
Ken gak bisa memalingkan wajahnya dari Ara meski sedang menyetir. Dia mencuri padang lewat spion agar gak terlalu kelihatan.
Penampilan Ara memang berbeda dari biasanya. Rambutnya tertata rapi dengan pakaian seperti anak kuliahan. Ken juga masih ingat tas selempang yang sering dipakai Ara ke kampus dulu.
Sebenarnya, semua itu karena tangan dingin Laras. Ara kebingungan harus memakai apa dan Laras langsung mendandaninya.
Kali ini, Ara mau menemani Laras sampai ke dalam kampus. Tapi sebentar aja sebelum kuliah dimulai. Setelah itu Ara mau menunggu Laras di taman. Kebetulan Ken datang dan bisa menemaninya.
"Ayo, Ra! Masuk denganku. Dosennya masih lama kok, biasanya juga telat!" ujar Laras ketika Ara hanya berdiri di depan pintu ruang kelas.
Ara sedikit ragu karena merasa pernah ke tempat itu. Lagi pula banyak yang melihat kearahnya membuat Ara gak pede.
Beberapa mahasiswa memang melihat kearah Ara dan saling berbisik. Mereka seperti mengenali Ara.
"Ayo, Ra. Aku temani!" ujar Ken yang langsung menarik tangan Ara. Tanpa menolak, Ara mengikuti Ken.
Sebagian mahasiswi terbelalak melihat Ken. Mereka masih mengenali cowok ganteng legenda kampus.
Seorang dari mereka langsung mendekati Ken dan Ara.
"Maaf, kamu Kak Ken dan Ara kan? Kalian itu legenda di sini. Apa boleh kami minta foto?"
Ara kebingungan mendengar permintaan gadis itu. Sementara, Ken hanya tersenyum. Ternyata kisah cinta mereka sudah menjadi legenda.
"Gimana, Ra? Kamu mau foto?" tanya Ken. Dia tahu Ara gak suka berfoto.
"Eeh, boleh kok, kak. Ara senang kalau ada yang mau foto sama Ara!" jawab Ara antusias. Sifat Ara sangat jauh berbeda dari yang dulu.
Setelah berfoto, malah datang lagi yang lain. Membuat suasana kelas menjadi gaduh. Ken melihat Ara mulai gelisah dengan keramaian itu.
"Maaf, Ras. Kayaknya Ara aku ajak keluar aja, ya. Ayo, Ra!" Ken langsung menarik tangan Ara dan keluar kelas tanpa menunggu jawaban Laras.
Saat itu, Laras juga merasa kasihan dengan Ara yang sangat bingung.
"Ara kuliah disini lagi ya, Ras?" tanya Sisi yang memperhatikan Ara dari pertama muncul.
"Aku kira Ara masih sakit! Bukannya Ken pergi keluar negeri? Kenapa mereka sekarang bisa bersama lagi?" tanya Gea yang mulai kumat keponya.
__ADS_1
Laras diam saja. Semenjak kehilangan majikannya, Sisi dan Gea sudah baikan dengan Laras meski sifat keponya masih ada.
"Sebentar lagi Ara akan kuliah lagi. Ken bisa membuatnya mengingat semuanya! Kalau saja Janet gak menabrak Ara, keadaannya pasti lebih baik!" jelas Laras. Dia sedikit mengungkit kejahatan Janet.
Sisi dan Gea terdiam. Mereka juga tahu kalau Janet yang sudah menabrak Ara.
"Aku juga berharap bisa kembali seperti dulu. Aku mau minta maaf padanya!" ujar Sisi lagi dengan penuh penyesalan.
"Iya, aku juga. Aku harap Ara mau memaafkan kami. Tapi gimana kradaan Janet sekarang? Terakhir aku dengar dia jadi depresi!" ungkap Gea soal Janet.
"Entahlah! Aku gak tahu," jawab Laras singkat. Dia masih menyimpan amarah yang sangat besar kepada Janet. Sampai kapanpun gak akan memaafkannya karena sudah membuat hidup Ara menderita.
Sementara itu, Ken mengajak Ara ke taman. Seperti biasa Ara selalu berhenti di dekat air mancur. Dulu, Ara sangat suka ketika air mancur tertiup angin dan membasahi wajahnya.
Seperti juga saat ini, Ara asyik menikmati air mancur. Dia memejamkan mata dan membiarkan air itu membasahi wajahnya. Padahal gadis lain malah menghindar karena takut make-upnya luntur. Sangat berbeda dengan Ara karena dia gak pernah memakai make-up.
