
Mak Isah hanya memandangi Ara yang gak bisa diam ketika menunggu giliran bertemu dokter Ratna. Dia selalu saja berlarian kesana kemari dan mengganggu beberapa orang. Kelakuannya persis seperti anak kecil.
Beberapa orang melihat Ara dengan tatapan aneh dan saling berbisik.
"Kasihan gadis itu. Lihat aja kelakuannya seperti anak kecil padahal umurnya sudah tua! Makanya, Bob. Jangan melawan mama nanti kayak begitu!" celetuk seorang perempuan setengah tua yang juga mengantar anaknya. Sementara anaknya yang diajak bicara hanya menunduk dengan jemari yang terus bergerak. Sepertinya dia kecanduan gawai.
"Emangnya gadis itu kenapa, bu?" Seorang ibu di sampingnya ikut penasaran.
"Katanya sih dia ditinggal pacarnya jadi begitu!" Eeh yang menjawab malah gadis muda yang ada di sebelahnya. Sebenarnya, dia juga mau terapi karena gak bisa tidur memikirkan pacarnya yang kabur dengan gadis lain.
"Oh, pantesan jadi begitu. Mungkin karena saking cintanya jadi seperti itu. Kasihan, ya!" sahut yang lain.
Mak Isah hanya diam saja. Sudah tiga tahun berlalu. Dia sudah biasa mendengar perkataan orang lain tentang Ara. Mak Isah hanya bersyukur karena Ara bisa hidup dan selalu sehat.
Tiba-tiba, Ara terjatuh ke lantai. Seorang anak laki-laki yang diajaknya bicara mendorongnya. Ternyata, dia gak suka diajak bicara Ara. Spontan aja Ara pun menangis.
"Makanya jangan ganggu anak saya. Sudah pergi sana!" ujar ibu anak itu. Bukannya meminta maaf malah memarahi Ara.
Mak Isah yang melihat kejadian itu segera berdiri. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang laki-laki mendekati Ara.
"Maaf, bu. Alangkah baiknya kalau anak diajarkan untuk meminta maaf! Mari, Nona Ara. Saya bantu berdiri!" ujar laki-laki tampan berjas putih lembut sambil mengulurkan tangannya. Dia adalah dokter Raffi.
"I-iya, dok!" jawab ibu itu sedikit gagap. Anaknya memang sangat pendiam dan gak suka ditegur orang.
Ibu anak itu masih memasang muka jutek. Dia memilih pindah tempat dan menarik tangan anaknya kasar.
Ara langsung menghentikan tangisnya dan menyambut uluran tangan dokter Raffi.
"Terima kasih, dokter Raffi. Dokter sangat baik sekali!" ujar Ara sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
Raffi tersenyum. Dia memang selalu berada disamping Ara.
"Sama-sama, nona Ara. Nanti mampir ke ruang kerjaku, ya. Aku punya sesuatu buat kamu," ucap dokter Raffi lagi.
Wajah Ara langsung berbinar, "benarkah, pak dokter? Asyiiik!" sahut Ara.
"Tapi, ada syaratnya. Kamu harus duduk manis di dekat nenekmu. Apa kamu bisa melakukannya?"
"Tentu aja Ara bisa, pak dokter. Tapi pak dokter gak bohong, kan?" tanya Ara lugu.
"Aku gak bohong, kok. Tapi kamu harus melakukan syarat tadi!"
"Siap, pak dokter. Ara pasti akan melakukannya!" ucap Ara yang segera kembali duduk di samping neneknya.
Mak Isah tersenyum dan memeluk cucunya itu, "kamu gak apa-apa kan? Dengkul kamu sakit, gak?"
Ara menggeleng, "Ara gak sakit, nek. Tapi nanti ketemu dokter Raffi ya!"
Ara masih sempat melambaikan tangannya kepada dokter Raffi. Dia pun menyambutnya. Sebuah senyuman lebar mengembang di bibir dokter tampan itu.
"Sepertinya hari ini dokter sangat senang karena selalu tersenyum!"
Terdengar suara dari belakang dokter Raffi. Dia pun menoleh dan dokter Irena sudah berdiri di depannya.
"Oh, pagi dokter Irena. Saya selalu mengawali hari dengan senyuman. Apa kamu baru tahu sekarang?" tanya dokter Raffi sedikit menggoda.
Dokter Irena hanya tertawa kecil. Dia sangat tahu kebiasaan dokter Raffi. Hanya saja, dia ingin menggodanya. Meskipun ada sedikit cemburu dengan Ara yang selalu mendapatkan perhatian lebih darinya.
"Kita makan siang bareng nanti ya, dok. Aku bawa masakan dari rumah!" ungkap dokter Irena sambil memamerkan kotak makanan yang dibawanya.
__ADS_1
"Maaf, dok. Aku sudah ada janji dengan Nona Ara. Mungkin lain waktu!" tolak dokter Raffi halus.
Meskipun sedikit kesal dengan jawaban dokter Raffi, dokter Irena masih bisa tersenyum.
"Padahal sudah tiga tahun tapi sainganku masih sama. Hhmm, apa perlu aku sakit juga agar mendapatkan perhatianmu?"
Dokter Raffi sedikit terkejut mendengar ucapan dokter Irena. Namun belum sempat mengatakan apapun, dokter Irena kembali melanjutkan perkataannya.
"Eeeit! Aku ralat perkataanku. Sepertinya perhatianmu tetap tertuju kepada pasienmu itu apapun yang terjadi. Oke! Moga lain waktu kita bisa makan bareng ya, dok!" terang dokter Irena sebelum pergi.
Dokter Raffi hanya mengangguk. Dia memang gak bisa memalingkan wajahnya dari Ara. Tiga tahun berlalu, janjinya tidak akan ingkar.
"Apa kabar, Ara cantik?" sambut dokter Ratna ketika Ara masuk ke dalam ruang kerjanya.
Ara tersenyum dan langsung berlari ke pelukan dokter Ratna erat.
"Ara sangat baik, bu dokter. Bagaimana dengan bu dokter?" tanya Ara lembut. Dia tak tahu siapa dokter Ratna sebenarnya. Padahal dia adalah ibu dari laki-laki yang sangat dicintainya yaitu Ken.
Dokter Ratna tersenyum dan membelai rambut Ara dengan penuh perasaan. Dia teringat dengan Ken yang bahkan sangat jarang menelponnya apalagi menanyakan kabar Ara.
"Apa kamu mau sekolah, Ra?"
"Sekolah? Apa itu tempat rekreasi, bu dokter?" tanya Ara heran.
Sudah waktunya Ara untuk masuk sekolah meskipun untuk orang-orang yang luar biasa.
"Iya, seperti tempat rekreasi. Apa kamu mau?" tanya dokter Ratna memastikan.
"Ara mau, bu dokter! Pasti menyenangkan," jawab Ara antusias.
__ADS_1
Dokter Ratna tersenyum. Sudah tiga tahun berlalu, seharusnya ingatan Ara sudah kembali. Mungkin Ken bisa membantunya kalau ada di sini. Sementara, Ken masih mengobati lukanya sendiri.
*****