Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
SEBUAH PILIHAN #2


__ADS_3

Rony membaca file yang diberikan Januar dengan saksama. Wajahnya kelihatan sangat tegang.


"Kamu dapat darimana file ini?"


"Dari kampus. Aku kira soal tanah itu sudah selesai. Kau gila jika melakukan hal buruk. Apalagi terlibat dalam kecelakaan Satrio dan istrinya!"


Rony tidak suka Januar sudah menuduhnya. Tanpa sadar, dia menggebrak meja.


"Jangan asal menuduh! Aku tidak tahu menahu soal kecelakaan Satrio. Kalau soal tanah, aku sudah menyerahkan kepada Danu. Dia orang pemerintahan yang membuat sertifikat tanah kampus!"


"Danu? Apakah Danuarta, yang sekarang menjadi wakil walikota?"


"Ya, dia orangnya! Apa kamu kenal dengannya?"


"Setahuku, dulu dia terlibat dalam mafia tanah dan membuatan sertifikat palsu. Jangan, jangan ...."


Januar semakin khawatir. Ternyata kasus tanah kampus sudah melibatkan banyak orang.


"Bagaimana kalau pemilik tanah menuntut? Sudah ada beberapa orang yang memviralkan kasusnya di medsos. Cepat atau lambat, seperti bom yang akan meledak!" lanjut Januar dengan suara gemetar.


"Aku tidak mau tahu! Aku sudah membayar banyak untuk tanah itu!"


"Bukan hanya kau yang sudah banyak berkorban, Ron! Bahkan Satria dan istrinya juga sudah mengorbankan nyawa mereka. Ingat, Ron. Kebenaran pasti akan terungkap. Aku tidak akan membelamu lagi!"


"Oke! Aku akan bertanggung jawab. Tapi kau harus meninggalkan kampus!"


Januar tercengang mendengar ucapan Rony. Dia juga sudah mengeluarkan banyak uang untuk membuka kampus.


"Aku yang membangun kampus itu dari nol. Begitu juga Satria. Dia juga akan berjuang jika masih hidup. Tapi kalau sudah membuat orang lain menderita, aku akan.nelepaskan kampus!"


Januar langsung keluar ruangan dengan hati tak menentu. Kecurigaannya selama ini ternyata benar. Merasakan sesuatu yang besar akan terjadi.


*****

__ADS_1


Ara memang sangat sedih setelah mengetahui pertunangan Ken. Tapi, dia juga penasaran dengan orang misterius yang dilihat di makam.


"Apa benar soal orang asing itu, Ra?" tanya Aldy lebih mendetail setelah sampai di rumah.


"Iya, kak. Ara sempat melihat wajahnya yang menyeramkan seperti terluka bakar," jelas Ara pelan.


Ara gak mau neneknya mendengar pembicaraan mereka. Untung saja, neneknya sudah tidur ketika mereka sampai di rumah.


"Saudara ayah dan ibu tidak ada di sini. Lagipula kalau saudara, kenapa juga malahan pergi setelah elo tegur. Hhmm, sebenarnya ada sesuatu yang elo harus tahu, Ra."


Aldy agak meragu namun harus mengatakannya kepada Ara.


"Soal apa, kak?"


"Apa Andre gak cerita sama elo?"


"Kak Andre? Soal beasiswa Kak Andre?"


Aldy menggeleng.


"Pak Januar, papinya Ken? Kalau Pak Roni itu siapa?"


"Pak Roni adalah papinya Janet!"


"Apa Ken tahu soal itu, kak?"


"Entahlah! Mungkin Ken tidak tahu, begitu juga Janet. Kakak sarankan kalian jangan terlalu dekat! Jika memang mereka terlibat, kamu harus berpisah dengan Ken!"


Ara tertegun. Jika memang papinya Ken terlibat dalam kematian orangtuanya, Ara juga tidak akan mau bersamanya!!!


Malam semakin larut. Hampir jam satu malam. Namun Ara tidak bisa memejamkan matanya. Tiba-tiba, pesan masuk dari hapenya.


~~Ra, aku ada di depan rumah kamu! Aku mau bicara ....

__ADS_1


Ken? Ngapain juga dia datang ke rumah Ara selarut itu?


Ara menyibak tirai jendela kamarnya. Ken melambaikan tangan seakan tahu kalau Ara akan mengintip.


Ken memang gak bisa tidur. Mengira kalau Ara mengetahui soal pertunangan Ken padahal sudah dibatalkan.


Sepertinya, Ara harus menemui Ken. Dia ingat apa yang dikatakan kakaknya. Mereka harus berpisah!


"Elo ngapain kesini selarut ini, Ken?" tanya Ara begitu sampai di depan Ken.


"Aku gak bisa tidur, Ra. Sebenarnya tadi ada acara di restoran. Aku gak tahu kalau acara itu adalah untuk pertunangan aku dan Janet!"


Ara menarik napas panjang. Ken pasti menyetujui pertunangan itu.


"Selamat ya, Ken! Kamu memang pantas bertunangan dengan Janet. Kalian kan sama-sama anak orang kaya!"


Ken sedikit bingung mendengar ucapan Ara.


"Selamat? Aku gak akan mau menyetujui pertunangan itu, Ra. Aku kan sudah punya kamu!"


"Ken? Apa benar elo gak menyetujui pertunangan itu?"


"Jadi ... dari tadi, kamu mengira kalau aku dan Janet jadi tunangan?"


Ara langsung mengangguk. Dia jadi malu karena sudah tidak mempercayai Ken.


"Tapi, seharusnya kamu tidak melawan kemauan orangtuamu, Ken!"


"Kamu gak kenal orangtuaku, Ra. Sepertinya ada sesuatu sampai melakukan acara itu. Percayalah padaku, Ra. Aku gak mau kehilangan kamu!"


Ken menarik tangan Ara dan menggenggam jemarinya erat. Sampai kapanpun dia tak akan melepaskan genggaman tangannya.


Ara tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia juga belum siap berpisah dengan Ken.

__ADS_1


*****


__ADS_2