
Aldy kembali bekerja setelah libur satu hari. Tapi sore nanti dia harus pergi menemui polisi tua di sebuah gedung yang tak jauh dari kampus.
"Gak bisa, Al. Soalnya nanti malam ada acara keluarga bos besar disini!" ucap atasan Aldy ketika Aldy minta izin pulang cepat.
"Sebentar aja kok, pak. Saya janji akan kembali dan meneruskan jam yang sudah saya ambil!" desak Aldy.
Aldy tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengetahui kematian orang tuanya.
"Tapi, janji kamu kembali ya, Al. Katanya sih, mau ada acara pertunangan puterinya bos. Aku kira dia naksir kamu, ternyata bumi sama langit memang gak bisa menyatu, ya!"
"Pertunangan Non Janet? Sama siapa, pak?"
Aldy sangat terkejut mendengar berita pertunangan Janet. Dia sangat tahu siapa yang akan menjadi tunangannya.
"Katanya putera pemilik Universitas Nusantara!"
Perasaan Aldy ternyata benar. Putera Bapak Januar adalah Ken. Pacar Ara!!!
Aldy harus tahu soal pertunangan itu dengan Ara. Tapi masalah kematian orang tuanya lebih penting.
Pukul empat, Aldy sudah meninggalkan tempat kerjanya. Seharusnya dia pulang pukul enam. Jadi dia harus menggantinya dua jam berikutnya.
Alamat yang diberikan polisi tua itu adalah sebuah kafe yang ada di dekat Kampus Nusantara. Dalam waktu singkat Aldy bisa bertemu dengan polisi tua itu.
"Kamu tahu gak mengapa saya meminta bertemu disini?" tanya Karso, polisi yang tak lama lagi akan pensiun.
Aldy menggeleng.
"Saya gak tahu, pak!"
"Apa kamu tidak tahu, di depan jalan itulah tempat orang tuamu meninggal!" tegas polisi tua itu sambil menunjuk ke arah jalan di depan kafe.
Saat itu Aldy masih kecil. Dia hanya tahu orangtuanya sudah meninggal karena kecelakaan tanpa tahu tempat dan sebabnya.
"Dulu, tempat ini masih lahan kosong dan ada jurang yang cukup dalam. Jalan ini juga belum seramai sekarang. Malam itu saya sedang patroli. Tiba-tiba, ada sebuah mobil yang berjalan sangat aneh. Saya langsung tahu kalau mobil itu remnya blong. Saya langsung mengikutinya!"
Pak Karso berhenti dan menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Aldy tidak semangat untuk meminum kopinya. Dia lebih antusias mendengarkan cerita polisi tua itu.
__ADS_1
"Di dalam mobil itu ada seorang laki-laki dan perempuan. Saya berusaha membantunya dan mengatakan agar keluar saja dari mobil. Tapi sudah terlambat. Mobil itu terlanjur masuk ke dalam jurang!"
"Apa ayah dan ibu saya masih hidup setelah kecelakaan itu terjadi?"
Pak Karso mengangguk.
"Aku langsung turun ke jurang dibantu beberapa warga yang kebetulan melintas. Ibumu sudah meninggal sementara ayahmu masih hidup. Dia sempat mengatakan sesuatu padaku!"
Karso sangat ingat ketika menemukan Ayah Aldy dalam keadaan sekarat.
"To-tolong ambil file itu. Disana ada bukti kejahatan!" ucap Satrio sangat pelan.
Karso hampir tidak mendengar perkataannya.
"Iya, pak. Sebaiknya sekarang fokus agar bapak dan ibu selamat dulu!"
Karso dan beberapa warga segera mengeluarkan Satrio dan istrinya. Karso melihat file yang dimaksud Satrio ada di bangku belakang mobil. Dia sempat membawa file itu.
"Lalu, dimana file itu sekarang, pak?"
