Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KOTAK KENANGAN #2


__ADS_3

Ara sudah membawa buku kecilnya di dalam tas. Hari ini, dia akan menunjukannya kepada dokter Raffi.


Ruang praktek dokter Raffi masih sepi. Ara sengaja menunggunya sambil memeluk buku kecil berwarna pastel. Mak Isah memerhatikannya dari kejauhan. Ara gak suka kalau dilarang-larang.


Kebetulan Jessica dan Ken baru saja sampai dan melihat Ara sedang berdiri sendirian.


"Itu kan Ara? Mengapa dia sendirian di situ?" tanya Jessica begitu melihat Ara.


Ken juga melihat Ara. Dia tahu kalau itu adalah ruang praktek dokter Raffi. Apa yang dilakukan Ara di sana? Aakh! Ken merasa hatinya kembali bergemuruh.


"Selamat pagi, Ara. Sepertinya hari ini kamu sangat senang, ya? Apa liburanmu menyenangkan?" sapa Jessica yang sengaja mendekati Ara.


Ken juga mengikuti Jessica. Perhatiannya tertuju kepada buku kecil yang dipegang Ara. Dia seperti mengenali buku itu.


"Oh, selamat pagi, Kak Jessica, Kak Ken. Kemarin Ara ke makam mamah, kak. Tapi, Ara sangat senang bisa menjenguk mamah. Sekarang mau bertemu dokter Raffi dulu. Ara mau menunjukkan buku ini!" jawab Ara lugas tanpa mengendurkan pelukannya dengan buku kecil itu.


Ken terus menatap buku kecil itu. Tiba-tiba wajahnya berubah.


"Buku apa yang kamu pegang itu, Ra? Apa boleh aku lihat?" tanya Ken memastikan apa yang ada di dalam pikirannya.


Ara terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu, "iya boleh, kak. Ini buku kenangan sewaktu Ara baru belajar menulis. Tulisan Ara masih gak jelas!" jawab Ara seraya menyerahkan bukunya.


"Pagi, Ara! Pagi dokter Ken. Saya dengar mulai hari ini kamu bekerja di sekolah!" Tiba-tiba, dokter Raffi muncul. Dia juga sudah tahu kalau Ken mulai bertugas di sana.

__ADS_1


Wajah Ara menjadi cerah begitu melihat dokter Raffi. Dia pun gak jadi memberikan buku yang dipegangnya kepada Ken.


Ken sedikit kecewa. Namun dia sudah bisa menebak buku apa yang dipegang Ara.


"Pagi juga, dokter Raffi. Ini, kenalkan Jessica. Dia adalah sepupu saya yang juga mengajar di sini!"


"Wah! Kak Ken juga mengajar di sekolah. Aku sangat senang ada Kak Jessica yang cantik dan Kak Ken yang ganteng!" cetus Ara antusias.


Jessica tertawa mendengar ucapan Ara soal ken, "bagaimana kamu tahu kalau Ken itu ganteng, Ra? Menurutku dia biasa aja!" tanya Jessica sedikit bercanda.


"Beneran kok, kak. Kata Nenek Ara juga begitu. Dulu Kak Ken juga sering main ke rumah Ara dan makan gado-gado buatan nenek. Kak Ken sangat suka. Iya kan, Kak? Eeeh Pak dokter Ken?" tanya Ara yang membuka rahasia Ken.


Ken menjadi gugup. Dia pun langsung mengangguk, "betul kata Ara dan neneknya. Tentu saja aku ganteng! Mata kamu aja yang kurang beres, Jess!" jawab Ken berusaha santai.


"Baiklah! Sekarang katakan mengapa kamu kesini, Princess Ara?" tanya dokter Raffi lembut dengan panggilan yang berbeda.


Telinga Ken terasa panas mendengar dokter Raffi memanggil Ara seperti itu.


"Ara mau menunjukkan ini, pak dokter. Pasti pak dokter yang memberikan buku ini untukku, kan?"


Ken terkejut mendengar ucapan Ara. Dia sangat tahu siapa yang memberikan buku itu untuk Ara. Dia adalah dirinya sendiri.


Ingatan Ken kembali ke waktu Ara baru saja siuman dari komanya. Kondisinya belum stabil bahkan tidak bisa menulis dengan baik. Dia memberikan Ara sebuah buku kecil dan mengajarinya menulis. Buku itu yang kini dipegang Ara!

__ADS_1


Raffi mengamati buku yang disodorkan Ara. Dia seperti memikirkan sesuatu dan melihat ke arah Ken. Dari tatapan Ken, Raffi tahu kalau buku itu darinya.


"Oh, kamu menemukan buku itu, ya. Oke, nanti kita bisa melihatnya bersama-sama. Sekarang pergilah sekolah, nanti bisa terlambat. Iyakan dokter Ken?" tanya Raffi yang mengarah pada Ken.


Ken tahu apa yang dimaksud Raffi. Sepertinya dia tahu kalau Kenlah yang memberikan buku itu.


"Iya, Ara. Sebaiknya kita pergi ke sekolah. Baiklah, dokter Raffi. Kami permisi dulu! Ayo, Ra."


Ken segera merangkul Ara tanpa canggung lagi. Jessica pun mengikutinya meski gak mengerti dengan kelakuan Ken. Biasanya Ken selalu jaim. Bahkan dia gak tahu kalau Ken se posesif itu.


Raffi hanya bisa melihat kepergian Ara bersama Ken. Sebagai dokter dia selalu berharap Ara bisa kembali seperti semula. Sebagai laki-laki biasa, Raffi ingin Ara tetap seperti sekarang dan lebih dekat dengannya.


"Apa dokter Ken pernah mampir ke rumah, nek?" tanya Raffi langsung begitu bertemu dengan Nenek Ara.


"I-iya, Pak dokter. Saya melihatnya hanya berdiri di depan rumah. Ya sudah saya suruh masuk aja. Jadi, sekarang Nak Ken sudah menjadi dokter, ya?" tanya Mak Isah penasaran.


"Iya, nek. Terus, bagaimana reaksi Ara?" Raffi lebih penasaran soal Ara.


"Biasa aja, pak dokter. Agak bingung juga sih. Tapi, cuma sebentar aja," jawab Mak Isah yang mengingat hari dimana Ken datang.


Raffi mengangguk pelan. Berarti ingatan Ara belum kembali sama sekali. Haruskah Raffi merasa senang?


*****

__ADS_1


__ADS_2