun depan aku sudah mulai sibuk bikin skripsi, Ra. Aku khawatir kita jadi jarang bertemu!" ucap Ken pelan.


Ara menatap Ken lekat. Merasakan sesuatu telah terjadi.


"Ada apa, Ken? Sepertinya bukan hanya masalah skripsi," tebak Ara.


Ken tertangkap basah. Perkataan papihnya kembali terngiang.


"Gak ada apa-apa kok! Ayolah, wajahmu belum basah!"


Ken malah menyipratkan air ke arah wajah Ara.


"Keen!"


Ara berusaha menghindar tetap saja wajahnya basah. Rambutnya langsung ciut seperti bulu ayam kena air hujan. Diapun membalas perbuatan Ken. Namun, Ken bisa menghindar.


Ken sejenak bisa melupakan perkataan papihnya. Sampai kapanpun tidak ingin terpisah dengan Ara.


Tiba-tiba, hape Ken menerima pesan. Dia pun segera membukanya.


Ken, nanti malam ke Restoran. Kita akan makan malam!


Pesan dari Maminya Ken.


Ken terdiam sesaat. Sebentar lagi gelap. Sebuah senyuman menghiasi sudut bibirnya. Waktu yang sangat tepat karena saat ini ada Ara.


*****


Andre mulai mengurus persiapan beasiswanya ke luar negeri. Hasil ujian sudah keluar dengan memuaskan. Semuanya berjalan sangat lancar. Apalagi sekarang sudah ada Laras di sampingnya.


Ruangan admin kampus sangat sepi. Mungkin Andre datang masih terlalu pagi. Biasanya sudah ada Hendrik namun ruangan itu tidak ada siapa-siapa.

__ADS_1


Sambil menunggu, Andre memutuskan membaca buku di sebelah ruangan. Tak beberapa lama, terdengar suara orang masuk.


"Apa benar mobil itu sudah disabotase, pak? Jadi, Pak Satrio Purnomo dan istrinya bukan mengalami kecelakaan biasa! Foto mobilnya bisa dikirimkan ke hape saya pak!"


Hendrik masuk sambil berbicara dengan seseorang lewat hapenya.


Andre memutuskan untuk diam ditempatnya semula sambil mendengarkan pembicaraan Hendrik. Satrio Purnomo! Itu kan nama ayahnya Aldy dan Ara!!!


Hendrik mengamati foto yang dikirim lewat hapenya. Dia memerhatikan dengan serius. Disana terlihat mobil Pak Satrio setelah kecelakaan. Wajahnya semakin serius. Perkiraannya memang benar!


"Selamat pagi, Pak Hendrik," sapa Andre yang memutuskan mencari tahu.


"Kamu? Sejak kapan ada di ruangan ini?"


"Maaf, saya tadi ketiduran. Saya mau mengurus persiapan beasiswa ke UK!"


Andre sengaja mengatakan sudah ketiduran. Berharap Hendrik gak mencurigainya.


"Oh iya, kapan berangkatnya?"


"Habis wisuda. Saya mau pulang kampung dulu selama dua hari setelah itu langsung berangkat!"


"Tunggu sebentar! Aku akan meminta tanda tangan rektor. Kamu tunggu disini aja!"


Kesempatan bagus! Dalam sekejap, Andre membuka hape Hendrik. Hanya saja memakan waktu sedikit lama karena hapenya memakai kode sandi untuk membukanya.


"Kamu akan tinggal berapa tahun di luar negeri?"


Tiba-tiba, Hendrik muncul. Untung saja, Andre masih sempat mengambil foto yang tadi diterima Hendrik lewat hapenya.


"Tiga tahun, pak!"


"Kamu langsung kerja di sana?"


Hendrik tidak curiga sama sekali dan sibuk menyiapkan beberapa file.


"Ngurus izin kerja dulu di sini, pak. Bisa jadi saya akan kerja disini saja!"


"Baguslah! Kamu bisa mengajar disini. Tugasmu sebagai asisten dosen sudah sangat baik. Aku bisa mempromisikan kamu ke rektor!"


"Baik, pak. Terima kasih."


Setelah selesai semua urusannya, Andre tidak langsung pulang. Dia harus bertemu Aldy secepatnya.

__ADS_1


"Ada apa, Dre? Tumben mampir ke sini."


Andre memang jarang mampir ke tempat kerja Aldy. Pekerjaannya sebagai asisten dosen cukup menyita waktu. Belum lagi usahanya untuk mendapatkan beasiswa.


"Sekarang aku sudah bisa tenang, Al. Beasiswaku disetujui. Aku takut gak bisa ketemu lagi dengan kamu!"


"Jiaaah! Macam pacar aja aku!"


Aldy terbahak.


Andre malah menelan air ludahnya.


"Aku ingin tahu, Al. Soal kematian orang tuamu. Ayahmu kan salah satu pendiri kampus. Apa benar beliau meninggal karena kecelakaan?"


Aldy tertegun. Sudah sangat lama dia tidak membicarakan kematian orang tuanya.


"Iya, Dre. Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan!"


"Apa kamu gak mencurigai sesuatu?" tanya Andre mencoba mencari tahu


"Curiga? Apa maksudmu?"


Aldy mulai serius. Dia tahu arah pembicaraaan Andre.


"Maksudku, soal mobil yang dipakai orangtuamu. Sebaiknya kamu menyelidikinya lagi, Al!"


"Heei! Ada apa ini, Dre? Aku sangat mengenal kamu. Apa kamu mengetahui sesuatu?"


Andre tidak bisa berbohong lagi.


"Aku sedikit mendengar pembicaraan Hendrik. Dia kan tangan kanannya pak Januar. Sepertinya ada sesuatu di mobil ayahmu. Ini aku ada fotonya!"


Andre mengeluarkan hapenya dan memperlihatkan foto dari hape Hendrik.


"Sepertinya itu mobil orang tuamu. Ada masalah dengan remnya yang blong!"


Aldy tertegun. Dia memang mahasiswa teknik mesin. Mobil ayahnya sudah bermasalah sejak awal!


"Jika ada masalah dengan mobil ayahku, apa kematian mereka juga sudah ada yang mengatur? Mereka dibunuh? Siapa yang sudah nelakukan hal keji itu?"


Berbagai macam pertanyaan memenuhi benak Aldy. Dia harus tahu kejadian sebenarnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2