"Bagaimana kalau kita ke pantai. Kamu mau kan, Ra? Di sana jauh lebih banyak angin dan air!" cetus Ken tiba-tiba. Ken gak tahu mengapa memikirkan soal pantai.
Ara membuka mata dan menatap Ken lekat, "gue mau, Ken. Sudah lama gue gak kesana!" celetuk Ara.
Ken kembali tertegun. Gaya bicara Ara sudah sepenuhnya kembali.
Ken sangat jelas mendengar ucapan Ara sebelumnya. Namun sekarang sudah kembali seperti biasanya. Apakah Ken salah dengar, ya?
Ara terus aja berlari sambil menarik tangan Ken. Mereka melewati jalan yang dulu sering dilewati. Ara tersenyum lebar seperti dahulu.
Ingatan Ken kembali ke masa itu. Wajah Ara bersinar terang dengan mata berbinar seperti bintang kejora. Ken merasa sudah jatuh cinta kepada Ara untuk kesekian kalinya.
Sebelum berangkat, Ken mengabarkan kalau mereka pergi ke pantai kepada Laras. Dia takut kalau Laras kebingungan karena gak menemukan mereka.
Ara sangat senang dan selalu tersenyum di sepanjang perjalanan. Dia ingin tahu bagaimana bentuk asli pantai itu. Selama ini, Ara hanya bisa melihatnya di buku atau televisi.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di pantai.
"Jadi, inikah yang namanya pantai? Aakh andai saja nenek ikut, kak Aldy dan Ayah ikut juga pasti lebih menyenangkan!" ujar Ara yang langsung keluar dari mobil.
Ara sangat senang melihat deburan ombak yang datang silih berganti. Juga angin yang berembus cukup kencang dan memainkan rambutnya.
__ADS_1
"Tunggu, Ra. Jangan kemana-mana dulu!" ucap Ken yang belum sempat mematikan mobilnya.
Akan tetapi, Ara langsung berlari dan membuat Ken kewalahan. Dia takut terjadi hal buruk kepada Ara dan segera menyusulnya.
"Ara, tunggu!" teriak Ken. Namun, Ara terus saja berlari menuju ke pantai.
Ara tak bisa mengendalikan diri. Ombak seperti menarik dirinya ke tengah laut. Dia juga gak mendengar suara Ken yang memanggilnya.
Saat itu, sama ketika sebelum Ara tertabrak mobil. Ken sudah memanggilnya namun Ara gak bisa mendengar sama sekali.
Ombak terus menarik Ara tanpa henti. Membuat semua tubuhnya basah dan timbul tenggelam di laut. Ken segera berenang menyusul Ara. Dia sangat panik melihat Ara hampir tenggelam.
Semua pengunjung memerhatikan mereka dan ikut khawatir. Beberapa orang berteriak dan penjaga pantai pun ikut menceburkan diri ke laut untuk menolong.
Untung saja, Ken bisa membawa Ara yang sudah tak sadarkan diri ke pinggir pantai. Dua orang penjaga pantai juga membantunya.
"Ra, bangun. Aku, Ken!" ujar Ken dengan napas tersengal-sengal.
"Biar kami membantu, pak!" ucap salah seorang penjaga pantai.
"Aku juga bisa, aku seorang dokter!" jawab Ken tegas. Dia gak mau Ara dipegang orang lain.
Penjaga itu diam dan membiarkan Ken melakukan tindakan PCR. Semua yang dilakukan lebih sempurna dari pada kedua penjaga pantai itu.
Tak berapa lama, Ara siuman dan membuka mata kemudian mengeluarkan air laut dari mulutnya.
"Kamu gak apa-apa, Ra?" tanya Ken lagi.
Ara menatap Ken lekat. Pandangannya sedikit kabur kemudian menjadi lebih jelas.
"Ken?" ujar Ara sambil terbatuk-batuk.
"Aku akan membawamu ke klinik, Ra. Kamu tetap sadar, ya!" Ken segera menggendong Ara menuju klinik terdekat.
"Jangan tinggalkan gue lagi, Ken!" bisik Ara yang masih setengah sadar.
Ken tertegun mendengar ucapan Ara. Namun, dia gak berhenti dan malah semakin kencang berlari. Ara harus tetap sadar. Ken tahu Ara sudah kenbali!
__ADS_1
*****