"Entahlah! Aku menyerahkannya kepada bagian penyelidikan namun sampai sekarang aku tidak tahu apa isinya!"
"Apa mungkin file itu sudah diambil orang yang terlibat dalam kecelakaan orangtua saya, pak?"
"Mungkin saja! Sepertinya kasus kematian orangtuamu sangat kecil bisa diselidiki lagi karena sudah terlalu lama. Namun, aku ingat apa yang dikatakan ayahmu terakhir kali. Universitas Nusantara! Mungkin ada hubungannya dengan kecelakaan itu."
"Universitas Nusantara adalah tempat ayah saya mengajar, pak. Bahkan beliau adalah salah satu pendirinya!"
Pak Karso manggut-manggut.
"Ooh, pantesan. Sebaiknya kamu cari tahu disana. Mungkin masih ada berkas yang tertinggal!"
Aldy mengangguk. Tidak ada jalan lain, dia harus kembali ke kampus lagi!
*****
Makan malam Ken dan keluarganya tempo hari batal tanpa sebab. Malam ini, mau tidak mau Ken harus datang. Sayangnya gak ada Ara. Katanya dia harus lembur sampai malam.
__ADS_1
Ken sengaja datang terlambat. Dia tidak ingin menunggu terlalu lama. Ken sangat tahu kebiasaan orang tuanya yang biasa datang terlambat.
Aldy juga sudah sampai di tempat kerjanya lagi. Kembali mumet dengan persoalan yang berbeda. Kali ini menyangkut adiknya sendiri.
Janet datang bersama keluarganya. Sikapnya sangat berbeda. Dia seakan tidak mengenal Aldy. Itu karena sudah kecewa dengan penolakan Aldy tentang rasa cintanya.
"Selamat datang, tuan, nyonya dan nona," sapa Aldy ramah. Baru kali ini Janet tak mau melihatnya sama sekali.
"Siapkan masakan terbaik untuk VVIP. Aku tidak mau mengecewakan calon besanku!" perintah Tuan Rony. Istrinya malah tidak banyak bicara. Begitu juga Janet.
"Baik, tuan," jawab Aldy seraya membungkukan badan.
Janet dan keluarganya pun berlalu menuju ke ruang VVIP di ruang atas.
Sementara Aldy semakin gelisah. Apa Ara harus dikasih tahu soal pertunangan Janet dan Ken, ya? Bisa saja Ara ngamuk atau pingsan. Aakh! Aldy benar-benar galau.
*****
Sebenarnya Ara tidak sedang lembur. Dia berniat untuk ziarah ke makam orang tuanya. Hari ini adalah hari kematian mereka.
Tahun lalu, Ara datang ke makam bersama kakaknya. Kali ini, Ara harus datang sendiri.
Suasana sore itu sangat syahdu. Hanya ada beberapa orang yang sedang membersihkan makam. Mereka memerhatikan Ara dari kejauhan.
Tidak begitu jauh dari makam orangtuanya, Ara berhenti. Dia melihat seseorang tengah berdiri di depan makam orangtuanya.
Laki-laki itu memakai jaket dan masker juga topi sehingga wajahnya tidak kelihatan jelas.
Ara kembali melangkah mendekati makam orangtuanya. Dia penasaran ingin tahu siapa orang itu. Tidak mungkin ada keluarganya karena mereka semua ada di luar kota.
Ara berniat menyapa orang itu, namun dia malah membalikkan badan dan berjalan menjauh dengan tergesa-gesa.
"Maaf, bapak siapa?" tanya Ara.
Laki-laki itu tak menjawab dan terus saja berjalan. Sekilas, Ara melihat banyak guratan di seluruh wajahnya. Jalannya juga agak pincang begitu juga tangannya yang pendek sebelah.
Ara semakin penasaran dengan orang yang sangat aneh itu. Dia harus menanyakan langsung kepada kakaknya!!!
__ADS_1
*****